Jatuh Sakit

1159 Words
Sampai tengah malam, Alif tak kunjung bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus berkelana pada dua nasib punggawanya yang ia utus. Entah mereka selamat atau tidak. Lalu, pemuda pesisir itu pun membuka pakaiannya. Rasa panas mulai menjalar di tubuhnya sejak ia dipingit dan pikirannya terbagi-bagi tak menentu. Demam, bisa dikatakan demikian. Sebentar panas sebentar dingin yang ia rasakan. Nyeri di kepala Alif mulai tak bisa ia tahan lagi. Namun matanya tak kunjung mengantuk juga. Ingin sekali sang pangeran tertidur, sebab esok pagi ia masih harus mengikuti ritual adat sebelum pernikahan digelar. Tak tahan lagi, Alif merebahkan kepalanya di bantal kapuk yang baru saja diganti pelayannya. Netranya mulai membayang, lambat laun ia seperti melihat bayangan seorang gadis yang sedang berlari-lari naik turun bukit. Peluh yang menetes di kulit cokelat gadis itu diseknaya dengan tangan saja. Alif seperti memasuki tempat lain walau ia sedang tak bermimpi. Sesekali gadis itu berjongkok dan mencium aneka dedaunan yang merambat di tanah. Terkadang sebagian dikunyahnya agar gadis itu tahu apa rasanya. Lalu seorang temannya datang, terlihat sekali ia hanya menggerakkan tangan dan tak membuka suaranya. Kemudian, bayangan itu mulai memudar sedikit demi sedikit sampai Alif akhirnya tertidur karena rasa sakit yang mulai merata memenuhi kepalanya. Bahkan pemuda itu terlambat bangun di pagi hari sampai pintu kamarnya harus digedor oleh beberapa pelayannya. “Bawakan aku obat sakit kepala. Lama-lama bisa pecah otakku karena tak tahan nyerinya,” pinta Alif pada para pelayannya, “Siapa gadis yang hadir dalam mimpiku semalam?” lanjut Alif, ia memijit lagi kepalanya usai meminum obat yang disodorkan para pelayan. “Katakan pada ibuku, aku akan datang terlambat ke ritual adat nanti di balai istana. Aku harus istirahat lagi. Setidaknya sampai pusing ini mereda. Dan jangan ada yang mengganguku, aku benar-benar lelah.” Alif menitip pesan pada Ridwan yang baru saja datang. Kali ini sang pangeran benar-benar sakit dan bukan mencari-cari alasan untuk kabur. “Daulat, Tuanku. Hamba minta Tuanku jangan terlalu memikirkan hal-hal lain. Lebih baik tidur saja sampai semuanya benar-benar pulih. Kalau begitu kami permisi dulu.” Ridwan langsung ke luar dan memerintahkan para pelayan agar tak mengganggu Alif. Ia lihat sendiri wajah tuannya sampai pucat karena menahan sakit dari tadi malam. Ritual adat itu pun akhirnya ditunda karena Alif benar-benar sakit. Pernikahan diundur beberapa hari jadinya. Putri Naqi sedikit kecewa tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula tak ada yang ingin sakit sampai tak sadarkan diri seharian. “Andai aku sudah menjadi istrimu. Pasti aku yang akan mengurus segala kebutuhanmu. Bukan Permaisuri yang sibuk ke sana kemari mengurus Sultan dan engkau bergantian,” gumam Putri Naqi dari jendela kamarnya. Sudah dua hari Alif sakit dan membuat bundanya semakin repot. Walau para pelayan bisa menjaga putranya, tetapi Permaisuri Syafitri tetap saja tak tenang hatinya jika tak melihat dengan matanya sendiri jika putranya baik-baik saja. “Sembuhlah, Putraku. Semua orang mencemaskanmu.” Sang ratu memijit kepala Alif yang pelipisnya masih mengalirkan keringat dingin. Lelaki itu seperti sedang bermimpi aneh, keningnya berkerut dan kelopak matanya bergerak-gerak. “Katakanlah sesuatu, jangan membuat Bunda risau. Apa karena kau punya banyak beban pikiran?” ucap Permaisuri Syafitri seorang diri, “Atau kau ingin berjumpa dengan calon istrimu?” Wanita itu menerka-nerka isi hati Alif. “Panggil Putri Naqi ke mari, sekarang!” perintah sang ratu pada bawahannya. Tak menunggu lama calon istri pangeran sampai di dalam kamarnya. Putri Naqi lihat wajah itu begitu pucat. Permaisuri memerintahkan para pelayan ke luar dan hanya mereka bertiga yang ada di sana. Ia tahu sebenarnya hal itu tak dibolehkan. Namun, ia harus mencoba segala cara agar putranya sembuh. “Tolong, ucapkan kata-kata manis padanya. Siapa tahu hatinya tergugah dan sadar dari tidurnya. Bunda tak akan melihat. Anggap saja hanya kalian berdua di sini. Rahasia ini aman, dan para pelayan tak akan ada yang membuka mulutnya, mengerti?” ujar Permaisuri Syafitri perlahan pada Putri Naqi. Gadis dari Kerajaan Malaka itu mengangguk saja. Ia pun sudah sedemikian merindu pada pujaan hatinya. “Tuanku, aku di sini, di sebelahmu. Bisakah kau rasakan?” Putri Naqi menggenggam tangan Alif yang terkulai lemas. Begitu dingin seperti embun pagi. Permaisuri Syafitri memalingkan wajah, ia tak mau melihat kedekatan dua orang yang belum sah secara agama itu. Putri Naqi mencium telapak tangan Alif, ia pun tahu itu bukanlah hal yang diperbolehkan. Namun, ia tak mampu meredam gejolak hatinya ketika melihat calon suaminya tak baik-baik saja. Gadis itu duduk di sana beberapa saat, menceritakan banyak hal pada Alif yang masih tak juga membuka kedua matanya. Kemudian, Putri Naqi nekat mencium kening pujaan hatinya, tanpa ada seorang pun yang melihatnya. Ingin rasanya gadis itu mengecup bagian yang lain, tetapi ia masih bisa menahan dirinya. “Cepatlah sadar, Pangeranku. Rasanya aku sudah tak sabar menjadi istrimu. Kita akan berjalan bersama di pagi hari. Lalu untuk pertama kalinya menjalani puasa dan syawal berdua. Dan aku berencana ingin punya banyak anak darimu. Agar kerajaan ini semakin kuat dan ....” Putri Naqi menahan ucapannya. Ia hampir menangis ketika kepala Alif bergerak ke kiri dan kanan. Lalu tanpa gadis itu duga, tiba-tiba saja Alif membalas genggaman tangannya jauh lebih kuat, dan pada saat itu pula netra Alif terbuka. Ia sadar dari mimpi panjangnya selama dua hari. Mimpi yang sangat melelahkan. Dua pasang mata itu saling memandang dengan penuh makna. Kesadaran Alif masih belum terkumpul semuanya. Namun, ia tak juga mau melepaskan tangan Putri Naqi. “Pangeran, katakan apa ada yang sakit?” tanya Putri Naqi dengan penuh kelembutan. Ia tak berusaha melepaskan tautan tangan Alif padanya. Gegas pula Permaisuri Syafitri mendekati putranya. “Kau baik-baik saja, Putraku? Kau membutuhkan sesuatu?” Sang ratu melihat putranya yang sedikit kebingungan. Alif menunjuk pada segelas air yang berada di meja dekat ranjangnya. Sigap, Permaisuri Syafitri memberikan minum pada Alif. Usai tenggorokannya basah, pemuda pesisir itu menarik napas panjang berkali-kali. Mimpi itu tak akan ia ceritakan pada siapa pun. Terlalu menyeramkan, dan semoga saja tak terjadi di dunia nyata. Biarlah ia pendam sendiri. Kemudian lelaki itu sadar sedang menggenggam tangan Putri Naqi sedari tadi. Ia pun melepaskan gengaman tangannya. Rona di wajah calon istrinya merebak layaknya noda merah di air yang masih jernih. “Ananda baik-baik saja, Bunda. Maaf kalau sampai Ananda merepotkan.” Alif memegang kepalanya, rambutnya terasa basah seperti habis mandi. Pusingnya memang sudah tak terasa lagi. Rasa itu hilang ketika ia berusaha sekuat tenaga bangun dari mimpi buruknya. “Tidak apa-apa, Putraku. Bunda panggilkan tabib dulu. Dan engkau Putri Naqi, sebelum banyak orang yang melihat, sebaiknya kembali ke kamar. Terima kasih berkat kehadiranmu, Pangeran jadi cepat sadar.” Dua orang wanita beda usia itu meninggalkan Alif seorang diri di kamar. Putri Naqi sempat melihat ke belakang dan tersenyum pada Alif. Kecupan pertama tadi meninggalkan bekas yang sangat mendalam di hati gadis itu. Sang pangeran pun balas tersenyum padanya. “Semoga tadi hanya benar-benar bunga tidur saja.” Alif, pemuda itu kemudian bangkit dari tidurnya dan duduk menyandarkan punggungnya di dinding kayu. Hal yang pertama kali ia ingat setelah sadar tak lain ialah, ke mana perginya dua punggawa yang ia utus ke benteng milik Adrian?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD