Bab 20 : Diantara Retak

650 Words

Hari itu, udara terasa lebih tipis dari biasanya. Elira berdiri di balkon rumah sakit, memandangi halaman yang lengang. Di dalam, Arel masih terbaring, meski kondisinya mulai membaik. Tapi kekhawatiran di d**a Elira tidak juga reda. Bukan karena luka fisik Arel, tapi karena firasat yang terus menempel seperti bayangan yang tak bisa dihapus. Dira datang membawa kopi dan kabar buruk. Wajahnya tegang sejak turun dari motor. “Kita harus ngobrol. Sekarang.” Elira mengangguk. Mereka duduk di kantin belakang rumah sakit. Suasana sepi. Hanya ada satu petugas kebersihan yang lewat sambil mendorong keranjang alat pel. “Clarisa… dia hilang. Kosnya kosong. Teman sekamarnya bilang terakhir lihat dia seminggu lalu. Tapi lebih dari itu, gue dengar dari anak fakultas hukum, dia sempat ketemu Vano. Dia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD