Feruza meneguk habis anggur yang diberikan Yardan. Keningnya mengkerut, dia merasa ada yang aneh dengan rasanya. Anggur ini terasa lebih pahit di lidahnya, berbeda dengan yang biasa dia minum. Dia tidak curiga apa-apa dan mengira semua rasa aneh itu hanya karena anggur sudah lama disimpan, atau rusak.
Namun, Yardan melihat perubahan raut wajah Feruza, “Kenapa?” tanya lelaki itu dengan wajah polos—seakan tidak berdosa.
Feruza mencoba tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Anggur ini terasa sedikit aneh dari biasanya." Dia berkata sambil menaruh gelasnya di meja.
“Begitu? Aku tidak merasakan ada yang aneh.” Yardan menuang lagi anggur ke dalam gelas lalu menghirup baunya, “baunya enak __” Dia meneguknya lagi, “rasanya juga enak.”
“Baiklah … tidak usah dipikirkan,” ucap Feruza sambil mengibaskan tangan, “mari kita lanjutkan,” tambahnya sembari menuangkan lagi anggur ke dalam gelasnya sendiri dan juga gelas Yardan.
“Aku ingin melanjutkan lagi, tapi aku sangat lelah,” keluh Yardan sembari memukul-mukul pundaknya pelan seraya menggeliat—meregangkan tubuh.
“Kemari … aku akan memijatmu.” Feruza menawarkan diri. Dia mengambil minyak pijat dari rak di sudut ruangan.
“Apa tidak merepotkanmu?” Yardan memasang raut wajah tak enak hati.
“Tentu saja tidak. Ayo lepaskan pakaianmu lalu berbaring di sini,” Feruza menepuk kasur yang terdapat di dalam ruangan itu.
Yardan pun melepaskan pakaiannya dan berbaring tengkurap di atas kasur. Kemudian Feruza mulai menggosok-gosokan minyak pada kedua telapak tangannya, lalu memijat punggung Yardan dengan lembut.
“Hum __ enak sekali,” gumam Yardan dengan mata terpejam, menikmati pijatan yang diberikan Feruza.
“Kau menyukainya?” tanya Feruza dengan suara senang dan manja.
“Iya ... aku sangat suka,” jawab Yardan.
“Feruza __”
“Ya?”
“Kau sangat cantik, tentu kau menjadi wanita favorit di sini,” puji Yardan kepada wanita yang kini tengah memijatnya.
“Ya __ bisa dibilang begitu,” jawab Feruza.
“Ouh ... Feruza. Nikmat sekali!” Yardan mengerang dengan keras.
Feruza tertawa mendengar teriakan Yardan. Dia membungkukkan tubuhnya lalu berbisik di telinga lelaki itu, “Aku bahkan belum melakukan apa-apa, tapi kau sudah histeris seperti ini? Aku penasaran bagaimana jika aku memberikan kenikmatan kepadamu?”
Yardan berbalik, kini dirinya berbaring terlentang, “Aku juga penasaran, akan seperti apa rasanya dirimu, bahkan hanya tanganmu saja sudah senikmat ini? Bagaimana dengan yang lainnya?”
Feruza tersipu dengan wajah merona, “Mari kita coba tuntaskan rasa penasaran kita,” ucapnya seraya melepaskan kancing bajunya di bagian d**a.
Yardan segera menahan tangan Feruza, “Nanti saja, kau belum selesai memijatku. Aku ingin menikmati malam ini sepanjang mungkin bersamamu. Jika lelahku berkurang, kita bisa memulainya.”
Feruza tersenyum manis, “Baiklah ...”
Yardan kembali tengkurap, “Siapa saja yang biasanya datang ke mari?”
“Banyak ... aku tidak bisa mengingat mereka.”
“Apa itu termasuk para pejabat?” tanya Yardan dengan nada hati-hati.
Pijatan Feruza terhenti sesaat, “Kenapa kau menanyakan itu?”
Yardan menghela napas, “Aku hanya ingin tahu apakah kau pernah berurusan dengan orang-orang berbahaya? Aku khawatir kau akan terlibat dalam masalah yang tidak kau inginkan.”
“Orang berbahaya?” Feruza balik bertanya.
“Ya ... mungkin buronan negara, atau perampok dan semacamnya.”
Feruza menggeleng, “Tidak usah khawatir. Aku hanya seorang b***k di sini. Aku tidak peduli siapa yang datang atau apa yang mereka lakukan.”
“Terkadang mereka seperti mendiskusikan hal penting, memprotes kebijakan negara, atau bahkan menggosip tentang istana. Tapi sekali lagi aku tidak peduli kepada mereka. Yang penting mereka membayar dan tidak menyakitiku. Ya __ walaupun terkadang ada juga orang-orang yang kasar kepadaku. Termasuk Tuanku sendiri,” ungkap Feruza sembari kembali memijat.
“Apakah kau mengenali mereka jika salah seorang dari mereka adalah para pejabat atau menteri?” cecar Yardan.
Feruza tersenyum sinis, “Mengenali? Mengenali ataupun tidak, sama sekali tidak membuat perbedaan, Yardan. Mereka hanya menggunakanku sebagai barang.”
Feruza memandangi punggung Yardan dengan tatapan kosong, “Aku sudah lama kehilangan harapan dan cita-cita. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku besok atau lusa. Aku hanya hidup dari hari ke hari, menunggu kematian yang akan membebaskanku dari penderitaan ini. Aku tidak punya keluarga, teman, atau cinta. Aku hanya punya diriku sendiri. Aku dirampas dari keluargaku. Dijual menjadi b***k. Ngomong-ngomong, kenapa kau menanyakan hal berbahaya seperti ini? Apakah kau seorang mata-mata?”
Yardan kembali berbalik, kini dia terlentang, “Tidak ada. Aku hanya takut karena mereka orang-orang berpangkat mereka seenaknya memperlakukanmu dengan buruk.”
“Beberapa dari mereka mungkin para pejabat. Karena Tuanku selalu mewanti-wanti agar aku melayani mereka dengan baik dan jangan sampai berbuat kesalahan, karena jika sampai mereka tidak puas dengan pelayananku, Tuanku akan menghukumku dengan berat.”
Yardan merentangkan lengannya, “Kemarilah __”
Feruza merebahkan dirinya di d**a telanjang Yardan, hangat dan nyaman sekali ketika tangan lelaki itu mengusap punggungnya dengan lembut, “Aku lupa kapan terakhir kali pelukan lelaki terasa senyaman ini.”
“Kalau begitu tetaplah seperti ini,” ucap Yardan dengan lembut.
Beberapa saat kemudian, Yardan merasakan tubuh Feruza lemah dan lunglai. Perlahan dia bangun, merebahkan Feruza di kasur lalu memberikan bantal ke bawah kepalanya. Kemudian melepaskan semua pakaian wanita itu tanpa menyisakan sehelai benang pun.
Setelah itu, dia berpindah ke sudut ruangan lalu membuka buku yang Adara pinjam tadi siang. Di bagian halaman pertama—lembar setelah sampul, ada stempel kepemilikan nama sebuah perpustakaan, “Aku akan ke sini besok, mencari tahu siapa gadis itu.”
Yardan mematikan semua lampu dan menyisakan satu lentera di dinding agar kamarnya tidak sepenuhnya gelap. Lalu dia berbaring dan tidur.
***
Yardan bangun dari tidurnya, dia yakin sebentar lagi fajar akan datang. Dia melihat ke kasur, Feruza masih seperti keadaannya tadi malam. Tidur nyenyak sekali.
Dia mengambil pena lalu menulis, {Terima kasih untuk malam yang istimewa ini. Aku akan kembali lagi lain kali}
Yardan meninggalkan kertas itu beserta uang untuk Feruza. Lalu, dia keluar dari kamar menuju meja lelaki yang berjaga di depan kompleks kamar.
“Biarkan dia. Jangan dibangunkan. Dia kelelahan karena aku. Aku sangat puas dengan pelayanannya,” kata Yardan dengan nada tegas.
Penjaga kamar itu tertawa merendahkan, “Dia harus bekerja, Tuan! Mana boleh dia enak-enakan tidur jika ada pelanggan datang.”
“Kalian ini benar-benar serakah! Sebentar lagi subuh. Ini __” Yardan menyerahkan sekantung uang, “ini cukup untuk mengganti sepuluh lelaki yang harus dia layani. Biarkan dia istirahat hingga dia bangun sendiri.”
Penjaga kamar tertawa senang menerima uang itu. Membuka kantung uang lalu menghitung jumlahnya. Raut bahagia terukir di wajahnya, “Baiklah Tuan yang pemurah, terserah kau saja. Jika kau sebegitu jatuh cinta kepadanya hingga kau mau mengeluarkan uang sebanyak ini, Kuharap kau kembali lagi lain waktu.”
“Ya, aku akan kembali lagi nanti,” ucap Yardan dengan nada meyakinkan.
Yardan keluar dari rumah bordir itu lalu bergegas berjalan menuju penginapan yang disewanya bersama Eliyas dan Emran.
***
Feruza terbangun dengan tubuh sangat lemas dan terasa seakan-akan dirinya lari mengelilingi kota Aaliya dan semalam. Malas dia membuka mata, cahaya matahari dari kisi-kisi jendela silau–terasa sakit menusuk ke dalam bola matanya.
“Astaga!” pekiknya terkejut. Dirinya sadar saat ini pasti sudah siang karena sinar matahari itu terasa terik. Dia takut dihukum karena tidur terlalu lama.
Feruza lebih terkejut lagi ketika mendapati dirinya tanpa pakaian, “Di mana dia? Apa yang terjadi tadi malam?” tanya Feruza di dalam hati.
Feruza mencoba sangat keras mengingat kejadian tadi malam, dia yakin mereka tidak melakukannya. Dirinya justru tertidur di pelukan lelaki ini.
Kini Feruza semakin ketakutan, dia yakin Tuannya akan menghukumnya. Alih-alih melayani tamu mereka, dia malah tidur pulas. Dia mengambil pakaiannya, tidak sengaja menemukan surat yang terselip bawahnya. Dia pun membacanya.
Kening Feruza mengerut, “Malam istimewa? Bukankah mereka tidak melakukannya? Apakah dia melakukannya saat aku tertidur? Ah, rasanya tidak mungkin. Tentu aku akan terbangun jika Yardan melakukan hal itu,” ia membatin.
Feruza menyimpan uang pemberian Yardan lalu keluar kamar. Tubuhnya gemetaran karena takut dihukum.
“Feruza!” Sadad–Tuannya memanggil dengan keras.
“Ya, Tuan.” Feruza membungkuk takut.
“Apa pun yang kau lakukan tadi malam kepada orang itu, lakukan lagi nanti kepada semua tamu kita!” titah Sadad sambil tertawa, “dia berkata sangat menyukaimu hingga berpesan jangan membangunkanmu.”
Wajah Feruza semakin berkerut karena bingung, “Baik, Tuan.” Ia membungkuk dan cukup merasa beruntung hari ini tidak mendapatkan cambukkan atau tamparan di wajah.
***
Kediaman Adara ....
“Nona__” Dameshia sedikit membungkukkan tubuhnya memberi salam kepada Adara.
“Bagaimana? Ini sudah dua hari,” cecar Adara tak sabar.
“Maafkan aku, Nona. Aku masih belum menemukan lelaki itu. Aku sudah berkeliling kota mencari lelaki dengan ciri berwajah tampan, gagah dan memiliki aksen yang tidak biasa.”
Adara mendesah kesal dan frustrasi, “Besok adalah hari pertemuanku dengan pangeran Zayan.”
“Maafkan aku, Nona.” Dameshia merasa tak enak hati.
“Apakah ada tempat yang belum kau datangi?” tanya Adara menatap dalam wajah pelayannya.
“Semua tempat sudah kudatangi, Nona.”
“Apa kau yakin?”
“I-iya .... Nona. Kecuali__”
“Kecuali?” desak Adara tak sabar.
“Kecuali rumah bordil. Tidak mungkin aku memasukinya,” terang Dameshia.
“Itu gampang. Kau hanya perlu menyuruh laki-laki masuk ke sana!” saran Adara.
“Tapi mereka tidak ada yang mengenalinya. Bagaimana caranya memastikan bahwa yang kita cari adalah orang yang benar? Hanya aku yang pernah melihatnya,” ucap Dameshia dengan nada ragu.
“Dameshia ... aku tidak peduli cara apa yang harus kau lakukan untuk menemukannya! Semua ini salahmu karena kau menyuruhnya pergi. Buku yang kupinjam juga hilang. Temukan dia bagaimanapun caranya! Malam ini juga dia harus ditemukan! Bahkan jika kau membutuhkan seribu laki-laki sekalipun untuk memasuki semua rumah bordil di kota ini, aku tidak peduli!” Adara melemparkan kantong uang kepada Dameshia.
Dameshia dengan sigap menangkap kantong uang saat mengudara, tepat sebelum mengenai wajahnya, "Baik, Tuan Putri.”
“Pergilah! Jangan pulang sebelum kau menemukannya,” titah Adara.
“Baiklah. Aku permisi.” Dameshia pamit undur diri.
***
Dameshia berjalan cepat di taman kediaman perdana menteri Bayezid sambil menggerutu dan berdecak kesal, “Dia benar-benar sudah gila! Bagaimana ini? Ah ... terserah saja. Jika dia kena masalah karena ini. Toh, dia juga yang keras kepala. Mencari seseorang yang tidak nyata!”
Dia hanya bisa berharap bahwa malam ini akan berjalan dengan mudah dan berakhir dengan baik. Berharap Adara segera sadar bahwa Ayas hanyalah imajinasinya. Bahkan jika dia berhasil menemukan lelaki itu sekalipun, Dameshia tidak ingin Adara kecewa atau marah karena lelaki itu bukanlah Ayas.
Lebih dari itu, Dameshia juga tidak ingin Adara terlibat dalam skandal yang bisa merusak reputasi keluarganya. Wajahnya begitu muram saat melewati pintu keluar gerbang kediaman Adara. Nanar matanya menatap ke sekeliling tidak tahu harus berbuat apa.
“Dameshia!” sapa seorang lelaki.
Dameshia berpaling, “Akmal!” Ia balik menyapa.
“Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu bingung?” Akmal si Prajurit penjaga pintu gerbang bertanya kepada pelayan kepercayaan Adara itu.
Dameshia menatap Akmal sesaat. Lalu matanya tiba-tiba membulat, “Akmal! Aku butuh bantuanmu!”
“Apa?” tanya Akmal heran sembari bergantian menatap Dameshia—Aslan–teman jaganya di pintu gerbang.
“Tuan Putri Adara kehilangan buku. Seseorang membawa buku itu,” terang Dameshia.
“Buku Tuan Putri Adara dicuri?” Akmal memastikan.
“Tidak ... tidak! Bukan dicuri, eh mungkin saja dicuri—tapi bisa juga tidak.”
“Dameshia bicara yang jelas!” desak Akmal.
“Beberapa hari yang lalu Nona Adara menyuruhku meminjam buku di perpustakaan. Lalu bukunya hilang.”
“Kenapa bisa hilang? Dameshia kau membuatku bingung!” ucap Akmal dengan nada kesal.
“Baiklah ... kuharap kau merahasiakan soal ini. Ini sangat penting, kalau buku itu tidak temukan aku tidak boleh pulang. Akmal, aku mohon tolong aku. Tuan Putri Adara marah besar. Buku itu sangat istimewa, tidak bisa sembarangan dipinjam dan dibaca orang,” pinta Dameshia mengiba dengan wajah memelas sambil menambahkan bumbu cerita agar lebih menarik.
“Baiklah aku akan menolongmu. Ceritakan dulu bagaimana kejadiannya?” ucap Akmal. Aslan juga ikut mendekat untuk mendengar cerita Dameshia.
“Saat membawa buku itu aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang lelaki. Lalu buku itu terlepas dari tanganku. Lelaki itu mengambil buku itu di tanah, saat aku melihat wajahnya, aku langsung pingsan karena terkejut.”
“Kenapa kau pingsan? Apakah wajahnya semengerikan itu?” cecar Aslan penasaran.
“Tidak! Wajahnya terlalu tampan. Sampai-sampai aku langsung pingsan,” kelit Adara.
Akmal berdecak kesal sambil mencebikkkan bibir, “Kau konyol. Dameshia!”
Dameshia balik berdecak kesal, “Aku tidak konyol. Aku berkata benar. Dia terlalu tampan. Wajahnya bersinar seperti matahari. Mataku sampai silau!” gerutunya sambil merengut.
“Ada-ada saja kau ini! Lalu bagaimana kelanjutannya?”
“Aku pingsan Akmal! Mana aku tahu! Ketika aku bangun aku sudah ada di balai pengobatan Tabib Razi. Dan orang itu sudah pergi, membawa buku itu.” Dameshia menatap dalam wajah Akmal, “aku mohon bantu aku menemukan orang itu. Aku akan memberikan kalian hadiah.”
“Kau mencari orang itu atau buku yang hilang itu?” Akmal memicingkan mata.
“Buku. Buku yang aku cari. Kalau kita menemukan dia, pasti menemukan buku itu juga.”
Jika kau mencari buku, kau tidak harus menemukan orang itu. Maksudku, bisa saja orang lain menemukan buku itu lalu dia mengembalikan ke perpustakaan.”
“Kita temukan dulu orang itu, jika malam ini kita tidak berhasil barulah besok kita ke perpustakaan untuk menanyakan soal buku itu,” tegas Dameshia.
“Baiklah jika itu maumu. Sekarang katakan, kami harus melakukan apa?”
“Temani aku memasuki semua rumah bordil dan semua kedai khamar di kota ini. Bahkan setiap tempat apa pun sudut di kota ini yang belum aku datangi,” pinta Dameshia dengan yakin.
“Kau yakin dengan keanginanmu itu? Tempat itu tidak cocok untuk wanita sepertimu. Aku bisa membantumu mencarinya. Kau tidak perlu masuk ke dalam. Kau hanya perlu mengatakan seperti apa ciri-cirinya orang itu. Aku akan membawa setiap orang yang memiliki ciri seperti yang kau sebutkan itu tepat ke depan wajahmu,” janji Akmal.
“Jangan, jika seperti itu akan mendatangkan keributan. Kalian cukup temani aku. Biar aku yang mencarinya.”
“Baiklah jika itu maumu.” Akmal menyerah.
“Bagaimana dengan tugas jaga kalian?” Dameshia merasa khawatir.
“Soal itu aku yang akan mengaturnya. Aku bisa meminta teman untuk menggantikanku malam ini.”
“Baiklah jika begitu. Bawa orang sebanyak apa pun yang kau butuhkan. Jika ini kurang, aku akan tambahkan sisanya nanti. Yang penting orang itu ditemukan paling lambat malam ini juga.” Dameshia memberikan uang, “kita bertemu malam ini di depan balai pengobatan Tabib Razi.”
“Baiklah.” Akmal setuju.
Dameshia kembali melanjutkan perjalanan. Memasuki setiap kedai kopi ataupun rumah makan bertanya kepada pemiliknya kedai tentang seseorang yang dicarinya.
Sedangkan di tempat lain, Yardan membawa buku yang dipinjam Adara ke perpustakaan sesuai cap stempel yang tertera di lembar pertama.
“Permisi. Aku menemukan buku ini. Aku ingin tahu data peminjamnya sehingga aku bisa mengembalikannya secara langsung,” Yardan menyurungkan buku di tangannya kepada sang Pustakawan.
“Biar kulihat,” pinta Sang Pustakawan. Memeriksa nomor seri buku, membuka catatan di buku besarnya, “buku ini dipinjam atas nama Dameshia.”
“Alamatnya?” desak Yardan tidak sabar.
“Kediaman perdana menteri Bayezid. Tapi tuan kau harus meninggalkan buku itu di sini. Buku itu milik perpustakaan kami.”
“Tidak! Aku akan mengembalikannya secara langsung. Setahuku ada uang jaminan jika buku dibawa, dan uang itu bahkan lebih banyak nilainya dari harga buku itu sendiri, dengan maksud agar orang-orang mau mengembalikan bukunya. Benar begitu?” tegas Yardan.
“Iya ... itu benar. Tapi__ ” Pustakawan itu berusaha menahan Yardan.
“Aku akan menuliskan nama dan ke mana si Dameshia ini harus mencariku jika dia mencari buku ini ke sini. Jika tidak pun tidak mengapa, aku akan mengembalikan buku ini secara langsung. Aku akan mengantarkan ke rumah Perdana Menteri Bayezid,” ucap Yardan dengan tegas kemudian berlalu pergi.
“Tuan!” panggil Pustakawan itu berusaha menahan Yardan.
Namun Yardan tidak peduli. Dia tetap pergi dari sana menuju kedai yang menyediakan kopi dan camilan.
Ketika dia sudah sampai di tempat makan itu, dia mengedarkan pandangan, meneliti setiap pelanggan di sana. Di manakah kedua temannya berada. Ketika dia sudah menemukan Eliyas dan Emran, dia duduk bersama mereka.
“Sore yang penuh berkah untuk kalian__” sapa Yardan kepada keduanya dalam bahasa tanah air mereka.
“Sore yang penuh berkah untukmu juga, Yang Mulia,” jawab Elyas dan Emran kepada Yardan.
Yardan mendelik kesal kepada keduanya, “Aku sudah jutaan kali memperingatkan kalian jangan menyapaku seperti itu!”
“Maaf ... susah sekali mengubah kebiasaan.” Emran tertawa pelan dengan wajah pura-pura merasa bersalah.
Yardan mendengus kesal dengan wajah cemberut.
“Kenapa wajahmu cemberut seperti itu? Bukankah kau melewati malam panjang bersama gadis cantik? Kenapa suasana hatimu terlihat tidak begitu baik?” tanya Eliyas dengan mata dan senyuman menggoda.
Yardan berdecak kesal, “Aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan.”
“Pelayanannya kurang memuaskan?” cecar Emran penasaran.
“Pelayanannya bagus. Dia gadis yang baik, aku menyukainya meski aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Meski begitu, aku akan tetap menemuinya. Aku yakin dia mengetahui banyak hal. Dia cantik dan menawan, pasti dia menjadi favorit para lelaki,” ungkap Yardan.
“Lalu bagaimana?”
“Aku hanya harus lebih bersabar agar bisa membuatnya mau melakukan apa yang aku inginkan,” ucap Yardan dengan santai sembari mencebik.
Mereka duduk di sudut kedai, berusaha tidak menarik perhatian orang lain. Sekali waktu terlibat pembicaraan serius, sesekali melihat ke belakang memastikan ketiganya tidak sedang diperhatikan.
Tidak jarang ketiganya senyap, hanya memasang pendengaran baik-baik untuk mencuri dengan apa yang tengah pelanggan lain bicarakan. Menyerap informasi apa pun yang di dengar dari sana.
Selebihnya, mereka menghabiskan waktu berbicara dengan santai sambil bersenda gurau. Berpura-pura hanya sedang menikmati kopi dan kue di sore hari. Hingga tanpa terasa senja telah berganti malam.
“Permisi, Tuan. Apakah kau pernah mendengar pedagang yang bernama Ayas?” tanya seorang wanita kepada pemilik kedai yang tengah sibuk menuang kopi ke dalam gelas.
Yardan dan kedua temannya saling berpandangan dengan lekat. Kening mereka mengkerut.
