Dicky!
Aku memikirkan tentang pernikahanku semalaman dan tiba-tiba saja teringat tentang seorang kandidat lainnya. Kurasa namanya Dicky. Ataukah namanya Danu? Aku tidak terlalu ingat karena sudah terlalu lama sejak terakhir kali kami bertemu. Aku hanya ingat bahwa namanya dimulai dengan huruf D. Dan yang paling penting ia pernah memintaku menjadi pacarnya dulu.
Dulu, aku memang sengaja bersekolah di sekolah umum agar bisa bermain di turnamen sepakbola. Aku masih sangat muda waktu itu, dan aku mengingat dengan jelas ketika seorang anak laki-laki dari kelas yang sama denganku datang ke lapangan menghampiri aku yang sedang latihan dengan membawa sebuah boneka beruang berwarna merah muda. Kebetulan aku menyukai warna merah muda kala itu, dan ia sengaja membawakan sesuatu yang akan menarik perhatianku. Ia mengatakan bahwa ia menyukaiku dan ingin menjadi pacarku.
Aku menolaknya. Memangnya siapa yang memikirkan tentang pacaran saat mereka masih berusia tujuh belas tahun? Baiklah, kebanyakan teman-teman sekolahku berpacaran di usia itu. Aku hanya berpikir bahwa pacaran bukanlah sesuatu yang harus kulakukan. Aku memiliki hal yang lebih penting untuk dilakukan. Turnamen sudah di depan mata. Aku tidak bisa buang-buang waktu hanya untuk sekadar pacaran.
Terlebih aku adalah kapten tim sepakbola putri di sekolahku. Aku pemain andal. Impianku adalah bermain di arsenal, dan turnamen tersebut adalah sarana untuk membuka jalanku. Timku selalu menjadi juara. Bahkan di turnamen tingkat nasional. Sekolah itu beruntung memiliki pemain hebat sepertiku. Ketika aku memiliki sesuatu yang lebih besar untuk dilakukan, aku tidak akan tertarik memainkan permainan remaja semacam pacaran.
Akhirnya hingga detik ini aku tidak pernah pacaran. Aku juga tidak lagi bermain bola. Bukankah manusia selalu memiliki impian yang berubah-ubah? Aku bahkan menyukai warna hitam. Impianku saat ini adalah hidup nyaman di dalam benteng yang kubangun ketika serangan para zombie tiba suatu hari nanti. Dan kini, aku menyesal telah menolaknya dulu. Jika aku pacaran dengan si David itu, aku pasti menyimpan kontaknya di ponselku. Aku bisa menghubunginya dan memintanya menikah denganku. Dengan begitu aku tidak akan sendirian ketika zombie berhasil menguasai dunia.
Lingga tiba tepat pada waktunya. Aku sedang menikmati sarapan sebutir apel yang tanpa rasa. Hambar karena hal-hal yang mengganggu pikiranku sejak kemarin. Aku benar-benar ingin menikah. Kali ini kurasa aku hanya ingin menikah dengan Damian.
"Pak Udin akan datang siang ini menemuimu," Lingga langsung duduk di ruang makan bersamaku. Ia memperhatikanku dengan seksama seolah ada yang aneh dengan wajahku. "Mengapa kau menanyakannya? Terjadi sesuatu?"
Aku memang sempat penasaran dengan nama Udin yang ada di kontakku, lalu menanyakannya pada Lingga kemarin. Belakangan aku baru ingat bahwa pria itu adalah mandor di perkebunan. Sesekali ia juga mengantarkan pakan ternak. Kini aku tidak lagi tertarik padanya. Aku hanya ingin menikah dengan Dani.
"Bisa bantu aku mencarikan seorang anak laki-laki tampan yang pernah sekelas denganku dulu saat SMA?" Aku mengutarakannya langsung tanpa menunda lebih lama. "Kurasa namanya Dafa. Ia pernah menyatakan cinta padaku dulu di lapangan sepakbola sambil membawa sebuah boneka."
Muncul kerutan dalam di dahi Lingga ketika ia merasa semakin heran. "Kau memutuskan untuk mulai bersosialisasi?"
Aku menggeleng. "Aku memutuskan untuk menikah."
Lingga terdiam beberapa detik, lalu menggaruk lehernya sambil berpikir. Ia berusaha mencerna yang kukatakan barusan padanya, dan menilai dari raut wajahnya saat ini, perkataanku hanya terpental tanpa masuk ke dalam kepalanya.
"Kau memutuskan apa?" Lingga bertanya karena tidak mengerti. "Apa internetmu putus?"
