Kenanga memetik daun obat, ia tak sendirian, dibantu oleh beberapa wanita dan Cempaka tentunya. Persiapan perang semakin matang, wanita bisu itu ingin ikut ambil bagian dalam perjuangan. Meski perutnya semakin besar dan napasnya semakin sesak. Sesekali tabib muda tersebut duduk ketika pergerakan bayi di dalam perutnya terasa begitu lasak. Sesekali pula ia menarik napas panjang. Kehamilan pertama yang ia lewati ternyata begitu banyak memberikan rasa yang luar biasa. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. “Kau tak apa-apa?” Kenanga membaca gerak bibir Cempaka. Wanita bisu itu hanya menggeleng saja. Memang demikianlah wanita hamil, justru hal itu yang menyebabkan Alif bertambah rasa sayangnya pada wanita bisu tersebut. “Kalau lelah istirahat saja, Ken. Biar kami saja yang memetik daun obat

