“Aku Tuanmu, kamu milikku," jawab Alon, kemudian matanya beralih melirik pola rumit Maria. "Tanda itu, adalah tanda kewenanganku di lautan ini. Benda atau hewan apa pun yang memiliki tanda itu, berarti dia milikku."
_________
Maria memperhatikan Alon, terutama kepada ekor ikan pria itu. Badan Alon kekar, warna kulitnya tidak terlalu putih dan gelap. Wajah pria itu dingin, namun tampan. Tulang rahang Alon terlihat sempurna, serta lirikan mata pria itu yang selalu terlihat tajam.
Saat ini Maria sudah kembali ke atas kapal bersama Alon, pria itu dengan bantuan Maria naik ke atas kapal. Alon tidak tahu cara mengubah ekor ikannya menjadi kaki manusia seperti milik Maria, karena ini pria itu memutuskan untuk mulai mencari caranya.
Di atas kapal, duduk di samping Maria, pria itu menatap lurus ke depan, menatap lautan yang gelap dan terlihat sangat tenang. Langit malam dihamburi jutaan bintang, angin sepoi-sepoi menyapa rambut mereka lembut. Maria masih fokus menatap ekor ikan Alon, rasanya seperti mimpi bertemu manusia setengah ikan seperti ini!
Semenjak Alon menempelkan dahinya ke dahi pria itu dan muncul cahaya biru, mereka mulai bisa berkomunikasi. Bukan Alon yang berbicara dengan bahasanya, tetapi justru Maria lah yang tiba-tiba lancar dan mengerti bahasa yang digunakan Alon.
Saat Alon menarik tatapannya dari lautan dan hendak beralih menatap Maria, Maria yang tadi fokus memperhatikan Alon segera buru-buru mengubah arah tatapannya lurus ke depan dengan sangat cepat. Alon menatap Maria, lalu mencondongkan tubuhnya ke Maria hingga jarak wajah mereka menjadi sangat dekat. Maria spontan langsung menatap Alon dan menjauhkan wajahnya, namun tangan kanan Alon tiba-tiba bergerak dan menahan kepalanya di posisi yang sama. Mata mereka saling tatap, Maria yang melihat wajah pria tampan yang sangat dekat dengannya tentu saja memerah, wajah Maria merah padam, akhirnya dia memejamkan matanya untuk menghindari tatapan maut Alon.
"Ternyata bau manusia dan Siren itu berbeda," ucap Pria itu, lalu beralih mengendus ke leher Maria. Maria sontak langsung mendorong Alon menjauh dan menatap Alon kesal. "Jaga jarak denganku!"
Alon mengerutkan keningnya bingung. "Ada apa?" Maria yang mendengar pertanyaan menyebalkan itu segera menjawab,"Tidakkah kau tahu wanita dan pria memiliki batasan? Maksudku, tidak seharusnya kau-"
"Tidak ada masalah, kau 'kan milikku," potong Alon, Maria yang mendengar ini tentu saja langsung terdiam. Dia tahu bahwa kata 'milikku' di pikirannya dan di pikiran Alon itu berbeda. Maria menghela napas, lalu memijit pelipis kepalanya. "Mengapa kau menolongku?"
Alon kembali menatap lurus ke depan, lalu menjawab,"Tidak tahu. Aku hanya tidak ingin waktuku terganggu, saat itu aku sedang memperhatikan kakimu karena penasaran, lalu tiba-tiba para Siren itu muncul untuk mengambilmu. Tentu saja aku merasa terganggu, aku tidak senang." Kedua sudut alis pria itu menyatu tidak senang saat berbicara.
Maria hanya menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian dia bertanya,"Apa namamu hanya Alon? Tidak ada nama belakang?" Alon melirik Maria sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan dan mengangguk. "Ya, Alon. Para Siren di sini hanya memiliki satu suku kata nama, namaku adalah Alon, yang berarti ombak." Maria yang mendengar ini tersenyum tertarik. "Nama yang sungguh cantik, tidak, maksudku indah. Ombak, itu luar biasa. Melihat mereka takut padamu barusan, itu sangat sejalan dengan arti namamu." Alon tidak berekspresi apa pun, namun kemudian dia bertanya,"Siapa namamu?"
Maria ikut menatap lurus ke depan, lalu menjawab,"Maria, aku adalah anak dari pebisnis perusahaan besar Amerika. Namun... Sepertinya mulai saat ini akan berubah, aku tidak tahu ke mana kedua orang tuaku serta nahkoda kapal pribadiku. Aku sekarang sebatang kara, tidak yakin cepat atau lambat akan kembali. Jika pun kembali, aku tetap masih sebatang kara."
Alon menatap Maria lagi. "Kau mau tahu ke mana orang tuamu pergi?" Maria beralih menatap Alon juga, lalu tersenyum getir dan menjawab,"Setelah kejadian tadi, tanpa kamu jelaskan, aku sudah mengetahuinya."
Alon terdiam melihat senyum getir Maria, pria itu menyadari bahwa kedua mata Maria mulai memerah dan berkaca-kaca. Maria tertunduk sambil memeluk kedua kakinya, wanita itu menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan isak tangis apa pun.
Tiba-tiba, saat Maria tengah sibuk menahan isak tangisnya karena sedih luar biasa, suara nyanyian merdu terdengar tepat dari sampingnya. Maria mengangkat kepalanya, pipinya basah karena air mata, wanita itu menoleh dan menatap Alon. Alon, pria itu tengah bernyanyi, matanya lurus menatap ke depan. Sekarang tidak ada suara apa pun lagi selain suara nyanyian Alon yang merdu, angin perlahan membuat pipi basah Maria menjadi kering.
Maria yang tadi menangis, kini mulai merasa tenang. Sekarang dia tahu siapa yang bernyanyi untuknya di tengah isak tangisnya yang sebelumnya. Maria memejamkan matanya perlahan untuk menikmati nyanyian merdu Alon, itu benar-benar merdu dan membuat tenang, hingga Maria melupakan kesedihannya begitu saja.
Selesai Alon bernyanyi, Maria kembali membuka matanya dan menatap Alon. Alon meliriknya, lalu berkata,"Kamu tidak cocok menangis." Maria mengerutkan keningnya sedikit. "Mengapa?" Alon menjawab,"Arti nama 'Maria' adalah 'cinta'. Seharusnya cinta itu bahagia, bukan menangis. Aku tidak suka cinta yang menangis."
Maria tersentuh tipis. "Kau tahu banyak arti nama seseorang, ya?" Alon tidak menjawab dan hanya diam. Maria beralih menegakkan posisi duduknya, kemudian menarik napas dalam dan menghembuskannya, lalu setelah itu menghapus cepat air matanya yang tersisa di matanya yang merah. Maria berdiri, membuat Alon menoleh menatapnya. Maria tidak mempedulikan Alon, wanita itu langsung berjalan masuk ke dalam ruangan kapal untuk mencari sesuatu. Saat Maria kembali keluar membawa satu buket bunga mawar merah besar, bunga ini tadinya ingin dia jadikan aksesoris foto berliburnya, namun... Apakah sekarang masih bisa berlibur?
Maria kembali berjalan ke arah Alon, wanita itu berdiri di samping Alon sambil menatap ke lautan. Maria mencabut satu persatu kelopak mawar merah, kemudian menyebarkannya ke laut. Raut wajah Maria kembali sendu saat sedang menaburkan kelopak bunga mawar ke laut, walaupun Maria tidak menangis keras, namun tetap hatinya terpukul keras.
Saat satu tangkai terakhir, Alon tiba-tiba menghentikan gerakan Maria yang hendak mencabut kelopak bunga mawar. "Tunggu."
Maria menoleh ke belakang, menatap Alon bingung. Alon menatap bunga mawar yang tersisa di tangan Maria. "Apa itu bunga?"
Maria mengangguk. "Ya, kau mau lihat sebelum aku cabut kelopaknya?"
Alon terdiam sejenak, lalu mengangguk. Maria kembali duduk di samping Alon, lalu menyerahkan satu tangkai bunga mawar tersebut.
Alon memegang tangkai bunga mawar, lalu mendekatkan bunga itu ke hidungnya. "Harum," ucap pria itu. Maria tersenyum tipis. "Tentu saja, itu 'kan bunga."
Alon mengangguk, lalu berkata,"Di dalam laut tidak ada bunga yang seperti ini. Memang ada bunga, namun tidak seharum bunga daratan." Maria mengangguk mengerti, lalu menjawab,"Aku tidak pernah melihat bunga yang berasal dari dalam lautan, semoga saja ada kesempatan lain di masa depan." Alon yang mendengar ini segera menatap Maria, lalu pria itu kembali menatap ke arah bunga mawar dan tidak memberi komentar apa pun tentang doa harapan Maria barusan.
Setelah puas melihat dan mencium harumnya bunga mawar, pria itu mengembalikan satu tangkai bunga mawar itu ke Maria. Maria mengambilnya dan kembali berdiri, lalu mencabut kelopak dari tangkai bunga terakhir. Setelah selesai menebarkan ratusan kelopak mawar ke laut, Maria segera menyatukan kedua telapak tangannya dan memejamkan mata untuk berdoa. Alon yang melihat Maria berdoa, bingung.
Selesai Maria berdoa dan kembali membuka matanya, pria itu segera duduk lagi di samping Alon, menatap gelapnya langit malam bersama. Alon menatap Maria. "Apa yang kau lakukan barusan dengan kedua telapak tangan menyatu?" Maria melirik Alon, lalu menjawab,"Berdoa kepada Tuhan."
Alon yang mendengar ini mengerutkan keningnya. "Tuhan? Apa maksudmu seperti Dewa?"
Maria mengangguk. "Ya." Alon kembali menatap lurus ke depan. "Siapa Dewa-mu?" Maria tersenyum tipis. "Tuhan Yesus."
Alon mengerutkan keningnya. "Itu sebutan untuk Dewa-mu?" Maria menjawabnya dengan mengangguk singkat, lalu melirik Alon lagi dan bertanya,"Bagaimana denganmu?"
Alon menatap laut dengan kedua bola mata dinginnya, langit sudah tidak segelap tadi. Sepertinya sudah hampir memasuki waktu subuh. "Dewaku bernama Dewa Poseidon, dia memiliki kekuatan luar biasa. Senjatanya adalah trisula sakti yang bisa menyebabkan banjir serta gempa bumi."
Maria mengangguk mengerti, lalu kembali bertanya,"Bagaimana denganmu? Siapa kamu? Tidak, aku tahu namamu adalah Alon, namun... Siapa kamu? Seperti apa kamu dikenal oleh penghuni laut?"
Alon menatap ekornya sekilas sebelum menjawab.