Bab 25 : Bayangan Lama

426 Words

Dua minggu sejak keberangkatan Elira ke luar negeri, hujan turun di kota kecil yang dulu menjadi saksi retak-retak kecil dalam hidupnya. Dira duduk di ruang kos Elira yang kini kosong. Di atas meja kayu kecil itu, masih ada secangkir teh yang tak pernah disentuh, dan foto Elira bersama Arel saat pameran terakhir. Udara di dalam ruangan seperti menyimpan gema langkah Elira. Senyap. Tapi tidak dingin. Karena meski kepergian selalu meninggalkan celah, keberadaan Elira telah menanam benih di hati orang-orang yang mengenalnya. Arel datang sore itu. Ia berdiri di depan jendela, menatap hujan seperti ia pernah lakukan bersama Elira. Tapi kali ini, ia sendirian. Dan itu tidak lagi terasa seperti kehilangan, tapi seperti penghormatan. “Dia bahagia di sana,” kata Dira pelan. Arel tidak menjawab.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD