Menggapai Keikhlasan

1681 Words
Perlahan-lahan, tempat pengungsian itu semakin ramai ditinggali warga yang berdatangan. Beruntung Alif peka membuat pagar batas sangat luas hingga tak harus mengubah batas. Begitu juga dengan umbi-umbian yang ditanam beberapa waktu lalu. Telah mulai menunjukkan hasil. Untuk sementara waktu pula, nampaknya Belanda tak melakukan serangan ke tempat itu. Kehidupan pun terus bergulir di sana. Pondok-pondok dibangun semakin kokoh dan baik. Kegiatan anak-anak mengaji mulai dijalankan. Ikan di dekat tepi sungai diberi tambak agar mudah diambil oleh para pengungsi. Alif menunjukkan bakatnya sebagai seorang pemimpin. Meski ia masih merasa tak layak diberi julukan pemimpin. “Kita harus memilih pemimpin, Bang. Semakin lama orang-orang hadir, tempat ini bisa jadi sebuah desa baru nantinya.” Ridwan membuyarkan lamunan Alif yang tak pernah bisa lepas memikirkan masa lalunya yang suram. “Engkau sajalah, Bang. Aku tidak berminat sama sekali. Tak pantas dan tak layak. Bahkan kerajaanku saja tak bisa kuselamatkan.” Tanggapan itu benar-benar mewakili hati Alif yang masih terluka. “Kejadian itu di luar kuasa kita semua, Bang. Kalau engkau tak terima bukankah itu sama saja seperti engkau menentang qadar Allah.” “Aku terima kejadian itu, bahkan aku terima kematian orang-orang yang kusayangi. Hanya saja carilah orang lain sebagai pemimpin. Engkau pun layak, Bang. Aku mengenalmu selama ini.” Alif menepuk bahu Ridwan. Ia terima dipimpin oleh siapa saja sekarang. “Tidak. Aku masih terikat sumpah setia denganmu.” “Orang yang memaksamu mengatakan sumpah itu juga sudah meninggal. Sudah lama engkau kubebaskan. Berbahagialah dengan keluargamu.” Embusan napas panjang terasa sangat berat dikeluarkan Alif. “Selama jalanmu masih benar, aku akan mengikutimu. Dan Abang cobalah untuk memaafkan diri sendiri. Aku paham engkau merasa bersalah sebab pernikahan berlangsung saat Belanda menyerang. Tapi kita pun tak ada yang tahu pergerakan mereka yang licin bagai belut.” Alif hanya diam saja, tak tahu bagaimana menanggapi perkataan Ridwan. Benar, ia memang tak bisa memaafkan dirinya sendiri. “Atau barangkali, engkau perlu obat hati yang baru, Bang. Ada banyak gadis di desa ini yang menaruh harapan padamu. Mereka memandang engkau layak. Pilihlah salah satu atau lebih pun tak masalah. Kurasa mereka rela saja.” “Engkau sendiri, kenapa tak mengambil istri lagi?” tanya Alif pada punggawanya. “Satu saja cerewetnya minta ampun, Bang. Dan rasa cintaku padanya masih ada bahkan bertambah besar setiap hari. Cobalah untuk menikah, Bang Alif, mungkin bisa jadi jalan untukmu mendapatkan kebahagiaan.” Kebahagiaan? Iya, satu hal yang Alif begitu kejar dari dulu. Meski ia bergelimang harta. Namun, kerap kali ia merasa separuh hidupnya hampa. Saat akan dinikahkan oleh Putri Naqi ia senang, sebab hidupnya akan memiliki teman sebagai tempat berbagi suka dan duka. Nyatanya, takdir tak mengizinkan mereka bersatu. Meski orangnya telah tiada, tetapi cinta itu masih ada di hatinya. Bahkan semakin membesar lalu menjelma menjadi penyesalan. Andai saja, ia lebih cepat bergerak mengucapkan ijab qabul. Tentu setidaknya ia tak dikejar dosa seperti sekarang. Lalu, apakah dengan menikah bisa membuat hatinya tenang? Mungkin fisiknya terjaga. Ada yang mengurus, termasuk kebutuhan batinnya ada tempat untuk berbagi rasa. Namun, perkara hati siapa yang paling paham selain pemiliknya? Tidak, ia masih belum mampu. Ia takut menyiksa istrinya kelak jika sewaktu-waktu dalam mimpi, Alif menggumamkan nama Putri Naqi. *** Malam hari menjelma, tempat itu kini telah terang karena nyala obor sebagai penghalang masuknya binatang buas yang barangkali mengawasi mereka. Setiap dari para warga telah masuk ke pondoknya masing-masing. Termasuk Alif. Ia sendiri tak mau memperluas tempat tidurnya itu. Tak seperti yang lain. Meski pangeran yang terbuang itu sangat mampu. Jika ia meluaskan pondoknya, ia takut akan memberi harapan gadis-gadis yang katanya menginginkannya. “Aku tak layak. Kalian cari saja yang lain,” gumamnya dalam kesendirian. Ia tak pernah mau bergabung bersama pemuda lainnya. Lebih memilih meratap mengenang semua termasuk kesalahannya. Tak tahu sampai kapan Alif akan seperti itu. Tindakannya sering kali mengundang kasihan bagi yang memandang. Tak terkecuali tiga punggawa yang telah mengikutinya sejak dulu. “Kita di sini bisa makan sambil tertawa. Pangeran meringkuk kendinginan seorang diri.” Malik menatap pondok Alif yang hanya diberi satu lampu kecil saja. “Ya mau bagaimana. Aku sudah berkali-kali membujuknya untuk hidup bahagia. Tapi sepertinya patah hati dan lukanya terlalu dalam.” Ridwan mengambil ubi yang baru saja matang. Ia buka kulitnya lalu mengantarnya untuk anak istrinya yang belum terlelap. Bukti rasa cinta yang ia katakan semakin hari semakin besar. “Aku ingin menikah juga. Biar bisa merasakan bagaimana punya teman hidup. Tapi segan jika Pangeran yang banyak dicintai para gadis saja masih melajang.” Ibrahim tersenyum geli mencemooh dirinya sendiri. “Aku pun. Tapi tak enak kalau melangkahinya. Bagiku dia masihlah pangeran walau tanpa takhta.” Malik pun tak kalah menyuarakan isi hatinya. “Memang ada yang mau dengan kalian, hah?” ejek Ridwan. “Ya, siapa yang mau sajalah. Wajah kami juga tidak jelek-jelek amat. Hanya saja pesonanya selalu tertutup kalau berdekatan dengan Pangeran. Aku saja kagum melihatnya, apalagi gadis-gadis lain.” “Kita doakan saja agar Pangeran cepat sembuh. Lalu beliau menikah dan kalian juga bisa menikah. Banyak gadis di sini. Aku yakin pasti ada yang mau dengan kalian.” Ridwan semakin prihatin dengan keadaan tuannya. Memang ia tak pernah melihat Alif menangis. Tapi tuannya ketika usai shalat dua tangannya selalu terangkat tinggi dan doanya yang paling lama. “Aku tak menyangka kalau luka hati seorang laki-laki ternyata sedalam itu. Kupikir hanya wanita saja yang bisa terluka karena mereka sedikit-sedikit menangis.” Ibrahim, ia memang bersikap biasa saja atas semua yang telah hilang. Sejak kecil hidup sebatang kara telah membuatnya kebal dengan rasa ditinggalkan. Api unggun terus berkobar menghangatkan tiga orang punggawa yang mendapatkan giliran jaga. Sesekali satu di antara mereka berkeliling untuk menjaga keamanan wilayah itu. Alif tahu, sebab ia belum juga tidur sampai sekarang. Rasa ingin pergi dari tempat itu semakin besar, sejak Ridwan mengutarakan keinginan banyak orang agar ia menjadi pemimpin. “Aku tak siap. Kelak pertanggung jawabanku akan besar di hadapan Allah jika gagal. Sedangkan menjaga keluargaku sendiri saja aku tak mampu.” Pangeran yang terbuang itu memeluk dirinya sendiri. Dingin malam yang semakin menjadi membuat giginya hampir beradu satu sama lain. Jika yang lain bisa membagi rasa dingin dengan pasangannya. Maka yang lajang hanya mencari api unggun sebagai penghangat. Lalu Alif hanya berusaha menahan gigil itu sendirian. Padahal, ia hanya perlu menunjuk satu gadis saja. Maka pernikahan pun akan diselenggarakan walau tak mewah seperti saat di istana. Namun, memang jika hati sudah berkata tidak, maka tubuh pun akan memberikan reaksi berbeda. Seumpama pula ada gadis yang terang-terangan menyatakan perasaan padanya. Ia akan menyodorkan pada punggawanya yang lain saja. *** Sang pangeran duduk mengajar anak-anak kecil mengaji. Dengan peratalan seadanya ia menuliskan di selembar kayu yang telah dihaluskan. Berbekal arang hitam yang menjadi alat tulisnya. Ia ajarkan mereka mengaji agar tak buta huruf. Meski untuk memperkenalkan huruf latin, Alif rasa belumlah waktunya. Huruf latin cenderung lebih sulit ditulis dan diucapkan oleh rakyat pesisir. Tak banyak yang tahu. Di istana saja hanya ia, ibu dan ayahnya yang paham. Putri Naqi sendiri katanya juga baru belajar untuk mengimbangi kemampuannya. Para gadis yang berkumpul memperhatikan gestur pangeran saat mengajar. Mereka berbisik-bisik sembari menutup wajah dengan selendangnya. Alif sempat mencuri pandang. Kemudian ia merasa malu dan semakin menambah waktu belajar anak-anak tersebut. “Lucu sekali. Harusnya para gadis yang malu. Ini malah aku. Lemahnya hati ini.” Alif merutuki dirinya sendiri yang tak berani membalas senyuman gadis-gadis itu. Ia takut nanti salah satu dari mereka menanggapinya berlebihan. “Sepertinya engkau tak bisa menghindar lagi, Bang. Kasihan mereka berharap terus.” Ridwan datang dan memberikan papan tambahan sebagai alat belajar anak-anak. “Kasihan. Katakan pada mereka agar tak memikirkanku terus-terusan. Aku sedang tak ingin membimbing siapa pun.” Papan itu diambil Alif. Kemudian ia tuliskan 28 huruf hijayyah di sana lebih tebal agar tak mudah terhapus. “Ini engkau sedang membimbing anak-anak.” Ridwan menyentuh kepala salah satu bocah yang memperhatikan Alif menulis. “Beda. Mereka makhluk polos dan hanya tertawa saja jika menatapku. Tanpa ada perasaan lebih.” “Ah, siapa bilang. Bisa jadi salah satu dari gadis cilik ini juga ternyata menyukaimu bagaimana?” “Lalu ayahnya akan marah dan bersaing denganku, begitu?” tersenyum Alif membayangkannya. “Bang, nanti malam ikutlah berkumpul bersama kami. Tempat ini benar-benar membutuhkan seorang pemimpin. Terima saja jika kami semua sepakat untuk menunjukkmu. Jadikan saja kegagalan sebagai pelajaran. Setelahnya cobalah membuka hati untuk menerima kehadiran orang yang baru. Mungkin setelah engkau menikah. Pemuda yang lain pun akan segera menyusul. Aku sedikit tahu gelagat mereka. Setidaknya kita berusaha mencegah dosa besar terjadi jika mereka terus-terusan menunda untuk menikah. Syahwat manusia tak ada yang tahu seberapa besarnya jika ditahan terus.” Ridwan, selama dalam pengungsian ia bersikap layaknya seorang Abang yang tak pernah dimiliki Alif. “Iya, baiklah. Insya Allah nanti malam usai Isya,” balas Alif pada harapan Ridwan. Punggawa setia itu sedikit merasa lega ketika Alif tak lagi berusaha menghindar. Setidaknya harapan akan terbangunnya kehidupan yang lebih baik terbit lagi. Tak tega Ridwan melihat tuannya terus-menerus termenung kala sepi melanda. Tidak demikian dengan Alif. Ia justru semakin merasa tertekan ketika menangkap maksud dari perkataan Ridwan. Rupanya para pemuda lain enggan menikah sebelum dirinya terlebih dahulu. Padahal mereka lelaki merdeka, bukan b***k yang ditawan tuannya. Keinginannya untuk pergi semakin menggebu saja. Pada papan lebar itu. Alif tuliskan lagi huruf Arab Melayu yang menjadi bahasa dalam surat menyurat. Ia tinggalkan begitu saja, siapa tahu akan ada yang menggantikan tempantnya untuk mengajar. Majelis pertemuan tersebut ia bubarkan menjelang masuk waktu Dzuhur. Kemudian pangeran itu berdiri dan melangkah hingga ke tepian. Sejauh mata memandang, Alif melihat hamparan hijau nan luas yang masih belum terjamah. Ia penasaran seperti apa di sana. Terutama barisan bukit-bukit yang dari pandangan matanya sangat kokoh berdiri. Bukit Gayo, tempat yang dulu pernah ia ikrarkan jika diberi kesempatan untuk berjalan jauh. Kini kesempatan itu terbentang lebar di depannya. Ia menoleh ke belakang sekali lagi. Semuanya sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bukankah pergi ketika orang sedang tak memperhatikannya jauh lebih baik? Ia pun tak akan terbebani dengan air mata yang akan tumpah. Pergi sendiri tanpa pengawalan siapa pun. Alif ingin menjadi elang bebas seperti di pesisir pantai yang kerap ia temui. Dengan mengucap bismillah ia pun melangkahkan kaki kanannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD