Istana berkabung atas meninggalnya seorang bangsawan yang sudah sangat sepuh. Tak ada yang menyelidiki penyebab kematiannya, sebab sangat jelas bahwa lelaki senja itu meninggal karena ulahnya sendiri. Namun, bukan berarti ancaman terhadap pihak Alif telah usai. Sebab setelah bangsawan sepuh itu tiada, banyak petinggi-petinggi lainnya yang masih bekerja sama dengan Belanda.
“Sayang sekali di usia tuanya dia mengakhiri hidupnya sendiri,” gumam Alif usai pulang dari pemakaman jenazah.
“Konon, itu merupakan syarat dari ilmu kebal yang ia gunakan. Semua ada harganya, usianya saja sudah lewat dari 100 tahun, tapi masih juga cakap dan alot untuk mati. Jadi mungkin itu pilihan terakhirnya,” ucap Ridwan. Punggawa itu memendam sendiri peristiwa tadi malam saat ia menyusup diam-diam. Tak ada yang mengetahuinya satu pun.
“Mungkin dia bosan hidup terlalu lama di dunia ini. Harta dan banyak wanita yang ia miliki juga begitu-begitu saja bentuknya tak ada yang berubah.” Alif menoleh ke belakang ketika ia melihat deretan wanita yang ada di makam bangsawan sepuh itu. Jumlah anak dari istri yang bergonta-ganti dinikahi membuat banyak perut yang harus diberi makan, sebab itulah tak heran banyak yang menghalalkan segala cara.
“Sayangnya pengaruhnya masihlah tetap ada. Putra dan cucunya juga tak kurang perangainya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.”
“Akan ada masanya mereka tumbang. Jika bukan karena pergantian kekuasan dari Sultan padaku, mungkin juga karena kerajaan ini akan berakhir.”
Dua lelaki itu kemudian pergi menuju pelabuhan, melihat persiapan kapal khusus keluarga kerajaan yang akan siap berlayar. Jika tidak ada halangan, selepas senja rombongan kecil itu akan berangkat demi menjemput wali dari pihak Kerajaan Malaka agar pernikahan bisa segera digelar. Jika tak ada aral melintang dan cuaca juga baik, tak sampai sepekan mereka akan kembali lagi.
Alif pergi bersama tiga punggawa yang paling ia percaya, Ridwan, Malik, dan Akbar. Permaisuri Syafitri bersama Putri Naqi melepas kepergian mereka dari pelabuhan langsung. Alif dan Naqi saling memandang dari tempat yang berbeda. Kemudian kapal terus berlayar dan menghilang dari pandangan mata putri berwajah secerah rembulan itu. Ia sudah merindu walau baru beberapa saat tak bertemu. Harapan gadis itu memang sangat besar untuk segera menikah dengan pujaan hatinya. Pangeran Alif memang terlihat begitu menawan di matanya. Wajar saja banyak putri raja yang ingin menjadi permaisurinya kelak. Namun, tidak demikian halnya dengan Alif. Ia sendiri meragu dengan keputusannya lagi. Mimpi buruk yang masih menjadi misteri baginya.
“Bagaimana jika mimpi itu menjadi nyata? Apa aku masih bisa hidup setelah kehilangan mereka semua?” Alif memandang air laut yang terlihat hitam di tengah kegelapan malam.
“Tuanku, berhentilah merisaukan hal-hal yang belum terjadi. Baiknya, Tuan masuk ke kamar, angin laut semakin kencang bertiup. Kita masih beruntung tak ada badai yang datang mengempas kapal ini,” tegur Ridwan ketika Alif terus memandang ke arah air.
“Kapan lagi aku bisa berkeluh kesah seperti ini. Kau tahu sendiri Bunda selalu memaksaku untuk tegar, bahkan pantang baginya melihat seorang anak lelaki untuk menangis.”
Ridwan tak membuka suara lagi. Ia membiarkan saja tuannya memandang langit dan laut bergantian seorang diri.
Kapal terus berlayar hingga sampai di Kerajaan Malaka tepat pada waktunya. Tak ada tanda-tanda yang aneh. Hanya saja mereka tak bertemu dengan kapal yang dipimpin oleh Teuku Firdaus. Aneh saja, setidaknya berpapasan walau hanya sebentar.
Rombongan Alif di sambut oleh pihak Kerajaan Malaka dengan sangat baik. Mereka hanya menginap sekitar tiga hari saja. Setelahnya seorang paman diutus sebagai wali yang akan menikahkan Putri Naqi. Bukan Sultan dari Kerajaan Malaka tak mau datang, melainkan kepelikan juga tengah melanda wilayah itu. Jika Kerajaan Pesisir mendapat gempuran dari pihak Belanda, maka Malaka mendapat tantangan dari pihak Inggris. Dua pihak yang sama-sama mengincar sumber daya alam dari bumi yang sangat subur.
Kapal pun dipersiapkan lagi walau seadanya, tetap tak juga bisa dikatakan ala kadarnya. Beberapa hadiah pernikahan telah dikirim. Ragam sutra halus, emas, mutiara, juga makanan khas Malaka menjadi buah tangan yang lebih dari cukup.
Pernikahan sudah di depan mata Alif, sebab setelah ia kembali, tak ada lagi alasan untuk menunda akad. Kecuali hal-hal yang sangat mendesak dan terjadi di luar kuasanya sebagai manusia biasa.
Kapal kembali berlayar. Jalur laut yang diambil sedikit berbeda sebab lelaki berdarah Arab itu ingin memastikan keadaan sahabatnya. Beberapa mimpi buruk yang datang nyaris membuatnya tak bisa tidur nyenyak lagi tadi malam.
Saat lautan telah gelap, suasana jadi sedikit berbeda, kepulan asap datang menutupi jalur perjalanan Alif. Semua pihak siaga termasuk sang pangeran, obor-obor dinyalakan, bahkan Ridwan menyiapkan bedilnya. Hening, bahkan suara debur ombak saja tak terdengar beberapa saat.
Perlahan tetapi pasti rombongan itu seperti melihat beberapa kapal besar berlayar tanpa tujuan ke arahnya. Di kegelapan malam mereka kembali bersiap menghalau serangan. Namun, kapal-kapal berjumlah puluhan itu bentuknya sudah tidak utuh. Salah satunya bahkan telah menabrak badan kapal Kerajaan Pesisir walau tak terlalu kuat hantamannya.
Pangeran Alif menjatuhkan senjatanya. Ia dengan sangat jelas mengenali itu kapal milik armada maritim di bawah pimpinan Teuku Firdaus. Mengapa bisa porak-poranda seperti itu?
“Geledah isi kapal. Sekarang!” perintah Alif dengan sangat jelas. Beberapa punggawa langsung melompat menggunakan tali dan jembatan kayu. Benar saja, di dalam kapal sana sangat kacau balau. Sang pangeran akhirnya ikut melompat, mencari keberadaan sahabatnya yang belum lama menikah.
“Tuanku, engku pasti tak ingin melihat pemandangan buruk ini, sebaiknya kembali saja ke kapal.” Ridwan menghalangi Alif ke tempat yang tak seharusnya ia cari tahu.
“Minggir, jangan halangi jalanku!” tegas Alif. Namun, Ridwan tetap tak bergeser dari tempatnya berdiri.
Tak ingin ada yang melanggar perintahnya, Pangeran Alif mendorong punggawa setianya hingga terjatuh. Ia terus berjalan sampai akhirnya lelaki berdarah Arab itu temukan tubuh sahabatnya terikat di tiang kapal dalam keadaan tak bernyawa.
“Siapa yang berani melakukan ini?” Alif terdiam memandang jenazah Teuku Firdaus yang telah mulai membusuk.
“Kemungkinan pihak Belanda, Tuanku. Hanya saja tidak terdapat bekas meriam atau persenjataan mereka. Walau kerusakan banyak terjadi di dalam kapal. Beberapa hulubalang laut lain juga tak kelihatan jejaknya. Bisa jadi mereka jatuh ke laut saat perlawanan terjadi.” Ridwan membeberkan perhitungannya.
Alif memerintahkan untuk menurukan jenazah Teuku Firdaus dan dibawa kembali ke pihak keluarganya. Begitu juga dengan jenazah hulubalang lain yang ditemukan. Pangeran Pesisir itu serasa tak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya sendiri. Begitu mudahnya armada laut yang tangguh itu hancur. Ia terus berjalan ke dalam kapal sahabatnya sembari tetap dalam pengawalan Ridwan. Hingga pemuda pesisir itu menabrak sebuah mayat yang tergeletak begitu saja. Tubuh itu tak menggunakan tanda pengenal sebagai pihak dari Kerajaan Pesisir.
“Siapa dia?” Alif berjongkok dan memeriksa sekujur tubuh itu dengan belati yang masih disarungkan. Ia kemudian terperanjat dengan tato di bagian tubuh itu. Yang selama ini dianggap mitos saja. Sebuah perkumpulan yang pernah menjadi pengkhianat besar Kerajaan Pesisir. Salah satu penyebab kekalahan telak dua abangnya dulu.
“Apakah Tuanku mencurigai hal yang sama dengan hamba?” tanya Ridwan ketika memandang tato burung gagak itu.
“Ya, gagak hitam, yang rela memakan daging saudaranya sendiri.” Alif terus menggeser tubuh pengkhianat itu dibantu Ridwan, kemudian melemparkannya ke tengah lautan.
“Kau dengar sumpahku ini Ridwan. Aku tak akan menikah dengan Putri Naqi sampai perkumpulan itu kuhancurkan dengan tanganku sendiri. Terlalu banyak orang-orang tak berdosa yang menjadi korban, mereka harus segera dibinasakan,” ucap Alif dengan penuh keyakinan.
***
Waktu Penyerangan
Perkumpulan gagak hitam melakukan persiapan penyerangan pada armada maritim sesuai permintaan Adrian. Mantili menjadi ujung tombak penyergapan itu. Gadis berhati kelam tersebut sangat suka dengan aroma amis ditambah kematian yang mulai melingkupi indra penciumannya. Tak tanggung-tanggung, seluruh orang dalam kelompok pembunuh itu diterjunkan untuk menghanguskan pihak lawan. Ratusan sampan kecil mulai berlayar di sore hari saat lautan sedikit surut.
Mantili membentangkan tangannya, kemudian gagak hitam mulai beterbangan di langit pesisir. Gadis itu telah bersahabat dengan burung pemakan bangkai, layaknya dia yang suka membunuh saudaranya sendiri. Kain hitam pemberian ahli nujum turut ia bawa serta. Sampan mereka terus berlayar membelah lautan sampai malam. Tak mereka hiraukan dingin angin laut yang berembus, sebab kilau emas telah membutakan rasa itu. Terutama Mantili yang telah merasakan kehangatan belaian dari Adrian. Ia telah berjanji akan kembali dan mengulanginya lagi.
“Pergilah, jalankan tugasmu. Bunuh sebanyak orang yang kau bisa.” Mantili melepaskan ular hitam gaib pemberian seorang ahli nujum padanya.
Binatang itu melata lalu tenggelam di lautan. Mantili mengernyit, merasa heran bagaimana cara kerja ular kecil itu membantunya membunuh lawan. Beberapa saat menunggu tak ada perubahan. Sampai Mantili memerintahkan semua yang di sana untuk bersiap melakukan penyerangan diam-diam.
Saat hendak menarik panah yang telah dinyalakan api sebuah ular besar muncul dari dalam laut. Ratusan kali lipat dari ukuran binatang yang dilepaskan tadi. Gadis itu tertawa lebar. Ahli nujum yang ia kunjungi memang sangat bisa diandalkan.
Jeritan mulai terdengar ketika ular besar itu mulai membelit badan kapal. Beberapa hulubalang Kerajaan Pesisir mencoba melukai dan membunuh baik dengan pedang atau bedil. Namun, badan kapal mulai retak dan terbelah.
“Menyebar. Bunuh semua orang di atas kapal. Sekarang!” Mantili memberikan isyarat. Lalu sampan-sampan sebanyak itu bergerak mencari mangsanya. Melemparkan tali yang telah diberi pengait besi. Satu demi satu kumpulan gagak hitam memanjat dan mulai melancarkan aksinya. Mantili sendiri memilih kapal yang langsung dipimpin oleh Teuku Firdaus.
Suara retakan besar, kobaran api, dan jeritan menyita perhatian semua orang. Kapal yang dililit ular besar itu dibawa tenggelam ke dalam lautan bersama puluhan punggawa di dalamnya. Mantili tertawa dengan puasnya. Mereka ratusan kali melangkah lebih cepat daripada pihak Kerajaan Pesisir.
“Kau, wanita terkutuk. Menggunakan sihir untuk melawan kami. Musyrik, matilah kau!” Teuku Firdaus mengangkat pedangnya. Ia ingin menebas kepala Mantili untuk dihadiahkan pada sahabatnya Alif.
“Kau tak tahu sedang berurusan dengan siapa.” Mantili menutup wajahnya dengan kain hitam. Ia pun sudah tak sabar untuk menumpahkan darah saudaranya lagi. Dua buah pedang itu beradu di udara, menimbulkan bunyi bising. Teuku Firdaus bukanlah lawan yang bisa dipandang sebelah mata, begitu juga dengan Mantili yang usianya masih sangat muda tetapi pengalamannya juga tak kalah banyak dengan lelaki yang menjadi lawannya.
“Belanda yang membayarmu?” Teuku Firdaus membebat luka yang ditorehkan Mantili padanya.
“Pertanyaan yang tak perlu kujawab.” Mantili melompat ke dinding kapal, lalu menekan pedangnya hingga nyaris melukai wajah Firdaus. Panglima Laot itu menahan dengan pedangnya juga. Ia tak menyangka gadis sekecil itu mempunyai kekuatan yang luar biasa, bahkan melebihi laki-laki.
Kembali sebuah kapal tenggelam karena kebakaran di bagian lambung yang tak bisa dielakkan lagi. Teuku Firdaus memandang semuanya. Hulubalang di bawah kuasanya terlihat mulai berjatuhan satu demi satu ke lautan. Padahal orang-orang yang ia pilih merupakan yang terbaik. Nyeri hati Panglima Laot itu melihat ketidak cakapannya menghalau musuh.
“Kau mulai menyesal? Kau memang pintar memperhitungkan semua kemungkinan. Tapi sayangnya kau melupakan satu hal,” cemooh Mantil pada Firdaus.
“Katakan!” Panglima itu menghunuskan pedangnya ke leher Mantili.
“Pengkhianat dari dalam tubuhmu sendiri.” Mantili bergerak menendang perut Firdaus dengan sangat kuat hingga Panglima itu terbatuk dan memuntahkan darah.
“Matilah kau dengan sangat menderita!”
“Lebih baik mati merdeka daripada hidup terjajah.” Firdaus masih melawan. Ia tak ingin menyerah begitu saja pada sekumpulan manusia keji itu.
Mantili mulai kelelahan menghadapi kekuatan Teuku Firdaus. Gadis itu jatuh dan menanggung luka di betisnya. Ia berjalan mundur dengan kedua tangannya. Menyeret dirinya sendiri agar tak mati di tangan lawannya. Sepasang mata kelamnya terlihat ketakutan menghadapi maut di depan matanya. Ia telah bersumpah tak akan mati di tangan lelaki manapun.
Teuku Firdaus mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Ia harus menyelesaikan apa yang dimulai oleh Mantili. Namun, tubuh itu terdiam beberapa saat, kemudian pedangnya jatuh di lantai. Kesempatan itu digunakan oleh Mantili untuk berdiri. Ia mengambil senjatanya lalu menikam perut Panglima itu. Darah mengalir deras dari mulut Firdaus. Mantili tersenyum pada seorang hulubalang pengkhianat yang menjadi teman tidurnya di waktu sebelum kapal Kerajaan Pesisir berangkat.
Tubuh Firdaus yang telah tak bernyawa itu diseret Mantili. Kematian sang panglima membuat semangat juang para hulubalang mengendor. Mereka dibantai dengan mudah oleh perkumpulan gagak hitam.
Atas perintah dari Mantili, mayat Teuku Firdaus diikat di tiang kapal. Sebagai bukti kekejaman mereka terhadap saudara sendiri. Setelahnya gadis bengis itu turun dari kapal menggunakan tali. Ia kembali menaiki sampannya. Ia sempat menoleh ke belakang melihat kapal-kapal yang telah sunyi dari suara apa pun. Sebuah kemenangan besar yang akan semakin membuat namanya berkibar bahkan melampaui ayahnya sekali pun.
“Kapal itu akan berlayar tanpa arah sampai menemukan daratan. Dan saat itu terjadi mayat-mayat di sana telah membusuk dimakan belatung.” Mantili kemudian menutup kepalanya dengan kain panjang. Ia terus berlayar dengan kepercayaan diri yang begitu besar.
Bangkai-bangkai kapal Kerajaan Pesisir terus berlayar dalam keheningan mengikuti arah angin laut selama beberapa hari, hingga akhirnya mereka menabrak kapal yang dipimpin oleh Pangeran Alif.