Hujan turun sejak pagi. Tidak deras, tapi konsisten. Seolah langit sengaja menunda cerah karena tahu bahwa hari itu tak butuh matahari untuk menjadi hangat. Elira berdiri di ambang pintu galeri kecil yang sudah hampir kosong. Di dalam, beberapa lukisan yang belum dijual mulai dikemas panitia. Tapi satu lukisan tetap digantung. “Yang Belum Usai”. Kali ini, tidak lagi penuh coretan. Kanvasnya telah diganti, dipulihkan. Tapi jejak trauma itu tetap tinggal, meski tak lagi terlihat mata. Ia menatap lukisan itu lama, seperti membaca surat dari dirinya yang lebih muda. Di sampingnya, Dira datang membawa dua gelas kopi hangat. “Terakhir ya,” kata Dira. “Terakhir sebelum semuanya benar-benar berubah,” jawab Elira. Dira menatap sahabatnya, lalu tersenyum pelan. “Lo nggak pernah berubah, Ra. Lo

