2. Alon

1757 Words
Di tengah kesibukan Maria menangis, tiba-tiba terdengar suara nyanyian merdu misterius. Maria yang mendengar ini segera berhenti dari menangisnya, wanita itu terdiam. Maria melirik ke ponselnya, namun tidak ada notifikasi apa pun. Ponselnya juga tidak bergetar sama sekali, tidak ada panggilan masuk dan dirinya juga tidak sedang menyetel musik. Tubuh Maria menegang saat menyadari ini, matanya diam-diam mengintip ke jendela kapal. Namun dia tidak melihat apa pun di lautan. Maria berjalan ke luar kemudi kapal, kemudian menatap seluruh bagian laut yang dapat dia lihat. Suara nyanyian merdu itu masih terus terdengar, hal ini membuat Maria semakin penasaran. Di tengah-tengah kesibukan mencarinya, tiba-tiba ada suara air yang seolah dijatuhi benda, atau suara air ketika ada seseorang yang menceburkan diri kemudian berenang. Maria menyadari bahwa suara ceburan itu berasal dari ujung kapalnya, wanita itu segera turun tangga dan berlari menghampiri ujung kapal. Maria celingak-celinguk ke sana kemari, mencari sesuatu yang misterius. Maria berdecak kesal saat tidak menemukan apa yang ingin dia cari tahu, kemudian wanita itu menghela napas gusar dan kembali masuk ke ruang kemudi dengan perasaan kesal bercampur gelisah. Tanpa Maria sadari, ada mata yang diam-diam menatapnya dari balik batu karang yang tinggi. Mata itu terus mengawasi Maria dan menatap Maria dengan penuh rasa pensaran. Setiap kali Maria keluar dari ruang kemudi kapal dan berjalan, hal yang diperhatikan oleh pemilik tatapan itu adalah kaki Maria. Mata itu menatap penasaran dan serius ke arah kaki Maria. Saat mendengar suara isak tangis Maria, entah kenapa hati pemilik tatapan itu menjadi gelisah. Saat malam hari, Maria memilih tidur di ruang kemudi kapal. Wanita itu mengambil dua selimut, satu bantal, dan satu guling. Selimut pertama dia gunakan untuk alas tidur, dan selimut kedua dia gunakan untuk menghangatkan tubuhnya dari angin malam yang dingin. Maria hendak memejamkan matanya, namun tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Dengan perasaan kesal kepada diri sendiri, Maria mau tidak mau kembali bangun dan berjalan keluar dari ruang kemudi kapal menuju dapur kapal. Saat hendak menuju dapur kapal, langkah kaki Maria berhenti. Maria dengan cepat melirik ke arah batu karang yang tinggi, dia merasa ada sesuatu yang terus mengawasinya. Namun saat sudah menatap ke arah batu karang, Maria tidak melihat apa pun. Sedangkan sosok di balik batu karang tersebut sudah buru-buru masuk ke dalam laut dengan jantung berdebar. Takut jika Maria melihatnya. Maria menatap cukup lama ke arah batu karang, namun pada akhirnya wanita itu hanya mengangkat bahu acuh dan melanjutkan jalannya menuju dapur kapal. Setelah selesai mengambil air, Maria segera berjalan kembali menuju ruang kemudi kapal. Saat Maria berusaha untuk kembali tidur, tiba-tiba nyanyian merdu yang dia dengar tadi pagi kini kembali terdengar. Tetapi bedanya, nyanyian kali ini terasa lebih ramai, seperti tidak hanya satu orang atau satu benda yang bernyanyi. Maria kembali bangkit berdiri, kemudian berjalan keluar dari ruang kemudi, matanya menatap laut dengan rasa penasaran. Mata Maria terbuka lebar kala melihat manusia berenang di lautan. Tetapi tunggu. Apa ada manusia yang berenang malam-malam begini di laut lepas? Hal konyol, tidak mungkin. Maria kembali mengingat Zack, pria itu enggan melewati daerah ini karena takut bertemu Siren, bukan? Apa manusia yang sedang bernyanyi dan berenang di lautan lepas yang mengelilingi kapalnya adalah para Siren? Pertanyaan Maria terjawab kala salah satu dari mereka kembali masuk ke dalam lautan, Maria melihat bagian bawah tubuh mereka bukan kaki manusia, tetapi ekor ikan! Maria mengepalkan tangannya, jantungnya tiba-tiba berdebar dengan sangat kencang. Nyanyian mereka terus berjalan, namun anehnya Maria tidak merasakan apa pun dan masih merasa bahwa dirinya normal dan tetap sadar. Maria memang sempat tertegun dengan keindahan suara mereka, dirinya juga tertegun dengan kecantikan wajah para Siren wanita. Entah kenapa tiba-tiba Maria ingin turun dari lantai kemudi kapal dan mendekat ke arah mereka. Maria tidak memiliki perasaan ingin menceburkan diri seperti di film-film, dia hanya ingin mendekat ke mereka. Maria berdiri tepat di sisi kapal, tubuhnya dihalangi tiang pembatas. Maria hanya bisa mendekat dengan jarak segini, karena pasalnya tinggi kapal pesiar dan lautan tempat mereka bernyanyi serta menatap Maria cukup sulit digapai. Bersamaan dengan Maria yang mulai nyaman dengan suara para Siren, tiba-tiba salah satu dari mereka mengulurkan tangan ke atas untuk Maria. Maria juga tanpa sadar tersenyum manis dan ikut menjulurkan tangannya ke arah Siren tersebut. Semakin Maria memaksa tangannya dan tangan Siren tersebut untuk saling bersentuhan, semakin pula tubuh Maria melewati pagar pembatas kapal. Saat tangan Maria dan Siren itu hampir bersentuhan, tiba-tiba tangan cantik sang Siren berubah menjadi sangat mengerikan. Kuku Siren itu tiba-tiba memanjang dan menjadi sangat tajam, seperti siap untuk mencabik-cabik tubuh Maria. Bersamaan dengan itu, ada nyanyian lain yang terdengar dari batu karang yang sangat tinggi. Nyanyian itu membuat Maria tersadar dari hipnotis nyanyian para Siren yang ingin membahayakannya. Maria yang tersadar segera menarik tangannya kembali, namun sayang dia kalah cepat. Siren yang tadi mengulurkan tangannya sudah menarik tangannya lagi dengan sangat kencang. Bersamaan dengan itu lengan Maria terluka disebabkan oleh kuku-kuku Siren itu yang sangat panjang dan tajam. "Ah!" ringis Maria, keningnya mengerut. Maria mencoba untuk melepaskan cekalan tangan sang Siren yang sangat erat, dia juga berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sakitnya. Tak lama kemudian kala sang Siren tak kunjung pergi dan melepaskan tangan Maria, tiba-tiba cahaya berwarna biru cerah yang sangat silau muncul dari balik karang dan melesat ke arah Maria. Cahaya itu masuk ke dalam tubuh Maria yang membuat tubuh Maria bercahaya sangat terang. Para Siren yang melihat cahaya itu dan mengenali aura dari cahaya tersebut terkejut. Siren yang mencengkeram tangan Maria erat segera melepaskan cengkeramannya, kemudian dia kembali masuk ke dalam laut sambil berseru,”Κύριε Άλον!” (Kyrie Alon! = Tuan Alon!) Para Siren yang mendengar temannya berkata demikian tiba-tiba merubah raut wajah mereka menjadi ketakutan. Kemudian mereka segera menyusul temannya yang tadi ke dalam laut. Sedangkan Maria, wanita itu sudah jatuh duduk di lantai kapal dengan napas terengah-engah, karena pasalnya dia masih terkejut dengan kejadian barusan. Pertama, Siren muncul dan merayunya untuk masuk ke dalam jebakannya, kedua ada cahaya aneh yang masuk ke dalam tubuhnya yang membuat tubuhnya mengeluarkan cahaya yang sangat terang dengan warna serupa. Maria kembali terkejut kala dadanya tiba-tiba mengeluarkan cahaya, dengan panik Maria membuka bajunya dan hanya menyisakan pakaian dalam atas. Maria berdiri dan berlari ke arah kaca, kemudian menatap bayangan tubuhnya yang mengeluarkan cahaya. Maria melihat dadanya tiba-tiba memiliki tanda atau simbol yang aneh, seperti polesan tinta di kertas yang membuat simbol atau pola rumit. Di tengah-tengah pola tersebut ada tulisan yang samar-samar terlihat. "Alon?" baca Maria dengan nada bicara bingung. Tak lama setelah itu, suara manusia berenang terdengar. Maria yang mendengar ini kembali berjalan ke arah pagar pembatas kapal, melihat secara ragu ke laut. Tepat setelah itu, maria tertegun melihat manusia yang muncul dari permukaan laut. Namun kemudian Maria tersadar, tidak ada manusia yang muncul dari permukaan laut lepas dengan ekspresi wajah setenang itu. "Apa kamu bagian dari mereka?" tanya Maria, matanya menatap sosok itu dengan waspada. Sosok itu tidak menjawab, matanya yang dingin terus menatap Maria. Maria yang melihat sosok itu tidak menjawab pertanyaannya mulai merasa canggung. Sosok itu berwajah pria, tatapan matanya dingin dan juga tajam. Rambut pria itu juga panjang dan berwarna hitam pekat. Wajahnya juga sangat tampan, makanya Maria merasa canggung dan gugup karena pria itu menatapnya terus menerus. "Kamu manusia atau Siren? Atau Mermaid?" tanya Maria, entah mengapa dia merasa bodoh dengan pertanyaannya. “Πάρε με στο πλοίο” (Pare me sto ploio = bawa aku ke kapal), ujar pria itu dengan Bahasa Yunani yang Maria tidak mengerti. Maria mengerutkan keningnya bingung, apa yang dikatakan oleh pria itu? Sepertinya itu adalah bahasa Yunani, Maria tidak menguasai bahasa tersebut. “Bisa kamu berbicara dengan Bahasa inggris?” tanya Maria. Pria itu tidak menjawab pertanyaan Maria, melainkan berbicara ucapan yang tadi dia katakan lagi,“Πάρε με στο πλοίο” (Pare me sto ploio). Maria semakin merasa bingung, kemudian dia bertanya,Kamu seorang Siren? saat Maria bertanya demikian, pria itu tiba-tiba menunjukkan ekornya keluar dari laut. Ekor milik pria itu berwarna biru gelap, persis seperti warna langit malam ini. Maria mencengkeram pagar pembatas kencang untuk menekan rasa terkejut dan takut yang kembali datang, tanpa sadar kaki wanita itu berjalan sedikit mundur. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Maria dengan tatapan penuh rasa takut, kakinya mulai gemetar. “Πάρε με στο πλοίο” (Pare me sto ploio), ucap pria itu lagi, masih dengen perkataan yang sama. “Apa arti dari ‘Pare me sto ploio’? Kamu ingin membunuhku?” tanya Maria, matanya masih menatap wajah dingin Siren laki-laki tersebut. Siren laki-laki itu menggeleng, memberitahu Maria bahwa dia tidak memiliki niat jahat. Maria yang melihat ini kembali bertanya,"Lalu apa yang kamu inginkan? Naik ke kapal?" Saat maria bertanya ini, Siren laki-laki itu segera mengangguk. Maria yang melihat pria itu kembali bertanya lagi dan lagi,"Apa kamu tidak akan melukaiku?" Siren laki-laki itu mengangguk lagi, tatapan matanya sangat serius. "Bagaimana bisa aku mempercayaimu?" tanya Maria untuk memastikan niat pria itu. Siren laki-laki itu menunjuk d**a Maria menggunakan jari telunjuknya, kemudian beralih menunjuk dadanya sendiri dan berkata,"Alon." Maria yang mendengar Alon terkejut, kemudian matanya menatap menyelidik ke arah Siren laki-laki tersebut. "Apakah kamu Alon?" Siren laki-laki yang mendengar pertanyaan Maria mengangguk. Maria melebarkan matanya, kemudian segera berlari turun dari kapal. Maria bahkan lupa menggunakan alas kakinya, wanita itu menginjak pasir secara langsung, kemudian berjalan ke ujung pantai. Maria terus berjalan maju, sampai akhirnya tinggi air sudah mencapai pinggangnya, baru wanita itu berhenti. Alon sang Siren laki-laki segera berenang mendekati Maria, sampai akhirnya dia berhenti di jarak satu meter dengan Maria. Maria dan Alon saling tatap. “αγαπητός” (Agapitos = kesayangan/kekasih), ucap Alon saat bertatap muka langsung dengan Maria, kemudian matanya beralih menatap d**a Maria yang memiliki pola unik dan tulisan namanya yang samar-samar terlihat. Maria yang tahu ke mana tatapan Alon menatap segera menutup dadanya kesal. "m***m!" Alon yang mendengar ini mengerutkan keningnya bingung, kemudian pria itu berenang mendekat ke arah Maria, sekarang jarak mereka benar-benar sangat dekat. Maria melotot marah. "Apa yang ingin kamu lakukan?!" kakinya berjalan mundur dua langkah. Alon tidak menjawab apa pun, pria itu kemudian menempelkan dahinya dengan dahi Maria. Cahaya berwarna biru cerah seperti tadi muncul di dahi mereka berdua dan pola rumit yang ada di d**a Maria. Tak lama kemudian, cahaya itu redup, kemudian Alon menjauhkan wajahnya dari wajah Maria. “Kamu milikku, aku Tuanmu," ucap Alon yang kini dengan bahasa yang Maria entah mengapa bisa pahami. Maria tertegun sejenak, matanya menatap Alon bingung. "Apa maksudmu?" “Aku Tuanmu, kamu milikku," jawab Alon, kemudian matanya beralih melirik pola rumit Maria. "Tanda itu, adalah tanda kewenanganku di lautan ini. Benda atau hewan apa pun yang memiliki tanda itu, berarti dia milikku." Maria menatap aneh ke arah Alon. Sekarang hal gila apa lagi?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD