Bab 23 : Luka yang Memilih Pulang

478 Words

Pagi itu, langit seperti menggantung lebih rendah dari biasanya. Awan kelabu menutupi cahaya mentari, menyisakan udara yang dingin dan diam. Elira duduk di bangku taman kampus, mengenakan jaket krem panjang dan syal biru tua yang dulu pernah diberikan Arel. Di hadapannya, kertas sketsa masih kosong. Tapi pikirannya tidak. Ia merasa seperti telah menempuh ribuan langkah hanya untuk sampai di tempat yang sebenarnya tidak pernah ia tinggalkan: dirinya sendiri. Suara langkah pelan mendekat dari belakang. Ia tidak perlu menoleh. Nafas itu, ritme jalannya, kehadirannya yang sunyi—semuanya terlalu dikenalnya. Arel duduk di sampingnya. Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum basa-basi. Beberapa menit mereka hanya duduk, membiarkan angin menyisir wajah dan debu kenangan melayang di antara mereka. “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD