Hujan turun pelan sore itu, menetes tanpa tergesa di balik jendela rumah sakit. Langit menggantung rendah, abu-abu, seolah ikut menahan napas. Elira duduk di kursi plastik di samping ranjang Arel, punggungnya bersandar kaku. Secangkir teh hangat berada di tangannya, tapi uapnya telah lama menghilang tanpa pernah benar-benar disentuh. Arel tertidur. Napasnya naik turun pelan, teratur, meski wajahnya masih tampak pucat. Perban melilit lengannya, dan ada bekas jahitan di sisi tubuhnya yang membuat d**a Elira sesak setiap kali ia menatapnya terlalu lama. Ia sudah mencoba mengalihkan pandangan berkali-kali, tapi selalu kembali lagi—seolah takut jika ia berpaling, Arel akan menghilang. Dira pamit beberapa menit lalu, beralasan mencari makan. Elira tahu sahabatnya itu sengaja memberi ruang. Rua

