Naurin mendongak, menatap dalam orang yang berdiri di hadapannya tersebut. Kedua matanya sembab dan memerah, Naurin tampak kacau sekali.
"Ka--kamu. Kapan kamu kembali? Bukankah kamu dalam perjalanan bisnis?" ucap Naurin sedikit gugup.
"Kemarin. Maaf, tidak mengabarimu. Saya sebenarnya ingin memberikan kejutan untukmu, tetapi justru saya yang terkejut melihatmu seperti ini," jelas pria yang ternyata Andra.
"Apa yang terjadi denganmu? Apa kamu sakit? Kamu dari mana?" tanyanya penasaran.
Naurin menghela napas sedikiy kasar, memalingkan wajahnya. Tidak ingin Andra tahu yang terjadi pada dirinya yang begitu tidak karuan.
Andra mendekat dan kini sudah berada tepat di hadapannya. Sedikit berjongkok dan sebelah tangannya bergerak pelan, meraih dagu lancip Naurin dan memaksanya untuk menghadap dirinya.
Naurin berusaha menghindari. Namun, Andra menahannya hingga ia tidak bisa menghindari tatapan mata Andra.
"Kamu habis nangis? Matamu merah dan sembab," ucapnya penuh selidik.
"Emm, ini ...."
"Mau cari alasan untuk menghindar? Mau aku cium dulu baru jujur?" cecarnya.
Naurin membuang napasnya kasar. Memejamkan sejenak kedua matanya dan membukanya cepat.
"Kak Andra, aku ... sebenarnya tadi--tadi aku ...."
"Saya akan cari tahu sendiri yang terjadi denganmu dan saya tidak akan mengampuni siapa pun yang menyakiti kamu!" ucapnya penuh penekanan di akhir kalimat.
Andra hendak melangkah, tetapi sebelah tangannya ditarik pelan Naurin, membuatnya menghentikan langkahnya.
"Jangan cari tahu, aku akan ceritakan padamu. Kamu tenang dan duduk dulu, bisa?"
Naurin sengaja mencegah Andra pergi, ia takut Andra emosi dan akan berkelahi dengan lelaki yang sudah menorehkan luka dalam dirinya.
Andra membalikkan tubuhnya dan menarik kursi, lalu duduk di hadapan Naurin.
"Sekarang katakan."
"Janji tidak akan emosi dan marah."
Andra mendesah, ia sebenarnya sedikiy kesal dengan sikap Naurin, meski sesungguhnya sudah tahu yang terjadi dengan Naurin, tetapi Andra ingin Nairin yang mengatakannya sendiri.
"Janji. Sekarang, kamu harus ceritakan semua padaku yang terjadi," putusnya sambil meminta.
"Sebenarnya--tadi aku bertemu dengannya saat keluar kafe. Dia menarik paksa aku dan sedikit bicara. Intinya, dia meminta aku kembali padanya dan dia menyesali yang sudah dilakukannya padaku. Sejujurnya, ini bukan kali pertama aku bertemu dengannya."
"Lalu, apa yang kamu katakan padanya?"
"Aku menolaknya, meski dia terus memaksa. Aku kasih paham sama dia hingga dia tidak bisa berkata-kata dan aku meninggalkan dirinya, lalu kembali ke kantor."
"Apa sebenarnya yang dia inginkan? Kenapa. Terus mengganggumu. Saya harus memberikan dia pelajaran agar tidak mengganggumu lagi!"
"Jangan! Jangan kotori tanganmu untuknya. Aku mohon, biarkan aku selesaikan masalah ini sendiri. Tolong, kamu jangan ikut campur."
"Saya kekasihmu. Apa salah jika saya membantumu?"
"Iya, memang. Namun, ini masalahku dengannya. Kamu ...."
"Baik, kalau begitu kamu ikut dengan saya."
"Kemana?"
"Kantor Urusan Agama. Kita menikah dan ambil akte nikah sekarang. Supaya saya bisa lebih menjagamu dan bisa ikut campur masalahmu."
"Apa? Kak, tidak sesederhana itu."
"Kita ke rumah orang tuamu dulu dan meminta izin mereka, lalu ke kantor catatan sipil untuk menikah."
Naurin terlibat percakapan serius dengan Andra. Pria yang sejak tadi menahan emosi pun angkat bicara dan memberikan keputusan yang membuat Naurin sangat terkejut.
"Kenapa? Kamu meragukan saya? Saya serius dengan ucapan ini. Saya ingin menikahimu. Jadilah istriku dan saya akan membahagiakanmu selamanya. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu, jika kamu terus berada di sisiku," jelasnya dengan yakin.
"Kak ...."
"Saya ingin menjalani hubungan serius denganmu. Saya pernah kehilangan kamu dan kali ini, saya tidak ingin kehilanganmu lagi!" jelasnya dengan tegas, memotong kalimat Naurin.
"Apa kamu masih meragukan saya?" tanyanya serius.
"Bukan itu masalahnya."
"Lalu?"
Naurin menghela napas kasar dan menelan dengan susah payah ludahnya. Hatinya kembali sakit kala ia harus mengingat kejadian menyakitkan itu.
"Naurin," panggilnya lembut.
"Sebenarnya, hubungan aku dengan kedua orang tuaku tidak baik semenjak mereka memaksaku menikah dengan dia. Saya tidak pernah bertemu mereka semenjak itu dan tidak pernah berkomunikasi sama sekali. Dia mengurung dan melarang ku bertemu siapa pun. Aku terpenjara dalam belenggunya," jelas Naurin sedih.
"Apa? Kenapa dia melakukan itu? Jelaskan semua padaku, Naurin!"
"Semua dilakukannya agar aku bungkam dengan semua yang telah dia lakukan padaku."
"Apa? Apa yang sudah dia lakukan padamu?"
Naurin membuka dia kancing bajunya dan memperlihatkan punggungnya. Banyak bekas luka di sana. Tidak hanya itu, lengannya pun sama hingga kakinya. Selama ini, ia selalu mengenakan pakaian panjang untuk menutupi bagian tubuhnya yang terluka.
Wanita itu tidak ingin siapa pun tahu yang terjadi padanya. Naurin meratap sedih kala ia harus mengungkap rahasia itu pada Andra.
Andra mendelik. Kedua tangannya mengepal. Menatap iba ke arah Naurin. Hatinya sakit melihat wanita yang ia sayangi mengalami hal yang tidak seharusnya ia alami.
"j*****m! Dia memperlakukanmu seperti binatang. Bahkan lebih kejam. Jadi ini yang kamu sembunyikan dariku? Tiga tahun pernikahanmu dan kamu mengalami semua ini sendiri? Kenapa Naurin. Kenapa kamu baru cerita padaku sekarang? Jika aku tidak mencecarmu, apa kamu akan terus memendamnya sendiri?" kesalnya.
Bukan hanya karena melihat luka Naurin, tetapi karena Naurin tidak pernah cerita apa pun kepada Andra. Padahal mereka sudah hampir satu tahun bertemu kembali dan menjalin hubungan.
"Maafkan aku. Aku tidak ingin orang lain tahu yang aku alami. Kak, kamu terlalu baik padaku. Aku tidak ingin kamu terluka dan melakukan hal yang tidak diinginkan karena membelaku."
"Sampai kapan? Sampai kapan kamu akan menanggungnya sendiri? Pantas saja kamu selalu menghindari tiap kali saya hendak menyentuh lenganmu."
"Maafkan aku, Kak."
"Ikut denganku sekarang!"
"Kita mau ke mana?"
Andra menghentikan obrolan dengan Naurin. Hatinya sangat sakit melihat kondisi tubuh Naurin yang penuh luka dan Naurin menyembunyikan darinya. Andra teeus menuntun pelan tangan Naurin dan membawanya ke parkiran. Kemudian, mereka naik ke dalam mobil.
"Zio, jalan!"
"Baik, Tuan."
Tanpa banyak bicara, Zio melajukan kendaraannya. Naurin hanya diam, ia tidak berani berkata banyak. Naurin sangat paham dengan sikap Andra ketika sedang marah. Diam lebih baik supaya aman.
Setengah jam berlalu, mereka tiba di sebuah tempat yang membuat Naurin terkejut bukan kepalang.
"Ini ... kita mau apa ke sini?" tanyanya bingung.
"Apa kita ...."
"Kita akan mengurus pernikahan."
"A--apa?"
"Jangan banyak bicara dan berdebat! Turunlah! Atau mau saya gendong?"
Naurin turun dari mobil tanpa banyak bicara. Meski ia sedikit ragu, tetapi Naurin tidak ingin lagi mengambil keputusan yang salah, ia juga tidak ingin kehilangan Andra untuk yang kedua kalinya.
Mereka melangkah ke daalam ruangan itu untuk mengurus pernikahan dan mengambil akte nikah. Dua jam kemudian mereka keluar dan sudah resmi menjadi suami-istri di mata hukum dan agama.
"Mulai hari ini, kamu sudah resmi menjadi istriku. Saya akan selalu melindungimu dan tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Secepatnya saya akan umumkan pernikahan kita dan menggelar pesta resepsi yang megah untukmu," jelas Andra sambil menggenggam tangan Naurin.
"Tapi, sebaiknya pernikahan ini kita rahasiakan dulu. Aku belum siap jika banyak yang tahu," ucap Naurin pelan.
"Mereka harus tahu tentang pernikahan kita. Mereka harus tahu, kamu adalah istri dari 'Dewandra Cakra Balindra' dunia juga harus tahu, dengan begitu, tidak akan ada yang bisa menyakitimu," jelasnya yakin.
"Kak Andra, aku ...."