Janji Sehidup Semati

1867 Words
Malik berusaha menjebol jeruji yang ada di benteng Adrian, sebab dua orang punggawa itu merasakan getaran yang amat besar. Ya, pergerakan pasukan milik lelaki bengis itu telah dimulai. Semua pasukan dikerahkan Adrian. Persenjataan yang lengkap dan serdadu-serdadu yang tak kenal rasa kasihan. Semua bergerak atas dasar uang. Tak peduli berapa banyaknya darah dan air mata yang tumpah. Perang ratusan tahun itu harus selesai di tangan Adrian. “Cepatlah, kita tak bisa tinggal diam!” desak Malik pada Ibrahim Tak lama kemudian jeruji itu akhirnya jebol juga. Dua punggawa itu ke luar dan memantau situasi di luar penjara. Tak banyak orang yang berjaga, hanya ada empat orang serdadu rendahan saja, itu pun sudah teler dua orang karena pengaruh alkohol. Cepat Malik dan Ibrahim bertindak, mereka mematahkan leher dua orang serdadu yang tertidur di atas meja. Lalu meringkus dua lainnya pula. Dua punggawa itu melihat tempat mereka berpijak, tak ada lagi keributan dan meriam-meriam telah tak ada di hadapan mereka. “Kita tak punya banyak waktu. Ayo pergi dari sini.” Ibrahim mengambil beberapa bedil milik serdadu yang tewas di tangannya. “Tunggu dulu.” Malik masih menahan temannya. “Apa lagi!” “Kita bebaskan tawanan di dalam. Tak mungkin kita tinggalkan mereka begitu saja.” Malik mengambil kunci yang berada di tubuh salah satu penjaga. Ia membuka satu demi satu jeruji besi. Setelahnya mereka semua ke luar dari jalan masuk depan benteng. Sebab tak ada lagi siapa pun di sana, selain juru masak yang tak berani berbuat apa-apa. Para tawanan mengikuti kemana pun Malik dan Ibrahim melangkah. Mereka semua berusaha menyusul secepat mungkin ke mana pasukan Adrian pergi. Sebab jika tak salah hitung menurut Malik. Tak sampai sepekan lagi pernikahan sang pangeran akan digelar. Jika sampai digempur maka musnah sudah segala harapan dan keinginan dua kerajaan besar itu untuk menyatu. “Cepat sekali mereka bergerak. Rasanya kita sudah berlari sekuat mungin tak tersusul juga.” Ibrahim menghela napas cepat. Ia kelelahan, lapar dan haus. Malik kemudian meminta orang-orang yang mengikutinya agar menempuh jalan masing-masing. Sebab perjalanan mereka akan sangat berbahaya. Ketika beban dua punggawa itu telah sirna, mereka bergegas berlari lagi menyusul pasukan Adrian yang mengenakan kuda dan kereta. Debar di d**a itu jangan ditanya lagi. Tak menentu sebab tak ingin tanah mereka porak-poranda diserang Belanda. Dua punggawa tersebut berhenti sejenak ketika merasakan tanah mereka bergetar hebat lagi. Lalu suara letusan peluru mulai terdengar. Tak jauh dari tempat Malik dan Ibrahim berpijak, terdapat sebuah desa yang penduduknya sangat taat beragama. “b*****h! Mereka menyerang semuanya!” umpat Malik. Lantas, dua orang itu berusaha menolong secepat mungkin apa yang bisa diraih. Berbagai hantaman, pukulan dan lesatan pisau mereka arahkan ke tubuh musuh yang tak kenal belas kasihan. Nyawa di siang hari itu serasa tak memilki harga di mata serdadu Belanda. Mayat-mayat bergelimpangan dengan darah mengalir di tanah. Desa itu tak punya persiapan besar menghadapi gempuran kecil yang dilepaskan Adrian. Ya, hanya sebatas beberapa pasukan yang dikerahkan Adrian. Ia ingin pemanasan sejenak sebelum benar-benar menghancurkan istana. Begitu juga dengan desa-desa sepanjang jalan yang dilewati lelaki bengis itu. Tak ada yang luput dari pemusnahan. Sebagian yang masih sanggup berjuang, mengembuskan napas terakhir ketika tak kuat lagi ketika terkena letusan timah panas. Sebagian yang tak kuasa melihat kehancuran di mana-mana memilih mundur dan masuk ke dalam hutan menyelamatkan diri. Begitu pula dengan wanita dan anak-anak. Semuanya lari demi kelangsungan hidup mereka. Malik dan Ibrahim mengawal keselematan orang-orang tak berdaya itu. Mereka bimbang antara terus mengikuti pasukan Adrian atau mengawal para pengungsi. Sebab keduanya sama-sama penting. “Begini saja. Bagaimana kalau salah satu di antara kita yang menyusul sampai ke istana. Lebih baik kau saja yang larinya lebih cepat daripada aku. Ambil jalan pintas, temui Pangeran, walau terlambat, katakan padanya kalau kita teledor dan tak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan aku akan terus mengawal mereka yang tak berdaya ke dalam hutan. Mungkin juga sampai menemukan tempat yang aman.” Ibrahim membagi tugas dengan Malik. “Bahkan, jika kerajaan kita tak selamat. Sebaiknya kau bawa yang masih hidup ke mari. Akan kutinggalkan beberapa petunjuk. Siapa tahu kau dan yang lainnya bergabung kemari. Hati-hati di jalan.” Dua orang itu kemudian berpisah. Semuanya sama-sama bergerak mengurus beban masing-masing yang sangat berat. Malik berlari mengambil jalan pintas sekuat mungkin. Tak ia hiraukan lagi perutnya yang terus berbunyi karena kelaparan. Tujuannya hanya satu, secepatnya menemui Pangeran Alif. Lain pula Ibrahim, ia terus mengawal perjalanan orang-orang tak berdaya itu mencari tempat yang aman. Setiap batang pohon yang besar ia berikan tanda agar mudah dikenali orang-orang yang akan mencarinya. Namun, akan lebih baik jika tak ada yang mencarinya, sebab jika iya, itu artinya kekalahan telak telah mereka derita dan tak ada apa pun lagi yang tersisa. Belanda benar-benar menjalankan misi mereka untuk menaklukkan wilayah pesisir. Terbukti banyak rumah, surau dan apa saja yang mereka lewati diterabas. Adrian tertawa dari atas kudanya. Begitu juga Mantili yang senantiasa mendampingi kekasihnya. Mereka layaknya sejoli yang harus darah. Terutama ketika harus mengeksekusi mati orang-orang yang teguh akan keimanannya. Adrian memaksa mereka untuk murtad. Namun, tak ada yang menghiraukannya, lalu kematian adalah jalan terindah yang ditempuh oleh para pejuang. Daripada hidup diperbudak dan menyembah berhala. “Verdome!” maki Adrian, “pergilah kalian ke neraka!” Lalu atas titahnya satu demi satu pejuang meregang nyawa usai ditembak di bagian jantung. Puas hati lelaki bengis itu melihat hasil karya tangan dinginnya. Ia tak pernah ragu-ragu membunuh siapa pun termasuk wanita dan anak-anak. “Kita istirahat dulu di sini, sebentar. Aku ada urusan dengan gadisku!” Adrian turun dari kudanya dan membawa serta Mantili ke dalam rumah yang telah dikosongkan pemiliknya. Darah lelaki itu sedang mendidih sampai ke puncak dan ia perlu penyaluran untuk menyeimbangkannya. Ia tak peduli dicap sebagai apa pun asalkan hasratnya terpuaskan. Lagi pula Mantili tak pernah menolaknya. Dua orang itu memang sama-sama pasangan iblis yang akan melahirkan benih-benih setan di setiap kepuasan mereka. Kemudian, perjalanan mereka yang terjeda beberapa saat diteruskan lagi. Mantili terutama, begitu tak sabaran ingin menggempur istana. Tempat bersemayamnya orang-orang yang menghanguskan perguruannya. Salah satu desa yang sangat dekat dengan istana menghadang kedatangan serdadu Belanda. Adrian sedang tak ingin bermain-main. Ia pun memerintahkan meriam dipanaskan. “Tembak!” Dor! Dua letusan meriam dilepaskan. Tanah di sekitar wilayah pesisir kemudian bergetar hebat. Getaran terasa sampai jarak yang sangat jauh. Menggentarkan hati siapa pun yang merasakannya. Tak menunggu waktu lama, desa itu hancur dalam sekejap mata. Meriam yang dibawa Adrian hanya perlu beberapa kali melepaskan amarahnya untuk meratakan rintangan di depan mata. *** “Aku harus cepat. Tak ada waktu lagi yang tersisa.” Malik telah melihat istana di depan matanya. Ia berlari lagi, menerobos punggawa yang menghadangnya. Bisa ia rasakan sebuah getaran kuat yang nyaris merobohkan pendiriannya. Lalu ia terus berlari demi menemui sang pangeran yang sedang bersiap menunggu akad untuk segera dilaksanakan hari itu juga. Dipercepat atas desakan permaisuri. “Kau, kenapa baru kembali. Mana Ibrahim?” tanya Ridwan ketika melihat Malik muncul begitu saja. “Kami ditawan. Percayalah, tolong.” Punggawa itu duduk sejenak. Alif lalu menyodorkan minuman pada punggawanya tak luput pula beberapa kudapan sebab ia mengerti rasanya berlari sampai berpeluh seperti itu. Malik menjejalkan makanan secepat mungkin yang ia mampu. “Kita tak punya banyak waktu lagi, Pangeran. Semua desa menuju kemari. Telah diratakan oleh serdadu Belanda. Kita hanya menanti sebuah kehancuran. Larilah, selamatkan diri. Biar kami yang menahan kedatangan mereka di sini. Senjata Belanda begitu ampuh untuk meluluh lantakkan apa saja yang mereka hadapi,” ujar Malik di depan Alif tanpa terbata-bata sedikit pun. “Akhirnya, apa yang kumimpikan terwujud juga. Bersiaplah, kita harus menahan mereka. Apa pun taruhannya.” Pangeran Alif ke luar dari kamarnya dengan membawa bedil dan juga pedangnya. “Tuanku, lalu akad nikah Tuan bagaimana?” Ridwan masih berusaha menahan majikannya. “Tak mungkin, Ridwan. Rakyatku jauh lebih penting dari kebahagiaanku. Jika umurku panjang, aku akan tetap menikahi Putri Naqi. Jika tidak, mungkin kami tidak berjodoh di dunia ini.” Saat sang pangeran terus berjalan melewati istana. Terasa lagi satu getaran kuat. Lalu tak lama setelahnya jeritan mulai menggema di mana-mana. Istana mulai terbakar sebab terkena serangan meriam dari Adrian. Lelaki itu telah berdiri dengan angkuhnya di depan istana Kerajaan Pesisir. “Sayang, bersenang-senanglah, bunuhlah sebanyak apa pun yang kau inginkan.” Adrian mempersilakan Mantili dan dua saudaranya untuk bergerak. Gadis itu bagai mendapat mainan yang amat menyenangkan. Ia membantai dan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya. Tujuannya hanya satu mengincar kepala Alif, dalang dibalik tewasnya semua saudara seperguruannya. Adrian pun tak mau ketinggalan. Ia menyiagakan bedilnya. Menarget siapa pun yang hendak menyerangnya. Siang hari itu ia benar-benar puas dengan jeritan, tangisan serta dentuman meriam yang beberapa kali dimuntahkan. *** Di dalam kamarnya Permaisuri Syafitri sudah pasrah dengan apa pun yang akan terjadi. Ia melepakan semua perhiasannya lalu mengenakan selendang panjang menutupi rambutnya yang indah. Jika harus mati, wanita paruh baya itu tak ingin auratnya tersingkap. Sang ratu kemudian memapah suaminya yang masih sakit. Ia akan berusaha menyelamatkan diri dulu sebelum tertangkap atau mati dibunuh oleh musuh. “Cut Abang, sepertinya janji sehidup semati kita dulu, agaknya akan tertunaikan siang ini. Maafkan jika selama menjadi istrimu aku tak bisa melayanimu dengan baik. Maafkan, agar nanti dihadapan Allah aku tak dicap sebagai istri durhaka.” Permaisuri menggenggam tangan Sultan sembari berjalan melewati lorong istana. Sepuluh pengawal setianya masih mengawal kepergian sang tuan. “Abanglah yang harus minta maaf. Beberapa tahun ini Abang semakin lemah dan menyusahkanmu. Bahkan nafkan batin pun sudah tak mampu Abang berikan. Maafkan Abang, agar dihadapan Rabb nanti Abang tak dicap sebagai suami dzalim,” balas Sultan sembari menguatkan genggaman tangan permaisuri padanya. Sepasang insan yang begitu menyayangi dari muda dulu terus berjalan, meski satu demi satu punggawanya tumbang terkena letusan peluru. Tak gentar mereka untuk menyambut kematian. “Tapi kita gagal menghantar Alif sampai ke gerbang pernikahan. Kita mungkin tak akan sempat melihatnya dinobatkan sebagai Sultan.” Permaisuri Syafitri melihat kematian dua punggawanya sekaligus. Ia tahu waktunya sudah tak lama lagi, sebab beberapa serdadu Belanda kini mengarahkan bedil ke arah mereka berdua. “Kau sudah berusaha yang terbaik. Ini takdir yang harus kita lewati, istriku.” Sultan Zulkarnain tak lagi melangkah ketika ia melihat arah senapan itu padanya. Ingin lari pun sudah tak bisa lagi, mereka telah terkepung. “Cut Abang, semoga kita bertemu di surga nanti, jika memang masih berjodoh dan kita selamat dari api neraka. Aku mencintaimu selalu.” Permaisuri Syafitri mencium telapak tangan suaminya. Lalu tanpa diduga Sultan Zulkarnain, istrinya menjadi tameng. Melindungi dirinya dari letusan peluru. Timah panas itu tepat mengenai perut sang ratu. Ia pun terjatuh dan tak kuat lagi menopang tubuhnya sendiri. Tangan mereka berdua berlumuran darah. Permaisuri Syafitri untuk terakhir kalinya menyentuh pipi suaminya. Kemudian, ia mengembuskan napas terakhir. “Pergilah dengan tenang, istriku. Abang yakin kau akan lebih cantik daripada bidadari surga sekalipun, aku hanya menginginkanmu, bukan yang lain. Tunggulah Abang di sana.” Sultan Zulkarnain membaringkan tubuh istrinya yang telah tak bernyawa. Betapa wanita itu telah banyak berkorban untuk dirinya dari dulu. Kini giliran dirinya yang menjadi target pada serdadu Belanda. Sultan tak sanggup lagi melawan. Tubuhnya lemah dan sakit-sakitan. Satu tarikan senapan laras panjang melesatkan sebuah timah panas dan .... Dor! Tepat menengani d**a Sultan Zulkarnain. Lelaki itu terkulai, tepat di sisi Permaisuri Syafitri yang telah berkorban nyawa untuknya. Janji hidup bersama sampai ajal menjemput itu tertunaikan juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD