Seorang wanita duduk sendirian di balkon kamarnya. Sudah satu jam lamanya ia termenung, sejak anak-anaknya tertidur pulas. Tadi ia sempat merasa bingung apa yang terjadi padanya sehingga ia berada di kamar yang sudah lama ia tinggalkan.
Suara pintu terbuka membuat Zehra terkesiap. Seorang wanita paruh baya memasuki kamarnya dengan wajah angkuhnya.
"Rumah ini tentu saja masih lebih nyaman daripada rumah kontrakanmu yang lebih cocok disebut kandang sapi itu."
Zehra menoleh, menatap wajah Retno tanpa ekspresi. Harus ia akui jika wanita yang sudah melahirkannya itu terlihat modis dengan pakaian mahalnya. Bahkan kecantikannya tetap terpancar sempurna meskipun usianya sudah kepala tujuh.
"Mama jangan sok tahu dengan kehidupanku," sahut Zehra.
"Cih! Elvan jelas-jelas tak bisa menafkahimu dengan layak, malah kamu dibikin hamil tiga kali dengan kondisi di bawah garis kemiskinan." Retno begitu entengnya mencibir menantunya sendiri.
"Mama!" sentak Zehra. "Jangan kira selama ini aku tidak tahu kelicikan Mama! Jangan kira aku bisa dibodohi!"
Rahang Zehra mengeras. Sebisa mungkin tangannya tak terayun mengenai wajah Retno mengingat wanita itu adalah ibu kandungnya sendiri.
"Apa maksudmu, Zehra?" tanya Retno.
Zehra tersenyum sinis, lalu berjalan menghampiri Retno yang masih berdiri di dekat pintu. "Aku sangat tahu tabiat Mama. Mama tidak akan segan menghancurkan siapa pun yang berani melawan Mama," bisiknya.
Zehra semakin mendekat, hingga wajahnya dengan Retno nyaris bersentuhan.
"Mama adalah dalang dari peristiwa kebakaran itu."
Sontak raut wajah Retno berubah pucat.
***
Elvan sudah diperbolehkan pulang. Namun, rasanya ia enggan kembali ke rumah mengingat tak ada istri dan anak-anaknya.
"Nak, ayo!" Ridwan menarik pelan tangan Elvan.
"Rumah saya sepi, Pak," cicit Elvan.
Ridwan turut prihatin dengan kondisi Elvan. Ia pun seorang suami dan ayah, tentu saja ia sangat memahami kondisi Elvan yang tengah bersedih atas penculikan istri dan anak-anaknya.
"Kuatkan hatimu, Nak! Kamu juga harus istirahat agar cepat pulih. Ingat, istri dan anak-anakmu menunggumu."
Elvan sangat ingin menemui Zehra dan anak-anaknya, akan tetapi ia sadar jika kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Bahkan ia tak memiliki cukup uang untuk pergi ke rumah Retno. Di samping itu, rumah itu dijaga ketat para pengawal. Tentu saja ia harus mempersiapkan segalanya dengan matang agar ia tak mati konyol sebelum sempat bertemu dengan belahan jiwanya.
Akhirnya Elvan bersedia pulang diantar oleh Ridwan. Sepanjang perjalanan, Ridwan banyak memberikan saran yang tentu saja akan ia pertimbangkan demi membawa kembali keluarga kecilnya.
"Cobalah kembali ke Jakarta dan mencari pekerjaan di sana! Saya tahu itu sulit, tapi kamu kan juga seorang sarjana. Kamu sudah punya pengalaman kerja sebelum memiliki restoran, bukan?"
Elvan menganggukkan kepala.
"Dengan berada di sana, kamu akan semakin dekat dengan istri dan anak-anakmu."
"Mereka pasti berusaha keras untuk menghalangi saya, Pak."
"Perbaiki ibadahmu, Nak. Insya Allah, Dia akan selalu menolong hamba-Nya yang bersabar dan berusaha keras. Selama cinta di antara kalian kuat, halangan apa pun tidak akan berarti bagi kalian."
Mereka sudah sampai di rumah kontrakan Elvan. Elvan sempat menawari Ridwan untuk mampir, akan tetapi Ridwan menolak dengan halus. Ia sudah berjanji pada istrinya untuk langsung pulang.
Sepeninggal Ridwan, Elvan menghela napas panjang, kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah.
Mata Elvan berkaca-kaca. Tak ada siapa pun di setiap sudut rumah itu. Bahkan sisa pekerjaan istrinya belum sempat dibereskan sama sekali.
"Zehra, apakah kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan anak-anak kita? Apa Mama menyakitimu?"
Elvan mengusap kasar wajahnya. Namun, sayang air matanya kembali membasahi wajahnya.
"Apakah aku salah karena mencintai istriku, ya Allah? Apakah aku tidak boleh memiliki sosok penyejuk jiwa seperti Zehra?"
Elvan semakin tergugu dalam tangisnya. Ia bergumam lirih, memohon agar Zehra kembali ke pelukannya. Ia merasa separuh jiwanya telah pergi bersama wanita yang ia cintai karena Allah.
***
"Ayah! Aku mau Ayah!"
Zehra mengusap punggung Aura dan Aira bergantian. Dua putri kecilnya sedang demam tinggi dan tidak mau makan sama sekali. Sementara Adam terbangun karena mendengar adik-adiknya rewel.
"Bunda."
"Iya, Nak?"
"Bunda tidur aja, biar aku yang jaga Aura sama Aira."
"Kamu saja yang tidur lagi, ya! Tadi kan kamu sudah kompres adik-adikmu."
Adam menggeleng. Kali ini ia benar-benar bangun, lalu mengambil baskom yang diletakkan Zehra di lantai.
"Mau ke mana, Nak?" tanya Zehra.
"Ambil air hangat, Bun. Mau kompres mereka lagi," jawab Adam.
Bocah tampan itu masuk ke dalam kamar mandi. Untung saja fasilitas rumah orang tua Zehra lengkap, jadi Adam tak perlu turun ke dapur untuk memasak air.
"Aku nggak bisa begini terus. Aku harus mencari sesuatu untuk mereka makan," gumam Zehra.
Zehra berbisik pada Aura. "Nak, Bunda turun dulu, ya!"
"Mau ke mana, Bun?" tanya Aura.
"Mau ke bawah, cari obat penurun panas untuk kalian."
"Jangan lama-lama, ya, Bun! Nanti Bunda disakiti mereka."
Zehra menganggukkan kepala, lalu bergegas membuka pintu. Namun, sayang pintu kamar masih dikunci dari luar. Ia pun mengetuk keras pintu itu.
"Buka pintunya! Aku harus mencari sesuatu untuk anak-anakku! Mereka sedang demam!"
Zehra menitikkan air mata begitu pintu masih belum dibuka juga. Adam yang sudah berhasil menidurkan adik-adiknya langsung menghampirinya.
"Bunda, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Sungguh Adam tak sanggup melihat ibunya menangis. Namun, ia tetaplah anak kecil yang belum mampu melindungi ibu dan adik-adiknya. Hati kecilnya merasa bahwa ayahnya akan kecewa karena gagal menjaga mereka.
Adam segera menghampiri ibunya dan memeluknya. Tangan kecilnya menepuk pelan punggung Zehra.
"Bunda, tidur, yuk! Jangan sampai Bunda jatuh sakit karena kurang tidur," bisik Adam.
"Nak, maafkan Bunda."
Adam menggeleng. "Insya Allah, kita akan baik-baik saja. Aku yakin, Ayah akan ke sini untuk jemput kita."
Apa mungkin Mas Elvan akan menjemputku dan anak-anak? Oh, Allah, mereka saja tega memukul suamiku sampai babak belur. Lindungi selalu suamiku, ya Allah.
"Bunda." Adam memanggil Zehra yang diam saja.
"Baiklah, kita tidur sekarang."
Adam tak ikut tertidur. Instingnya sebagai anak lelaki satu-satunya tak tega membiarkan ibunya terjaga. Ia berinisiatif sendiri merawat adik-adiknya yang terserang demam dengan mengompres dahi mereka bergantian tanpa mengeluh lelah.
***
Seminggu sejak menghilangnya istri dan anak-anaknya membuat Elvan tak bersemangat lagi menjalani hari-harinya. Tak adanya derai tawa Zehra dan anak-anaknya membuat rumah sederhana itu semakin terasa hampa. Tidur Elvan pun seringkali tak nyenyak karena memikirkan kondisi mereka.
Sudah pukul tujuh pagi. Sudah waktunya Elvan berangkat bekerja. Pria itu segera menghabiskan kopi hitamnya, kemudian mencuci gelas kotornya. Setelah itu, ia mengambil tas ransel hitam miliknya dan bergegas keluar rumah. Namun, begitu ia membuka pintu, seorang pria paruh baya beserta tiga pria yang berusia tiga puluhan tahun berdiri di depannya.
"Apakah Anda yang bernama Elvan Osmen Naim?" tanya pria paruh baya tersebut.
"Iya, benar. Ada apa, Tuan?"
"Silakan ikut kami sekarang!"
"Tidak, saya harus bekerja!" Elvan berusaha keras menolak perintah mereka.
"Anda harus ikut sekarang juga atau Anda tidak akan bisa melawan Nyonya Retno Prameswari!"