Elira terbangun lebih pagi dari biasanya. Udara pagi itu tak lagi dingin seperti kemarin, tapi ada sesuatu yang menggantung. Seperti langit sedang menahan sesuatu yang tak bisa diluapkan. Ia duduk di sisi tempat tidurnya, memandangi dinding kosong tempat sketsa lama biasanya menggantung. Beberapa sudah ia lepas, sebagian lainnya ia sobek dalam kemarahan yang datang diam-diam malam sebelumnya. Ia sudah lelah merasa takut. Tapi keberanian bukan sesuatu yang datang sekaligus. Ia tumbuh. Pelan. Kadang lewat luka yang dalam. Kadang lewat kata-kata yang sulit diucapkan. Dira datang tanpa kabar, membawa dua kotak sarapan dan satu gulungan kertas besar. Mereka duduk berdua di balkon, tanpa banyak bicara, sambil memandangi kota yang mulai sibuk. “Lu yakin mau nerima undangan pameran nasional itu

