6. Maria Diamond

1233 Words
Irvetta berenang naik ke permukaan laut, dengan jarak kira-kira dua puluh meter, Irvetta menatap penuh rasa curiga dengan mata tajamnya. Irvetta melihat Alon duduk di dekat pembatas kapal yang terlihat fokus memperkuat pagar cahayanya setelah tadi baru saja diguncang oleh Irvetta. "Tuan Alon!" seru Irvetta dengan berani, mata cokelatnya menatap Alon tanpa takut. Alon yang dipanggil segera menoleh ke arah Irvetta, pria itu menatap Irvetta dengan tatapan tanpa emosi. Dingin. "Apa yang anda lakukan?" tanya Irvetta setelah Alon menoleh ke arahnya. Alon yang ditanya tidak menjawab, dia hanya diam dengan tatapan dinginnya, membuat Irvetta geram. "Apa alasan anda melindungi kapal manusia?" "Dan apa alasan kau berani berusaha menghancurkan perisai cahaya milikku, Irvetta?" balas Alon, ekspresi datar pria itu tidak berubah. Tidak ada ekspresi marah atau apa pun yang muncul dari wajah Alon, benar-benar tanpa ekspresi. Tetapi justru, ekspresi inilah yang paling para penghuni laut takuti. Selain kepala suku, tidak ada yang akan berani bicara kepada Alon jika pria itu sudah menggunakan ekspresi tersebut. Irvetta tidak menjawab, wanita itu terdiam seketika. Matanya menatap Alon kesal. "Saya mengakui tindakan lancang saya, Tuan Alon. Namun, sekarang yang hendak saya pertanyakan adalah... Apa yang sedang anda lakukan di sini? Anda memagari kapal milik manusia ini seolah barang berharga, dan jika saya tidak salah, ada satu manusia yang tinggal di dalam kapal ini? Apa alasan anda melindungi manusia? Anda bahkan melukai beberapa Siren hanya karena manusia tersebut." Alon memejamkan matanya sesaat, kemudian kembali menatap Irvetta dan berkata,"Katakan dan sebarkan ini kepada penghuni laut, bahwa manusia pemilik kapal ini adalah milikku. Menyakitinya sama saja dengan menyakitiku, mengganggunya sama saja dengan menentangku. Sampaikan juga pesanku untuk kepala suku, bahwa untuk sementara ini aku akan lama berada di daratan." Irvetta yang mendengar ini tertegun, menatap penuh tanda tanya ke arah Alon. "Tuan Alon, apa anda tidak salah? Jika ketua suku mengetahui bahwa anda memberi tanda kepemilikan ke manusia itu, beliau akan sangat marah. Dan lagi, saya tahu manusia ada yang baik dan jahat, namun, sampai dunia berakhir, hidup damai antara manusia dengan makhluk laut seperti kita tidak akan pernah terjadi!" Tegas Irvetta, dia berusaha menyadarkan Alon yang dia kira pikirannya sedang tersumbat. "Cukup, Irvetta! Kembali ke laut dan sampaikan apa yang aku katakan untuk kepala suku, dan jangan lupa untuk menyebar luaskan ucapanku barusan yang melarang Siren manapun menyentuh Maria," ujar Alon, matanya menatap tidak senang ke arah Irvetta. "Maria? Apa namanya adalah Maria?" tanya Irvetta. Alon tidak menjawab pertanyaan Irvetta, melainkan langsung memerintahkan Irvetta untuk segera pergi. "Cepat pergi selagi aku masih berbicara baik, Irvetta." Irvetta menggerakkan giginya, wanita itu segera memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang yang terikat di pinggangnya. Irvetta merasa tidak puas hati melihat Alon yang sangat melindungi Maria. Bukan tanpa alasan, tetapi memang manusia adalah musuh mutlak para Siren, bahkan Mermaid. Di mata kaum manusia setengah ikan seperti mereka, manusia adalah perusak alam yang mencemari lautan. Membunuh dan menangkap sesuatu di dalam laut dengan cara yang tidak wajar, mereka bahkan lebih mengerikan dari pada predator besar laut, Hiu. Sementara itu di tempat Maria, wanita itu tengah sibuk memasukkan bingkai foto yang berisi wajah kedua orang tuanya. Tidak ada satu foto pun yang tersisa di ruangan, kenangan tentang kedua orang tuanya kini sudah terhapus bersih. Satu-satunya benda yang meninggalkan jejak kenangan kedua orang tuanya adalah kalung yang dirinya kenakan saat ini. Kalung itu berliontin berlian asli berwarna putih berkilau, berbentuk hati dan terlihat elegan. Kalung berlian ini adalah hadiah besar dari kedua orang tuanya saat Maria berulang tahun yang ke tujuh belas. Berlian ini adalah berlian jenis baru yang ditemukan khusus untuknya, maka dari itu, berlian ini diberikan nama 'Maria Diamond'. Hanya ada satu Maria Diamond di dunia ini, dan pemiliknya adalah Maria sendiri. Maria menyimpan kardus-kardus besar ke sudut ruangan, lalu berjalan ke kamar kecil untuk mencuci tangannya dari debu. Maria mengeratkan ikatan rambutnya, lalu mengelap tetesan air keringat di dahinya menggunakan tulang punggung tangan kanannya. Kakinya berjalan menuju tempat Alon berada, dua jam sudah dia lewati tanpa terasa untuk membersihkan barang-barang dan mengubah seluruh suasana dalam kapal. Maria berjalan santai menuju Alon, pria itu masih terdiam di tempat sebelumnya dengan raut wajah datar. Matanya tidak pernah lepas dari laut, Maria tidak tahu apa yang sedang pria itu perhatikan sampai seperti itu. Maria menghentikan langkah kakinya dan langsung mengeryitkan dahi ketika melihat Alon terbatuk keras dan mengeluarkan darah. Maria bergegas berlari dan menempelkan telapak tangannya di bahu kokoh Alon. "Ada apa denganmu? Apa karena terlalu lama di daratan sehingga kesehatanmu memburuk?" tanya Maria serius, raut wajahnya terlihat khawatir begitu juga dengan nada bertanyanya untuk Alon. Alon mengangkat wajahnya untuk melirik Maria, setelah tadi terbatuk sambil menundukkan kepala. Maria membelalakkan matanya saat melihat raut wajah Alon yang pucat, bibir pria itu juga menjadi kering, pecah-pecah. Maria beralih meletakkan telapak tangan kanannya di pipi kiri Alon. "Ini... Kau... Kau sepertinya dehidrasi, ini tidak baik untukmu!" Alon memperhatikan wajah Maria yang terlihat sangat mengkhawatirkan kondisinya. Maria yang melihat Alon hanya diam sambil menatapnya merasa kesal. "Tunggu apa lagi, kau harus kembali ke laut sekarang, Alon. Kau tidak bisa berada lebih lama lagi di daratan dengan ekor ikanmu. Ini berbahaya untukmu." Maria berusaha mengangkat tubuh Alon pelan, namun tiba-tiba pria itu menahan tangan Maria sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan... Jangan laut." Maria yang mendengar ini mengerutkan keningnya. "Kalau harus bagaimana? Kau harus segera berendam di air, jika tidak kondisimu akan semakin buruk." Lalu Maria melirik ke arah ekor ikan Alon. "Lihatlah, ekor ikanmu mulai terlihat mengelupas, ini bahaya, Alon." "Benda yang kau sebut 'bathtub' itu..." gumam Alon, tangannya menggenggam pergelangan tangan Maria erat. Maria yang mendengar ini langsung teringat akan bathtub miliknya. "Ah... Ya, benar juga! Ayo, akanku bawa kau ke bathtub." Maria langsung meletakkan tangan kanan Alon di kedua bahunya, lalu tangan kiri Maria merangkul pinggal Alon. Mereka berdua perlahan-lahan berjalan menuju kamar mandi. Alon sesekali mengernyitkan keningnya karena ekor ikannya yang diseret dan mengenai permukaan bagian lantai kapal yang kasar. "Tahan saja, ini bukan pertama kali 'kan? Kemarin malam juga dengan cara ini aku membantumu naik ke kapal. Aku tidak mungkin menggendongmu di punggung, bisa-bisa aku juga ikut sakit. Jika aku sakit, tidak ada yang akan mengurusku karena kamu juga sakit. Jika setelah ini kau hendak bertanya bagaimana hasil akhirnya, maka jawabannya adalah kita mati bersama di dalam kapal tanpa ada satu orang pun yang tahu. Pulau ini terpencil, aku sebatang kara di sini. Jangankan kapal, pesawat saja tidak ada yang terlihat melintas di atas langit," ujar Maria panjang lebar saat menyadari Alon sedikit tidak nyaman karena ekor ikannya yang diseret. Lagi pula, mau bagaimana lagi? Tidak ada cara lain selain seperti ini. Setelah berusah-susah membawa tubuh Alon yang berat, akhirnya mereka sampai di kamar mandi. Maria segera membantu Alon untuk naik ke dalam bathtub, lalu dengan cepat wanita itu segera menyalakan keran air dan shower. Selagi keran air sibuk mengisi penuh bathtub, Maria menggunakan shower untuk membasuhi tubuh Alon agar pria itu dapat memiliki perasaan lega lebih cepat. Tubuh Alon yang tadi kering, kini sudah basah kembali. Keadaan pria itu perlahan terlihat membaik, tidak separah tadi. Maria menghela napas lega sambil bersender di dinding kamar mandi. "Setelah ini, berarti kau harus tahu bahwa kamu memiliki batasan jam untuk tinggal di darat. Jika aku tidak segera datang sehabis bersih-bersih, apa kau tetap akan berdiam diri di tempat itu dan tidak bergerak? Bisa saja kau mati. Ketika hal itu terjadi, tentu akan sangat merepotkan. Kaum Siren bisa saja menuduhku bahwa aku memb***hmu karena kau mati di atas kapalku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD