Boneka Hidup

1055 Words
Adrian sedang berbincang bersama beberapa bawahannya. Lelaki bengis itu terlihat begitu serius merencanakan sebuah penyergapan yang akan menjadi titik awal kehancuran Kerajaan Pesisir. Tak tanggung-tanggung, Adrian akan menangkap terlebih dahulu para pemuka agama yang dianggap memliki pengaruh penting dalam nadi kehidupan rakyat Pesisir. Ia sudah tak sabar ingin mencicipi kedudukan sebagai wakil gubernur yagn sedang kosong, bila perlu gubernur sekalian menggantikan tuannya yang sedang menggempur Bukit Gayo. “Besok jalankan rencana utama kita. Beri mereka contoh, siapa yang melawan akan mati konyol, sia-sia. Sudah bagus kita beri kesempatan untuk menyerah, tapi masih saja mengangkat senjata.” Adrian menunjuk beberapa titik penting yang menjadi tempat berkumpulnya para pemuka agama. “Lalu para wanita, bagaimana, Meester?” tanya bawahannya. “Abaikan dulu. Kita fokus pada pemimpinnya. Tapi kalau kalian suka, ya bawa saja kemari jadikan teman tidur. Terserah, selama tidak menggangu jalannya penjajahan kita,” jawab Adrian, pria itu mengembuskan asap cerutu untuk melepaskan sedikit beban di kepalanya. Pertemuan kemudian dibubarkan ketika mereka semua sudah mencapai kesepakatan. Tiga hari lagi penculikan akan disegerakan. Adrian masuk ke kamar, membuka jas dan kemejanya, berbaring hanya dengan selembar kaus di ranjangnya. Lelaki itu terkesiap ketika ada sepasang tangan yang memeluknya dengan penuh kelembutan. “Kapan kau sampai kemari?” Lelaki bengis itu memandang Mantili yang penampilannya urakan. Terlihat mata gadis kejam itu bengkak dan di pipinya yang mulus terdapat jejak-jejak air mata. “Mereka menghancurkan kerajaan yang dibangun buyutku. Habis tak bersisa, hanya aku yang masih hidup. Pengecut, mereka menyerang di saat kami tertidur.” Mantili memeluk Adrian dengan sangat erat, menumpahkan segala keluh kesah pada kekasihnya. “Semuanya?” gumam Adrian perlahan. Ia kecewa, sebab masih membutuhkan jasa perkumpulan gagak hitam yang begitu lihat menyelesaikan perkara. “Semuanya hangus terbakar jadi abu. Entah kalau masih ada yang sempat kabur. Coba kalau dia cukup jantan, maka kami cukup bertarung satu lawan satu, dan lihatnya siapa yang akan meregang nyawanya terlebih dahulu. Aku harus membalaskan dendamku, Meester. Tak peduli bagaimanapun caranya.” Gadis itu memainkan jemari tangannya di kulit Adrian, ia sedang melontarkan rayuan agar lelaki yang sedang mabuk kepayang dengannya mengabulkan keinginannya. “Tentu, tentu saja. Akan kuberikan apa pun yang kau mau. Tapi, kau sedang terluka, bonekaku.” Adrian membelai kepala Mantili yang rambutnya acak-acakan. Merapikan serta membersihkan jejak air mata yang mengering di wajah gadis yang ia sebut bonekanya. Sungguh, mereka berdua merupakan pasangan iblis yang tak pernah bisa menahan gelora dalam d**a ketika hanya berdua saja. “Kalau begitu, Meester, sembuhkan aku. Aku kesepian dan tak punya tempat bernaung lagi. Aku membutuhkan dirimu.” Mantili semakin menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Adrian. Ia sedang tidak berbohong, memang dirinya kini hanya sebatang kara, walau tak bisa juga dikatakan lemah seperti yang dilontarkan bibir beracunnya. “Kau, aku tak pernah keberatan dengan apa pun permintaanmu. Tinggallah di sini selama mungkin, setelah penyerangan akan kubawa kau ke istanaku, menjadi nyonya besar di sana. Kita menikah, kau akan menjadi pasanganku di sini. Bagaimana? Namamu akan tertulis dalam catatan sipil kerajaanku. Berhentilah menjajakan tubuhmu pada laki-laki lain. Apa aku tak cukup memuaskan dirimu?” Adrian mulai bergerak mengambil segala sesuatu yang telah disuguhkan untuknya dari tubuh Mantili. Gadis itu memejamkan mata sebab rasa yang