Runtuhnya Kerajaan Pesisir

1921 Words
Putri Naqi telah putus asa, ia yakin tak akan ada persta pernikahan yang digelar sebab peperangan tengah berkobar. Gadis itu hanya duduk lesu di kamarnya saja, menanti kematian atau mungkin Alif yang datang menjemputnya. Ia tak mau melepas perhiasan dan menghapus riasan di wajahnya, sebab ia masih menginginkan keajaiban datang. Letusan demi letusan peluru telah beberapa kali Putri Naqi dengar. Ia mengintip dari celah jendela kamarnya. Beberapa meriam mengeluarkan muntahan bola api yang telah meluluhlantakkan istana. Beberapa dayang dan punggawa tergeletak begitu saja di tanah dengan bersimbah darah. Nyawa telah tak ada harganya siang hari itu. “Rabb, inikah takdir yang harus kujalani? Jauh-jauh berlayar dari Kerajaan Malaka hanya untuk mengantar nyawa? Kupikir akan sempat bahagia walau sesaat saja, ternyata aku salah,” keluh Putri Naqi di ranjangnya. Ia kemudian menutup telinga dengan dua tangan ketika jeritan para pelayan sangat terdengar menyayat hati. Gadis dari Kerajaan Malaka itu tersentak ketika pintu kamarnya digedor beberapa kali. Ia berdiri dan mengambil belatinya, berusaha melindungi diri jika ada yang berusaha menyentuhnya. Jika pun mati, ia harus pergi dalam keadaan suci. Pintu kamarnya terbuka juga dan Pangeran Alif ada di depan sana. “Putri, ayo cepat kita pergi dari sini selagi bisa. Tak ada harapan, semua hampir hancur.” Alif menyodorkan tangannya, lalu Putri Naqi menyambutnya. “Kita pergi ke mana, Pangeran?” tanya Putri Naqi sambil berlari. “Mencari kedua orang tuaku. Kita harus pergi bersama-sama.” Dua orang itu menuju kediaman sultan dan ratu yang telah terlebih dahulu hancur bagian atapnya. Sampai di sana Alif tertegun ketika bangunan itu telah porak poranda. Tak ia hiraukau lagi jerit, pekik atau tangisan yang membahana. Ia harus menemukan ayah dan bundanya. Alif menyingkirkan papan yang menutupi jalanan dibantu oleh Putri Naqi. Satu demi satu papan diangkat hingga terlihat tubuh para punggawa pilihan Permaisuri Syafitri yang berguguran dan telah dingin jasadnya. “Tidak, jangan sampai ....” Pangeran Alif masih berusaha beprasangka baik. Namun, ketika mengangkat sebuah papan yang berlumuran darah, firasatnya terbukti sudah. Tubuh kedua orang tuanya telah tak bernyawa. Dua orang yang begitu berharga dalam kehidupan Alif itu tewas dengan berpegangan tangan. Lelaki berdarah Arab itu merasa separuh dunianya telah hancur. Ia mengguncang tubuh Permaisuri Syafitri tetapi tidak ada reaksi apa pun. Sementara itu peluh Putri Naqi semakin bercucuran ketika mendengar suara tawa laki-laki yang begitu menjijikkan. “Pangeran, kita pergi dari sini. Sepertinya ada yang datang mencari kita.” Putri Naqi membujuk Alif yang masih terus meratap. *** Adrian dengan sesuka hatinya menerabas dan menewaskan apa saja yang ada di depan matanya. Ia tak peduli baik itu laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Semuanya sama saja di hadapannya. Sasarannya hanya satu, mencari seorang pangeran yang berani menerobos bentengnya kala itu. Begitu juga dengan Mantili, gadis itu dan kedua saudara seperguruannya berpencar. Ia menggunakan tutup muka sebab tak ingin dikenali. Mantili sambangi satu demi satu bangunan yang belum hancur demi menemukan penyebab kehancuran perguruannya. Mantili berpapasan dengan Adrian yang sempat mengambil jalan berbeda dengannnya tadi. Mereka kemudian bersama-sama menelusuri keberadaan sang pangeran yang mayatnya belum ditemukan, asumsi mereka Alif belumlah mati, dan bersembunyi di suatu tempat. Nyatanya, ketika mereka mendengar suara tangisan seorang lelaki, baik Mantili dan juga Adrian bergegas lari. Di sana mereka melihat dua orang berpakaian mewah sedang duduk meratap menangisi kematian yang tak mungkin diundur lagi. Tawa Adrian langsung pecah begitu juga dengan Mantili. Pada saat Alif menoleh ke belakang, ia mengenali lelaki Belanda itu. Lelaki yang dulu mengoyak kehormatan seorang wanita baik-baik. Sang pangeran langsung menarik tangan Putri Naqi untuk menyelamatkan diri. Dikuasai kegamangan, dua orang itu justru menuju kamar Permaisuri Syafitri yang tak ada jalan ke luar. “Putri tunggulah di sini. Biar aku yang mengurusnya.” Alif meminta Putri Naqi duduk saja di kursi goyang yang masih bergerak itu. Alif menghunus pedangnya, sebab bedilnya telah kehabisan peluru. Ia menyerang Adrian terlebih dahulu. Namun, Mantili menghalanginya. Dua orang itu beradu kekuatan sedangkan lelaki bengis tersebut tertuju pada seorang gadis cantik yang sangat ketakutan. “Dicoba pun belum tentu bisa. Lebih baik kau mati saja menyusul yang lain.” Adrian mengisi ulang senapannya. Putri Naqi yang melihat itu berusaha sembunyi di mana saja. Namun, sayangnya lelaki itu berhasil menarik selendangnya hingga rambutnya tersingkap juga. “Terlalu menyakitkan mungkin mati terkena peluru. Baiklah, aku akan sedikit berbaik hati padamu,” ujar Adrian dengan penuh percaya diri. “Cuih! Membusuklah kau penjajah di neraka!” Gadis itu meludah tepat di depan wajah Adrian. Tersulut amarah, Adrian meraih belati yang ada di pinggang Putri Naqi. Tak menunggu waktu lama, lelaki Belanda itu menusuk perut sang putri dengan tawanya yang mengerikan. “Selamat tinggal. Semoga kau membusuk dimakan cacing tanah.” Adrian meninggalkan Putri Naqi yang melihat perutnya sendiri. Gadis itu merasakan sakit, dan perih yang luar biasa. Ia tak kuat menahannya lalu terjatuh di ranjang milik permaisuri. Matanya masih berkedip beberapa saat sembari meneteskan air mata. Perlahan-lahan penglihatannya membayang, kakinya dingin dan merambat ke seluruh tubuhnya, saat kerongkongannya serasa tercekat, pandangan gadis itu gelap. Ia mengembuskan napas terakhir. Keinginannya untuk mati dalam keadaan suci terlaksana sudah. Alif memberikan sebuah luka lebar di betis Mantili. Gadis itu terluka dan tak bisa berdiri lagi. Sang Pangeran menarik pedangnya ingin menyelesaikan urusannya dengan gadis itu, tetapi tendangan yang diberikan Adrian membuat Alif terjatuh. Lalu terdengar suara meriam lagi mengarah ke tempat mereka bertarung. Adrian memapah tubuh Mantili, membawa serta kekasihnya untuk menyelamatkan diri. Sedangkan Alif mencari Putri Naqi yang ia tinggalkan di kamar orang tuanya. Saat sampai di sana, pedang Alif terlepas dari tangannya. Calon istri yang seharusnya menjadi istrinya siang itu telah tewas dengan belati di perutnya. Alif tertegun beberapa saat. Ia meraih tubuh Putri Naqi dan membawanya dalam pelukannya. Tubuh itu masih terasa hangat sedikit. Siang itu Alif kehilangan tiga orang yang mengisi hatinya selama ia hidup. Entah apa