Pangeran Alif mendengarkan dengan seksama nasehat pernikahan yang diberikan para guru padanya. Tak main-main, ia nantinya akan memegang dua tanggung jawab besar. Pertama sebagai pemimpin keluarganya sendiri, kedua sebagai pemimpin rakyat pesisir. Salah dalam mengambil keputusan, maka orang-orang yang berada dalam naungannya juga bisa terkena akibat.
Pemuda pesisir itu raganya memang ada di istana. Namun, tidak dengan hatinya. Ia risau, menanti Ibrahim dan Malik yang tak kunjung kembali dari mengintai benteng Adrian.
“Apa jangan-jangan mereka tertangkap?” tanya Alif pada Ridwan.
“Tidak tahu, Tuanku. Apa Hamba perlu menyusul mereka ke sana?”
“Tidak. Kau tahu nanti kita bisa kena hukum lagi. Berdoa saja agar semuanya baik-baik saja. Pernikahanku semakin dekat, keraguanku semakin besar. Entah mengapa aku tak bisa berdamai dengan isi kepalaku sendiri. Ada saja bisikan-bisikan yang datang.”
“Sabar, Tuanku. Cobaan orang yang mau menikah memang seperti itu. Tuan paham bukan iblis tak suka ketika dua manusia akan menjalankan ibadah pernikahan. Mereka akan terus membisikkan ketakutan di dalam hati.” Ridwan menenangkan hati tuannya yang terlihat gundah gulana. Sejak para guru pulang setelah memberikan nasehat pada Alif, pemuda pesisir itu tak beranjak dari ruang belajar.
“Apa kau juga dulu seperti ini saat mau menikah? Hampir dua tahun kau mendahuluiku. Katakan apa kau bahagia, Ridwan?” Alif membuka kitab yang diberikan sang guru padanya. Tuntunan pernikahan langsung yang ditulis oleh para ulama dari tanah suci.
“Tidak juga. Pernikahan Hamba digelar dalam waktu yang singkat. Tak perlu persiapan panjang seperti ini. Kita berbeda Tuanku, kami hanya orang biasa, jadi tak ada pegelaran adat dan segala macamnya.” Ridwan berkata dengan jujur. Meski ia punggawa setia Pangeran Alif, tetapi tak mengubah cara pandang rakyat pesisir padanya. Justru bebannya juga semakin berat akibat sumpah setianya dengan Permaisuri Syafitri.
“Padahal saat kau menikah. Aku sangat ingin datang. Tapi apa boleh buat, izin ke luar istana tak kudapatkan. Tahu begitu aku nekat saja menerobos dinding istana.” Pipi Alif seketikan menghangat ketika membaca tuntunan malam pengantin yang begitu menyentuh. Ia pun menutup kitabnya. Takut membayangkan hal yang tidak-tidak sembari membayangkan Putri Naqi dalam dekapannya.
“Dan setelah itu, Hamba lagi yang akan dihukum oleh Permaisuri,” balas Ridwan dengan gurauannya.
“Iya, maaf. Sebab perbuatanku kau jadi kena imbasnya. Aku juga tak menyangka Bunda bisa setegas itu jauh melampaui Ayah dalam mengambil keputusan.”
Dua orang pelayan laki-laki datang menghampiri Alif. Mereka meminta sang pangeran untuk ke balai istana lagi. Ada beberapa pakaian yang harus dicoba untuk pernikahan nanti. Pemuda berwajah campuran Arab itu melangkah ke sana. Sampai di balai ia mencoba sampai tujuh jenis baju adat yang akan dikenakan nanti. Benar-benar pernikahan yang tidak bisa dikatakan kecil. Walau bundanya kerap berkata hanya pernikahan sederhana saja.
“Putraku terlihat sangat tampan.” Permasuri Syafitri datang dan melihat Alif yang sedang mencoba pakaian terakhir.”
“Bunda. Apa semuanya baik-baik saja?” Alif sedikit heran ketika melihat bundanya tak mengenakan perona bibir seperti biasanya. Wanita itu jadi terlihat pucat.
“Baik. Hanya saja Bunda sedang tak ingin berdandan. Itu permintaan ayahmu. Tak tahu kenapa.”
“Ayah, apa beliau sehat?”
“Lumayan membaik. Tapi tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Karena itulah beliau sangat mengharapkan pernikahanmu tak diundur atau batal. Sultan sudah sangat berharap padamu.” Permaisuri Syafitri memandang putranya dari ujung rambut sampai kaki. Wajah itu begitu tampan, pantas saja Putri Naqi sangat mengaguminya. Permaisuri Syafitri jadi teringat puluhan tahun ke belakang saat ia baru saja menikah dengan Sultan Zulkarnain.
“Bunda, kenapa melamun. Kalau lelah, istirahatlah. Ada Ananda yang bisa mengurus semuanya.” Alif memegang tangan bundanya dan membawanya duduk di kursi. Memberikan segelas air putih untuk wanita yang telah mengurusnya dari kecil.
“Sepertinya memang Bunda kelelahan. Nanti penobatan sebagai Sultan akan langsung digelar setelah kalian bersanding. Ambillah, Nak, beban di pundak bundamu ini. Sejak Sultan sakit, Bunda yang mengurus semuanya. Itu pun sepertinya Bunda tak cakap. Terbukti kita kehilangan armada laut tanpa sisa.” Permaisuri Syafitri menarik napas panjang. Ia merasa gagal besar setelah kekalahan dan beberapa peristiwa memilukan terjadi selama ia memerintah.
“Bunda sudah berusaha dengan baik. Maafkan, terkadang putramu suka membuat ulah.”
“Kau tetaplah terlihat anak kecil di mataku. Dan siapa sangka sebentar lagi sudah menikah, lalu memegang tanggung jawab besar. Jangan perlakukan istrimu dengan tidak baik. Dia meninggalkan kampung halamannya demi dirimu. Berat, Nak, bisa Bunda rasakan itu ketika harus meninggalkan tanah Bunda sendiri saat akan menikah dengan ayahmu. Bahkan sampai sekarang Bunda tak pernah pulang ke kampung halaman. Rindu itu sudah semakin dalam sampai Bunda lupa rasanya. Tapi jaraknya juga sangat jauh, kalau Bunda pulang, ayahmu tak akan tenang hatinya. begitulah sedikit pengorbanan istri yang mungkin tak terlihat di mata suami.” Sang Ratu memberikan nasehat tambahan pada putranya. Di balai itu beberapa pelayan tak ada yang berani membuka suara ketika Permaisuri sedang berbicara.
“Iya, Bunda. Ananda akan senantiasa mengingat ucapan Bunda.”
“Kalau ada kekurangan dari Putri Naqi, bersabarlah. Bicarakan baik-baik, kau juga manusia biasa, punya banyak kekurangan walau seorang yang bergelar Pangeran. Perlakukan istrimu sebagai sahabat. Tempat berbagi cerita suka dan duka, bukan bawahan yang harus senantiasa kau tekan dengan kata taat dan patuh setiap saat. Istri bukan batu yang tak punya perasaan. Justru sering terbawa perasaan sampai merasa lelah sendiri,” lanjut Permaisuri Syafitri. Wanita yang tetap terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda itu, menyandarkan kepalanya di kursi. Rasa lelahnya sudah tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Alif mengiyakan semua perkataan bundanya.
“Ananda antar Bunda ke kamar. Sepertinya Bunda perlu beristirahat.”
“Tidak usah, Bunda bisa sendiri,” jawab Permaisuri Syafitri. Beliau kemudian berdiri lalu teringat dengan beberapa hal, “Kalian jangan lupa memastikan semua pakaian Putri Naqi sempurna. Aku tak ingin ada cacat sedikit pun saat pesta pernikahan nanti. Mengerti?” titah sang ratu pada semua bawahannnya.
Wanita itu meninggalkan balai kerajaan bersama dayangnya. Alif memandang bundanya tanpa berkedip. Rasanya waktu berlalu terlalu cepat. Dulu ia masih berada dalam dekapan sang ibu, lalu besok ia yang akan mendekap istrinya sebagai tempat berkeluh kesah.
“Apa aku bisa menjadi yang seperti Bunda harapakan, sedangkan keraguan masih memenuhi hatiku sampai sekarang. Mimpi-mimpi buruk itu memang tak pernah datang lagi. Tapi, bisikan dari hati menjadi waswas terbesar dalam hidupku. Ananda takut akan mengecewakan Bunda nantinya.” Alif berkeluh kesah seorang diri.
Tidak, ia tak boleh ragu, sebab seperti nasehat para guru, bunda dan Ridwan, menjelang pernikahan godaan akan semakin besar. Namun, bukan godaan yang ditakutkan Alif, melainkan bagaimana kalau tiba-tiba saja Belanda menyerang dan menghancurkan semuanya hingga pernikahan tak jadi digelar?
***
Pengajian sudah digelar menjelang dekatnya hari pernikahan. Tak sampai tujuh hari lagi semuanya akan siap. Alif mengikuti semua urutan adat yang telah dimulai dari pagi hari. Ia semakin dekat dengan para guru, mereka mewanti-wanti agar setelah menikah perjuangan justru tak boleh melemah. Harus semakin kuat, sebab yang dilindungi juga bertambah.
“Semoga Allah menjagamu, Pangeran. Mengingat tanggung jawab yang kau emban. Jalani saja sesuai tuntunan agama, Insya Allah semua baik-baik saja. Jangan takut. Kau terlihat pucat padahal hari masih pagi.” Tuan Guru melihat sambil tertawa ketika Alif terlihat gusar saat hari pernikahan semakin dekat. Ia sudah lama tak berpapasan dengan Putri Naqi. Rindu? Tidak juga, biasa saja. Entah mengapa getaran saat jumpa pertama kali tak bertambah lagi nilainya.
“Bagaimana jika aku gagal, Tuan Guru. Bukankah tidak sedikit rumah tangga yang berujung pada perceraian. Baik dari kalangan rakyat biasa atau lingkungan istana. Kulihat para bangsawan begitu mudah menjatuhkan talak pada istri-istri mereka. Kira-kira penyebabnya apa selain alasan yang diperbolehkan syariat?”
“Itu, saya tidak tahu pasti, Tuan. Kita sebagai manusia hanya bisa menilai dari luar. Sedangkan urusan hati hanya Allah saja yang tahu. Mungkin di luar mereka terlihat baik-baik saja, tapi di dalam siapa yang bisa menerka.”
“Berikan Ananda nasehat lagi, Tuan Guru. Agar tak salah langkah dalam mengambil keputusan. Agar tak bermudah-mudahan dalam mengucap kata perpisahan.”
“Perbaiki niatmu lagi dalam menikah. Jika hanya demi memenuhi nafsu saja ....” Tuan Guru menarik napas panjang.
“Apa tidak boleh?”
“Ya tentu boleh, tapi bukan itu tujuan terbesar. Menikah juga untuk meredam nafsu, untuk mendapatkan keturunan. Tapi garis besarnya adalah untuk beribadah kepada Allah. Jika niatnya sudah untuk ibadah. Insya Allah semuanya terasa lebih mudah. Jika pasanganmu berbuat kesalahan nasehati dengan baik. Perempuan itu pikirannya tak mudah ditebak, mudah berubah-ubah sesuka hati. Jika tak sabar kita bisa terpengaruh untuk main tangan. Bersikap baiklah, istrimu pakaianmu sebagaimana kau akan menjadi pakaian baginya.” Cukup padat petuah yang diberikan Tuan Guru pada Alif.
Sang pangeran menggaris bawahi kata niat yang diucapkan Tuan Guru dari tadi. Sementara itu, niatnya sendiri untuk menikah dengan Putri Naqi karena desakan dari ibunya. Memang tidak ada dosa, hanya saja kurang kuat dorongan dari dalam hatinya.
Seorang pelayan datang menghampiri Alif yang sedang merenung. Mereka menunjukkan dua botol minyak wangi. Sang pangeran sendiri lupa untuk apa benda itu.
“Tuanku. Bukankah engkau yang memintanya sendiri, dari kuntum bunga mawar agar dijadikan pengharum untuk Putri Naqi,” ujar salah satu pelayan menggoda sang tuan yang terlihat kebingungan.
“Oh, iya? Benarkah aku berkata seperti itu? Aku sampai lupa. Ya, sudah kalau begitu berikan saja pada Putri Naqi langsung.” Alif tersenyum sangat lebar, deretan giginya yang rapi sampai terlihat semua.
“Begini, Tuanku. Apa ini akan dijadikan mahar atau hadiah pribadi saja. Kami harus mengemasnya dengan baik.”
“Hadiah saja dariku. Mahar masih bisa memberikan emas permata.”
Para pelayan wanita terseyum mendengar jawaban langsung dari Alif. Memang demikian siapa pun yang akan menikah akan menjadi bahan candaan. Terutama ketika membahas persiapan malam pengantin.
“Sudah, pergilah. Jangan kalian goda Pangeran lagi. Selesaikan saja pekerjaan kalian.” Ridwan tahu, tuannya sedang bingung menanggapi gurauan para pelayan.
“Baik, kami permisi, Tuanku. Putri Naqi pasti senang menerimanya.” Para pelayan undur diri sebelum menggoda Pangeran Alif lebih jauh.
“Apa masih belum ada juga kabar dari Malik dan Ibrahim, sudah berapa hari mereka pergi?” Sang pangeran menukar topik pembicaraan, tak lagi membahas pernikahan.
“Belum. Hamba juga khawatir kalau mereka tertangkap.”
“Aku tak bisa bergerak. Seperti pengantin wanita saja yang harus dipingit berhari-hari.” Alif menggerutu seorang diri. Penjagaan ketat dari bundanya membuatnya serba tak bebas bergerak.
Pemuda pesisir itu masuk ke kamarnya. Ia hanya ingin menyendiri saja, tanpa mendengar petuah apa pun lagi. Alif membuka lacinya, ia memandang senapan laras pendek yang pelurunya hanya tinggal beberap buah lagi.
Sungguh ia tak berharap untuk menggunakannya. Namun, jika diperlukan ia tak segan untuk melepaskan satu demi satu timah panas tersebut. Ada banyak orang yang harus Alif lindungi. Putri Naqi salah satunya.
“Saat kau telah menjadi istriku. Aku berjanji tak akan membuatmu kecewa. Yang jadi masalah, apa kita sempat menikah? Bagaimana kalau ternyata yang kutakutkan terjadi. Kita tak pernah sampai pada takdir itu. Entah aku yang mati terlebih dahulu atau yang lebih buruk lagi.” Alif meletakkan senapannya, menutup laci, dan memandang peta kerajaan yang dipajang di dinding. Benteng Adrian tak tergambar di sana, sebab dibangun tanpa izin dari Kerajaan Pesisir.