Langit sore itu menggantung abu-abu, seperti selembar kanvas yang belum diputuskan warnanya. Elira duduk sendirian di dalam studio kecilnya, di antara bau cat minyak, kertas setengah kering, dan ingatan yang menempel di setiap sudut dinding. Ia memandangi lukisan terakhirnya yang belum selesai. Garisnya tergesa. Warnanya tak pasti. Tangannya gemetar saat mencoba melanjutkan sapuan kuas, tapi hasilnya malah berantakan. Ia menjatuhkan kuas ke lantai. Hening. Hanya detak jam tua yang menggema seperti sisa hidup yang terus berjalan tanpa menunggu. Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari nomor tanpa nama. "Aku udah bilang, semua ini bukan milik kamu. Jangan lupa, siapa yang lebih dulu tanam luka di antara kita." Tidak ada nama. Tidak ada salam pembuka. Hanya kalimat yang menusuk tepat di

