4.3DARA

1793 Words
Mobil yang di kendarai Xavier dan Mira tiba disebuah cafe, Mira pun baru kali ini berada di cafe yang bisa dibilang elite, Mira masih memperhatikan keadaan luar dikejutkan suara Xavier berdehem singkat. "Ehemm ehem," "Apa?" Mira menaikan alisnya sebelah menatap Xavier "Gimana sama tawaran gue tadi, mau kan?" "Yang mana?" sambil melipat tangannya diatas perut, menatap bule sialan yang ternyata tampan. "Ya jadi calon istri pura pura saya!" "Ya gak mau lah!" Mira menatap sengit kearah Xavier "Gue bayar deh loe, mau berapa, sebulan ini aja okey?" "Iki yo, pertama aku ora kenal karo koe, kedua kita iki ora saling cinta dan ketiga uwis jelas ya awak ku ora gelem toh karo koe." "Pliess, bisa gak sih kamu ngomong yang jelas aku gak ngerti kamu ngomong apa." "Lahh, dari ini nih kita udah gak sejalan, koe gak ngerti toh, karo bahasa ku, yo wes, lo gue end." sambil memutar membuka pintu mobil, tapi tangan Xavier lebih dulu memegang lengannya. "Tunggu dulu, oke oke saya mau kamu bantu saya satu bulan saja, jadi pacar pura pura saya, kamu mau berapa sepuluh juta, dua puluh juta, ayo bilang saya sanggup bayar kamu." "Aku ndak mau, lagian aku uda ada pekerjaan yang lebih baik dan terhormat, jadi Mister gak usah tawar tawarin saya, dah lah, cari aja cewek yang lebih cantik dan lebih modis, sebagai gantinya mana aku minta sama Mister, itung itung bayar waktu kerja aku yang terganggu, lumayan bisa buat ongkos taksi." "Maksud kamu kerja jadi pelayan Cafe gitu?" "Ya iya lah, emang opo toh?" "Kamu itu berasal dari mana sih, ditawari duit malah gak mau." "Saya ini warga +62 lah Misterr." "Maksud kamu?" "Dah lah, dijelasin juga Mister gak ngerti, wong mister bukan warga +62 tulen toh." "Kamu ngomong apa sih?" "Lagian ya Mister, saya ini gak cantik mana percaya Mumi nya Mister, Mister pacaran sama gembel kayak saya, dah lah saya mau pulang aja." belum sempat Mira membuka pintu suara ketukan pada kaca mobil itu membuat Mira menghentikan tindakannya. Xavier menurunkan kaca dan terlihat lah wanita cantik yang di taksir Mira tak lagi muda. "Xavier, ngapain kamu di mobil aja, ayo turun, Mami dan Bella sudah menunggu." Mira menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan tak mengerti. "I..iya Mam," "Cepetan Mami tunggu didalam." sambil menoleh sekilas menatap Mira wanita paruh baya itu pergi meninggalkan mereka. "Ayok, turun." "Gak mau Mister." "Udah urusan kita nanti kita bicarakan lagi." Mira tidak menjawab ia hanya mengikuti Xavier turun masuk kedalam cafe. Terlihat dua wanita cantik beda generasi tengah duduk memandang ke arah Mira dan Xavier. "Maaf Mam, lama ya?" ucap Xavier. "Mami itu udah dari tadi nunggu kamu disini, tapi lama banget di mobil, di tungguin malah gak turun turun!" jawab mami Xavier sewot. "Biasa lah Mam, cewek kalau lagi ngambek payah bujukin nya, ya kan Sayang?" Xavier menaik turun kan alis nya menatap Mira yang salah tingkah ditatap ketiga orang asing dihadapannya. "I..iyah," sambil mengulas senyum kearah wanita yang disebut mami oleh Xavier. "Dia siapa?" tanya wanita muda itu menatap Mira tak suka. "Oh, kenalin Bella, ini Mira pacar aku." sambil tersenyum kearah Bella ia merangkul Mira membuat gadis itu sedikit terkejut. "Yakin kamu, bukannya baru pulang seminggu yang lalu dari Jerman, masa uda pacaran aja, aku gak percaya." ucap Bella percaya diri. "Aku gak butuh kamu percaya apa enggak, aku hanya mau kasih tau Mami aku." jawab Xavier. "Kamu gak lagi bohongi Mami kan Xavier?" "Enggak kok Mam, kami selama ini LDRan ya kan Sayang?" sambil merangkul bahu Mira mengeratkan pegangannya pada bahu Mira. "Hah, iyo, iyes, eh i..ya Tante," aduh mampus koe kok malah buat malu toh Mir, gerutu Mira dalam hati. "Oke, Mami restuin kalau memang semua ini sudah menjadi pilihan kamu, Mami cuma mau yang terbaik untuk kamu sayang, kamu itu udah dua puluh sembilan tahun, mami gak mau kamu terlena dengan pergaulan diluar sana, yang penting secepatnya kamu bawa dia kerumah biar Mami dan Papi bisa kenal dia lebih dekat lagi. Oh iya siapa nama kamu?" tanya mami Sinta pada Mira dengan senyum tipis, tapi seperti rentenir penagih hutang dimata Mira. "Saya Mi .. Mira Tante," dalam hati Mira menggerutu kenapa ia malah mendadak gugup. "Oh, Mira, sudah berapa lama berhubungan dengan Xavier?" Sinta bertanya antusias demi apapun ia sudah ingin memiliki cucu dan menantu jadi meskipun niat awalnya ia ingin menjodohkan Bella pada Xavier tidak terwujud setidaknya putranya sudah membawa calon sendiri, jadi untuk saat ini Sinta memilih mengalah dengan pilihan putranya, gadis dihadapannya cantik, bertubuh mungil, bibir kecil, dan penampilannya, sangat sederhana batin Sinta. "Enam bulan Mi, kami sudah berhubungan selama enam bulan, ya gak Dayang?" Mira menatap Xavier dengan tatapan siap membunuh bagaimana bisa pria ini mengakui hubungan dengannya selama enam bulan, bahkan dirinya baru hari ini menggeret Mira dari depan toko seperti membeli barang yang langsung dimiliki pemiliknya. "Hah, i..itu ehmm iya Tan!" Mira tampak ragu mengiyakan ucapan Xavier, bahkan pria ini tidak bisa di percaya. Mira mencubit paha Xavier yang duduk dekat dengannya, membuat Xavier menatapnya dengan senyum yang dibuat semanis mungkin agar ibunya tak merasa aneh, Xavier mencoba menghentikan tangan Mira, dan berakhir begitu saja dalam genggaman tangan Xavier yang besar. Mira mencoba menarik tangannya tapi tetap ditahan oleh Xavier demi apa pun mereka tarik menarik tangan dibawah meja dengan cara elegan, dasar bule sialan, awas kamu yo tak ulek ulek dadi sambel tuk tuk gerutu Mira dalam hati hingga getaran di ponselnya membuat konsentrasinya beralih. "Lepasin tangan aku Mister!" ucap Mira berbisik kepada Xavier. "Gak akan, kamu ini mau nyiksa Saya kan?" "Lah, sopo seng nyiksa toh, bukannya situ yang lagi nyiksa awak ku, cepet lepas eneng seng nelpon iku loh." Xavier pusing mendengar ucapan Mira yang tidak ia mengerti, ia melepas tangan Mira yang langsung melihat siapa pemanggilnya, ternyata nama Kinan yang muncul dilayar ponsel Mira, pasti sahabatnya itu merasa cemas hingga menjelang malam ia belum juga tiba di resto, Mira memilih mengsilent ponselnya agar tidak mengganggu. "Baik lah, Mami seneng kalau kamu sudah mau berkomitmen, lain kali Mira harus habis kan waktu bersama Tante ya?" Sinta tersenyum kearah Mira yang juga tersenyum gugup melihat respon positif dari orang tua Xavier lalu pandangannya beralih menatap Xavier yang terlihat acuh dengan ucapan maminya. "Tapi Tante," Bella yang melihat itu merasa tak suka Sinta bersikap welcome terhadap Mira. "Maafkan Tante ya Sayang, Tante tidak tau kalau Xavier sudah memiliki pacar, mungkin kamu dan Xavier memang tidak berjodoh!" Sinta memandang ke arah Bella dengan raut bersalah, bahkan ia hampir melupakan gadis disampingnya ini karena terlalu senang melihat Xavier membawa wanita untuk diperkenalkan pertama kali. "Tapi janjinya tidak seperti ini Tan, katanya Tante janji mau jodohin Bella dan Xavier." ucap Bella dengan nada tak suka. "Iya Sayang Tante mengerti, tapi Xavier tidak pernah membawa gadis kehadapan Tante, dan ini? Dia membawanya untuk pertama kali, jadi Tante mau memberinya kesempatan untuk memilih, maafkan Tante ya sayang?" ucap Sinta kepada Bella yang seketika memandang kearah Mira dengan raut tak bersahabat. "Oke, selamat ya kamu, entah siapa nama kamu aku tetap gak percaya kamu pacaran dengan Xavier, lihat aja masak Tante percaya sih sama cewek yang pacaran dengan Xavier penampilannya begini." "Jaga ucapan kamu Bella, bagaimana pun penampilannya dia tetap pacar aku!" ucap Xavier menegaskan. Entah kenapa ucapan Xavier terasa menyejukkan dan menyenangkan untuk Mira, ia melihat Xavier wajah tampan itu tampak serius dalam berbicara kebohongan, mengapa Mira malah menyukai kebohongan itu. "Maaf Tante, Bella duluan ya, masih ada urusan!" "Maafkan Tante ya sayang, lain kali kita jalan bareng lagi oke?" "Baiklah Tante, Bella pergi dulu." wanita itu berjalan dan menghilang keluar. "Mami kenapa sih selalu saja jodohin aku dengan Bella." "Xavier, apa yang salah Nak, dia perempuan baik baik, berpendidikan, dari keluarga baik baik juga apa yang salah?" Sinta membenarkan ucapannya kepada Xavier, Mira hanya memperhatikan anak dan ibu itu, bagaimana jika ibu Xavier mengetahuinya bekerja sebagai pelayan cafe, dan parah nya ia tidak memiliki pendidikan yang tinggi dan orang tua. "Mih, Xavier kenal Bella dari jaman kuliah, udah deh pokoknya Xavier gak mau Mami bawa bawa Bella lagi, Xavier capek Mi, Xavier udah dewasa kalau udah waktunya Xavier juga bakalan nikah kok." "Oke Mami tunggu hari itu tiba." Mira hanya memandang perdebatan antara anak dan ibu itu hingga mereka akhiri dengan acara makan malam. *** "Aduh Mira kemana ya, apa sakit, kok ditelpon gak di angkat." "Kenapa kamu ngomong sendiri?" tanya Satya saat masuk kedalam resto mendekati Kinan yang mondar mandir sambil memegang handpone. "Mira kok gak masuk ya Chef?" "Yang bener kamu?" "Masak saya bohong Chef, ya Chef lihat ada gak Mira di depan?" Satya menautkan alisnya lalu mengangguk perlahan. "Tapi saya lihat motornya sudah terparkir di area parkiran Resto." "Hah, masak sih Chef?" Satya mengangguk menjawab ucapan Kinan. "Emang motor itu bukan kamu yang bawa?" "Ya enggak lah Chef, hari ini giliran aku masuk pagi dan Mira masuk sore jadi motor udah jelas Mira yang bawa, tapi dia kemana Chef?" "Kamu yang tenang, kamu sudah coba telepon?" "Sudah Chef tapi gak di angkat." "Coba kamu telpon lagi." Kinan mengangguk lalu menekan nomor Mira, panggilan masuk tapi tidak juga ada jawaban membuat Kinan resah. "Bagaimana?" "Tidak diangkat Chef." "Coba telpon temen kamu yang ada dirumah." Kinan menelpon Naya dan langsung mendapat jawaban bahwa Mira tak ada di rumah membuat Kinan semangkin khawatir. "Tidak ada Chef." "Berarti Mira yang membawa motor kemari?" "Bisa jadi Chef, tapi kenapa Mira tidak masuk kerja?" Kinan duduk didekat area dapur ia menjadi lemas mendapati Mira tak ada kabar. Sementara itu dilain tempat mobil Xavier membawa Mira pulang, keduanya tidak ada yang berbicara masih dalam pikiran masing masing. "Jadi?" Xavier mencoba membuka percakapan. Mira menatap Xavier menunggu ucapan pria tersebut. "Apa?" "Kamu mau kan, jadi pacar pura pura saya, hanya satu bulan saya akan bayar kamu, nanti saya yang bilang sama Satya." "Nanti saya pikirin lagi." "Oke." "Tapi kalau saya mau, saya tetep boleh kerja di Restoran kan?" "Ya enggak lah," "Loh, kenopo toh?" "Kamu kan pacar saya," "Kan cuma pura pura, lagian yo Mister saya ini mau ngapain toh, dirumah gak ada kerjaan." "Kamu kerja lah sama Saya, nanti kalau Mami saya tau kamu kerja sama Satya payah urusannya." "Wess lah, sak karepmu ae, cepetan bawa mobilnya." ucap Mira memerintah seakan akan ialah pemiliknya. "Saya bukan supir kamu." "Oke, saya juga bukan pacar situ, wes berenti wae, aku atek mule dewe." "Kamu kalau ngomong yang jelas!" "Dah lah aku mau pulang sendiri." ucap Mira menegaskan dengan bahasa yang Xavier mengerti. "Heh, enak aja." "Kenopo toh, anda gak terima?" "Ck, Mira kamu bisa gak sih nurut, kamu gak mau uang?" "Udah lah, awak ku pusing mikir no, iso iso mati muda awak ku." ucap Mira mengalihkan pandangannya memandang arah luar jendela mobil. "Saya antar kemana?" "Resto saja!" Xavier mengerti ia tidak ingin berdebat lagi lalu menjalankan laju mobilnya menuju restoran Satya. _____________________________ Jangan lupa tekan love agar tidak kehilangan jejak makasih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD