Beberapa hari setelah pertemuan di taman itu, Elira mulai tidur lebih nyenyak. Tidak karena semuanya telah membaik, tapi karena ia tidak lagi memeluk rasa takut sendirian. Ada ruang baru di dalam dirinya yang perlahan diisi oleh keberanian. Kecil, tapi nyata. Ia tidak lagi berdiri di antara bayang dan harapan; ia mulai melangkah. Arel dan Elira tidak bertemu setiap hari, tapi mereka berbicara. Satu pesan bisa cukup untuk membuat napasnya lebih ringan. Kadang hanya “Sudah makan?” atau “Lukisan yang tadi kamu kirim indah sekali.” Tapi di balik kesederhanaan itu, Elira tahu ia sedang ditarik kembali ke hidup yang lebih tenang. Namun ketenangan itu belum menjadi milik sepenuhnya. Hari Rabu pagi, dosen pembimbingnya memanggil Elira ke ruang jurusan. Wajah Pak Bayu tampak kaku, bahkan canggun

