Pembalasan

2106 Words
Mantili ke luar dari kamar Adrian, dan melompat dari benteng tinggi itu. Ia mengikuti arah suara gagak yang terus memanggilnya untuk bertemu. Tak terlalu jauh dari markas Adrian, ada dua orang lelaki bertubuh besar yang sedang menunggunya. Mereka membawa serta dua ekor gagak yang tersisa. “Kalian masih hidup rupanya?” Mantili memandang dua saudara seperguruannya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Kami tidak ada di tempat malam itu, sedang bersenang-senang dengan betina hasil buruan di sebuah desa. Tahu-tahu saat kembali semuanya sudah hangus. Siapa yang melakukannya?” tanya salah satu lelaki itu. “Pihak Kerajaan Pesisir tentu saja, siapa lagi. Hanya saja aku belum tahu pasti siapa pelakunya. Lalu kalian ingin melakukan apa?” “Membalaskan dendam saudara-saudara kita. Akan lebih menyenangkan kalau kita menyerang satu demi satu keluarga kerajaan saat malam tiba, bagaimana?” tawar lelaki itu pada Mantili. “Menarik, tapi aku sedang menjalani peran sebagai boneka cantik. Kalau kalian mau bergeraklah terlebih dahulu. Nanti aku menyusul, tunggu tanda-tanda dariku. Kau tentu tahu kapan waktu yang tepat untukkmu muncul. Jangan biarkan mereka mati dengan cepat, siksa sedikit demi sedikit sampai mereka merintih meminta dibunuh,” ucap Mantili dengan penuh keyakinan. Sebagai putri penerus perkumpulan gagak hitam, ia memang lebih kejam dari para pria di sana. Dua orang lelaki itu pergi terlebih dahulu, mereka belum tertarik bergabung dengan pasukan Adrian. Cara bergerak yang sangat berbeda. Belanda suka menyerang terang-terangan dan gemar mengadu domba. Sedangkan perkumpulan gagak hitam suka melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan langsung mematikan musuh tanpa tanya. Mantili berlari dengan cepat lagi, ia harus segera sampai di kamar Adrian, atau lelaki itu akan mencarinya dan ia sedang tak ingin ada perasaan apa pun yang ditujukan padanya. Mantili berpacu dengan waktu. Saat ia memasuki jendela kamar Adrian, lelaki bengis itu juga telah sampai di depan pintu. Lalu gadis kejam tersebut membuka pakaian bagian luar kemudian berbaring di kasur dengan ditutupi selimut. Seolah-olah telah tertidur sangat lama sesuai perkiraan waktu Adrian meninggalkannya. “Manis sekali kalau kau penurut seperti ini.” Lelaki Belanda itu membelai kepala Mantili yang berpura-pura tertidur. Adrian, turut berbaring sembari memeluk Mantili, tubuh gadis itu memberikannya kehangatan di tengah dinginnya angin Pesisir yang terus berembus. *** Alif berhasil kembali ke istana sebelum tenggat waktu yang diberikan oleh ibundanya. Ia sedikit tak yakin dengan pernikahannya. Namun, tak mungkin pula untuk diundur terus-menerus. Sementara sang wali dari pihak Kerajaan Malaka telah ia jemput. Sebelum pertemuan untuk membahas acara pernikahannya digelar, Alif terlebih dahulu menemui tuan guru yang mengajarinya mengaji selama ini. Kediaman itu ada di luar istana, ia pun pergi bersama dengan Ridwan saja, tanpa membawa siapa pun lagi. Sampai di tempat para guru berkumpul, ada sedikit kegelisahan hingga membuat para pemuka agama itu gundah. Kedatangan Alif ke sana sangat tepat waktu, para guru yang sempat bersitegang dengan pihak bangsawan istana berencana meneruskan kegelisahan mereka ke istana. Kini tanpa diduga sang pangeran yang terlebih dahulu menemuki mereka. “Seharusnya calon pengantin itu berdiam diri di dalam istana, Tuanku. Bukan kelayapan seperti ini,” ucap seorang lelaki yang biasanya menjadi imam masjid. “Cukup Putri Naqi saja yang dipingit. Kalau sampai aku juga, bisa pusing kepala ini tinggal di istana sampai akad digelar.” Alif turut duduk di sebelah para guru, sedangkan Ridwan hanya menunggu diluar. “Kalau begitu, berita ini merupakan hal yang patut Tuanku waspadai. Dua orang guru ngaji telah hilang begitu saja tanpa jejak. Kami sudah mencarinya sampai ke tepi pantai, tapi tak ada hasil. Padahal mereka sedang tidak melaut. Rencananya setelah memberi tahu pihak kerajaan, kami akan menelusuri jejak yang mungkin pernah mereka telusuri. Kami curiga pelakunya ....” Tuan Guru itu tak meneruskan ucapannya lagi. “Belanda?” sambung Alif, ia tahu ke mana arah pembicaraan itu. Situasi memang semuanya serba tak pasti. “Ridwan, kita tak usah kembali ke istana lagi. Kita akan ikut mencari di mana para guru ngaji ini disekap.” Alif memberikan perintah pada punggawa pribadinya. “Tapi, nanti Permaisuri bisa murka, Tuanku.” “Kalau begitu jangan diberi tahu. Bukankah mereka sedang sibuk semua menata istana yang katanya persiapan kecil pernikahanku. Biarkan saja, tahu-tahu aku sudah pulang beberapa hari kemudian.” “Daulat, Tuanku, kalau begitu hamba permisi dulu, kita butuh bantuan Ibrahim dan Malik juga. Biarkan hamba memanggil mereka.” Ridwan undur diri demi mencari dua temannya yang paling bisa ia percaya. Mereka berdua, saat itu tak ikut penyerangan ke perkumpulan gagak hitam, karena sedang berlatih silat untuk pembukaan pernikahan Pangeran Alif. “Tuanku yakin dengan keputusan yang baru saja diambil?” Tuan Guru meyakinkan kembali keputusan Alif. “Tentu, Ananda akan sangat malu jika hanya berdiam diri saja sementara rakyatku membutuhkan bantuan. Ananda tak sanggup menanggung beratnya dosa itu, Tuan Guru.” “Semoga Allah memberkahi hidup dan juga pernikahanmu nanti, dan engkau dikaruniai putra putri yang mampu meneruskan perjuanganmu nanti.” Doa tulus dipanjatkan oleh sang guru untuk muridnya yang kini sudah sangat dewasa. Alif yang dahulu ia kenal sangat bergantung pada ibunya dalam mengambil keputusan. Hingga ia belum juga dipercaya memegang tampuk pemerintahan walau ayahnya sudah mulai sakit-sakitan. Kini pemuda Pesisir itu sedang membuktikan bahwa dirinya pantas dan layak untuk dipercaya. Ibrahim dan Malik telah datang. Kemudian, empat pemuda Pesisir itu pun menyusun rencana bersama demi mencari dua orang guru mengaji yang hilang tanpa jejak. Penelusuran dimulai di dekat hutan, memang tak ada jejak kaki di sana. Namun, terlihat beberapa pohon terluka bahkan ada bekas letusan peluru. Pertanda ada peristiwa penting di dalam sana yang luput dari pengetahuan banyak orang. “Kau bawa bedil, bukan?” Alif bertanya tanpa menoleh pada Ridwan. “Bawa, Tuanku. Tapi hamba tak sempat mengambil yang ada di kamar Tuan. Takut berpapasan dengan Permaisuri.” “Itu juga sudah lebih dari cukup.” Alif terus memimpin pencarian. Ia mengikut tetesan darah yang mulai mengering di rerumputan. Namun, saat ia terus berjalan rupanya itu hanya kelinci saja yang terluka. “Apa mungkin ini perangkap? Sepertinya mereka sengaja bermain-main dengan kita?” Ridwan mengarahkan bedilnya ke segala arah, bersiap sedia siapa tahu ada yang mencoba menyerang mereka. “Ini bukan jebakan. Kelinci itu mati tertusuk duri. Kita sepertinya salah arah, sebaiknya segera kembali ke jalan masuk tadi.” Malik menunjuk kelinci yang kakinya terluka karena duri besar dan tajam. “Atau kita teruskan saja, bisa jadi darah manusia dan kelinci ini bercampur. Kita tak pernah tahu sebelum mencobanya, bukan?” bantah Alif. “Kalau begitu, biarkan hambar berjalan di depan, dan Ridwan akan mengikuti Tuan dari belakang.” Ibrahim mengambil jalan bagian depan, kembali mengamankan jalan penuh bahaya yang didobrak oleh Alif. Empat pemuda pesisir itu terus melangkah ke dalam hutan. Mencari sesuatu yang hilang dan harus segera ditemukan. *** “Perlu bantuan?” Mantili membuyarkan konsentrasi Adrian ketika lelaki itu akan menuju ke penjara di bawah bentengnya. “Tidak usah. Kau duduk manis saja di sini, menungguku kembali. Aku ada urusan dengan orang-orang suci itu.” Adrian mengecup kening Mantili sebelum pergi. “Tapi aku bosan hanya berada di kamar saja. Kau mulai mengaturku terlalu jauh, Meester.” Gadis kejam itu menahan tangan kekasihnya. Ia ingin ikut ke mana kali ini Adrian pergi. “Kau tinggal denganku maka ikuti aturanku, paham!” Lelaki Belanda itu tak suka perintahnya dipertanyakan. Ia pergi tanpa kata lagi meninggalkan bonekanya sendirian di kamar. “Dan kau juga sepertinya lupa kalau aku bukan orang yang mudah diatur. Baik, aku pergi dulu sebentar. Kalau kau marah cari saja pelampiasanmu pada perempuan lain. Aku juga bisa merasakan lelaki lain lagi, kau mulai membosankan.” Mantili mengganti pakaiannya dengan baju serba hitam lengkap dengan penutup wajah. Rambutnya ia sanggul tinggi agar tak mudah lepas tertiup angin. Gadis itu melompat dengan indah dari benteng yang dibangun Adrian. Ia menyusul keberadaan dua teman seperguruannya, bersama-sama memberi pelajaran pada pihak Kerajaan Pesisir yang telah menghancurkan rumah mereka. “Siapa sasaran kita kali ini?” Mantili dan dua temannya melirik istana yang terbuat dari kayu terbaik dari atas pohon. Gadis itu mencuri teropong milik Adrian, ia melihat seorang putri cantik jelita yang sedang duduk sembari tangannya dihias dengan daun pacar yang telah ditumbuk. “Lihat. Dia yang paling cantik. Kurasa kalian akan puas menggilirnya satu per satu. Dia pasti putri makhota atau bangsawan dengan gelar tinggi.” Mantili memberikan teropongnya bergantian pada temannya. “Cantik, sangat malah. Tapi akan lebih baik lagi kalau ia ketakutan terlebih dahulu. Kita berikan beberapa contoh sampai ia takut untuk tidur malam harinya karena takut kita culik, bagaimana?” ujar salah satu teman Mantili. “Caranya? Kau akan menculik saudarinya?” tanya gadis itu lagi. “Tak perlu. Kurasa dua orang dayang di sebelahnya itu merupakan dayang setianya. Cukup mereka sebagai bukti pertama, lalu lihatlah bagaimana istana itu akan kalang kabung melihat kekacauan yang kita ciptakan.” “Kapan kita mulai?” Mantili mengambil lagi teropong dari tangan temannya. “Malam ini. Setidaknya biarkan daun pacar itu mengering di tangannya. Kasihan, dia sebentar lagi akan menikah malah kita yang menikmatinya terlebih dahulu, ha ha ha.” Gelak tawa berbaur bersama angin di atas pohon. Tiga orang berhati iblis itu merencakan hal keji ketika Alif sedang tidak di istana, ditambah Sultan yang sedang dalam masa pemulihan. Dari atas sana mereka melihat Putri Naqi yang sedang menahan tawa akibat terus digoda oleh para dayangnya. Tanggal pernikahan telah ditetapkan satu pekan dari sekarang. Persiapan sesegera mungkin digelar walau hanya sederhana saja. Mengingat ancaman perang dari Belanda bisa meletus kapan saja. Putri Naqi memandang dua tangannya sendiri, detik demi detik ia akan menjadi istri dari seorang pangeran telah dimulai. “Apa yang sedang tuanku kerjakan saat ini di kamarnya, ya?” Putri Naqi tersenyum ketika daun pacar itu kini dioleskan ke kakinya. “Mungkin sedang membayangkan malam pengantin dengan engkau, Tuan Putri. Macam tak tahu saja apa isi kepala laki-laki. Beda dengan perempuan yang ketakutan. Justru malam itu yang sangat diincar oleh para suami, katanya,” sahut dayang setia Putri Naqi dengan raut wajah menggoda. “Hush. Tidak sopan bicara seperti itu. Ingat, kita sedang ada di kerjaan orang. Hati-hati, jaga mulut,” tegur sang putri perlahan. “Iya, maaf, Tuanku. Tapi, benar, kan tebakan hamba, Tuanku pasti ketakutan membayangkan malam pengantin itu?” goda dayang itu lagi, dan hanya dijawab oleh senyum oleh Putri Naqi. “Sudah. Calon pengantin jangan digoda lagi. Nanti dia lari saat malam pertama. Kasihan pangeran yang sudah minum obat kuat,” sambung yang lain. Perkataan demikian membuat Putri Naqi memerah pipinya. Ia tak pernah berpikir sampai sejauh itu, walau tak bisa ia pungkiri takut mulai melanda. “Kau cobalah cari tahu apa yang dikerjakan tuanku. Bukankah seharusnya tangannya juga diberi daun pacar sebagai tanda dia akan menjadi suamiku?” Putri Naqi menyuruh salah satu dayangnya. Kemudian pelayan setianya itu bergerak meninggalkan kamar tuannya. Jarak dari kamar Putri Naqi dan kamar Pangeran Alif tak terlalu jauh sebenarnya. Hanya saja tempat laki-laki dan perempuan yang dipisah dan dijaga oleh beberapa punggawa membuat dayang itu sedikit memutar. Kesempatan itulah yang digunakan tiga gagak hitam itu menculiknya. Mereka melompat di kegelapan malam, berjalan mengendap-endap diantara obor-obor yang menyala. Menghitung langkah dayang itu agar mudah ditangkap. Mantili mengalihkan perhatian, ia melempar batu hingga dayang itu menoleh ke arah kiri. Lalu salah satu gagak lelaki membekap mulutnya dari atas atap dan menariknya dengan cepat tanpa menimbulkan kegaduhan. Dayang setia Putri Naqi meronta. Namun satu hantaman di bagian kepala membuatnya langsung tak sadarkan diri. “Cepat, sebelum ketahuan!” Mantili memastikan tidak ada hulubalang yang mengetahui pergerakan mereka. Tiga gagak itu bergerak meninggalkan istana, menuju sebuah rumah kosong yang tak berpenghuni entah milik siapa. Mantili lalu mengambil seember air, menyiramkan pada dayang itu yang masih tertidur pulas. Saat bangun, pelayan setia Putri Naqi ketakutan ditatap sangat mengerikan oleh dua lelaki di depannya. “Maaf. Kau menjadi korban pertama. Tapi bagaimana lagi, istana yang terlebih dahulu memulai peperangan ini. Jangan menjerit, jangan ketakutan. Percayalah tak sesakit yang kau bayangkan. Layani kedua saudaraku ini, ya.” “Tidak. Jangan. Lepaskan!” Suara itu terdengar dari dalam rumah yang terletak jauh dari keramaian. Mantili mendengar dengan jelas tanpa belas kasihan sedikit pun. Dayang setia Putri Naqi yang tidak tahu apa-apa menjadi korban kebiadaban dua gagak hitam yang senantiasa haus tubuh perempuan. Ia diperlakukan tidak layak. Sebagian badannya telah lebam dan menderita luka lecet, ada darah yang bahkan mengalir dari dahinya. Kainnya, jangan ditanya lagi telah koyak di sana sini. Lelah melawan, akhirnya gadis itu tak sadarkan diri. Ia disekap di dalam sana sampai malam akan berganti pagi. Sebelum Shubuh masuk, tiga gagak hitam mengembalikan tubuh yang telah tak bernyawa itu ke belakang istana. Terlihat jelas bekas penganiayaan yang sangat biadab. Dayang setia Putri Naqi terbaring di tanah, menanti siapa pun yang melihat jenazahnya. Sesaat tadi ia mengatakan tentang ketakutan di malam pengantin. Namun, justru dirinya yang direnggut kesuciannya terlebih dahulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD