Mata Ayas membulat marah—tidak percaya, nyalang menatap wajah Dameshia dalam bias keremangan rembulan yang redup, “Hanya karena buku kau mencariku seperti banteng gila?! Setiap tempat kau datangi, setiap orang kau tanyai hanya karena buku, hah?!” bentaknya dengan suara gemetar menahan kemarahan.
“Tuan, buku itu sangat penting. Andai pasir bisa bicara, maka setiap butiran pasir yang kupijak pun akan kutanyai juga. Apakah buku itu ada padamu?” Dameshia begitu gugup, merentangkan lehernya sejauh mungkin. Takut sekali pada pedang yang masih melekat di lehernya.
“Kau kira aku bodoh?! Katakan yang sebenarnya! Kenapa kau mencariku seakan-akan aku penghianat negara! Sekali lagi kau berkata omong kosong, kupastikan kepalamu berguling di bawah kakiku, mencium tanah!” ancam Ayas keras dan tegas. Genggamannya pada hulu pedang semakin kuat.
“Aku akan mengatakannya, tapi tolong turunkan dulu pedangmu, Tuan.”
“Kau katakan lebih dulu kenapa kau mencariku?!” tekan Ayas semakin kuat. Dia tidak menerima negosiasi.
“Tuan, selain buku, Nonaku juga ingin mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung kepadamu atas pertolonganmu hari itu. Saat dia sadar, dia mencarimu,” ungkap Dameshia.
“Untuk apa kau mencari Ayas?”
“Apakah kau Ayas?” Dameshia balik bertanya.
“Bukan!”
“Kalau begitu aku tidak bisa mengatakannya kepadamu. Aku harus mengatakannya secara langsung kepada Ayas,” tolak Dameshia.
“Aku kenal seseorang yang bernama Ayas. Katakan kenapa kau mencarinya?” desak Ayas.
“Kalau begitu sampaikan saja kepada Ayas kenalanmu itu bahwa aku mencarinya. Jika dia Ayas yang dimaksud, kau akan mendapatkan hadiah,” terang Dameshia.
“Hadiah dari siapa?” Kening Ayas mengkerut.
“Aku yang akan memberikan hadiah itu jika Ayas yang kau bawa itu adalah Ayas yang benar.”
“Benar menurut siapa?” cecar Ayas.
Ayas tersenyum tipis. Jelas baginya Dameshia hanya suruhan. Wanita ini kini berhadapan dengan seseorang yang bernama Ayas, tetapi masih membutuhkan orang lain untuk memberikan pernyataan apakah lelaki yang berdiri di depannya ini adalah orang yang benar.
“Aku tidak bisa mengatakannya. Jika kau adalah Ayas, aku akan membawamu kepada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Kalau kau punya teman, sampaikan kepadanya, ada yang ingin bertemu.”
“Katakan siapa orang itu?! Ada urusan apa?!”
“Aku tidak bisa mengatakannya,” tolak Dameshia.
“Aku tidak akan membawa temanku itu kepadamu jika kau tidak mengatakan ada urusan apa kau mencarinya.”
“Aku sudah mengatakannya berulang kali kepadamu, aku tidak bisa mengatakannya. Jika kau tidak mau membawa teman Ayas-mu itu, setidaknya mari ikut denganku. Nonaku ingin bertemu denganmu. Dia ingin menyampaikan rasa terima kasihnya secara langsung.”
“Tidak perlu! Aku tidak butuh ucapan terima kasih darinya. Lagi pula, bukankah waktu kau yang mengusirku? Kenapa kini mau malah mencariku?”
“Maafkan aku, Tuan. Mengusirmu adalah kesalahanku. Dan Nona–ku sangat marah dengan apa yang telah kulakukan kepadamu. Karena itu dia ingin bertemu denganmu. Berhari-hari mencarimu. Kau harus menemui Nona–ku malam ini juga. Kita tidak punya waktu lagi, Tuan.”
“Kenapa harus malam ini juga?”
“Besok Nona Adara dilamar Putra Mahkota Pangeran Zayan, tidak mungkin lagi baginya bisa menemuimu jika mereka sudah bertunangan. Dia pasti akan dianggap berkhianat. Hal itu tentu akan menjadi masalah yang sangat besar.” Dameshia menerangkan situasinya.
“Itu bukan urusanku. Aku sudah mengembalikan buku itu ke perpustakaan. Kau ambil saja besok di sana,” bohong Ayas. Dia baru berencana mengembalikan buku itu besok pagi.
Ayas pun melonggarkan pertahanan dirinya. Dia menurunkan pedang dari leher Dameshia lalu menyarungkannya, “Berhentilah mencari Ayas, dia sudah mati.” Dia menatap tajam penuh intimidasi kepada Dameshia.
“Mati?”
“Ya, dia sudah mati beberapa tahun yang lalu. Dibunuh perampok saat kami dalam perjalanan membawa barang dagangan,” terang Ayas menceritakan cerita lama yang sudah diketahui orang-orang di negerinya.
Dameshia terdiam sejenak, berpikir keras. Tentu Adara tidak menerima jika hanya cerita seperti ini yang dibawanya, sementara Nonanya itu begitu yakin jika lelaki di depannya ini adalah Ayas.
Dia yakin anak gadis kesayangan Perdana Menteri Bayezid itu akan mengira dirinya hanya membual, membuat alasan karena tidak berhasil menemukan lelaki yang telah menolong Nona–nya hari itu. Dameshia memikirkan cara lain.
“Tuan, jika memang seperti itu ceritanya tidak mengapa, tolong ikut aku, aku akan mempertemukanmu dengan orang yang mencari temanmu itu, hingga kau bisa mengatakannya secara langsung,” pinta Dameshia dengan kata-kata lembut.
“Aku tidak punya urusan dengan orang yang mencarinya. Kau katakan saja kepadanya, berhentilah mencarinya Ayas, dia sudah mati,” ucap Ayas sambil menggerakkan dagunya–memberikan isyarat kepada Emran dan Eliyas agar segera pergi dari tempat ini, meninggalkan Dameshia dan dua pengawalnya.
Kedua orang kepercayaan Ayas itu pun mengangguk. Mereka bertiga melangkah pergi meninggalkan Dameshia.
“Tuan!” seru Dameshia, “tidakkah kau ingin tau kenapa kami mencari temanmu? Tidakkah kau penasaran kenapa kami seperti banteng gila seperti yang kau katakan tadi?”
Langkah Ayas terhenti, dia menoleh, “Aku tidak peduli! Bahkan jika Ayas punya hutang harta dan nyawa sekalipun kepada orang yang mencarinya, itu bukan urusanku! Dia bisa menuntut Ayas di akhirat nanti. Kenapa aku harus repot-repot mengurusi persoalan orang lain?” ucapnya dengan nada sinis dan sudut bibir terangkat sebelah.
“Tuan __” Dameshia meringkuk di kaki Ayas, “Tolong temui Nonaku sekali saja, malam ini saja. Aku tidak boleh pulang jika gagal membawamu menemuinya,” hibanya dengan wajah memelas.
Ayas berdecak kesal, kemudian mendesah gusar, “Ada apa sebenarnya? Kenapa Nonamu __ siapa namanya?”
“Adara, Tuan.”
“Kenapa Adara sebegitunya ingin bertemu Ayas?”
“Dari mana Tuan tahu dia yang mencari Ayas?”
“Orang bodoh pun tahu dia yang mencarinya! Siapa lagi yang menyuruhmu kalau bukan dia?” sungut Ayas kesal.
Sekarang dirinya tahu, bahwa yang mencarinya seperti banteng gila, menyeruduk ke sana kemari tak tahu arah itu adalah Adara. Karena gadis itulah satu-satunya orang yang memanggilnya Ayas.
“Dan hari itu dia pingsan setelah memanggilku Ayas,” tambah lelaki tampan itu.
“Temui dia, Tuan. Biar dia yang memastikan apakah kau Ayas atau bukan.”
“Hahahaha!” Ayas tertawa gelak sekali, “Jika benar aku adalah Ayas yang dicarinya, apakah dia bersedia membatalkan pernikahannya dengan Putra Mahkota?” Ayas tersenyum rumit dengan kedua alis yang terangkat.
“Apa?” Dameshia terhenyak dengan mata membulat lebar, “Apa hubungannya Ayas—Dirimu—dan Putra Mahkota serta lamarannya?”
“Aku tidak tahu, tapi seperti kau bilang tadi, jika kami bertemu setelah malam ini, Nonamu takut dikira penghianat. Berarti, bertemu denganmu bisa membuatnya gagal menikah dan gagal menjadi Ratu, bukan begitu?”
Dameshia terdiam, dia menarik napas dalam sekali. Dia lelah ... jiwa dan raganya lelah.
“Aku tidak mau terlibat urusan apa pun dengan kalian. Apalagi bersangkutan dengan Putra Mahkota. Jangan pernah lagi mencariku!” Ayas kembali melangkah menjauhi Dameshia. Diikuti kedua pengawalnya, Emran dan Eliyas.
“Tuan, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau tidak mau menemuinya? Tidakkah kau penasaran kenapa gadis itu bisa mengetahui tentang dirimu? Tahu namamu padahal kalian tidak pernah bertemu?” tanya Emran pelan sambil berjalan di sisi Ayas.
“Aku tidak ingin terlibat dalam masalah mereka. Bisa kau bayangkan jika kau Putra Mahkota mengetahui calon istrinya menemui lelaki lain? Aku tidak mau mati konyol.”
“Tapi kau justru akan segera mati konyol jika Putra Mahkota mengetahui apa tujuanmu kemari, Tuan!”
“Kenapa aku harus mati konyol hanya karena aku berdagang?” Ayas mengedipkan mata.
Emran dan Eliyas saling pandang sejenak. Mereka menggeleng pelan dan di bibir keduanya tersimpul senyuman tipis.
“Kalian, cari kedua lelaki yang bersama Dameshia tadi. Pastikan keduanya bersedia menjadi orang kita untuk mengetahui pergerakan Adara dan pelayannya. Jika mereka menolak dengan cara baik-baik, gunakan cara apa pun yang dibutuhkan. Apa pun itu!” titah Ayas kepada Emran dan Eliyas.
“Baik, Tuan,” kata Elyas dan Emran menunduk, menaati perintah Ayas.
“Tapi, Tuan __ dari mana kau tahu nama pelayan–gadis itu Dameshia?” tanya Emran.
“Karena nama majikannya Adara, pasti nama pelayan itu yang Dameshia. Namanya dipakai waktu meminjam buku di perpustakaan. Kalian ikuti mereka. Aku mau bertemu Feruza.”
***
Kediaman Adara ....
“Nona, maafkan aku tidak berhasil membujuknya bertemu denganmu. Aku sudah mengatakan bahwa kau ingin bertemu dan ingin mengucapkan terima kasih secara langsung. Aku juga sudah menawarkan hadiah, sayangnya dia tetap menolak,” kata Dameshia kepada Adara dengan suara pelan dan rasa bersalah.
“Mengenai kabar tentang Ayas, lelaki yang menolongmu itu mengatakan, dia mengenal Ayas, tapi Ayas sudah mati dibunuh perampok.” Dameshia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Mengenai buku yang kau pinjam, dia mengatakan, buku itu sudah dikembalikan ke perpustakaan. Kita bisa mengambilnya di sana,” tambah Dameshia lagi.
Adara mengepalkan tangannya kuat-kuat. Marah dan juga kecewa, “Antar aku menemuinya sekarang juga!”
“Nona ... ini tengah malam. Kau mau keluar sekarang juga?” Dameshia menahan langkah Adara dengan berdiri tepat di depannya.
“Nona aku mohon kendalikan dirimu. Besok adalah hari besarmu, hari besar juga untuk ayahmu. Kalian sudah menunggu hal ini sepanjang hidupmu. Apakah kau mau menghancurkannya begitu saja hanya demi pedagang itu?” Dameshia menatap dalam sepasang manik zamrud milik Adara.
“Sepertinya dia bukan orang baik. Kami—aku, Akmal dan Aslan hampir kehilangan nyawa. Dia menghadang kami dengan menghunuskan pedang. Mengancamku—kepalaku akan berguling di tanah jika aku tidak mengatakan kenapa aku mencari Ayas.”
Adara terkejut. Matanya membulat lebar. Dua kepala lelaki di dalam mimpinya yang terguling di tanah membayang di matanya, “Dia Ayas, Dameshia! Dia pasti Ayas!”
“Nona__ tolong jangan seperti ini. Apa kau mau membatalkan pernikahanmu jika dia Ayas?”
“Apa maksudmu, Dameshia?”
“Lelaki itu juga mengatakan hal sama sepertiku. Bahkan dirinya pun tidak ingin terlibat masalah. Kenapa kau malah ingin membuat masalah? Dirinya Ayas atau bukan tidak akan mengubah apa pun.”
“Ya ... aku tahu. Aku hanya ... aku hanya ingin bertemu saja. Dadaku sesak, ingin sekali bertemu, rindu sekali ingin bertemu.”
“Nona__ aku mohon sekali lagi, sudahi ini. Besok kau bertemu pangeran Zayan. Pikirkan tentang kedua orang tuamu juga kakakmu. Seberapa besar pun perasaanmu kepada orang itu—si Ayas yang entah nyata atau tidak, kau harus menyimpannya, demi keluargamu.”
Adara menunduk sedih. Dia ingin berlari menemui lelaki itu. Ingin rasanya dia mengetuk setiap pintu demi mencarinya, menyusuri setiap jalanan, menyinggahi setiap sudut kota. Hatinya terasa begitu sakit harus memendam semuanya seperti tidak terjadi apa-apa.
***
Adara menatap pantulan dirinya di cermin. Dia hampir selesai dipersiapkan–didandani dengan cantik untuk bertemu Raja dan Pangeran Zayan yang akan segera datang sebentar lagi. Mereka sudah dalam perjalanan dari istana menuju kemari.
Ayah dan ibu Adara memasuki kamarnya. Sambil menunggu dirinya selesai, keduanya terlibat pembicaraan tentang masa depannya. Rona wajah Perdana Menteri Bayezid berbinar dan merona, bibir keduanya selalu merekah—tersenyum manis, tak kalah manis dari gula-gula.
Adara berdiri menghadap kedua orang tuanya, sedikit membungkukkan tubuh seraya meletakkan tangan kanan ke d**a kiri—tepat di jantungnya, “Ayah __ Ibu.” Dia memberi salam.
“Kau akan segera menjadi Ratu anakku,” kata Ayah–Adara penuh rasa bangga.
“Kau pasti akan jadi Ratu yang hebat. Kami beruntung memilikimu, Sayang.” Aylee–Ibunda Adara tersenyum manis sembari meletakkan telapak tangannya di pipi anak gadisnya.
Adara tersenyum hambar menanggapi kata-kata kedua orang tuanya. Bukannya dia tidak senang, hanya saja entah bagaimana ada rasa hampa di dalam dirinya. Jika sebelumnya tujuan hidupnya adalah menjadi Ratu negeri ini, kini seakan-akan dia kehilangan tujuan itu.
Pusat dunianya kini berpusat pada Ayas. Hanya Ayas!
Ingin sekali bertemu Ayas.
Ingin memastikan apakah Ayas nyata ataukah hanya bayangan gelap? Datangnya hanya sekelebat, tetapi membuat kerusakan hebat.
“Ayah ... Ibu. Jangan terlalu berharap, bisa saja pangeran Zayan menolakku.” Adara meremas tangan ibundanya.
“Tidak mungkin, Putriku. Bahkan Raja sendiri sudah memintamu langsung secara pribadi kepadaku untuk menjadi istri Putra Mahkota. Tidak akan ada penolakan. Hari ini hanya lamaran secara simbolis, lelaki datang ke rumah pihak perempuan untuk datang melamar, sebagai bentuk penghormatan kepada calon istrinya, meskipun dia adalah Raja sekalipun,” ungkap Perdana Menteri Bayezid.
“Ayah __” Adara tersenyum manis, “jika seperti itu tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan. Jujur saja, ada rasa kekhawatiran di dalam diriku. Takut Putra Mahkota akan menolakku, sehingga membuat Ayah dan Ibu malu.”
“Mari kita menunggu Raja dan Putra Mahkota. Kita harus menyambut kedatangan mereka,” kata Perdana Menteri Bayezid.
“Mari __” Aylee—Ibunda Adara meraih tangan putrinya, berjalan di sisinya menuju pintu gerbang kediaman Perdana Menteri.
Tidak seberapa lama setelah mereka berdiri di depan pintu gerbang. Tampaklah iring-iringan prajurit menabuh genderang, prajurit bersenjata lengkap melindungi Raja dan keluarganya dengan ketat.
Raja dan Putra Mahkota dengan gagah menunggangi kuda. Di belakang mereka, ada kereta kuda membawa Permaisuri. Orang-orang berbaris rapi di sisi jalan, menunduk memberi penghormatan kepada Raja beserta keluarganya.
