Dua puluh menit Maria sibuk di dapur, akhirnya dia selesai dan kembali berjalan keluar menghampiri Alon. Kedua tangannya membawa nampan besar yang berisi dua mangkuk sup ayam dan dua gelas air putih. Karena sekarang masih pagi, Maria memilih membuat masakan yang ringan. Dia tidak memilih roti karena... Entahlah, dia sedang tidak ingin memakannya saja.
Angin sepoi-sepoi menyapu wajah Maria lembut sambil mengibarkan rambut panjang Maria di udara. Alon menoleh dan melihat Maria membawa nampan besar dengan santai berjalan ke arahnya, pria itu hanya diam dan tidak banyak tanya dengan apa yang Maria masak.
"Ini adalah sup ayam, isinya ada sayur-sayuran. Sangat cocok dimakan di pagi hari seperti ini, biasanya ibuku yang membuatkan ini untukku sebelum dia berangkat bekerja bersama ayah," ujar Maria. Alon mengangguk ringan, lalu segera mengambil mangkuk yang sudah Maria sodorkan padanya.
Sebelum Maria sibuk memakan sup ayamnya, Maria sempat menatap ekor ikan milik Alon. Kening wanita itu mengerut, lalu tangan kanannya segera menyentuh permukaan ekor ikan Alon dan mengusapnya lembut. Alon yang merasakan usapan lembut di ekornya segera membalalakkan matanya dan menahan tangan kanan Maria. "Jangan sentuh seperti itu." Mata pria itu mendadak menjadi lebih dingin.
"Maaf, tetapi ekormu-" belum sempat Maria selesai bicara, Alon segera memotong,"Bawakan saja air yang banyak."
Maria teridam sejenak, merasa bingung. Namun kemudian dia segera beranjak berdiri dan berlari kecil untuk membawakan dua ember besar air untuk Alon.
Maria menuangkan satu persatu air dari dalam ember ke ekor ikan Alon sambil berkata,"Apa tidak lebih baik kau kembali berenang di lautan dulu? Atau... Jika kau mau, aku bisa meminjamkan bathtub untuk berendam." Tawar Maria, dia merasa Alon akan kesulitan jika ekor ikannya mengering. Karena pasalnya dia melihat beberapa sisik ekor pria itu terkelupas, seperti mengering.
Alon menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak diperlukan."
Maria menghela napas, lalu menutup mulutnya, berhenti menawarkan sesuatu. Maria duduk di samping Alon sambil memegang mangkuk sup ayam miliknya, tangan kanannya memegang sendok. Mereka berdua kini sibuk memakan sup ayam.
"Daging hewan apa ini?" tanya Alon sambil menunjukkan paha ayam ke Maria. Maria melirik sekilas, lalu menjawab,"Itu adalah daging ayam, hewan darat. Tenang saja, memakannya tidak membuat kamu terlihat seperti kanibal."
Alon menganggukkan kepalanya mengerti, lalu mengendus pelan paha ayam tersebut dan kemudian dengan ragu menggigit daging empuknya. Pria itu sempat terkejut karena rasanya yang sangat enak, Alon tidak pernah memakan daging seenak ini. Atau mungkin lebih tepatnya, dia memang tidak pernah memakan daging. Di laut jarang ada yang memakan daging ikan atau hewan laut lainnya, mereka para kaum Siren biasanya memakan tumbuhan-tumbuhan laut yang sudah dijamin aman.
Hanya membutuhkan lima menit untuk Maria menghabiskan sarapannya, wanita itu sebenarnya juga sedang terburu-buru untuk mengerjakan sesuatu. Dia berencana untuk melakukan sedikit perombakan kepada kapalnya. Bukan perombakan besar sampai mengubah bentuk kapal, Maria hanya ingin mengatur ulang suasana kapal dan membersihkan jejak barang peninggalan kedua orang tuanya untuk menghilangkan rasa sedihnya.
Maria menoleh ke arah Alon. "Setelah selesai makan, ke mana kau hendak pergi? Tetap di sini atau kembali ke laut?"
Alon melirik Maria sekilas, lalu menjawab,"Tetap di sini."
Maria mengangguk sambil tersenyum tipis. "Kalau begitu, jangan menyesal karena bosan menunggu. Dan lagi, tidak bisakah kau berubah menjadi manusia seperti di dongeng-dongeng?" Maria hanya bergurau, dia tidak sungguhan dengan ucapannya. Namun tiba-tiba Alon kembali menatapnya dan tersenyum tipis. "Untuk apa?"
Maria mengangkat kedua bahunya acuh. "Apa saja. Bukankah pastinya kau akan lebih mudah dan bebas di daratan jika memiliki kaki, bukan ekor? Dan lagi, jika kau hanya duduk di sini sepanjang hari sambil menatap lautan, kau bisa saja mati kebosanan. Lebih baik kau mengubah ekor ikanmu itu dengan kaki manusia, jika kau memiliki itu, kau bisa ikut membantuku mengurus kapal ini."
Alon tidak langsung menjawab, pria itu menatap Maria yang bicara sambil tersenyum tipis. Alon mengangguk pelan sambil mengembalikan arah pandangnya ke laut. "Ya, akanku usahakan."
Maria tidak menjawab lagi, dia hanya tersenyum sambil mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan Alon untuk membersihkan kapal. Dia tidak terlalu membawa serius jawaban Alon uang mengiyakan ucapannya. Kisah dongeng dan kehidupan nyata sangat berbeda, jika iya, dongeng yang dia maksud adalah cerita dari film kartun anak-anak, tokoh utamanya adalah wanita bernama Ariel. Untuk memiliki sepasang kaki manusia, putri duyung cantik itu harus rela kehilangan suaranya. Tidak mungkin Alon akan seperti itu 'kan?
Selagi Maria sibuk membersihkan bagian dalam kapal, Alon masih berdiam diri di dekat pembatas kapal tepat di depan ruang kemudian. Pria itu dengan tatapan dingin terus menatap ke laut, seperti mengancam sesuatu untuk tidak mendekat ke kapal Maria.
Sama-samar, mata hitam Alon yang lebih hitam dari warna hitam itu mengeluarkan cahaya biru terang. Matanya masih tetap fokus menatap tajam laut.
Di bawah kapal Maria, laut luas dan dalam terhampar bebas. Cahaya berwarna biru terang terlihat, seperti memagari dan melindungi kapal Maria. Sepertinya cahaya biru itu sudah ada sejak kemarin malam saat kedatangan Alon, dan sepertinya, pemilik dari cahaya biru itu adalah Alon.
Beberapa Siren berusaha mendekat, namun gagal dan langsung terpental jauh dengan tubuh mereka yang mendadak lemas, seolah seluruh tulang mereka remuk.
"Mengapa Tuan Alon melindungi manusia itu?" tanya salah satu Siren yang marah karena melihat temannya terpental jauh. Siren lain yang belum sempat menyentuh cahaya biru milik Alon itu menggelengkan kepalanya pelan. "Aku juga tidak tahu, Tuan Alon semalam tiba-tiba datang dan menolong manusia itu. Tuan Alon juga memberikan tanda kepemilikannya di manusia itu."
"Ada apa ini?" Tiba-tiba suara wanita yang terdengar tegas dan jelas terdengar, kedua Siren itu segera menoleh dan terkejut. Mereka berdua langsung membungkukkan badan. "Nona Irvetta!"
Irvetta, adalah Siren keturunan bangsawan. Keluarganya adalah keluarga terpandang, sekaligus keluarga yang menjalin hubungan kerja sama dengan Alon. Keluarga Irvetta memiliki tanggung jawab tinggi untuk menjaga kedamaian laut, khususnya pada saat tegang seperti ini. Saat-saat kaum Siren dan Mermaid berselisih.
Irvetta memiliki mata dan rambut cokelat, kulitnya tidak hitam, namun juga tidak putih. Tatapan matanya tajam, dia juga memiliki tubuh wanita yang profesional. Bahkan, wanita itu juga memiliki otot di lengannya. Kemanapun Irvetta pergi, dia selalu membawa pedang. Irvetta juga sangat disegani oleh penghuni laut bukan karena latar belakang keluarganya, tetapi memang karena usaha wanita itu sendiri.
Irvetta melirik ke arah cahaya biru milik Alon. "Apa pagar pembatas ini milik Tuan Alon?" tanya Irvetta. Kedua Siren wanita itu mengangguk. "Benar, Nona."
Irvetta menaikkan alis kirinya sedikit. "Ada apa dengan kapal ini? Mengapa Tuan Alon melindunginya? Dan... Di mana beliau?" Mata Irvetta kembali menatap kedua Siren wanita itu.
"Tuan Alon... Beliau... Beliau ada di atas bersama manusia," jawab salah satu dari mereka berdua. Irvetta yang mendengar ini mengerutkan keningnya. "Kalian bergurau?"
Kedua Siren itu menggelengkan kepalanya kencang. "Bagaimana mungkin, Nona?"
Irvetta terdiam sejenak, wanita itu menatap cahaya biru milik Alon dengan tajam. Irvetta kemudian menarik pedangnya, lalu dengan paksa berusaha menebas cahaya biru milik Alon dengan paksa. Cahaya berwarna orange keluar dari pedang Irvetta, guncangan berkekuatan sedang muncul. Membuat laut seolah sedang mengalami gempa di dalamnya.
Irvetta menghela napas pelan, dia sedikit terengah-engah. Asap tipis muncul di pedangnya, kepalanya mulai berpikir bahwa Alon serius melindungi kapal ini. Irvetta bertanya-tanya, apa yang membuat Alon sangat ingin melindungi kapal ini? Manusia itu? Siapa sebenarnya dia sampai Alon melindunginya seperti ini?