Usai kematian hulubalang pengkhianat itu, Ridwan terus mengikuti Mantili. Walau gadis tersebut sesekali menoleh ke belakang, sebab ia merasa ada yang aneh. Tak terlihat siapa yang membuntuti dirinya, Mantili pun mencoba berlari. Ridwan paham hal demikiian merupakan cara mencari tahu siapa yang mengikuti gadis itu sedari tadi. Punggawa setia Alif pun hanya berjalan layaknya orang yang tidak mengejar apa pun. Dengan penuh kesabaran Ridwan mengikuti Mantili, hingga akhirnya ia berhasil mengetahui di mana sarang kumpulan gagak hitam itu bergerombol.
Pada saat punggawa itu sampai di sana, ada sedikit kejanggalan usai ia menunaikan shalat Shubuh di dekat pohon. Ketika matahari mulai beranjak, tempat itu berubah layaknya kuburan, sunyi, dan sepi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Padahal saat ia memantau dari atas pohon. Beberapa lelaki bertubuh besar tengah berlatih, tertawa serta bermain judi.
“Apa aku masuk saja ke dalam?” gumam Ridwan perlahan. Ia pun menarik pedangnya. Berjalan dengan ragu-ragu, sebab jika ketahuan habis sudah hidupnya. Namun, memang terasa sangat hening, layaknya tempat yang sangat jauh dari keramaian. Ridwan lihat sendiri gagak-gagak asli peliharan Mantili tertidur dengan lelap di tempat yang telah disediakan.
“Semoga saja aku tak ketahuan.” Punggawa setia Alif itu membuka tirai sebuah gubuk jerami, terlihat seorang lelaki berpakain hitam tidur dengang bersila dan mata terpejam. Masih penasaran apakah semuanya memang sehening itu, Ridwan menggerakkan lima jarinya di depan lelaki itu. Tak bergerak lagi layaknya patung.
“Aneh, kenapa mereka ini?” Punggawa itu ingin mundur. Namun, demi memenuhi rasa penasarannya. Ia pun mengambil sebuah kendi lalu memecahkannya, dan kembali tak ada pergerakan sama sekali. Mereka semua tertidur pulas. Ridwan membersihkan pecahan kendi itu sebab tak ingin perkumpulan gagak hitam itu curiga ada yang memasuki sarang mereka.
Satu demi satu gubuk bambu itu Ridwan masuki demi memuaskan rasa penasarannya. Ia uji semua pendengaran perkumpulan yang isinya semua lelaki itu. Dan sekali lagi Ridwan mendapatkan jawaban yang sama. Hanya kebisuan, semakin siang semakin kuat pula dengkuran mereka. Hanya saja punggawa itu tak menemukan di mana Mantili tertidur. Setidaknya, Ridwan kembali ke istana tidak dengan tangan kosong. Berita yang ia berikan pada Alif juga membuat sang pangeran sedikit tidak percaya.
“Kau benar-benar yakin, mereka tidak bergerak di siang hari? Seperti mati suri?” tanya Alif sekali lagi.
“Benar, Tuanku. Hamba bahkan sudah mengujinya berkali-kali. Barangkali mereka memang lemah di saat terik dan bergerak mencari makan kala malam semakin kelam.” Ridwan melontarkan perhitungannya.
“Mungkin saja. Tapi kita tetap tak boleh lengah. Khawatirnya ini jebakan karena mereka tahu kau sedang membuntuti dari belakang.”
“Pikir Hamba juga begitu. Lalu berapa banyak hulubalang yang harus disiapkan, Tuanku.”
“Bawa saja sekitar lima puluh orang. Kita berangkat malam ini juga. Dan jika memungkinkan kita serang saat matahari semakin meninggi.” Alif memegang dadanya, sebab debar jantungnya meningkat berkali-kali lipat. Rasanya semakin dekat dengan pernikah, perasannya semakin takut saja.
Pemuda Pesisir itu kembali mengganti pakaiannya dengan setelan serba hitam. Ia sudah membulatkan tekad bahkan berpamitan dengan kedua orang tuanya. Tak bisa dicegah lagi jika putra bungsu Syafitri itu sudah mengambil keputusan. Anak lelakinya sudah beranjak dewasa dan siap untuk didaulat sebagai sultan setelah pernikahan digelar.
Keseluruhan Punggawa itu menggunakan kudanya, termasuk Alif. Mereka bergegas ke sarang para gagak hitam demi membalaskan dendam atas hancurnya armada maritim dan tewasnya Teuku Firdaus dengan sangat mengenaskan.
***
Mantili sendiri sedang tidak ada di sarang gagak hitam. Gadis itu berada di markas Adrian, sebab perhitungannya dengan lelaki bengis itu belumlah usai. Penggerak gerombolan gagak hitam itu dengan sabar menanti sampai Adrian menyelesaikan rapatnya dengan beberapa bawahan. Ia pun menanggalkan selendang panjangnya dan mengelilingi kamar Adrian dengan hanya menggunakan sehelai kain yang membalut dari batas d**a sampai atas lutut. Gadis itu terlihat layaknya w************n.
Mantili memandang peta yang sangat luas yang terpatri di dinding kamar Adrian. Meskipun gadis itu buta huruf, setidaknya ia paham yang diberi tanda bendera tiga warna merupakan wilayah yang berhasil ditaklukkan Adrian dan bawahnnya. Gadis kejam itu memicingkan kedua matanya. Ia melihat ragam bukit-bukit kecil yang belum diberi tanda bendera.
“Ini, kan, Bukit Gayo. Apa mereka berencana menaklukkannya? Apa mungkin? Dari sekian banyak lawan yang kutemui, pejuang Bukit Gayo merupakan lawan yang paling tangguh. Mereka sangat gigih dalam bergerak. Tak bisa dianggap remeh, belum lagi bukit-bukit yang mengelilingi wilayah itu, layaknya benteng alami yang sulit dijamah,” ujar Mantili seorang diri.
Gadis itu tak terkejut ketika sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Ia tahu Adrian sudah datang sejak tadi. Hanya saja ia sedang ingin bermain layaknya gadis kecil yang tak paham apa-apa dan mengalah saja. Terasa di bahu Mantili, napas hangat Adrian yang menyentuhnya, hingga membangkitkan nalurinya yang sejak tadi telah ia redam.
“Kau seperti menantangku, mengenakan kain setipis ini.” Adrian membalikkan tubuh Mantili hingga mereka kini saling berhadap-hadapan.
“Aku memang seberani itu. Kenapa, kau takut?” Mantili menyentuh pipi Adrian yang mulai ditumbuhi cambang. Terlihat lelaki itu semakin jantan di matanya. Gadis tersebut memang amat kecanduan dengan segala sesuatu tentang Adrian. Tidak, bukan cinta, hanya saja ia tak bisa menolak keindahan duniawi ketika dua raga mereka saling memeluk dengan sangat erat.
“Boleh kutahu apa rencanamu selanjutnya?” Gadis itu mulai membuka satu per satu kancing baju Adrian, kemudian kemeja biru tua yang membalut tubuhnya. Lelaki Belanda itu hanya diam saja. Dari sekian banyak wanita pribumi yang ia temui. Hanya Mantili yang benar-benar berhasil memporak-porandakan akal sehatnya dan bisa mengimbangi permainannya.
“Rencanaku adalah membuatmu menjerit di dalam pelukanku. Kau siap?” Adrian mengangkat dagu Mantili yang telah berhasil melucuti semua pakaiannya. Gadis itu menatapnya dengan sangat dalam, kemudian layaknya orang yang sedang kelaparan, lelaki Belanda itu menyesap bibir Mantili sampai tertelan semua air di dalam mulutnya. Dua raga itu berusaha saling menguasai satu sama lain.
Mantili dan Adrian, berpindah ke ranjang ketika mereka benar-benar telah gelap mata. Tak ada yang berani mengganggu kesenangan mereka berdua ketika tubuh itu telah menyatu dan tak lagi bisa dipisahkan. Semakin lama justru permainan itu menggugah naluri mereka berdua yang paling dalam. Saling memuaskan dan saling membalas sentuhan tak bisa lagi dielakkan. Tidak ada yang menjadi pelampiasan di sana. Mereka sama-sama membutuhkan dan memeluk dengan sangat erat.
Permainan itu berhenti saat matahari telah di atas kepala. Mantili menarik napas panjang berkali-kali. Jika Adrian tahu ia sangat lemah di siang hari, bisa-bisa hal itu dijadikan kesempatan untuk memperbudak dirinya dan seluruh perkumpulan gagak hitam. Gadis itu pun tertidur ketika semua kekuatannya perlahan sirna. Ia akan bangun saat menjelang senja, di mana kekuatannya kembali lagi. Gelenyar asmara yang diberikan Adrian tadi mampu menjadi penenangnya.
“Kau tertidur di siang hari? Tapi, ya, sudahlah, mungkin kau kelelahan.” Adrian menutup tubuh Mantili dengan selimutnya. Lelaki itu menenggak segelas wisky untuk mengembalikan kesadarannya. Ia punya beberapa hal penting yang harus segera diselesaikan. Termasuk rencana penyerangan ke istana Kerajan Pesisir beberapa pekan lagi. Atau bisa jadi ia percepat demi mengejar keinginannya untuk mendapatkan kedudukan wakil gubernur. Kala ia mendapatkan gelar itu, Adrian akan diberikan rumah mewah dan beberapa fasilitas lainnya yang ia incar sejak lama. Dan mungkin lelaki berambut pirang tersebut akan mengajak Mantili tinggal di sana. Ia tak rela gadis itu menjajakan tubuhnya untuk lelaki lain lagi. Sedangkan Adrian sanggup memberikan apa yang Mantili butuhkan.
Lelaki Belanda itu tak tahu kalau Mantili seorang yang cepat bosan berpetualang cinta. Tak sedikit lelaki yang sudah ia datangi lalu dicampakkan begitu saja ketika rasanya hanya begitu-begitu saja. Berkat ilmu hitam yang ia pelajari, hawa nafsu telah menutupi lubuk hati yang paling dalam. Hidayah sulit masuk dan mereka para perkumpulan gagak hitam semakin jauh dari kata taubat. Kematian, merupakan satu-satunya cara mengakhiri petualangan sadis mereka.
Mantili tinggal selama beberapa hari di benteng Adrian. Setiap hari ia melampiaskan hasratnya bersama lelaki Belanda itu. Kemudian ia terbangun dan ingin kembali karena sudah cukup lama meninggalkan sarang gagak hitam. Mantili mengenakan seluruh pakaiannya dan ke luar dari benteng itu tanpa pencegahan dari siapa pun. Ia menunggangi kudanya untuk kembali ke sarang gagak hitam. Namun, perlahan-lahan dari jauh ia perhatikan kepulan asap putih pekat membumbung tinggi dari arah tempatnya bermukim.
Gadis itu mengentak kudanya, dan hanya tersisa beberapa pagar bambu yang belum dibumi hanguskan oleh pihak Kerajaan Pesisir. Mantili terduduk di tanah, semua miliknya hancur dalam sekejap mata. Musuh mengetahui kelemahan mereka dan menyerang di saat semuanya tertidur. Mantili memejamkan matanya, menggunakan ilmu hitamnya untuk mencari tahu siap yang berani memporak-porandakan kediamannya. Saat ia mengetahui siapa pelakunya. Mantili bersumpah akan memenggal kepalanya dengan pedangnya sendiri.
***
Alif dan lima puluh punggawanya mengikat kudanya sangat jauh dari sarang gagak hitam. Mereka melangkah dengan perlahan sebab tak ingin pergerakannya ketahuan. Ridwan melompat ke atas pohon. Ia saksikan dari atas tempat itu kembali sunyi seperti kuburan. Tak ada satu pun lelaki yang terlihat. Semuanya begitu tenang seperti danau yang berisikan buaya di dalamnya.
“Kuharap ini bukan jebakan setan.” Alif melihat sendiri Ridwan masuk tanpa gangguan ke sarang gagak hitam. Sang pangeran memerintahkan yang lain untuk mengikuti jejak Ridwan termasuk juga dirinya. Satu demi satu masuk melihat sendiri tempat di mana para gagak hitam terlelap di siang hari yang sangat terik.
“Bunuh tanpa ragu satu orang pun. Kecuali anak kecil, mereka masih bisa diselamatkan!” perintah Alif sembari mencabut pedangnya.
Para punggawa itu menjalankan titah tuannya dengan cepat. Mereka masuk ke gubug-gubug yang pemiliknya tidur dengan bersila. Tanpa ampun dan tiada kata maaf, eksekusi dijalankan. Satu demi satu perkumpulan gagak hitam meregang nyawa. Darah membanjiri tanah tempat di mana mereka menuntut ilmu hitam.
Alif memandang gubug yang paling besar. Tempat di mana Mantili dan ayahnya tinggal. Ada banyak peti berisikan emas yang tersusun di sana. Sang pangeran merampasnya, ia yakin itu uang haram hasil menjarah dan membunuh banyak orang. Kemudian Alif memberikannya pada Ridwan.
Pangeran Pesisir itu mendengar dengkuran keras yang mengganggu telinganya. Ia datangi sebuah kamar yang tak ditutup pintu. Seorang lelaki tua dengan luka di sebelah matanya tengah terlelap dalam duduknya. Tuak dan arak menjadi minuman yang tersaji di atas meja.
“Biasanya orang-orang seperti ini tak pernah ketinggalan w************n di sisinya?” Alif mencari keberadaan para gundik yang biasanya ada di sisi lelaki seperti itu.
“Mungkin tak ada, Tuanku. Mereka bisa jadi menyewanya di luar, sebab tak ingin tempat mereka ketahuan.” Ridwan kembali, ia ingin mengajak tuannya kembali pulang, sebab hari telah beranjak sore.
“Bakar tempat ini sampai jadi debu. Dan biarkan ia kaku seperti kayu yang dilalap api.” Alif ke luar tanpa menghabisi nyawa ayah Mantili.
Sesuai titah pangeran, gubug-gubug dari bambu dan erami itu dibakar. Api merambat dengan sangat mudah, membakar apa saja yang berhasil dilewati. Terdengar jerit kesakitan seseorang yang memang tidak dihabisi oleh Alif.
Ayah Mantili ke luar dengan tubuh dibakar api, berlari-lari mencari sumber air. Namun, sayangnya persediaan air telah dipecahkan kendinya oleh para punggawa. Lalu tubuh yang terbakar itu terbujur kaku dalam keadan berdiri. Api itu terus melahap kulit sampai ke tulang ayah Mantili. Bau hangus tercium hingga Alif menutup mulutnya.
Ketika sore beranjak, rombongan Kerajaan Pesisir meninggalkan sarang gagak hitam. Mereka membawa kemenangan di pundak lagi. Kembali ke istana dengan penuh kebanggaan. Meski demikian hati Alif masih tak tenang. Ia merasa serangan tadi hanya pembukaan saja. Tak mungkin rasanya Adrian dan para bangsawan pengkhianat membiarkan dirinya tidur dengan tenang.