Ridwan dibawa di dalam kandang anjing yang sangat sempit. Hampir dua purnama ia mendekam di sana, hingga akhirnya punggawa setia Alif itu sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar meski tak semegah istana Kerajaan Pesisir dulu. Tubuh punggawa setia Alif itu kurus kering, bibirnya pecah-pecah, bawah matanya menghitam. Ia jarang diberi makan oleh para marsose bawahan Adrian. Walau demikian Ridwan tak pernah mengemis meski hanya sekeping roti pada penjajah. Ia lebih memilih mati daripada tak tahan siksaan lalu mengkhianati agama juga tuannya. Kerangkeng kandang itu dibuka. Ridwan diseret paksa hingga jatuh di bawah kaki yang mengenakan sepatu amat mengkilat. Punggawa itu menelisik siapa yang ada di depannya. Kemudian, ia jumpai seseorang yang berperan besar dalam hancurnya Kerajaan Pesi

