Alif berjalan seharian tanpa teman dan punggawa yang mengawalnya lagi. Ia telah bertekad menentukan jalan hidupnya dengan hanya mengandalkan dirinya sendiri saja. Ia ingin memperbaiki kesalahannya. Membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan, membunuh para serdadu yang mencoba menyakiti rakyat tak berdaya, tanpa membawa gelar pangerannya. Namun, sekeping emas bertuliskan namanya tetap ia bawa kemana pun, sebagai satu-satunya kenangan yang tersisa dari Kerajaan Pesisir.
Kesendirian telah menjadi temannya selama beberapa hari. Kerap kali Alif menoleh ke belakang. Tidak, bukan ia ragu dengan keputusannya. Namun, ia tak ingin Ridwan, Malik, Ibrahim menyusul lalu mengabaikan keluarganya sendiri. Ia sudah lama melepaskan mereka dari kewajiban untuk setia dengannya.
“Semoga kalian bahagia. Malik, Ibrahim, menikahlah dengan gadis yang menarik hatimu. Jangan seperti aku yang pengecut,” gumam pemuda itu sendirian. Pangeran Pesisir itu kini berteduh ketika hujan turun dengan lebatnya. Di sebuah gubug dekat pematang sawah. Dan tempat itu sama saja dengan yang lain begitu sunyi. Sedikit lagi ia akan sampai di Bukit Gayo setelah melewati sungai yang amat besar.
“Tak apa, kau akan baik-baik saja.” Alif memberi semangat pada dirinya sendiri. Ketika malam telah datang ia tak bisa tidur. Perutnya keroncongan sebab belum bertemu makanan dari tadi pagi. Hanya ada tetesan air hujan yang mengganjal rasa laparnya.
Pagi hari ketika rasa sejuk begitu kuat menjalar dari telapak kaki hingga seluruh tubuhnya, Alif terbangun. Alif menunaikan shalat Shubuh sendirian saja. Tetap kedua tangannya ia buka lebar dan panjatkan doa yang begitu lama. Ia menambahkan bait-bait kata, meminta Allah agar menyembuhkan hatinya yang terus terasa perih. Alif takut tenggelam dalam kesedihan, lalu berputus asa dari rahmat Allah. Ia tak ingin menjadi hamba yang kufur nikmat. Nikmat masih diberi umur panjang dan berjuang untuk menambah amalnya.
Entah mengapa sawah itu terasa sangat sunyi. Seharusnya pagi-pagi sekali para petani telah turun mengurus lahan dan ternaknya. Begitu sepi seolah-olah tak berpenghuni. Namun, tak ada tanda-tanda pula telah terjadi penyerangan dari pihak Belanda.
“Aku minta izin, ya. Mengambil beberapa hasil alam dari sawah ini. Perutku lapar sekali. Aku butuh tenaga untuk terus berjalan.” Alif mendongak melihat langit dan bergumam entah untuk siapa. Ia kemudian melipat celana panjangnya. Melompat ke parit-parit kecil di sawah, mencari beberapa keong sawah atau ikan-ikan kecil yang bisa dijadikan makanan. Tak lupa pula beberapa daun yang bisa dijadikan santapan. Bisa makan saja di zaman penjajah sudah sangat baik. Sudah lama pemuda itu tak mengecap rasa nasi.
Beberapa ekor ikan kecil-kecil telah selesai Alif bakar, pun dengan keong yang telah Alif bersihkan. Ia menyantap dengan sangat lahap hingga ia tak sadar telah diintai beberapa orang. Sesekali pangeran yang terbuang itu menoleh ketika merasakan gemerisik dedaunan yang tak lazim. Ia kemudian mengemas semuanya dan beranjak pergi. Namun, beberapa orang menghadangnya dengan bersenjatakan pedang dan juga bedil.
“Assalammualaikum, saudaraku. Aku bagian dari kalian. Aku bukan pengkhianat dan juga bukan penjajah. Kita berada di barisan yang sama,” ujar Alif ketika salah satu dari mereka menodongkan bedilnya.
“Sudah banyak yang mengaku seperti ini. Nyatanya, pengkhianat semua. Tak bisa dipercaya.” Suara berat seorang laki-laki terdengar dan para pejuang lainnya datang memberi hormat.
“Percayalah tak satu atau dua kali aku terlibat peperangan. Tak terhitung berapa banyak marsose yang telah aku cabut nyawanya. Aku bisa membuktikan apa lagi pada kalian. Jika aku hanya membawa selembar baju di badan saja.” Alif, pemuda itu tak ingin mundur sebab ia tak merasa bersalah.
“Siapa namamu, Saudaraku. Kau terlihat bukanlah orang sembarangan?” tanya pemimpin desa itu.
“Teku Alif Muda.”
“Seorang ulebalang?”
“Dulunya, sebelum semuanya hangus terbakar.”
Mendengar jawaban Alif, kemudian orang-orang menurunkan senjata mereka. Ketua desa itu yang bernama Rahmat, menyambut Alif dengan tangan terbuka. Pemuda itu diajak ke desa mereka yang telah dibangun benteng berlapis-lapis untuk melindungi semuanya.
“Mengapa sawah terlihat sunyi, Bang?” Alif duduk di depan pondok Rahmat. Ia tak ingin masuk ke dalam sebab Rahmat memiliki seorang putri. Pemuda itu tak mau lagi menimbulkan kesalah pahaman pada siapa pun.
“Kabar burung. Katanya, Bukit Gayo sudah digempur habis-habisan. Jadi desa kami yang berada di antara pesisir dan bukit harus bersiap. Saat ini hanya tinggal menunggu saja sampai serdadu itu kemari dalam jumlah yang besar.”
“Dalam jumlah yang besar? Itu artinya mereka pernah ke sini dalam jumlah yang kecil, begitu, bukan?” Alif menangkap maksud Rahmat.
“Iya. Senjata-senjata itu kami rampas dari mereka. Serdadu k*****t itu pernah mengikuti putriku saat pergi memetik sayur di ladang yang sedikit jauh. Beruntung beberapa pemuda sempat menolongnya. Kalau tidak aku tak tahu akan jadi apa putriku itu. Karena itulah kami membangun benteng berlapis-lapis. Para petani kami kerahkan untuk ikut berjuang. Tanpa pandang bulu, sedangkan wanitanya membantu menghaluskan kayu sambil menimang anak. Berat nian hidup kita. Ratusan tahun penjajah itu tak pernah mau meninggalkan bumi kita.”
Alif termenung, meresapi perkataan Rahmat. Ia pikir hanya dirinya sendiri saja yang merasa hidup kian berat. Ternyata ada seorang ayah yang juga waswas memikirkan nasib putrinya kemudian rakyatnya. Alif tersenyum simpul menertawakan dirinya sendiri. Rahmat memperhatikan rupa itu begitu tampan ditambah darah bangsawan yang mengalir padanya.
“Engkau sudah menikah belum? Jika belum—“
“Sudah. Aku meninggalkan istri yang baru saja kunikahi di sebuah pengungsian, Bang.” Alif sudah menduga maksud lelaki bertubuh hitam itu.
“Lalu apa salahnya. Aku ingin menitipkan putriku padamu. Nampaknya kau ini sangat terpelajar dan juga bertanggung jawab.” Rahmat memaksakan kehendaknya pada seseorang yang hatinya masih terluka parah.
“Maafkan, Bang, aku tak bisa, aku tak layak menerima putrimu. Engkau cari saja pemuda setempat yang telah kau kenal dengan sangat baik. Sedangkan aku baru tadi pagi kau jumpai. Engkau tak tahu seberapa banyak kegagalan yang telah kubuat.” Alif berdiri, ia hendak pamit dan meninggalkan desa itu. Tak enak hati rasanya ia untuk tinggal dan meminta sedikit makanan di sana.
“Kau ingin ke mana? Kau pikir bisa meninggalkan desa ini begitu saja? Kau bisa membocorkan tempat ini pada musuh.” Tuduh Rahmat tanpa bukti yang jelas.
“Aku tak sepicik itu jadi orang. Aku masih tahu memilah mana yang baik dan mana yang benar. Aku belajar dari kecil di dalam istana.” Alif menunjuk dirinya sendiri.
“Tak semudah itu untuk pergi dari sini. Akan kulakukan apa saja untuk melindungi desaku.” Rahmat berteriak memanggil beberapa pemuda yang patuh pada perintahnya. Lelaki berkulit gelap itu meminta mereka untuk menjebloskan Alif ke penjara.
“Jangan berikan dia makan dan minum sampai dia berkata iya untuk menikahi putriku.” Lantang terdengar perintah Rahmat.
Sungguh, pangeran yang terbuang itu ingin berontak dan menghajar semuanya satu per satu walau kalah jumlah. Namun, ia masih menimbang bahwa mereka saudara sesama muslim. Akan menimbulkan perakara lain pula jika ia sampai menyakiti mereka.
Kemudian pemuda pesisir itu tak melawan ketika dilempar ke dalam penjara kayu yang pengap. Beralaskan tanah, dan berbau busuk. Hanya satu yang ia syukuri, Alif hanya sendiri saja di sana. Ia kembali menyendiri setelah beberapa saat bertemu dengan warga desa.
Lalu saat malam datang dan perutnya luar biasa melilit karena lapar. Putri Rahmat datang mengendap-endap. Ia membawa sebungkus nasi dan lauk seadanya.
“Maafkan ayahku. Dia terbiasa dituruti perkataannya dari dulu. Jangan di sini lama-lama, Bang. Larilah sejauh mungkin. Tak lama lagi bisa saja desa ini diserang.” Gadis yang masih berusia dua belas tahun itu memandang Alif yang makan begitu lahap.
“Kau sendiri bagaimana?” Alif membersihkan nasi yang menempel di bibirnya. Putri Rahmat lantas menyodorkan minuman padanya.
“Sudah banyak kudengar kabar, kalau wanita dan anak-anak menjadi sasaran penjajah lebih dahulu. Aku hanya mempersiapkan diri saja, Bang. Menyusul Ibu ke akhirat juga tak buruk. Bukannya aku tak suka berada di dekat Ayah. Hanya saja beliau kerap marah karena hal-hal kecil. Mungkin banyak pikiran.” Putri Rahmat itu melirik ke kiri dan kanan, ketika tak ada lagi orang yang terlihat. Ia memberikan pedang Alif yang dipisahkan sesaat darinya.
“Sampai di sini saja aku menolongmu, Bang. Pergilah, assalammualaiakum.” Putri Rahmat tersebut kemudian pergi.
Alif ragu-ragu antara ingin pergi meninggalkan desa itu atau terus tinggal. Mendengar kata penyerangan ia ingin membantu. Namun, ALif sendiri tak cocok dengan Rahmat.
Usai melepas jerat tali temali yang mengikat penjara, Alif kabur dari tempat itu. Langkahnya tersendat ketika sampai di ujung desa. Ia memilih tak pergi dan hanya mengawasi dari jarak jauh saja. Alif merebahkan punggungnya di pagar kayu. Beristirahat sejenak dari perjalanannya yang masih panjang.