diberikan Adrian, ia sedang tak ingin berpikir berat. Tubuhnya lelah, butuh beristirahat, ditambah beban berat yang ada di atasnya kini. Adrian sedang menggali kepuasan pada dirinya. Maka, gadis itu hanya mengiyakan saja apa yang diucapkan oleh teman tidurnya. Padahal, Mantili tak pernah betah menetap begitu lama dalam pelukan laki-laki manapun. Setidaknya, ia punya tempat tinggal untuk sementara waktu. Begitu sederhana pemikiran gadis kejam tersebut. Ia pun hanya diam saja malam itu, membiarkan Adrian memuaskan dirinya. Mantili sedang tak ingin mengimbangi permainan apa pun. Justu hal demikian membuat lelaki dalam pelukannya semakin beringas, merasa berhasil memperbudak seorang gadis yang biasanya tak pernah mau mengalah. *** Mantili diberikan baju-baju panjang oleh Adrian, khas seorang noni Belanda. Awal mulanya ia tak mau mengenakannya. Namun, peringatan dari teman tidurnya itu begitu jelas. Jika berpenampilan layaknya rakyat biasa, ia bisa jadi digilir oleh bawahannya. Mantili tak membantah lagi, bukan ia takut melawan orang-orang yang menantangnya. Ia hanya malas buang-buang waktu untuk hal-hal tak penting. Termasuk pagi ini, ketika Adrian mengajarinya makan dengan segala tata cara peraturan yang begitu menyusahkan. “Pegang sendok dengan tangan kanan, garpu dengan tangan kiri. Perlahan-lahan masukkan makanan dalam mulut agar tak tumpah mengenai bajumu.” Adrian memberikan contoh kepada gadis yang kini telah berdandan dengan cantik. ‘Cih. Peraturan macam apa ini. Kalau aku harus seperti ini terus setelah menikahimu, bisa-bisa aku mati bosan di dalam rumah,’ gerutu Mantili dalam hati. Namun, walau demikian ia tetap mengikuti apa yang diperintahkan oleh Adrian. Tak hanya sampai di sana saja, gadis kejam itu bahkan diajarkan minum wiski dengan sangat elegan. Minuman yang seumur hidup hanya bisa ia pandangi itu, kini telah dituangkan oleh Adrian dalam gelas tinggi. Mantili mencobanya, awalnya terasa sedikit aneh, lalu ia semakin ketagihan dan menambah porsi minumnya. Sampai kepalanya terasa sedikit berat. ‘Tapi kalau kau bisa menyediakan minuman seperti ini setiap hari di rumah. Aku tak keberatan menjadi bonekamu, ternyata rasanya lebih enak dibandingkan tuak murahan,’ puji Mantili dalam hatinya. Gadis kejam itu memandang Adrian dengan senyum penuh rayuan. Dalam kesibukan, kekasihnya itu menyempatkan diri untuk mengajari Mantil hal-hal baru demi kedudukan nyonya di dalam istananya nanti. Sebenarnya Adrian sudah memiliki istri dan anak di negara yang ia tinggalkan bertahun-tahun lamanya. Bahkan di sini pun ia sudah memiliki beberapa gundik untuk melampiaskan hasratnya, dan membuahkan hasil berupa putri kecil yang sangat mirip dengannya. Adrian menyayangi putrinya, tetapi tidak dengan ibunya yang hanya ia anggap babu saja. Berbeda jauh dengan kehadiran Mantili, gadis liar yang mampu memporak-porandakan kesadarannya. “Kau tidurlah terlebih dahulu. Aku ada urusan penting. Jangan pergi, sebentar lagi aku akan kembali!” perintah Adrian pada Mantili. Lelaki itu kemudian berlalu dari kamarnya sembari membawa beberapa kertas penting. “Sesuka hatimu saja kau mengaturku. Kau pikir aku boneka penurut? Hanya demi minuman ini saja aku menurut padamu. Besok juga kalau aku tahu bagaimana cara mendapatkannya, aku akan pergi dari sisimu. Terlalu lama menghabiskan seumur hidup pada satu pria saja.” Mantili menyeringai, mengutarakan maksud tersembunyi di dalam hatinya. Gadis itu mengenakan pakaian biasa saja ketika akan tidur. Ia tak suka dengan baju panjang pemberian Adrian, tak leluasa bergerak. Saat akan berkelana ke alam mimpi, Mantili dikejutkan oleh suara gagak. Pertanda tidak semua orang-orangnya mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD