Mayat Dalam Parit

1826 Words
Putri Rindu Naqi meneteskan air mata melihat jenazah dayang setianya terbujur kaku dengan kondisi mengenaskan. Pakaian robek di sana sini serta tubuh lebam dan terdapat banyak bekas luka. Ia menyesal memerintahkan dayangnya untuk pergi mencari tahu tentang Pangeran Alif, jika saja ... pasti dayangnya masih baik-baik saja. “Maafkan, Putri, jika pengamanan kami masih kurang baik. Kami pun tak menyangka akan terjadi hal-hal seperti ini.” Permaisuri Syafitri datang menenangkan hati calon menantunya. Gadis itu tak boleh sampai jatuh sakit akibat terlalu banyak pikiran, sebab pernikahan tak lama lagi digelar. Hanya saja, Permaisuri mencari keberadaan Alif. Mengapa sedari tadi tak datang juga, termasuk dengan Ridwan punggawa setianya. “Segerakan pemakaman. Jangan dibiarkan menjadi tontonan orang. Perketat penjagaan di pintu masuk kediaman Putri Naqi. Bahkan semut pun tak boleh masuk ke kamarnya. Kalian mengerti?” perintah sang ratu pada seluruh pengawalnya. Permaisuri Syafitri bergegas menuju kamar Alif. Para pelayan laki-laki yang kerap melayani putranya tak melihat keberadaan sang pangeran sejak semalam. Wanita keturunan Arab itu meremas kain bajunya. Putranya kembali pergi di saat persiapan pernikahan hampir beres. Dan tak meninggalkan sebuah pesan pun untuknya. “Saat dia kembali, suruh langsung menghadapku.” Permaisuri Syafitiri meninggalkan kamar Alif dalam keadaan murka. Alif telah menyalah artikan kebebasaan yang diberikan padanya. *** Tiga gagak hitam itu memperhatikan dari atas pohon lagi kamar Putri Naqi. Benar adanya keamanan diperketat dua kali lipat. Namun, bukan berarti mereka tak bisa menerobosnya. Urusan kecil bagi tiga orang tersebut sebab yang lebih berbahaya dari ini juga pernah mereka hadapi. “Kita culik satu orang lagi dayang cantik tepat di depan mata Tuan Putri bangsawan yang sok manja itu. Setelahnya aku yakin dia akan ketakutan di sisa usianya. Hidup segan mati tak mau,” ujar Mantili kepada dua saudara lelakinya. Mereka kemudian turun dengan perlahan tanpa menimbulkan keributan. Tiga gagak itu telah siap dengan sumpit beracun. Gadis kejam itu meniup sebatang bambu yang mengeluarkan jarum beracun hingga menancap di leher para hulubalang. Satu demi satu hingga semuanya tumbang tanpa jerit kesakitan. Tiga orang itu lalu masuk dari jendela Putri Naqi. Sang putri yang sedang tidur langsung terbangun dibuatnya. Ia ingin menjerit tetapi mulutnya telah dibekap terlebih dahulu oleh Mantili. “Kau bergerak, mati!” ancam gadis itu. Kemudian Putri Naqi hanya mengangguk saja. Mantili membunyikan lonceng di atas meja. Hal itu sebagai pertanda tuan putri sedang membutuhkan sesuatu. Tak lama setelah itu satu orang dayang setianya gegas memasuki kamar Putri Naqi. Tanpa ada prasangka apa pun dayang itu masuk dan terkejut melihat tuannya disandar. Belum sempat berteriak, salah satu gagak hitam telah membuatnya tak sadarkan diri. Ketiga bandit tersebut kemudian kabur setelah membuat Putri Naqi tak sadarkan diri juga. Kembali menuju sebuah rumah kosong tempat mereka melakukan perbuatan kejinya. *** “Putraku belum kembali juga?” tanya Permaisuri Syafitri pada pelayan kamar Alif, dan hanya dijawab dengan gelengan kepala. Permaisuri Syafitri lantas mengumpulkan beberapa hulubalang pilih tanding yang kemampuannya jauh di atas Ridwan. Kesemuanya merupakan gabungan dari hulubalang miliknya dan suaminya. Mereka bertugas untuk membunuh bandit yang menerobos masuk ke kamar Putri Naqi dan melecehkan sampai mati dua dayang dari Kerajaan Malaka itu. “Setelah pekerjaan kalian selesai. Bawa kembali Pangeran Alif ke hadapanku hidup-hidup. Kalau Ridwan menghalangi, bunuh saja!” Sebuah perintah yang cukup sadis terlontar dari bibir sang ratu. Ia sedang tak ingin bermain-main di situasi genting seperti ini. Belum lagi kondisi kesehatan Putri Naqi yang semakin menurun setelah dua dayangnya ditemukan tewas mengenaskan. “Lagi-lagi aku yang harus menanggung semuanya.” Permaisuri Syafitri mengembuskan napas panjang. Sejak sultan jatuh sakit-sakitan, ia yang memegang semua kendali pemerintahan. Lelah, tentu saja. Karna itu pula ia ingin agar Alif segera menikah dan menggantikan ayahnya sebagai sultan yang baru. Malam harinya, kelima hulubalang pilihan sang ratu mulai bergerak. Mereka mengintai dari bawah. Memantau pergerakan dahan pohon yang bergoyang dengan keras walau angin laut hanya berembus biasa-biasa saja. Penampilan mereka malam itu serba tak terlihat dalam kegelapan pakaian hitamnya. Di tambah obor-obor yang sengaja dimatikan. Angin laut yang berembus perlahan tak mempengaruhi para hulubalang itu sama sekali. Mereka tetap menanti ancaman itu turun dan selanjutnya dihabisi atas perintah Permaisuri Syafitri. Mantili kembali melompat, malam itu ia merencanakan untuk menculik Putri Naqi. Namun, dihadapannya kini ada dua orang lelaki yang menghadangnya. Belum ia sempat ia meniup batang bambu beracunnya. Terlebih dahulu dua hulubalang itu menarik tangan Mantili kemudian membawanya menjauh dari istana. Gadis kejam itu cukup terkejut dengan gesitnya pergerakan hulubalang rahasia sang ratu di dalam istana. Tadinya, Mantili berpikir perkumpulannya merupakan yang paling hebat. Kini, ia memiliki saingan. Gadis itu pun membuka sabuknya, menjadikannya senjata demi melawan dua hulubalang di depannya. Mantili bertahan sebisanya. Ia kewalahan menghadapi pergerakan yang kunciannya begitu mematikan. Begitu pula dengan dua saudara lelakinya. Mereka hampir mati karena tebasan pedang. Lalu Mantili memberi pertanda untuk pergi. Gegas para gagak berlari sekuat mungkin. Menjauh dari medan perang yang bisa merenggut nyawa mereka. Kelima hulubalang rahasia Permaisuri Syafitri tetap mengejar. Salah satunya bahkan melepaskan timah panas. Mantili terkena walau hanya sebuah lesatan saja dibagian bahu. Ia pun terduduk, tak sanggup lagi berlari. Kemudian salah satu saudara lelakinya menggendong gadis itu, terus melarikan diri sampai ke markas Adrian sembari berpencar dan mengecoh kelima hulubalang tadi. “Sudah kubilang agar kau tinggal saja di dalam kamarmu. Kalau sudah seperti ini siapa yang harus direpotkan?” Adrian membersihkan bahu Mantili yang terluka. Gadis itu tak memerlukan tindakan medis lain dari para mantri. Lelaki Belanda itu masih sanggup mengobatinya. “Kalian berdua bisa tinggalkan kami sebentar dulu?” Adrian memandang pada dua saudara Mantili yang berdiri kaku di dalam kamarnya. Ia merasa canggung ditemani orang lain. Mantili memberikan isyarat agar dua gagak hitam itu setuju saja. “Aku menuntut balas atas kehancuran rumahku. Kau pikir aku tak bosan hanya makan tidur saja di dalam benteng ini?” oceh Mantili. Gadis itu sesekali memejamkan mata untuk menahan perih di bahunya. Adrian menjahit lukanya yang menganga. “Jika kau memang tak bisa diam. Bagaimana kalau ikut penyerangan kami seminggu lagi. Aku berjanji kali ini Kerajaan Pesisir akan runtuh di tanganku dalam sekejap mata, bagaimana?” Lelaki Belanda itu mengelus pipi Mantili yang merona kemerahan karena menahan sakit. “Apa dua saudaraku boleh turut serta?” “Tentu. Lebih banyak lebih baik. Kita akan bersenang-senang atas darah orang-orang sok suci itu yang akan tertumpah. Tadi aku baru menghabisi dua orang. Mayatnya mungkin dilemparkan orang-orangku ke dalam parit. Mengenaskan.” Adrian membersihkan tangannya yang terkena darah. Ia sudah selesai mengobati luka Mantili. “Baik. Setelah itu aku ikuti apa maumu. Asalkan aku bisa membunuh orang yang menghancurkan semua yang telah dibangun buyutku dari awal.” Mantili menenggak segelas wisky yang diberikan Adrian untuknya. Tak ia rasakan lagi bahunya berdenyut akibat luka tembak itu. Kekasihnya benar-benar tahu caranya mengobati luka. *** Sudah hampir semalaman empat pemuda pesisir itu mencari keberadaan dua guru ngaji yang hilang. Namun, tak juga mereka temukan. Padahal Alif sudah lama meninggalkan istana. Ia sedikit khawatir jika ibundanya murka dan menghukumnya jika kembali. Akan tetapi, untuk mundur pun tak bisa. Janjinya pada para tuan guru harus ia tunaikan. “Pangeran. Jika kita terus berjalan maka kita akan melewati benteng Adrian yang tempo hari kita masuki, apa kita lanjutkan?” Ridwan memastikan semuanya terlebih dahulu pada tuannya. “Tentu, apa pun yang terjadi kita jalan terus.” Alif mendongak melihat deretan pepohonan tinggi yang melingkupi mereka. Tak salah lagi memang mereka terus berjalan mendekati benteng Adrian. “Atau kita terus masuk saja untuk mencari tahu apa yang direncanakan Belanda?” lanjut Alif. “Terlalu banyak yang harus kita lawan, Tuanku. Kita hanya berempat, bisa-bisa mati konyol kita semua.” Ibrahim menurunkan senjatanya ketika ia mendengar bunyi berisik dari dekat pepohonan. “Mungkin mata-mata?” ujar Malik juga waspada. “Jalan terus perlahan-lahan.” Alif pun juga mempersiapkan belatinya. Ia takut diserang diam-diam oleh pihak Belanda. Tak ada yang muncul, mereka pun terus melanjutkan perjalanan semakin ke dalam sampai benteng milik Adrian terlihat juga. Ketiadaan tali untuk memanjat benteng itu membuat mereka urung mencari tahu. Sebab, keselamatan sang pangeran juga dipertaruhkan di sana. Empat pemuda itu pun kemudian memutuskan untuk bermalam di dekat benteng dan besok pencarian akan dilanjutkan lagi. Baik Alif, Ridwan dan dua punggawa lainnya sibuk dengan isi kepala masing-masing. Sang pangeran memikirkan bagaimana nasib kerajaannya nanti. Pada saat ia telah dinobatkan sebagai Sultan apa dirinya bisa memerintah lebih baik dari ayahnya. Terlebih lagi perkara hati, ia belum menemukan alasan lain untuk menikahi Putri Naqi, selain gadis itu cantik dan terpelajar saja. Sang pangeran mengembuskan napas panjang, harusnya malam ini tangan dan kakinya juga diberi daun pacar. Namun, ia sendiri malah bermalam di tengah hutan, lebih mementingkan urusan orang lain daripada dirinya sendiri. “Jika aku tak kembali tepat waktu. Kau bebas memilih untuk tetap menikah denganku atau kembali ke Kerajaan Malaka. Aku tak akan mengekangmu.” Alif tersenyum seorang diri. Urusan asmara ia memang ketinggalan jauh dari Ridwan yang telah memiliki seorang putri. Semakin lama mereka di dalam hutan, semakin rasa kantuk mendera empat orang itu. Mereka tak sadar sedang diawasi oleh Mantili dari jarak jauh. Gadis itu tak memedulikan bahunya yang baru saja dijahit. Ia kemudian membakar dedaunan yang sanggup memberikan rasa kantuk pada empat orang pemuda pesisir itu. Hingga akhirnya semuanya terlelap ke alam mimpi. “Kalian berempat pasti bukan orang sembarangan sampai nekat ke mari.” Mantili menghampiri Alif yang terlelap begitu saja. “Jika kuadukan pada Adrian, sudah pasti kalian akan mati mengenaskan begitu saja. Tapi sayang sekali wajah setampan ini harus disiksa oleh kekasihku. Kenapa aku baru bertemu denganmu sekarang. Kau pasti bisa menjadi teman tidur yang sangat menyenangkan bagiktu.” Gadis kejam itu memegang dagu Alif. Ia memperhatikan wajah sang pangeran. Amat tampan hingga nyaris membuatnya berbuat keji. Namun, satu buah tanda pengenal dari Alif membuat Mantili mengurungkan niatnya untuk mencium Alif. “Kau orang kerajaan.” Mantili melihat kepingan emas berukiran huruf Arab gundul yang disematkan di d**a Alif. “Apa kau terlibat dalam penyerangan ke rumahku? Aku harus mencari tahu. Saat aku menemukan kenyataannya. Aku tak peduli, ke ujung dunia pun kau akan kukejar.” Gadis itu memotong beberapa helai rambut Alif, menyimpan kemudian pergi dari sana. Menuju rumah ahli nujum untuk menemukan sesuatu tentang lelaki yang mampu memikat hatinya. *** Empat orang pemuda itu sadar ketika kicau burung semakin memekakkan telinga mereka. Semuanya bangun kesiangan akibat Mantili. Gegas saja mereka segera berlari mencari sumber air untuk wudhu dan menunaikan ibadah wajib terlebih dahulu. Malik melewati sebuah parit yang kelihatannya masih baru digali. Dan pada saat itu pula ia melihat dua buah mayat digeletakkan begitu saja. Terlihat jelas bekas siksaan di tubuh itu. Punggawa itu pun memanggil tuannya, tak lama setelahnya Alif dan yang lain langsung melihat ke dalam parit. “Dari pakaiannya sepertinya dia rakyat kita, Tuanku,” ujar Ridwan menyentuh dua tubuh itu. Begitu dingin dan kaku. “Apa mereka dua guru ngaji itu? Jika ia, Belanda sudah kelewatan dalam bertindak dari yang sudah-sudah. Kita bawa saja serahkan pada para tuan guru. Jika memang benar mereka bagian dari rakyat kita. Maka Kerajaan Pesisir tak punya alasan lagi untuk menunda peperangan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD