Tangan Andra beralih ke pundak Naurin. Memegangnya erat. Pria itu menatap lamat-lamat wajah cantik wanita yang baru saja ia nikahi tersebut.
"Kamu tidak perlu khawatirkan apa pun. Aku tidak ingin siapa pun mengganggumu. Kamu tahu, alasan aku menikahimu cepat selain ingin menjaga dan melindungimu apa?"
Andra berkata serius. Naurin menggeleng pelan tanpa menatap pria itu.
"Karena saya ingin mereka menghargai dan menghormatimu sehingga mereka tidak akan berani meni ndasmu, apalagi melukaimu sampai seperti yang kamu alami itu. Paham!" jelasnya.
Andra berusaha membujuk dan meyakinkan Naurin, ia ingin Naurin bahagia dan tidak ada lagi gang melukainya. Baik secara fisik mau pun mental.
Sungguh, Andra masih syok dan sakit hati melihat begitu banyak luka di tubuh Naurin. Entah seberapa banyak penderitaan yang ia alami selama tiga tahun pernikahannya dengan laki-laki yang tidak pernah mencintainya.
"Tidak perlu menjawab sekarang. Saya tahu, kamu butuh waktu untuk memutuskan. Terpenting sekarang, kamu akan aman selama di sisiku," jelas Andra yakin.
"Terima kasih, Kak. Aku beruntung bertemu kamu kembali. Maaf, maafkan semua kesalahanku padamu."
Naurin berkata dengan penuh penyesalsn. Rasa bersalah kembali datang, membuat d**a Naurin sedikit sesak. Wanita itu memegangi dadanya dan wajahnya tampak memucat.
"Sayang, kamu baik-baik saja? d**a kamu kenapa? Wajah kamu juga pucat. Sayang, ada apa denganmu?" tanya Andra panik.
"Da--dadaku sesak dan sakit. A--aku ...."
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Andra menggendong tubuh Naurin dan membawanya ke mobil. Menyandarkan kepalanya ke d**a bidang miliknya.
"Zio, kita ke rumah sakit, sekarang!" perintahnya.
"Baik, Tuan."
Zio melajukan sedikit cepat kendaraannya. Sementara Andra, masih panik dan terus mengusap-usap kepala Naurin sambil sebelah tangannya menggenggam tangan Naurin.
"Bertahanlah, Sayang. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit," ucapnya pelan.
"Zio, kenapa lama sekali? Kenapa berhenti?" tanyanya semakin panik.
"Maaf, Tuan. Ada kemacetan. Sepertinya--ada kecelakaan," jelas Zio sambil membuka kaca mobil dan mengumpulkan sedikit kepalanya, melihat situasi yang terjadi.
"Apa masih jauh?" tanya Andra.
"Masih sekitar lima belas meter lagi, Tuan."
"Kamu cari jalan lain. Saya akan turun membawa istri saya terlebih dahulu," ucap Andra sambil membuka pintu mobil dan menggendong Naurin.
Pria itu setengah berlari berjalan. Naurin yang masih merasakan sakit di dadanya hanya diam tak banyak bicara. Andra terus melangkah cepat, bahkan kini ia berlari, demi untuk bisa cepat sampai di rumah sakit.
Lima belas menit berlalu, mereka tiba di IGD rumah sakit dan Andra langsung menerobos masuk, membuat petugas yang berjaga terkejut.
"Suster! Dokter! Tolong istri saya!" serunya dengan napas sedikit tersengal.
Petugas itu menghampiri. Salah seorang dari mereka menarik brankar yang berada dekat pintu masuk IGD dan yang lain membantu merebahkan tubuh Naurin yang semakin lemah.
Andra ikut mendorong brankar itu sambil menggenggam sebelah tangan Naurin. Pria itu semakin panik dengan keadaan Naurin.
"Maaf, Tuan. Anda tunggu di sini. Kami akan melakukan pemeriksaan untuk istri Anda," jelas salah satu petugas.
"Tolong selamatkan istri saya," pintanya pelan.
"Baik, Tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Permisi."
Andra menunggu cemas di depan ruang IGD, ia mondar-mandir, tidak sabar menunggu kabar dari dokter tentang Naurin.
Tak lama Zio datang menghampiri Andra yang tengah panik.
"Zio, kamu sudah datang," ucap Andra pelan.
"Bagaimana, Nyonya, Tuan?" tanyanya ikut panik.
"Dokter masih memeriksanya di dalam. Saya belum tahu yang bagaimana," jelas Andra pelan.
"Tuan duduk dulu. Saya yakin Nyonya akan baik-baik saja," bujuk Zio.
"Semoga saja."
Setengah jam berlalu, dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Andra bangkit dari kursi dan menghampiri.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanyanya dengan tidak sabar.
Dokter menghela napas sedikit berat dan melepas kacamata yang membingkai kedua matanya. Menatap ke arah Andra.
"Istri Anda mengalami serangan panik atau panic attack. Jika kondisi ini terjadi berulang-ulang, maka diagnosis kami istri Anda mengalami gangguan panik atau panic disorder," jelas dokter dengan wajah serius.
"Apa? Apa yang memicunya? Kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Andra penasaran.
"Ini merupakan kondisi di mana seseorang merasakan takut, cemas, atau panik yang ekstrim secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas, sering kali memuncak dalam beberapa menit. Gejalanya, Sesak napas, jantung berdebar kencang atau palpitasi, pusing, kepala terasa ringan, berkeringat, gemetar, rasa tercekik, dan perasaan seolah akan mati atau kehilangan kendali," jelas dokter kembali.
"Apa ada hal lain yang menjadi penyebabnya?"
"Faktor pemicunya bisa meliputi stres berat, trauma, atau ketidakseimbangan kimia di otak. Bisa juga karena fobia."
"Apa bisa diobati?"
"Jika terjadi berulang, saya akan meresepkan obat antidepresan, seperti SSRI atau obat anti cemas alprazolam, clonazepam. Kami akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, untuk mengetahui kondisi pasien sehingga kami bisa melakukan tindakan yang tepat."
"Lakukan, apa pun itu. Asal istri saya bisa sembuh."
"Baik, Tuan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri Anda. Bantu doa, ya. Saya permisi. Istri Anda akan dipindahkan ke ruang perawatan."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Obrolan Andra dan dokter itu berakhir. Andra serta Zio melangkah menuju ruang perawatan. Mereka berpisah di persimpangan lorong rumah sakit. Zio mengurus administrasi, sedangkan Andra ke ruang rawat untuk menjaga Naurin.
Hati Andra terenyuh melihat kondisi Naurin yang terbaring lemah di ranjang. Ada beberapa alat medis di tubuh wanita itu. Selang infus di punggung kirinya, selang oksigen di kedua lubang hidungnya, aliran listrik yang terhubung dengan monitor perekam detak jantung di dadanya.
Andra mendekat dan menarik pelan kursi, lalu duduk di samping Naurin. Menatap iba sambil memperhatikan wajah Naurin yang tampak satu dan pucat.
Pria itu mengusap pelan kepala Naurin dan mencium puncak kepalanya, lalu beralih ke punggung tangan Naurin fan menggenggamnya. Kemudian, mencium mesra.
"Saya tidak tahu apa yang kamu alami selama tiga tahun pernikahanmu dengan b******n itu. Seberapa penderitaan yang kamu alami hingga kamu harus mengalami trauma hebat dan seperti ini. Entah sudah berapa kali kamu mengalaminya," monolognya lirih.
"Mulai sekarang, tidak akan ada lagi penderitaan. Saya akan berikan kebahagiaan untukmu. Apa pun akan saya lakukan demi membuatmu bahagia. Sekali pun saya harus pertaruhkan nyawa. Saya ikhlas, asalkan kamu bahagia, Naurin," lanjutnya.
"Kamu harus kuat dan bangkit, Sayang. Sudah cukup penderitaan yang kamu alami. Saya akan obati semua lukamu perlahan. Saya akan mencintai dan menyayangimu seumur hidupku. Naurin, maafkan saya, terlambat mrnemukanmu, padahal, selama ini kamu selalu ada di dekatmu. Namun, Tuhan baru mempertemukan dan menyatukan kita."
Andra terus bermonolog, ia begitu sedih dengan yang terjadi pada Naurin. Sungguh Andra tidak pernah menyangka, jika Naurin akan mengalami nasib seperti itu.
"Zio, carikan dokter terbaik untuk kesembuhan Naurin!"