Jam tujuh tepat, Lyra baru saja menginjakkan kakinya tempat di mana dia bersekolah. Mengawali hari dengan senyum, meskipun itu semua penuh kepalsuan. Jujur saja, dirinya belum bisa melupakan masalah kemarin. Masalah yang membuatnya seketika menjadi gadis pendiam yang anggun di depan mata semua orang, tetapi nyatanya dia diam karena sedang memikirkan masalah itu. Lyra menghela napasnya masih di tempat yang sama, tempat di mana dia berdiri tegak di depan gedung sekolah yang menjulang tinggi. Siswa dan siswi satu persatu melintas melewatinya tanpa ada yang menyapa sedikit pun. Lyra hanya diam melihat mereka yang berlalulalang melewatinya. Sampai pada akhirnya ada sebuah tangan yang menepuk pundaknya pelan, tetapi mampu membuatnya terkejut karena Lyra banyak diam seperti orang melamun. “Lo

