Bandara penuh dengan suara. Pengumuman keberangkatan. Tawa anak-anak. Percakapan tergesa. Tapi di tengah semuanya, Elira duduk diam, mengenakan headphone tanpa lagu. Ia hanya ingin merasakan detak jantungnya sendiri, satu-satunya irama yang ia percaya sepenuhnya kini. Ia memandangi tiket di tangannya. Tujuan pulang. Tapi tempat yang ia tuju tidak lagi sama. Kota itu tetap ada, bangunannya masih berdiri, jalan-jalannya tetap membelah ruang. Tapi dirinya sudah berbeda. Saat pesawat mendarat, Elira tidak langsung menangis. Ia hanya menatap ke luar jendela. Langitnya mendung. Tapi kali ini, ia tidak takut pada hujan. Di luar bandara, Dira sudah menunggu dengan papan nama bertuliskan: “Selamat datang, kamu yang baru.” Mereka berpelukan. Erat. Lama. Tanpa kata-kata. “Arel?” tanya Elira samb

