Gemuruh tepuk tangan masih terdengar di dalam ruangan saat Elira melangkah keluar dari galeri. Udara malam lembap dan sejuk, tapi jantungnya berdegup terlalu cepat. Gaun abu-abu yang ia kenakan terasa menyesakkan, bukan karena sempit, tapi karena perasaannya yang bertumpuk. Antara lega karena berhasil tampil, dan cemas karena tahu seseorang sedang mengawasi dari kejauhan.
Ponselnya bergetar. Notifikasi masuk.
"Selamat atas karyanya. Tapi cerita kita belum selesai."
Tidak ada nama. Hanya nomor yang sama seperti pesan-pesan sebelumnya.
Elira menatap layar lama, lalu menghapus pesannya. Tapi ia tahu, menghapus tak berarti selesai. Jejaknya masih tinggal di pikirannya, seperti noda cat di kanvas putih. Tipis, tapi tak pernah benar-benar hilang.
Di dalam ruangan, Arel masih bicara dengan dosen seni. Ia tampak tenang, tapi Elira bisa melihat ada sesuatu di matanya—keraguan, atau mungkin takut. Ia tahu, Arel mencoba sekuat tenaga untuk tetap bertahan, tapi seberapa lama seseorang bisa bertahan jika setiap hari harus melawan hantu masa lalu yang bukan miliknya?
Mereka pulang bersama malam itu, menyusuri trotoar basah dengan langkah pelan. Tidak banyak yang dibicarakan. Hanya suara sepatu yang menapak pelan dan lampu jalan yang melemparkan bayangan panjang di belakang mereka.
"Aku senang kamu datang," ujar Elira akhirnya.
Arel mengangguk. "Aku tahu betapa pentingnya malam ini buat kamu."
Mereka terdiam lagi.
"Aku takut ganggu kamu terlalu banyak," kata Elira.
"Kenapa harus takut?"
"Karena kadang aku ngerasa kamu harusnya lari, Rel. Lari sebelum terlalu dalam. Sebelum kamu ikut jatuh."
Arel berhenti melangkah. Ia menatap Elira lama.
"Kalau aku mau lari, aku udah dari kemarin-kemarin," ucapnya pelan. "Tapi aku masih di sini."
Kalimat itu seharusnya menguatkan, tapi justru membuat Elira merasa semakin bersalah. Ia ingin percaya, tapi luka di dalam dirinya masih terlalu dalam untuk sembuh hanya karena kata-kata.
Keesokan harinya, kampus kembali sibuk. Berita tentang pameran Elira tersebar cepat. Beberapa teman mengucapkan selamat, beberapa hanya memberi senyum basa-basi. Tapi ada juga yang berbisik di belakangnya. Tentang lukisan yang katanya terlalu "pribadi". Tentang kedekatannya dengan Arel. Dan diam-diam, tentang kemunculan Vano yang mulai dibicarakan kembali oleh mulut-mulut usil.
Dira datang dengan wajah serius di tengah studio.
"Ada akun yang posting tentang lo. Bukan akun resmi kampus. Tapi banyak yang udah lihat."
Elira meraih ponsel dari tangan Dira. Di layar, terpampang foto-fotonya dengan Arel di taman. Ada juga satu foto yang diambil malam pameran, saat Arel menggenggam pergelangan tangannya. Caption-nya tajam.
"Bertahan di balik pelukannya. Tapi jangan lupa siapa yang dulu kamu tinggalin."
Elira menahan napas. Wajahnya memucat.
"Gue yakin ini kerjaan dia," ucap Dira tegas. "Dan kalau perlu, gue bakal bantu lapor."
Elira mengangguk. Tapi pikirannya melayang. Vano tidak cuma ingin hadir. Ia ingin merusak.
Sore itu, Elira menemui Arel di kantin belakang kampus. Arel sedang menatap kosong ke arah keramaian.
"Clarisa nungguin kamu tadi pagi," ucap Elira perlahan, duduk di depannya.
Arel menoleh, terkejut. "Dia bilang apa?"
"Nggak banyak. Tapi dari caranya ngomong, dia tahu soal kita."
Arel menunduk. "Dia nggak pernah benar-benar pergi. Hanya menunggu celah."
Elira menarik napas. "Kamu masih punya rasa?"
Arel mengangkat wajahnya. "Kalau aku masih punya rasa, aku nggak akan ada di sini sekarang."
Jawaban itu seperti obat yang manis sekaligus pahit. Menenangkan, tapi juga menyakitkan. Karena Elira tahu, hadir tidak selalu berarti utuh. Kadang seseorang hadir dengan tubuh, tapi hatinya belum sepenuhnya kembali.
Hari demi hari berlalu. Gangguan dari Vano tidak berhenti. Elira merasa awas sepanjang waktu. Ia mulai mematikan lokasi, menghapus aplikasi media sosial. Tapi rasa cemas tetap tumbuh seperti jamur dalam ruangan gelap.
Puncaknya terjadi saat Elira menerima undangan wawancara untuk beasiswa seni luar negeri. Peluang besar yang datang di tengah kekacauan.
Arel mendampinginya saat ia bersiap. Tapi Elira melihatnya makin diam. Makin sering menjauh. Mungkin karena Arel tak lagi yakin akan posisi mereka. Mungkin karena ia lelah berperang dengan bayangan orang lain.
Elira berdiri di balkon kamarnya malam itu, menatap bintang yang tertutup awan. Dira mendekat pelan.
"Lo nggak bisa jalan terus kayak gini, Ra."
"Aku tahu."
"Dia harus pergi. Vano. Lo harus hadapi dia."
Elira menatap Dira. "Gimana caranya hadapi orang yang nggak takut apa pun?"
Dira menggenggam tangannya. "Dengan ngelindungin diri lo sendiri dulu. Baru lo bisa lindungin yang lain."
Akhir minggu itu, Elira dan Arel bertemu lagi. Tapi tidak di bawah hujan, bukan di taman.
Di halaman kecil belakang galeri kampus, mereka berdiri berhadapan. Jarak di antara mereka lebih lebar dari biasanya.
"Aku pengen kamu pergi sementara. Mikirin diri kamu dulu. Nggak harus mikirin aku terus," ucap Elira pelan.
Arel mengerutkan alis. "Kamu nyuruh aku pergi?"
"Aku minta kamu ngasih aku ruang. Karena aku juga harus ngelawan ini sendirian. Kalau kamu tetap di samping aku, aku takut aku malah jadi nyeret kamu makin dalam."
Arel menatapnya lama. "Kamu yakin itu yang kamu mau?"
Elira menahan air mata. "Nggak. Tapi itu yang aku butuh."
Arel mengangguk perlahan. Wajahnya datar, tapi sorot matanya menyimpan luka.
"Kalau itu yang kamu butuh, aku akan pergi."
Ia melangkah mundur, meninggalkan Elira berdiri sendiri di antara suara angin dan bau cat tembok yang mengering.
Elira menatap punggungnya menghilang di tikungan. Dan untuk pertama kalinya, ia sadar keberanian bukan berarti menggenggam seseorang sekuat mungkin, tapi juga tahu kapan harus melepaskan, agar dua orang yang saling mencintai bisa pulih dengan cara masing-masing.
Ia menatap langit yang semakin gelap. Langkahnya mantap, tapi pikirannya berisik.
Bukan berarti ia tak peduli. Justru sebaliknya ia terlalu peduli, sampai takut hancur bersamanya.
Ia bukan orang yang suka mundur. Tapi kali ini, ia sadar, memaksakan keberadaan di hidup orang yang sedang berdarah hanya akan membuat luka makin dalam.
"Kalau memang harus menjauh demi bikin dia utuh, gue akan pergi. Tapi jangan harap gue lupa."
Dan malam pun menelan langkahnya.