alasan yang membuat pemuda itu masih harus bertahan hidup. Rasanya ia lebih baik mati dalam pertempuran sebab tak ada lagi yang tersisa. Takhta? Jangan harap lagi. Bahkan separuh istananya telah hancur. Rakyat di luar sana pasti mempertanyakan bagaimana cara kerja Alif hingga tak mampu menahan gempuran Belanda. Letusan demi letusan peluru, tembakan meriam, tak mampu membuat Alif beranjak dari ranjang itu. Ia bimbang harus berbuat apa. Air matanya tumpah lagi setelah tadi menangisi kedua orang tuanya. Beruntung Ridwan menemukan tuannya. Ia membawa paksa Alif yang tak mau beranjak sama sekali. Berlari menjauh dari istana yang kini hampir semuanya porak-poranda, dan semua penghuninya tewas. Punggawa itu membawa tuannya menjauh dari istana, terus berlari dan bergabung bersama beberapa orang yang selamat. Mereka mempertaruhkan hidup dan mati dari kejaran serdadu Belanda, terus melewati rumah-rumah penduduk yang juga telah tak berbentuk, lalu naik ke hutan lebat yang masih belum dijamah Belanda. Sampai di sana Malik telah menunggu, mereka bertiga kemudian memanjat pohon, beristirahat karena lelah luar bisa sekaligus menyaksikan apa saja yang tersisa dari bumi pesisir yang mereka tinggali selama belasan tahun lamanya. “Lihatlah, akibat ketidak mampuan kita, semuanya hangus terbakar,” gumam Alif dari atas dahan. “Semua di luar kendali kita, Tuanku. Kita tak pernah menduga senjata milik serdadu itu begitu dashyat. Sedangkan persenjataan kita begitu sederhana.” Ridwan pun memejamkan mata melihat kobaran api yang membumbungkan asap hitam di langit pesisir. Seolah-olah tempat itu adalah tempat pembantaian. “Semuanya sudah tewas, orang tuaku, Putri Naqi. Lalu untuk apa aku hidup?” Alif mengelus dadanya sendiri yang terasa sesak. Tak ada lagi yang bisa ia genggam dengan tangannya. Ia pun pergi hanya dengan pakaian yang melekat di badan saja. “Akhirnya, semuanya hanya titipan saja dan diambil pemiliknya sewaktu-waktu.” Malik bergumam, matanya tetap mengawasi semua kejadian memilukan di depan dirinya. Bukan mereka tak mau menolong, hanya saja ... terlalu sulit untuk dijelaskan. Satu demi satu warga pesisir mereka lihat masuk ke dalam hutan, membawa apa saja yang bisa diselamatkan. Dari bisik-bisik warga yang lewat, tiga orang pemuda itu mendengar Adrian dan pasukannya memaksa yang hidup untuk murtad atau berujung pada kematian. Dan semua yang ditawan lebih memilih mati. “Apa yang akan kupertanggung jawabkan besok di hadapan Allah. Aku merasa tak berguna sebagai seorang Pangeran.” Alif turun dari atas dahan itu, ia berjalan berlawanan arah dengan para warga pesisir. Menyelamatkan siapa saja yang masih bisa ia tolong. “Kau antarlah para warga ke tempat Ibrahim menunggu. Aku akan membersamai pangeran menolong yang lain. Jika umur kami masih panjang kami pasti menyusul,” ujar Ridwan. Ridwan berpisah dengan Malik. Punggawa itu tetap setia dengan tuannya meski permaisuri telah tiada. Mereka berdua berlari, mengawal penduduk yang tersisa. Lalu merampas senapan milik serdadu Belanda. Membalas tembakan itu dengan tembakan juga. Alif dan Ridwan menerobos masuk sebuah rumah, mereka masih bisa menolong seorang gadis yang kesuciannya nyaris direnggut paksa. “Kau pengkhianat kaummu sendiri!” Dor! Alif melepaskan tembakan pada orang berkulit hitam yang telah melepaskan baju bagian bawahnya. Gadis tak berdosa itu dibawa Alif, kemudian bergabung bersama yang lain ke tempat yang aman. Dua pemuda pesisir tersebut masih berusaha menyelamatkan apa saja yang tersisa. Dari jarak yang tak terlalu jauh, mereka lihat sendiri istana itu telah rata dengan tanah. “Bahkan aku tak bisa mengubur jasad kedua orang tuaku. Tak berguna!” umpat Alif pada dirinya sendiri. Serangan yang dimulai siang hari itu terus berlanjut sampai sore. Kehancuran telak diderita oleh Kerajaan Pesisir. Sang pangeran tak lagi memilik takhta. Ketika waktu Ashar telah masuk, ia mengerjakan sendiri saja bergantian dengan Ridwan di sebuah rumah. Dua tangannya naik dan bibirnya mengucapan doa yang sangat lama, memohon ampunan untuk kedua orang tuanya dan kebahagiaan untuk Putri Naqi. Kini lelaki itu hanya rakyat biasa saja seperti yang lain. “Semua yang kau titipkan padaku telah engkau ambil. Izinkan hamba setidaknya hidup untuk menebus rasa bersalah ini dan menyelamatkan keimanan warga yang tak bersalah. Biarkan anak cucu kami hidup untuk membangun lagi semua yang telah porak-poranda,” pinta Alif dalam doanya. Tak lama kemudian ia menyudahi ibadahnya, bergantian Alif menjaga Ridwan. Usia shalat mereka tak langsung meninggalkan rumah itu. Mereka berdua menunggu sampai senja kemerahan di atas langit. Perlahan-lahan api yang membakar rumah-rumah penduduk akhirnya sirna juga. Pertanda peperangan telah usai, barangkali. Dua orang itu memastikan tak ada lagi warga yang tertinggal di wilayah dekat peperangan. Mereka menyisir rumah yang masih layak huni satu demi satu. Membawa makanan yang masih bisa disantap untuk penduduk di dalam hutan. Alif bahkan mengganti pakaian pengantinnya yang telah berlumuran darah Putri Naqi. Ia menanggalkan semuanya kecuali kepingan emas sebagai tanda pengenal bahwa ialah pangeran yang tersisa. Serta ikat kepala dari kain sarungnya yang coraknya khas, menandakan dirinya dulu seorang bangsawan. Lelah, dan putus asa hampir melanda, Alif dan Ridwan pergi dari sana. Mereka berjalan perlahan-lahan menuju hutan tempat warga menyelamatkan diri. “Para bangsawan yang turut mendukung Belanda itu barangkali sedang duduk manis menyesap makanan mereka didampingi dengan istri yang berdandan dan menyenangkan hati mereka.” Alif masih mengingat siapa saja bangsawan yang mendukung Belanda saat perundingan. “Ehm, mungkin, Tuanku. Atau mereka sedang ketakutan. Bisa jadi ketika Belanda menganggap mereka tak ada gunanya lagi, lalu satu per satu akan dibunuh,” sahut Ridwan. “Tak mungkin. Mereka memilik emas permata yang cukup untuk membungkam pembunuh terkejam sekali pun. Sedangkan kita sekarang hanya tangan kosong saja. Membawa makanan ala kadarnya untuk rakyat kita yang mungkin kelaparan di dalam hutan.” Alif melihat bungkusan kain di tangannya, tak banyak, setidaknya cukup untuk mengganjal perut. Ridwan tersentak, ia teringat dengan hal yang penting, istri dan anaknya. “Tuanku, tunggulah sebentar. Hamba akan kembali ke sini, ada yang harus dijemput. Aku berjanji akan kembali.” Tanpa mendengar jawaban Alif, Ridwan meninggalkan tuannya sendirian. “Bahkan suatu hari nanti kau juga akan meninggalkanku.” Alif melanjutkan perjalanannya ke hutan sendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD