Bab 17 : Tak Semua Luka Minta Diobati

766 Words

Langit pagi itu tampak seperti perut bumi yang sedang menahan petir. Bukan mendung, tapi cukup suram untuk membuat langkah Elira terasa ragu saat menuruni tangga kos. Di dalam ranselnya, ada surat panggilan wawancara beasiswa luar negeri yang ia simpan rapi di antara buku-buku sketsa. Ia berhenti di depan pintu. Menarik napas panjang. Lalu melangkah. Tidak ada musik di telinganya hari itu. Tidak ada pesan motivasi. Hanya suara langkah sepatu dan desir angin yang lewat pelan di antara daun-daun kering yang gugur di halaman kampus. Di gedung pusat kegiatan mahasiswa, tempat wawancara akan berlangsung, ia duduk menunggu sambil memainkan ujung jari-jarinya. Satu demi satu peserta dipanggil masuk. Dan saat namanya dipanggil, hatinya terasa berdebar tidak seperti biasanya. Bukan karena ia tid

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD