Bagian 3

1482 Words
"Kau ingin aku membawanya?" Lingga tampak tidak mengerti padahal yang kukatakan barusan sudah cukup jelas. "Kau yakin ia mau datang? Aku ragu ia masih ingat padamu. Itu sudah lama sekali. Dan butuh waktu empat jam perjalanan dari kota ke mari. Lagipula kau tidak begitu istimewa. Ingat? Kau menolaknya dulu di depan banyak orang. Pastinya itu akan meninggalkan luka baginya. Jika itu aku, aku tidak akan datang." Seburuk itukah? Ia tidak membenciku karena kejadian itu 'kan? Lagipula itu sudah sangat lama berlalu, dan ia tampak baik-baik saja dengan kehidupannya. Ia tidak akan menyimpan dendam padaku hanya karena kejadian singkat di masa SMA. Itu benar bukan? "Kurasa ... ia akan datang jika kau mengatakan bahwa aku ingin menikah dengannya," Aku mencoba terdengar yakin dan penuh percaya diri padahal aku tidak tahu apakah ini hal yang benar untuk dilakukan. Lingga tertawa mencemooh. "Itu bahkan terdengar lebih aneh lagi! Menurutku sebaiknya kau membuat seolah-olah bertemu dengannya secara tidak sengaja, lalu melakukan pendekatan. Secara alami. Seperti yang dilakukan orang normal pada umumnya. Lalu, jika ia masih tertarik padamu, kau bisa mulai mengajaknya pacaran lebih dulu." Masalahnya, aku bukan orang normal pada umumnya. Orang-orang tidak akan menyebutku gila jika aku tidak memiliki kegilaan itu dalam diriku. Aku mengakuinya. Bahwa aku sedikit berbeda dari orang normal yang Lingga sebutkan itu. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mendatanginya dan berbasa-basi. Mendekatinya dengan cara normal seperti yang Lingga sebutkan bisa memakan waktu berbulan-bulan. Mungkin saja tahunan dengan sifat introvertku. Sedangkan ini sangat darurat. Serangan zombie bisa saja terjadi besok. Atau bahkan hari ini. "Kau tahu, aku tidak bisa keluar untuk ....," "Baiklah! Aku mengerti!" Lingga menyela perkataanku yang belum selesai. "Aku akan memasukkannya ke karung, lalu menyeretnya kemari." Itu terdengar bagus. Tapi, apakah ia mau menikah denganku setelah aku menculiknya? Dan bukankah penculikan adalah tindak kejahatan? Aku dan Lingga akan dipenjara karena berkomplot menculiknya. Namun, penjara adalah tempat yang aman 'kan? Jika aku terkurung di balik jeruji besi itu, para zombie juga tidak bisa menyerangku. Aku tidak bisa keluar, mereka tidak bisa masuk. Tetap saja rumahku jauh lebih aman dan nyaman. Walau aku tidak keberatan masuk penjara, kurasa aku tetap akan menghindarinya sebisa mungkin. "Dan aku bertaruh ia tidak akan mau menikah denganmu!" Lanjut Lingga kemudian. "Lalu apa yang harus kulakukan agar ia mau menikah denganku?" Tanyaku. Aku akan melakukan segala cara agar ia menikah denganku. Aku bahkan tidak keberatan untuk menculiknya. "Kau tidak tahu?" Lingga menatapku tajam. Sesuatu yang ia lakukan ketika mencoba mengetahui apa yang sedang kupikirkan. "Kupikir kau sudah menyusun rencana yang matang untuk pernikahan ini." Harusnya aku sudah memikirkannya. Bodoh sekali aku baru menyadarinya sekarang. Aku malah duduk di sini sambil bermain game padahal aku tidak memiliki rencana apapun. "Kau bisa menawarinya sejumlah uang. Mungkin?" Aku juga tidak yakin dengan cara ini. Apa uang sebegitu berharganya? Lingga mengangguk sambil ikut memikirkannya. "Ia mungkin akan tertarik." Sial! Aku tidak cocok untuk aktifitas seperti ini. Berpikir selalu membuat kepalaku terasa panas. Aku memang tidak dilahirkan untuk memeras otak. "Jika itu jumlah yang besar, ia bisa saja menerimanya," Lingga membantuku berpikir karena tahu aku tidak bisa melakukannya sendiri. "Tapi, juga ada kemungkinan ia menolak meski kau menawarinya uang yang sangat banyak. Kecuali ia berada dalam situasi terjepit dan sangat membutuhkan uang. Dia tidak akan menolakmu." Aku ingin ia tidak menolakku. Aku hanya menginginkan Raka yang menjadi suamiku, bukan orang lain. "Bagaimana cara membuatnya berada dalam situasi terjepit itu?" "Sepertinya kau bersedia melakukan apapun," tatapan tajam Lingga padaku tidak berubah. "Aku hanya ingin menikah dengannya. Dan aku tidak peduli jika harus memotong kaki dan tanganmu agar keinginanku terpenuhi," ujarku. "Harusnya kau memotong kaki dan tanganmu! Bukan punyaku!" Protes Lingga. "Itu karena aku begitu berharga," Aku beralasan. "Aku tidak boleh terluka." Lingga benar bahwa aku bersedia melakukan apa saja agar keinginanku menikah dengan Raka terlaksana. Namun, aku tidak sungguh-sungguh tentang ingin memotong kaki dan tangan Lingga. Aku memang kurang ajar, tapi aku tidak sesadis itu. Aku hanya ingin menunjukkan padanya bahwa aku benar-benar serius. "Begini," Setelah jeda beberapa saat, Lingga bergeser mendekat padaku ketika ia memperbaiki duduknya. "Kurasa ini akan terdengar jahat. Akan tetapi, kau tau bahwa aku selalu berada di pihakmu. Keinginanmu, adalah keinginanku juga." "Apa itu?" Aku memasang telingaku baik-baik. Tidak ingin melewatkan apapun karena ini sepertinya penting. "Pertama," Lingga sedikit membungkuk ketika ia menjelaskan strateginya padaku. "Buat ayahnya dipecat dengan tuduhan penggelapan dana hinga mau tidak mau ia harus menyerahkan rumah mereka sebagai ganti rugi. Lalu adik laki-lakinya, buat seolah-olah anak itu terjerat pengedaran n*****a hingga ditangkap polisi. Setelah itu, kau bisa muncul dan menyelamatkan kedua orang itu." "Tapi ...," aku memikirkannya dan merasa ada yang tidak benar. Bukan tentang fitnah yang akan kami lakukan. "Aku ingin menikah dengan Raka, bukan ayah dan adiknya." "Eish! Kau bodoh sekali!" Lingga memukul kepalaku pelan. Lama-kelamaan ia merasa kesal dengan diriku yang terlalu lambat mengerti. "Dia adalah tipe family man! Dia akan tetap diam jika dirinya diusik, tapi akan langsung bergerak jika keluarganya berada dalam masalah." Ah! Benar juga! Aku ingat dulu ia pernah diganggu oleh anak-anak nakal saat SMA. Mereka merampas sepatu yang dipakainya dengan paksa, lalu melemparnya ke puncak pohon beringin hingga membuat benda itu tersangkut disana. Saat itu ia kelihatan tidak merasa terganggu. Tidak marah, juga tidak melapor pada guru. Ia hanya diam dan akhirnya pulang tanpa sepatu. Sepatu itu bahkan terus berada di sana hingga hari terakhirku di sekolah. "Apa kita bisa melakukan itu? Maksudku, apa itu akan berhasil?" Tanyaku kemudian. Aku tidak keberatan melakukan hal-hal licik seperti memfitnah orang lain hanya untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Sejujurnya, aku bukanlah orang suci. Sebagian lahan perkebunan milikku ini bahkan kudapatkan dengan cara yang culas. Aku memanipulasi harga hingga bisa membelinya lebih murah dari seharusnya. "Sebagian orang di dunia ini cukup korup hingga kau bisa menggunakan uang untuk apapun yang kau inginkan," Lingga duduk bersandar sambil menyilangkan kakinya. Ia juga bukan orang baik. Sebenarnya, ia adalah orang yang selama ini mengajariku hal-hal buruk. "Kau tinggal mencari orang yang tepat, dan semuanya bisa dilakukan dengan uang." "Berapa lama hingga akhirnya aku bisa menikah dengannya?" Aku mengajukan pertanyaan lainnya. Aku tidak bisa menunggu lama. Aku harus menikah secepat mungkin. "Tergantung!" Lingga memainkan kukunya dengan sengaja memamerkan ekspresi angkuhnya padaku. "Berapa banyak uang yang akan kau habiskan." "Kau boleh habisakan semua yang ada di rekeningku asalkan bisa membuatku menikah dengannya besok!" Apa itu cukup? Haruskah aku meminjam lebih banyak lagi pada Nadi? "Besok?" Lingga melempariku dengan bantal kursi yang mendarat tepat di wajahku. "Bahkan membangun candi dalam satu malam jauh lebih masuk akal dilakukan dibanding ini. Kau pikir uangmu sebanyak itu? Kau pikir aku ini jin? Kau pikir aku tukang sulap?" "Apa uangku kurang?" Perlukah aku minta uang pada ayah dan juga kakek? Atau haruskah aku menjual sahamku di Setiawan Grup? "Bukan uangmu yang kurang, melainkan akal sehatmu!" Lingga mencoba menenangkan diri. Ia tidak pernah benar-benar marah padaku. "Sebagai manusia, paling cepat aku hanya bisa melakukannya dalam satu minggu. Jika aku jin, kurasa besok cukup masuk akal. Aku bahkan bisa merasuki calon mempelaimu itu dan membawanya kemari detik ini juga!" Satu minggu tetap saja terlalu lama. Tapi, apa boleh buat. Aku harus bersabar untuk ini. Karena kini aku tidak menginginkan orang lain. Jika menunggu lebih lama bisa membuatku mendapatkannya, kurasa itu layak untuk dilakukan. "Kuharap kau adalah jin," celetukku pelan namun, cukup untuk didengar oleh Lingga. "Kalau begitu kau adalah Siren!" balas Lingga. "Makhluk berbahaya yang memancing para pria lalu menjebak mereka!" Aku menggeleng. "Bukan aku yang akan menjebaknya, tapi kau. Kau yang akan melakukannya untukku!" Lagipula tidak tepat jika ia menyebut para pria. Aku hanya tertarik pada Raka. Aku akan menjebaknya saja, bukan pria lain. "Ya, ya! Aku yang akan menjebaknya!" Lingga sepertinya sudah kembali tenang lagi. "Tapi, tetap aku butuh waktu melakukannya. Satu minggu adalah waktu paling cepat yang bisa kutawarkan padamu. Butuh proses untuk melakukan hal semacam ini. Tidak cukup dengan membayar orang untuk menjebaknya. Ia juga harus berada di situasi terjepit agar rencana ini berhasil. Masalahnya, berapa lama hingga ia akhirnya merasa putus asa. Sejauh apa yang harus kita lakukan hingga ia berpikir bahwa tidak ada jalan keluar lain baginya." "Satu minggu!" Aku menegaskan. Cukup sulit bagiku untuk menoleransi waktu yang begitu lama. "Pada akhirnya semua tergantung pada bocah itu!" Lingga melanjutkan penjelasannya. Berusaha membuatku mengerti. "Kau tidak perlu menghabiskan seluruh isi rekeningmu karena itu hanya akan membuatku mabuk. Lagipula, semua tergantung pada Raka. Butuh waktu berapa lama baginya untuk berpikir hingga akhirnya menyadari ia harus menikahimu atau keluarganya akan hancur. Jika ia bodoh, kurasa kau harus menunggu lebih lama." "Satu minggu!" Ulangku dengan penekanan yang jelas bahwa itu adalah batas waktu maksimal yang bisa kuberikan. "Baiklah," Ia menghela nafas. "Satu minggu!" Aku tahu bahwa aku tidak boleh terburu-buru tentang pernikahan. Aku adalah wanita dewasa yang mengerti itu semua. Masalahnya, aku tidak memiliki banyak waktu. Aku tidak bisa buang-buang waktu untuk melakukan pernikahan dengan cara yang benar sementara rencana tentang bertahan dari para zombie sudah nyaris sempurna. Tinggal satu hal untuk membuatnya lengkap. Menikah! Aku tidak bisa menundanya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD