Bab 6 : Retak yang Tak Terlihat

1111 Words
Pagi itu, Elira membuka jendela kamarnya perlahan. Udara masih menyimpan jejak hujan semalam. Tanah basah menguar aroma khas yang biasanya membuatnya tenang, tapi kali ini hanya menyisakan perasaan mengganjal. Di meja kecil di sebelah tempat tidur, ponselnya masih menyala. Layar menampilkan pesan terakhir dari nomor tak dikenal. Aku udah lihat kamu. Ternyata masih suka cari sandaran. Hati-hati, Ra. Gue belum selesai. Pesan itu belum ia hapus. Bahkan belum ia balas. Tapi jari-jarinya sempat bergetar saat membacanya pertama kali. Ia menatap ke luar jendela. Jalanan mulai ramai, tapi semuanya terlihat kabur di matanya. Bukan karena hujan, tapi karena pikirannya yang tak bisa diam. "Harusnya aku nggak lemah," bisiknya pada diri sendiri. Tapi perasaan itu tetap datang. Perasaan diikuti. Diintai. Diperhatikan. Hari ini seharusnya menjadi hari yang biasa. Ia hanya perlu menyelesaikan satu sesi konsultasi pameran dengan dosennya, lalu lanjut mengerjakan sketsa di studio. Tapi langkahnya terasa berat. Seperti ada tali tak terlihat yang menariknya mundur. Saat ia melangkah keluar dari kos, Dira sudah menunggunya di gerbang. "Lo nggak tidur, ya?" tanya Dira cepat-cepat, mengamati wajah Elira yang pucat. Elira hanya mengangguk pelan. "Dia ngirimin pesan lagi?" tanya Dira lebih pelan. Elira tak menjawab, tapi sorot matanya cukup untuk memberi tahu semuanya. Dira menarik napas panjang. "Kita harus cari cara. Lo nggak bisa terus begini, Ra." Mereka berjalan berdua menuju halte kampus. Angin pagi menusuk ringan di kulit, tapi Elira merasa jauh lebih dingin di dalam. Setiap langkah terasa seperti sedang meniti tali tipis di antara dua dunia: masa lalu dan masa kini. Hari itu, Arel tidak muncul di taman seperti biasa. Elira mencarinya di studio tempat mereka biasa bertemu, tapi ruangan itu kosong. Ia mengirim pesan singkat, tak segera dibalas. Sore menjelang, langit kembali muram. Elira memutuskan duduk di bangku taman, berharap angin bisa sedikit meredakan dadanya yang berdebar. Lalu Arel datang. Tapi tidak seperti biasanya. Wajahnya tegang, langkahnya cepat, dan matanya langsung mengunci pandangan ke arahnya. "Kamu oke?" tanyanya, duduk di samping Elira. "Aku... nggak tahu," jawab Elira jujur. "Tadi malam dia kirim pesan lagi. Aku ngerasa dia ngikutin aku." Arel mengangguk perlahan, tapi matanya tak bisa menyembunyikan keresahan. "Aku cari tahu soal dia," ucap Arel. "Dari kenalan lama. Vano nggak cuma pernah bikin kamu sakit. Ada perempuan lain juga yang dulu sempat lapor polisi tapi nggak berani lanjutin kasusnya." Elira menoleh cepat. "Kamu serius?" Arel menatapnya dalam. "Aku nggak main-main soal ini. Aku cuma... aku cuma pengen kamu aman, Ra." Ada hening di antara mereka. Angin bertiup lembut, tapi tidak cukup menenangkan. "Aku takut, Rel. Tapi aku juga takut nyeret kamu ke masalah ini. Kamu nggak harus jadi bagian dari kekacauan yang aku bawa." Arel menghela napas berat. "Elira, kamu pikir aku balik ke sini buat lihat kamu dari jauh? Aku balik karena aku nggak bisa lagi pura-pura nggak peduli." Elira menunduk. "Tapi kamu juga punya hak buat milih tenang, bukan ikut masuk ke hidup aku yang berantakan." Arel menatapnya lama. "Mungkin aku nggak nyari tenang. Tapi kalau aku bisa bantu kamu temuin tenang itu, itu cukup buat aku." Kalimat itu menggema dalam kepala Elira. Tapi sebelum ia sempat menjawab, suara sepeda motor mendekat dan berhenti di tikungan taman. Seseorang duduk di atas motor, memakai helm hitam dan jaket gelap. Tidak turun, tidak membuka helm. Hanya menatap. Arel berdiri pelan. "Masuk ke dalam gedung. Sekarang." Elira menatap motor itu. Tak ada keraguan, tak ada penyangkalan. Ia tahu siapa orang itu. "Dia cuma mau nunjukin dia bisa lihat aku kapan aja dia mau," bisik Elira, gemetar. Arel mengepalkan tangan. "Dia nyari masalah." Elira menarik napas dan berdiri. Tapi langkahnya terasa berat, lututnya seperti melemas. Arel meraih tangan Elira dan menuntunnya masuk ke dalam gedung terdekat. Mereka berlindung di lorong panjang galeri kampus. "Dia nggak akan nyentuh kamu," ucap Arel pelan. Tapi Elira tahu. Luka yang paling dalam tidak perlu disentuh langsung untuk menyakitkan. Malam itu, Arel tidak pulang ke kosnya. Ia duduk di taman kosong dekat gerbang belakang kampus. Pikirannya berkecamuk. Tentang Elira, tentang Vano, dan tentang dirinya sendiri. Ia ingin menjadi pelindung. Tapi bagian lain dari dirinya masih menyimpan luka lama tentang perpisahan, tentang ditinggalkan, tentang rasa yang pernah tak terbalas. Clarisa pernah datang dengan cara yang hampir mirip. Mendekat, lalu menarik. Menggenggam, lalu melepaskan tanpa alasan. Ia takut melihat pola itu terulang. Bukan karena Elira sama, tapi karena ia tahu, siapa pun yang membawa luka bisa tanpa sadar menularkan luka itu ke orang lain. Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal. "Lo pikir cukup berdiri di depan dia bakal bikin gue pergi? Lucu. Tapi gue bukan orang yang gampang disingkirkan. Hati-hati, Arel. Jangan sampai lo yang gue bikin jatuh duluan." Arel menatap layar lama, lalu menonaktifkan ponsel. Tapi kata-kata itu menempel di kepalanya, seperti bisikan yang tak mau hilang. Hari-hari berikutnya berjalan dengan ketegangan yang merayap perlahan. Vano tak muncul secara langsung lagi, tapi pesan-pesan aneh terus berdatangan. Foto Elira dari kejauhan. Catatan kecil di depan pintu kos. Bahkan pada satu malam, Elira menemukan lukisan lama miliknya robek di studio. Tak ada bukti, tapi cukup membuatnya kehilangan tidur. Arel mulai jarang muncul. Tidak pergi, tapi menjauh perlahan. Ada dinding yang mulai dibangun ulang. Bukan karena benci, tapi karena takut. Ia takut jika ia terlalu dekat, ia akan ikut tenggelam. Dan Elira merasakannya. Di sore yang lain, mereka duduk di bawah jendela ruang seni. Hujan turun perlahan, seperti biasanya. "Aku ngerasa kamu menjauh," ucap Elira tanpa menoleh. Arel tak langsung menjawab. "Aku ngerasa kamu makin sendiri," lanjut Elira pelan. "Dan aku nggak tahu, apakah aku harus narik kamu kembali atau justru ngelepasin biar kamu bisa tenang." Arel menoleh. "Aku cuma... takut, Ra." Elira menggigit bibir. "Takut apa?" "Takut kamu pergi lagi. Takut aku naruh semua rasa ini, dan kamu nggak bisa nerima karena masih dihantui masa lalu." Elira menatap hujan di balik kaca. "Aku juga takut. Tapi kalau kita saling menjauh karena takut, kita nggak bakal ke mana-mana." Mereka terdiam. Hanya suara hujan dan detak jam tua di dinding yang terdengar. Di akhir minggu itu, Elira mendapat undangan pameran kecil. Ia hampir tidak datang, tapi Dira memaksa. Dan di tengah keraguan, ia berdiri di galeri, mengenakan gaun abu-abu muda, memandangi lukisan barunya yang berjudul "Yang Belum Usai". Arel muncul lima belas menit sebelum acara berakhir. Ia berdiri di samping Elira, diam beberapa saat. "Aku nggak bisa janji aku akan selalu kuat. Tapi aku janji, aku akan selalu jujur." Elira menatapnya. Matanya tidak secerah dulu, tapi lebih dalam. "Kalau kamu siap berjalan pelan-pelan, aku akan temani." Mereka tidak bersentuhan. Tidak saling peluk. Tapi dalam keheningan itu, ada ikrar tanpa kata. Namun di luar gedung galeri, seseorang memperhatikan mereka dari dalam mobil yang berhenti tak jauh. Vano mengangkat ponsel, memotret. Lalu mengirim pesan pendek. "Selamat atas karyanya. Tapi cerita kita belum selesai."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD