Hari itu, langit tampak tenang, tapi Elira tahu betul bahwa tidak semua badai tampak dari luar. Ia sudah siap. Bukan untuk berperang, tapi untuk berdiri dan itu pun sudah cukup melelahkan. Panitia pameran mengadakan mediasi informal. Ruang diskusi kecil yang biasanya dipakai untuk rapat seni berubah jadi arena yang lebih sunyi dari perpustakaan. Di ujung meja duduk Clarisa, rambutnya disanggul rapi, mengenakan blazer abu-abu seperti hendak presentasi skripsi, bukan menyelesaikan urusan hati. Elira datang dengan map berisi bukti-bukti, ditemani Dira. Tidak banyak bicara, hanya melemparkan tatapan sekilas ke arah Clarisa. Bukan tatapan benci. Tapi tatapan seseorang yang sudah terlalu letih untuk menaruh emosi berlebihan. Moderator rapat membuka diskusi. Clarisa mulai duluan. "Saya hanya