“Selamat datang Yang Mulia. Semoga keselamatan dan kesejahteraan selalu dikaruniakan kepadamu.” Perdana Menteri Bayezid memberi salam—menundukkan kepala seraya meletakkan tangan kanan ke dadanya yang sebelah kiri.
“Selamat datang, Yang Mulia!” seru semua orang di kediaman Adara yang menyambut kedatangan Raja mereka.
Raja Emier Fadhel Al Abbas mengangguk senang, “Semoga keselamatan dan kesejahteraan selalu dikaruniakan kepada kita semua.”
“Silakan, Yang Mulia. Silakan Pangeran Zayan.” Perdana Menteri membuka tangan—mempersilakan. Mereka pun berjalan beriringan.
Pangeran Zayan mencuri pandang kepada Adara yang kini tengah menunduk dalam. Lalu, secara tidak sengaja pandangan keduanya saling bertemu, “Ya, Tuhan! Cantik sekali. Dia lebih cantik dari yang kuingat,” pujinya di dalam hati.
“Adara ––” sapa pangeran Zayan seraya mengangguk pelan dan tersenyum manis.
Begitu pun Adara, dia juga tersenyum dengan pipi yang kemerahan. Sedikit salah tingkah berhadapan langsung dengan teman kecilnya itu, “Pangeran Zayan—” Dia balik menyapa.
Kali ini wajah Adara diperlihatkan, tidak memakai cadar seperti biasanya.
“Yang Mulai Permaisuri. Terima kasih sudah datang.” Ibunda Adara menyapa tamu agungnya.
“Aylee. Senang bisa bertemu denganmu.” Permaisuri Benazir menyapa calon besannya.
Mereka semua pun masuk ke dalam kediaman perdana menteri. Makan bersama dan berbincang hangat.
“Adara __ antarkan pangeran Zayan berjalan-jalan di taman. Mungkin kau bisa menunjukkan kebun bunga milikmu,” titah Perdana Menteri kepada putrinya.
“Baik, Ayah! Mari pangeran Zayan, izinkan aku mengantarmu berkeliling,” ucap Adara sembari menunduk.
Pangeran Zayan tersenyum senang, “Mari __” dia berdiri dan mengikuti langkah Adara.
Keduanya berjalan beriringan. Adara menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. Rasa gugup membuatnya terdiam—kehilangan kata-kata. Keduanya sama-sama merasa canggung.
“Apa kabarmu, Adara?” tanya Pangeran Zayan.
“Baik, Pangeran. Bagaimana denganmu?”
“Tidak pernah sebaik hari ini. Aku selalu memikirkanmu. Terakhir kita bicara, kau berkata kau tidak ingin aku berubah menjadi merah. Sejak itu aku jadi selalu terpikirkan, apakah benar jika kita menikah aku akan berubah menjadi merah?”
Adara tertawa pelan mendengar kata-kata Pangeran Zayan, “Apakah kau takut?”
“Waktu itu aku sedikit khawatir. Aku bertanya kepada Ayahku, apakah aku akan berubah merah jika menikah denganmu. Dia tertawa keras sekali saat mendengarnya.”
“Lalu?” tanya Adara sambil tertawa, ia tak sabar menanti kelanjutan cerita Pangeran Zayan.
“Dia berkata, tidak ada orang yang berubah jadi merah karena menikah. Itu kata ayahku. Tapi sekarang__” kata-kata Pangeran Zayan terputus.
“Sekarang?” desak Adara.
“Sekarang ... meskipun aku benar-benar menjadi merah karena menikah denganmu, aku tidak takut. Jangankan hanya berubah merah, bahkan aku akan mempertaruhkan jiwa dan ragaku untukmu.”
Adara tersenyum lebar sekali, “Pangeran __ aku merasa tersanjung.”
“Apakah kau bersedia menjadi istriku, Adara? Aku memenuhi janjiku kepadamu. Bahwa aku akan menjadikanmu Ratuku. Apakah kau bersedia?”
Adara terdiam menundukkan wajahnya. Dulu kata-kata inilah yang selalu dia tunggu, tapi kini dia ragu. Apa jadinya jika dia menolak? Hatinya gamang ketika bayangan Ayas melintas di pelupuk matanya.
Sementara itu di luar sana. Ayas berada di depan rumah Adara di antara kerumunan manusia, “Jadi benar dia akan segera menikah dengan Pangeran Zayan.” Senyuman tipis dan rumit tersemat di bibirnya.