Pagi itu langit tampak bersih, tapi Elira tahu, hujan tidak selalu datang dengan awan. Kadang ia turun begitu saja, seperti kenangan yang muncul tanpa undangan. Di dalam ruang kecil tempat ia biasa menulis jurnal, Elira membuka laptopnya, bersiap untuk mengikuti forum seni virtual yang diselenggarakan komunitas seni trauma. Ia diminta menjadi pembicara. Bukan untuk membanggakan diri, melainkan untuk bercerita. Tentang proses. Tentang luka. Tentang suara yang selama ini tenggelam oleh ketakutan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya dingin meski ruangan cukup hangat. Dira, yang duduk tak jauh darinya, memberi isyarat lewat anggukan kecil. Elira menarik napas, mengangguk balik, lalu menyalakan kamera. Suara moderator terdengar, menyambut semua peserta. Lalu memperkenalk

