Hujan turun deras malam itu. Bukan gerimis sendu seperti biasanya, tapi deras yang membasahi sampai ke tulang. Elira berdiri di depan gedung galeri kampus dengan mantel yang belum sepenuhnya menahan dingin. Di tangannya, ada surat konfirmasi pameran tunggal pertamanya. Tapi sore tadi, saat ia membuka kotak surel, ia menemukan satu email tanpa nama pengirim. Di dalamnya hanya satu kalimat: "Kalau kamu naik, aku pastikan kamu jatuh di depan semua orang." Tidak ada lampiran. Tidak ada nama. Tapi ancamannya terlalu jelas. Ia tidak menunjukkan pada siapa pun. Tidak ke Dira. Tidak ke Arel. Karena semakin sering ia bicara tentang rasa takutnya, semakin nyata rasanya kekuatan orang-orang yang ingin menjatuhkannya. Saat ia hendak masuk ke ruang pamer, salah satu panitia berlari menghampiri. "