Sial! Mengapa Lingga selalu saja mengatakan sesuatu yang berhasil menggangguku? Aku mungkin memiliki akses air dan listrik. Tapi, bagaimana jika internetku juga putus saat serangan zombie nanti? Aku juga membutuhkan internet!
Itu nanti saja! Ada yang lebih penting saat ini. Aku akan menyelesaikan masalah ini satu persatu.
"Aku akan menikah!" Aku mengulangi perkataanku dengan penekanan yang jelas dan ekspresi serius. "Karena itu aku memintamu mencarikan anak laki-laki itu untuk menikah denganku!"
"Kau akan menikah?" Lingga tampak lebih serius lagi. "Dan memintaku mencarikan seseorang untuk menikah denganmu?"
Aku mengangguk membenarkan sambil menggigit besar apel di tanganku, lalu mengunyahnya dengan ganas.
"Baiklah," Lingga menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi untuk menenangkan diri. "Kau akan menikah. Dan, biar kutebak! Orang yang akan menikah denganmu, belum tahu bahwa kalian akan menikah. Kau bahkan tidak tahu ia ada dimana dan cara menghubunginya. Karena itu kau memintaku untuk mencarinya?"
"Tepat sekali!" Aku menjentikkan jari, merasa bangga atas kecerdasan Lingga.
"Biar kujelaskan dua hal padamu!" Lingga mencondongkan tubuhnya ke depan dan melipat kedua tangannya di atas meja. "Pertama, aku adalah pebisnis, bukan detektif!"
"Bagiku, kau adalah segalanya!"
"Kedua!" Lingga tidak terpengaruh pada pujianku barusan. "Kau pikir menikah semudah itu? Kau pikir mengapa aku yang sudah setua ini belum menikah? Pastinya bukan karena aku jelek dan tidak ada yang menyukaiku. Kau tahu sendiri bahwa good looking adalah warisan lain di dalam keluarga ini! Banyak wanita di luar sana yang ingin menikah denganku, tapi aku tetap belum menikah!"
"Kau marah karena aku menikah lebih dulu darimu?" tebakku asal.
"Kau tahu bukan begitu maksudku!" Lingga menghentakkan kakinya frustasi. Ia jarang menunjukkan sikap seperti ini sebelumnya. "Kau akan menikah begitu tiba-tiba. Bahkan calonnya saja tidak jelas. Ini bahkan terdengar lebih konyol dibanding cerita zombie."
"Kau tidak mau mencarikannya untukku?" Aku mencebik sambil memasang wajah cemberut. Ini tidak pernah gagal sebelumnya.
"Baiklah!" Lingga menghela nafas menandakn bahwa ia menyerah. Aku benar bahwa ini tidak pernah gagal sebelumnya. Tidak ada yang mampu menolak permintaanku. "Namanya Dafa? Aku akan mencarikan orang itu untukmu!"
Lingga bangkit dengan berisik lalu pergi sambil mengomel. Padahal ia memiliki hubungan darah dengan ayahku, namun, terkadang aku malah melihatnya memiliki kemiripan dengan ibuku. Maksudku ketika ia mengomel begitu. Aku ada disini, dan ia lebih suka mengomeli udara kosong ketika ia berjalan.
Aku memiliki keluarga yang unik. Mungkin terlihat bahwa kami tidak dekat, namun, kenyataannya kami sangat sangat dekat. Jika bukan karena kesadaranku atas serangan zombie yang sudah dekat, kurasa kami sedang berpelukan di ruang keluarga saat ini. Ayah, ibu, aku, dan adik kembarku, Nadi. Meski tinggal di kota dan sangat sibuk, Nadi juga selalu menyempatkan diri untuk datang melihatku untuk sekadar mengantarkan beberapa lauk masakan rumah atau hanya mampir dan menemaniku bermain game. Dan lihat juga kedekatanku dengan Lingga, pamanku. Walau aku sering bicara tidak sopan padanya, ia tidak pernah marah padaku. Sementara kedua orangtuaku, walau terakhir kali kami bertemu beberapa bulan lalu, aku sering sekali melakukan panggilan video atau telepon dengan mereka. Aku masih belum menyerah dan berusah membuat mereka tinggal denganku. Hasilnya selalu sama. Ayah yang mengatakan agar aku tidak terlalu banyak nonton film, dan ibu yang memintaku tidur lebih cepat. Mungkin mereka pikir aku masih gadis kecil yang suka bicara melantur.
Lingga sebenarnya adalah adik tiri ayahku dari ibu yang sama. Kakek dan nenek bercerai ketika mereka masih cukup muda, lalu nenek menikah lagi dan memiliki Lingga. Dan pria itu juga memiliki hutang budi kepada ayahku. Ia yatim piatu sejak berusia lima tahun. Ayah yang saat itu juga masih anak-anak membawanya kerumah dan memperlakukannya layaknya seorang adik. Setelah kupikirkan lagi, tidak ada yang harus berhutang budi pada kejadian tersebut. Lingga memang adiknya. Sudah sepantasnya seorang adik diperlakukan sebagai 'adik'.
Hanya aku yang tidak sopan padanya. Nadi bahkan memanggilnya dengan sebutan Paman. Lagipula Lingga tidak keberatan dan ia terlihat jauh lebih muda dibanding usianya, sehingga aku tidak terlihat begitu kurang ajar ketika hanya memanggil namanya saja.
Meski mengomel dan sempat protes seperti tadi, aku yakin Lingga akan menyelesaikan tugas yang kuberikan dengan baik.
Kini aku bisa merasa lega bukan? Lingga akan menemukan Daniel untukku 'kan?
Tetapi, mengapa tidak ada kabar?
Aku menunggu satu hari, dua hari, ini bahkan sudah satu minggu dan Lingga terkesan menghindar dariku. Jika aku bertanya bagaimana proses pencariannya, ia akan melarikan diri dengan berbagai alasan. Mulai dari sakit perut, hingga tiba-tiba harus menerima telepon penting.
Lalu, hari itu akhirnya tiba. Ia datang padaku dengan wajah yang mengerikan. Tidak! Lingga tidak berubah menjadi zombie. Ia hanya terlihat benar-benar marah. Konsol Xbox yang sedang kupegang bahkan bergetar hebat.
Lingga merebut paksa konsol di tanganku dan menukarnya dengan tablet yang ia bawa. "Kau sengaja mengerjaiku 'kan?"
Aku melihat tablet yang sedang terbuka di tanganku. Benda itu menampilkan akun media sosial milik orang yang sedang kucari-cari. Lingga ternyata berhasil menemukannya. Lalu mengapa ia malah marah?
"Namanya Raka Kelana, bukan Dafa!" Suaranya meninggi ketika ia menghempaskan tubuhnya pada sofa di belakangku. "Aku sempat merasa tidak kompeten ketika tidak kunjung menemukan seorang bocah. Aku merasa tidak berguna, aku merasa tua dan menjadi rendah diri. Ternyata, aku hanya mencari orang yang salah. Kau bahkan tidak pernah satu kelas dengan seseorang bernama Dafa!"
Benar juga. Namanya Raka. Aku ingat sekarang bahwa anak laki-laki itu bernama Raka.
Aku tidak mempedulikan omelan Lingga dan hanya sibuk memeriksa akun media sosial yang menampilkan foto-foto Raka. Ia semakin tampan saja. Ia tumbuh menjadi maskulin dan rupawan. Membuatku semakin menginginkannya. Aku bertambah yakin pada keputusanku. Orang ini harus menikah denganku!
"Kau beruntung karena dia belum menikah. Dan kelihatannya ia tidak memiliki kekasih atau seseorang yang dekat dengannya," lanjut Lingga setelah ia menjadi sedikit lebih tenang. "Saat ini ia bekerja di sebuah bank swasta. Ia tinggal bersama keluarganya di ibu kota. Orangtuanya masih lengkap, ayahnya adalah karyawan di kantor pusat yang mengelola perkebunan sawit milik ayahmu, kedua adiknya masih kuliah,dan tidak ada yang menarik dari kehidupannya. Kesehariannya membosankan. Ia pergi bekerja pagi-pagi sekali, pulang di malam hari, lalu hanya beristirahat di rumah. Akhir pekan ia pergi ke pusat kebugaran untuk berolahraga, dan terkadang ia pergi dengan teman-temannya untuk mendaki gunung. Kau bisa melihat foto-foto yang ia posting di media sosial. Kelihatannya ia suka traveling dan berkemah."
Itu benar. Ia tampak menyukai alam bebas. Lihat fotonya yang sedang mandi di sungai ini! Ia semakin tampan dengan rambut yang basah. Ia juga sepertinya sengaja memamerkan perut kotak-kotanya di foto ini. Dadanya yang bidang dihiasi dengan kilauan dari bulir-bulir air yang menempel membuatku merasa panas hanya dengan melihatnya saja. Apa aku berliur? Aku tidak meneteskan air liur 'kan?
Aku tidak tahu bahwa anak laki-laki kurus itu akan bermetamaforsis hingga seperti ini. Aku akui ia memang sudah tampan sejak remaja. Tapi, ia tidak setampan itu. Tidak cukup untuk menarik perhatianku yang masih remaja hingga berakhir dengan aku yang menolak pernyataan cintanya. Andai ia terlihat seperti saat ini, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menerimanya.
Juga ada video pendek ketika ia sedang memperbaiki sepeda motor. Urat-urat yang keluar dari tangannya tampak seksi di mataku. Suaranya yang dalam dan berat terdengar begitu merdu bagiku. Aku tidak puas melihatnya satu kali Aku terus memutar ulang video tersebut.
"Golongan darahnya A. Ia tidak merokok, tidak memakai n*****a, tidak minum minuman keras, dan tidak terlibat dalam pergaulan bebas. Dan sepertinya catatan kriminalnya juga sangat bersih." Lingga terus saja menjelaskan meski aku tidak menanggapinya. "Karirnya cukup bagus untuk orang biasa. Namun, penghasilan tahunannya tidak lebih besar dari pendapatan harianmu. Ia tidak memiliki aset selain sebuah sepeda motor yang belum lunas kreditnya. Orangtuanya juga tidak kaya. Rumah yang mereka tempati saat ini adalah satu-satunya properti yang dimiliki keluarga itu."
Aku lebih suka melihat-lihat fotonya yang sangat banyak. Raka sepertinya sangat suka mengambil foto dan video dirinya sendiri. Aku bersyukur ia melakukan itu karena aku bisa melihat betapa sempurnanya ciptaan Tuhan.
Ia tidak hanya terlihat seksi di dalam foto. Beberapa menunjukkan bahwa ia juga memiliki sisi imut. Seperti saat ia sedang menari. ya, ia juga bisa menari. Kurasa ini sedang tren saat ini. Itu hanya sebuah video singkat yang menunjukkan ia yang sedang bergerak mengikuti alunan musik Hip Hop. Gerakannya tidak cukup luwes, malah tergolong kaku. Namun, itu yang membuatnya tampak menggemaskan.
"Tidak ada wanita dalam lingkar pergaulannya, sebagian adalah anggota di pusat kebugaran yang sering ia kunjungi," ujar Lingga lagi, "Ada kecurigaan ia tidak tertarik pada wanita, dan ia juga terlihat aneh."
"Tidak memiliki teman wanita bukan berarti dia gay!" Aku meletakkan tablet milik Lingga di atas meja, lalu melotot pada pria itu. Aku tidak suka mendengar ia menjelek-jelekkan Raka seperti itu. Ia mungkin berusaha untuk merusak fantasiku, namun, itu tidak akan berhasil. "Dan menurutku tidak berteman dengan wanita bukanlah sesuatu yang aneh. Lihat aku! Apa kau pernah melihatku berteman dengan wanita?"
"Karena itu, kau adalah rajanya orang aneh!" cibir Lingga. "Maksudku, aku tidak menyebutnya gay. Hanya ada kecurigaan bahwa ia tidak tertarik pada wanita. Kau tahu, beberapa orang hanya tertarik pada uang. Ada juga yang hanya peduli pada keluarganya saja. Sebagian lagi tergila-gila pada judi. Ia mungkin tipe yang tidak tertarik pada wanita karena terlalu memuja dirinya sendiri."
Lingga selalu pandai menciptkaan alasan. Melihatku yang melotot, ia takut aku akan marah dan mulai membela diri dengan bicara berputar-putar.
"Lihat bagaimana ia mengambil foto-foto dirinya! Menurutmu ia tidak aneh?" tanya Lingga hati-hati.
"Orangtua sepertimu tidak akan mengerti hal yang sedang tren di kalangan anak muda saat ini." Bagiku tidak ada yang aneh dengannya. Ia tampak luar biasa. Tampan, seksi, juga imut.
"Kau sendiri, apa kau tahu apa yang sedang tren sekarang?"
Aku mengambil lagi tablet itu, lalu menunjukkan pada Lingga video Raka menari tadi. "Ini yang sedang tren saat ini!"
"Bukankah ia terlalu tua untuk melakukan hal itu? Dia bukan remaja lagi!" Lingga mencoba menahan tawanya dan itu tampak sangat memuakkan.
"Kau yang tua!" Aku melemparkan tablet itu ke pangkuannya dan ia menangkapnya tepat waktu sebelum benda itu meluncur jatuh ke lantai.
Pria itu berdehem melihatku yang kembali merasa kesal. "Lalu apa yang harus kulakukan padanya?"
"Aku ingin kau membawanya kemari!"