4. Apa Yang Harus Dia Lakukan?

1216 Words
"Bagaimana denganmu? Siapa kamu? Tidak, aku tahu namamu adalah Alon, namun... Siapa kamu? Seperti apa kamu dikenal oleh penghuni laut?" Alon menatap ekornya sekilas sebelum menjawab. __________ "Aku berasal dari bangsa Siren bangsawan, gelarku adalah 'Duke', salah satu gelar bangsawan tertinggi yang berkuasa. Kami memiliki satu pemimpin yang dipanggil 'kepala suku'. Gelar kepala suku adalah yang tertinggi di dalam bangsa Siren, namun berbeda jika sudah berhadapan dengan Dewa Poseidon." Maria perlahan merasa tertarik, mendengar cerita Alon itu seperti mendengar dongeng legenda klasik Yunani. Sangat menyenangkan. Maria mengangguk mengerti. "Oh, kalau begitu, apa bangsa Siren satu-satunya di lautan ini?" Alon melirik Maria sekilas dan menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Ada dua bangsa yang memiliki wujud setengah manusia dan setengah ikan di lautan ini, yaitu bangsa Siren dan Mermaid." Maria sedikit bingung. "Apa perbedaan antara bangsa Siren dan Mermaid?" tanya Maria. Alon menjawab,"Siren memiliki wujud yang menyeramkan, berbeda dengan Mermaid yang terlihat indah." Maria yang mendengar ini langsung memperhatikan Alon, di mana letaknya kata 'menyeramkan' itu? Tidak ada, Alon justru terlihat sempurna! Sangat jauh dari kata menyeramkan. "Namun kau tidak terlihat menyeramkan sama sekali, kau persis seperti manusia. Perbedaannya hanya di telingamu yang panjang runcing ke atas dan bagian bawah tubuhmu yang berupa ekor ikan," ujar Maria. Alon mengangguk. "Memang, kami memiliki kemampuan untuk menyembunyikan wujud menyeramkan kami. Biasanya wujud itu akan muncul saat sedang bertarung." Maria menganggukkan kepalanya mengerti. Wujud Siren yang katanya menyeramkan namun menawan memang sudah menjadi rahasia umum di legenda Yunani kuno tentang Siren. "Bukankah menurut cerita dongeng turun temurun yang selalu aku dengar, kaum setengah ikan seperti kalian sangat membenci manusia?" Alon melirik Maria lagi, kini pria itu tidak langsung memindahkan tatapannya. Alon tersenyum tipis, Maria yang melihat senyum tipis Alon sedikit tertegun. "Tidakkah kamu pernah mendengar cinta antara manusia setengah ikan dengan manusia seutuhnya? Walaupun peradaban manusia kini hidup lebih maju dibandingkan penghuni laut, namun kami tidak bodoh dan gelap mata. Kami memiliki kemampuan dan firasat khusus yang tajam untuk mengetahui jahat -- buruknya manusia. Kami tahu, di luar sana masih ada manusia yang menghargai laut, kami tertarik dengan manusia sama seperti kalian yang tertarik melihat kami mempunyai ekor ikan." "Lalu mengapa para Siren itu membunuh kedua orang tua dan nahkoda kapalku? Mengapa barusan mereka berniat memangsaku? Padahal, kapalku hanya ingin lewat biasa tanpa membawa niat buruk sedikitpun," balas Maria, raut wajahnya berubah kembali sendu. Wanita itu tersenyum hambar. "Daerah ini memanglah daerah terlarang untuk manusia. Tidak peduli manusia itu baik atau jahat, mereka akan dimangsa oleh para Siren yang kelaparan. Ditambah saat ini hubungan Siren dan Mermaid sedang tidak begitu baik, hal ini sangat mempengaruhi kondisi ketegangan laut. Perang dingin diam-diam sedang terjadi," jawab Alon. "Lalu, bagaimana denganmu yang menolongku? Bagaimana tanggapan kenalanmu nanti?" tanya Maria lagi, dia menyadari bahwa dia terlalu banyak bertanya. Namun, mau bagaimana lagi? Hatinya sangat penasaran. Alon kembali menatap lurus ke depan, lalu menjawab,"Tidak ada, semuanya akan biasa saja. Selama kau tidak berbuat macam-macam kepada kaum Siren dan lautan, kau akan baik-baik saja. Dan lagi, di lautan ini tidak akan ada yang berani menyentuhmu. Karena kamu, milikku." Maria yang belum terlalu biasa dengan ucapan 'milikku', merasa canggung kembali. Sebutan itu bisa saja membuat orang lain salah paham jika ada manusia yang mendengarnya. Menggunakan sebutan 'milikku' kepada manusia itu terkesan.... Alon kembali menatap Maria, lalu bertanya,"Kau tidak tidur?" Maria balas menatap Alon, lalu menjawab,"Jika aku tertidur, akankah kau pergi?" Alon menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada alasan untukku pergi." Maria tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pelan. "Baik, kalau begitu aku akan tidur. Terimakasih, Alon." Alon tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya acuh, lalu kembali menatap ke depan. Selagi Maria berjalan ke dalam kapal menuju kamarnya, Alon tetap terduduk di dekat pembatas kapal sambil menatap gelapnya langit yang diikuti laut. Maria baru saja kembali berani tidur di kamarnya setelah rasa takut dari pagi hari yang menggerogoti hatinya. Sekarang hatinya mulai merasa tenang dan lega, walaupun kesedihan besar yang memukul hatinya karena kematian kedua orang tuanya tetap dia rasakan. Keesokan harinya, Maria bangun terlambat. Setelah sepanjang malam kemarin dia mengalami hal luar biasa yang membuatnya syok dan memaksakan diri untuk memejamkan mata, akhirnya dia berhasil terpejam dan pulas tertidur. Maria beranjak turun dari kasurnya, lalu berjalan menuju cermin persegi panjang yang berdiri tak jauh dari kasurnya. Wanita itu menatap bayangan dirinya sendiri di cermin, termenung sejenak, kosong. Menatap matanya yang mengeluarkan tatapan dingin dan hampa, mengingat kejadian mengerikan yang membuatnya sampai syok. Dan... Hatinya terpaksa menerima kenyataan bahwa dia sudah kehilangan kedua orang tuanya. Siren.... Maria tidak tahu harus berbuat apa kepada mereka. Orang tuanya dibunuh oleh para Siren, namun dirinya juga diselamatkan oleh seorang Siren. Kini... Apa yang harus Maria lakukan? Membalaskan dendam, atau membalas kebaikan Alon? Balas dendam? Apa yang bisa dia lakukan? Sekarang dia terjebak di pulau tanpa penghuni, beranjak pergi juga percuma, karena dia pada akhirnya akan kembali ke titik semula. Jika dia ingin membalaskan dendam ke para Siren, bagaimana dengan Alon yang telah menyelamatkannya? Alon juga seorang Siren, jika dia menyakiti kaum Siren, apa Alon akan baik-baik saja? Terlebih lagi, pria itu memiliki posisi tinggi di antara para Siren. Membalas budi Alon dan mengikhlaskan kematian kedua orang tuanya? Mustahil. Maria adalah anak tunggal dari pebisnis besar di Amerika. Salah satu jiwa, sifat, dan darah pebisnis yang sangat memegang teguh 'tidak boleh rugi', bagaimana bisa Maria mengikhlaskan semuanya begitu saja? Dan lagi, yang hilang atau membuatnya rugi bukanlah barang, tetapi nyawa. Nyawa kedua orang tuanya. Untuk membalas dendam juga sangat sulit. Siren, mereka memiliki magic yang aneh, mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki manusia. Dari segi fisik dan kekuatan, Maria kalah telak. Satu-satunya cara membalaskan dendam terbaik adalah kembali, menempati posisi kepala perusahaan untuk menggantikan ayahnya, lalu membeli lautan ini. Maria bisa berbuat seenaknya setelah itu. Tetapi... Itu juga ide yang buruk. Maria tarik lagi kalimat 'membalaskan dendam terbaik'. Saat Maria masih sibuk merenung di dalam pikirannya sambil menatap bayangannya di cermin, tiba-tiba fokusnya diputus oleh suara nyanyian merdu. Suara itu sudah tidak asing di telinganya, namun juga tidak pernah membuat dirinya bosan untuk mendengar. Suara Alon yang bernyanyi, Maria kemudian teringat kepada Alon yang masih berada di atas kapalnya. Alon adalah manusia setengah ikan, apa baik-baik saja untuknya berlama-lama di daratan? Maria segera berlari ke luar menemui Alon. Saat sudah berdiri di dekat Alon, Maria sedikit terengah-engah dan berusaha mengatur napasnya. Alon menoleh ke Maria, menatap wajah wanita itu yang memerah karena kelelahan berlari. "Kau sudah bangun?" tanya Alon, pancaran matanya tetap dingin dan tidak berubah. Maria mengangguk singkat. "Ya." Maria menatap ekor ikan Alon yang indah, dan mulai takjub kembali. "Aku pikir kau sudah kembali, maaf, aku sempat lupa bahwa aku meninggalkanmu sendirian di sini," ucap Maria sambil tersenyum kaku. Alon menaikkan alis kirinya, menatap Maria bingung. "Bukankah kau yang memintaku untuk tetap di sini? Aku juga sudah mengatakan bahwa, tidak ada alasan untukku pergi." Maria menghilangkan senyum kakunya, dia kini tersenyum lebih lembut. "Terimakasih. Ah, ya... Kau mau makan? Aku bisa memasak." Alon termenung sejenak, Maria yang mengetahui pikiran Alon dari ekspresi ragu pria itu segera cepat berkata,"Tidak, kita tidak akan memakan hewan laut. Ya... Memang manusia memakan hewan laut, tetapi... Aku... Aku akan memasak menu lain, kau tidak perlu khawatir." Alon mengangguk, ekspresi ragu yang sempat muncul di wajahnya kini menghilang. Alon kembali menatap lurus ke depan, Maria segera berjalan kembali ke dalam kapal sambil berkata,"Tolong tunggu sebentar, aku janji tidak akan lama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD