Mantili melompat dari sampannya. Ia telah sampai di daratan dan sebentar lagi akan menikmati kemenangan yang dijanjikan Adrian padanya. Namun, bukan Mantili namanya jika ia tak bersenang-senang terlebih dahulu. Ia bersama-sama dengan hulubalang yang mengkhianati Teuku Firdaus, menikmati malam di kamarnya berdua saja, tanpa ada yang menggangu. Kepuasan jiwa dan raganya menjadi satu hal yang tak boleh ditunda. Gadis itu termasuk orang yang tak peduli tidur dengan siapa pun, asalkan keinginannya terpenuhi.
“Pulanglah. Kau masih harus mematai-matai istana untukku,” ujar Mantili usai memakai semua pakaiannya. Lelaki itu kemudian berlalu, menuruti perintah gadis yang telah membuatnya tergila-gila. Orang pertama yang mengajarinya tentang surga dunia, dan orang yang sanggup membuatnya mengkhianati saudaranya sendiri.
Mantili memandang punggung lelaki itu tanpa berkedip. Ia membandingkan antara hulubalang tadi dan Adrian. Dua pria yang berbeda dan telah membuatnya nyaris menjerit di atas ranjang.
“Aku harus segera pergi ke markas Adrian. Lelaki itu harus memberikan apa yang kupinta.” Mantili tak jadi memejamkan matanya. Di pagi buta ketika sebagian orang sedang bersiap untuk menunaikan ibadah Shubuh, ia justru berkuda dengan sangat kencang, menuju benteng milik Adrian. Kemudian Mantili menerobos masuk dan menemukan lelaki bengis itu sedang menulis sesuatu di mejanya.
“Sudah pulang. Apa hasilnya?” Adrian tetap tenang walau didatangi Mantili secara mendadak.
“Beberapa hari lagi mungkin kau akan mendengar kabar buruk untuk Kerajaan Pesisir, tapi kabar baik untukmu.” Mantili langsung melepas alas kaki dan sebagian pakaiannya. Bukan untuk memeluk atau menyambar Adrian, melainkan membaringkan tubuhnya di ranjang empuk milik lelaki Belanda tersebut. Tubuhnya lelah dan butuh untuk istirahat. Hanya dalam waktu singkat saja gadis tersebut telah terbawa ke alam mimpi. Adrian tak mengganggunya, masalah kepuasan dirinya bisa ia tuntaskan nanti saat tubuh Mantili telah bugar.
***
Kapal yang ditumpangi oleh Alif dan utusan dari Malaka telah sampai di Kerajaan Pesisir. Namun, sang pangeran tak membolehkan adanya sambutan yang berlebihan, sebab di dalam kapalnya ia membawa beberapa jenazah yang harus segera dimakamkan.
Kembali istana berduka. Tak tanggung-tangung, mereka kehilangan seluruh armada maritim hanya dalam sekejap mata. Sultan Zulkarnain mendengar berita itu membuat sakitnya semakin bertambah menjadi. Permaisuri Syafitri bersyukur setidaknya putranya kembali dalam keadaan hidup, dan Putri Naqi harus memendam kekecewaan, ia paham buntut dari kejadian ini adalah ditundanya pernikahan di istana sampai masa berduka setidaknya lewat. Demi menghormati keluarga Teuku Firdaus yang juga seorang bangsawan.
Sudah tak terhitung lagi berapa banyak pemakaman yang didatangi Alif hanya dalam sebulan. Satu demi satu ia saksikan orang-orang meregang nyawa akibat ulah Belanda. Meski belum ia temukan bukti bahwa serdadu asing yang melakukan penyerangan pada armada maritim milik Kerajaan Pesisir. Namun, siapa lagi dalang dibalik hancurnya semua itu juga bukan musuh ratusan tahunnya.
“Bisakah kau cari tahu tentang gagak hitam terlebih dahulu sebelum kita melakukan penyerangan? Aku tak mau gagal dan kembali dengan tangan kosong.” Alif berbisik pada Ridwan ketika ia harus menemui ibundanya. Kemudian punggawa itu pergi menuruti kehendak tuannya. Ridwan pun menanti saat penyerangan itu, sebab telah lama ia dengar selentingan kabar tentang gagak hitam, yang gemar bermaksiat dan mengkhianati sesama pejuang pesisir. Ia akan mendampingi tuannya walau harus mengorbankan nyawa sekali pun.
Alif sampai di kediaman ibundanya. Ia melihat ayahnya sedang tertidur pulas. Entah mengapa Permaisuri Syafitri belum mau menyerahkan takhta untuknya, dengan alasan harus menikah terlebih dahulu. Padahal jika Alif telah bergelar sultan, ia lebih mudah menggerakkan hulubalangnya dalam hal apa pun.
“Ada apa kau kemari, Putraku?” tegur Syafitri ketika Alif memandang ayahnya yang sangat tenang tidurnya.
“Tunda dulu pernikahan Ananda dengan Putri Naqi, Bunda,” ujar Alif dengan penuh keyakinan.
“Sudah Bunda duga, kau pasti akan memintanya. Melihat gelagatmu kau pasti belum siap setelah kehilangan armada maritim kita.”
“Bunda sangat bijaksana mengetahui keinginan Ananda, kuharap Bunda juga memenuhinya.”
“Tentu, tapi tak lama, Putraku. Hanya dua pekan saja, jika kau masih enggan, Bunda akan membiarkan Putri Naqi memilih sendiri calon suaminya atau kembali ke Kerajaan Malaka. Dan jika hal itu sampai terjadi, artinya hubungan persahabatan kita akan semakin merenggang, pasti akan berdampak buruk pada hal-hal penting lainnya. Sampai di sini kau mengerti, Putraku?” Permaisuri Syafitri meletakkan rangkaian bunga yang baru saja selesai ia susun di meja dekat suaminya tertidur pulas.
“Baik, Bunda. Dan sekali lagi Ananda meminjam beberapa punggawa istana untuk melakukan tugas rahasia. Mohon maaf jika Ananda belum bisa memberitahunya pada Bunda, sebab yang dikejar juga termasuk golongan makhluk halus.”
“Boleh, dan seperti biasa, kembalilah hidup-hidup. Takhta menantimu, tubuh ayahmu semakin melemah dan tak kuat lagi untuk duduk di singgasananya.”
Usai mendapat kepercayaan dari Permaisuri Syafitri, Alif kembali ke kamarnya. Dalam perjalanan ia sempat melirik kamar yang didiami oleh Putri Naqi. Gadis dari Kerajaan Malaka itu tak ada di kamarnya. Mungkin ia sedang belajar menenun bersama dayang wanita lainnya.
“Aku pasti akan menikahimu jika umurku panjang, Putri Naqi.” Alif berlalu setelah menatap sejenak bunga mawar yang kini telah sempurna. Semerbak wanginya sampai merasuk dalam kepala Pangeran itu. Mungkin, besok dia akan memerintah beberapa dayang wanita untuk memetik bunga-bunga itu lalu dibuat pewangi untuk Putri Naqi, daripada berguguran dan terbuang percuma begitu saja.
***
Ridwan mengikuti langkah seorang hulubalang yang terlihat mencurigakan. Ia yang daya ingatnya tajam mengenali wajah itu. Punggawa yang ikut dalam barisan armada Teuku Firdaus. Lalu mengapa ia masih hidup, sedangkan di dalam bangkai kapal itu hanya berisikan jenazah yang telah terbujur kaku saja.
Dengan sangat perlahan Ridwan mengikuti ke mana hulubalang pengkhianat itu melangkah. Ia terlihat memasuki sebuah rumah kecil di mana terdapat seorang gadis sedang menantinya seorang diri. Namun, Mantili bisa merasakan kehadiran Ridwan, dengan cepat ia berlari agar keberadaannya tak diketahui orang lain.
Ridwan kalah cepat, ia kehilangan begitu saja orang yang sedang ia cari tahu keberadaaannya. Kini hanya tersisa seorang punggawa yang sedang duduk santai seolah-olah tak terjadi apa-apa. Hulubalang pengkhianat itu bahkan menikmati hidangan yang tersaji di depan matanya.
Punggawa setia Alif itu tak bisa bertindak gegabah. Ia harus melihat sendiri bukti pengkhianatan yang ada pada hulubalang rendahan di depannya. Dengan sangat sabar ia menanti tanpa ketahuan. Sampai malam berganti dan lelaki pengkhianat itu meninggalkan kediamannya. Ia menuju satu tempat yang menjadi penghubungnya dengan perkumpulan gagak hitam.
Sebuah tempat yang sangat gelap di mana orang-orang gemar mempertaruhkan emasnya. Bertaruh demi kehidupan yang lebih baik dan tak akan mungkin terjadi. Mengundi nasib tak pernah mendatangkan keberkahan pada harta yang dipertaruhkan walau nantinya menang.
Detik demi detik Ridwan menanti hulubalang pengkhianat itu menemui seseorang. Hingga datang lagi gadis yang lari dari hadapannya siang tadi. Ia mengenakan pakaian serba merah dan tipis. Sangat mampu menggoda iman lelaki yang mengkhianati kerajaannya sendiri.
“Sudah kau bawa apa yang kupinta?” tanya Mantili tanpa menyadari keberadaan Ridwan. Hulubalang pengkhianat itu memberikan selembar kain pada gadis pujaan hatinya. Pada saat itulah Ridwan tak ragu untuk meyerang mereka berdua, hingga berujung pada kematian seorang pengkhianat. Meski demikian Mantili berhasil lolos lagi. Punggawa setia Alif itu mencoba mengejar walau ia tak mendapatkan hasil apa pun.