“Aku tidak pernah mendengar nama Ayas,” jawab sang pemilik kedai.
“Baiklah ... lalu ... apakah kau pernah bertemu dengan seorang lelaki tampan, hum ... lebih tepatnya sangat tampan. Sangat tampan, perawakannya tinggi–gagah, berkulit putih, dan dialeknya saat bicara terdengar berbeda dengan kita,” lagi wanita itu bertanya kepada pemilik kedai, “aku akan memberikan hadiah jika kau memberikan informasi yang benar tentang orang yang kucari itu.”
Kini ... wajah Yardan dan kedua temannya sangat tegang. Otot perut mereka terasa kaku sebab perasaan gelisah dan khawatir mengepung ketiga orang itu.
“Ya Tuhan, Nona! Aku menjumpai puluhan manusia dengan ciri yang kau sebutkan itu setiap harinya. Aaliya adalah kota tujuan dan kota persinggahan para kafilah pedagang dari banyak negara. Dan kedai kopiku ini tidak pernah sepi dari pengunjung, jadi maaf __ aku tidak bisa membantumu.”
Wanita itu mendesah panjang. Jelas terdengar bahwa dia lelah. Tak hanya lelah tubuh sepertinya jiwanya pun begitu. Dia berdecak pasrah, “Kau benar. Mencari seseorang dengan ciri seperti itu sama saja mencari hal yang sia-sia.”
“Begini saja, jika kau mau, kau boleh masuk dan memeriksa para pelangganku. Siapa tahu orang yang kau cari ada di dalam. Tapi ingat, kau harus melakukannya dengan sopan. Jangan sampai sikapmu mengganggu mereka.” Pemilik Kedai mewanti-wanti.
“Terima kasih banyak atas bantuanmu, Tuan.” Wanita itu tersenyum senang.
Yardan menatap semakin dalam kepada kedua temannya, bahkan kali ini hampir seperti melotot. Dia menggerakkan dagu—memberikan isyarat agar kedua temannya itu segera bergerak.
Isyarat dari Yardan serta merta membuat Emran dan Elyas segera berdiri. Emran berjalan menuju wanita si Pencari Ayas yang mulai berjalan masuk menjelajahi toko, memperhatikan satu persatu pelanggan kedai yang dijumpainya.
Sedangkan Elyas dan Yardan berjalan ke arah sebaliknya. Mendatangi pemilik kedai dan keluar dari sana secepatnya.
Emran menghadang langkah wanita itu hingga kini mereka saling berhadapan. Wanita itu dikenalinya adalah pelayan–gadis yang diselamatkan Yardan tempo hari.
“Permisi, Tuan!” ucap Dameshia kepada lelaki di depannya yang menutup jalannya. Dia pun melangkah ke sebelah kanan.
“Ah! Kau ini!” gerutu Dameshia ketika lelaki itu kembali menghalangi jalannya. Dia menatap wajah lelaki di depannya.
“Aku akan diam di tempat, sehingga kau bisa memilih mau lewat mana!” ucap Emran dengan nada kesal karena disalahkan.
Jika Dameshia mau melangkah ke kiri, Emran melangkah ke arah kanan. Jika wanita itu mau ke kanan—Emran ke kiri, hingga tubuh mereka yang saling berhadapan justru bergerak ke arah yang sama. Sama-sama saling menutup jalan satu sama lain.
Sementara Emran menahan Dameshia untuk mengalihkan perhatiannya, Eliyas berjalan menuju pemilik kedai untuk menghitung lalu membayar makanan mereka. Sedangkan Yardan keluar dari tempat itu secepat mungkin, hampir tidak disadari siapa pun. Kecuali mereka sendiri.
Eliyas dan Yardan berjalan cepat hingga kini mereka berhenti di area pertokoan pasar yang gelap.
“Siapa dia?” gerutu Eliyas dengan wajah cemas, “wajahnya sepertinya aku kenal.”
“Kalau aku tidak salah perhatikan dia pelayan–gadis yang kutolong waktu itu.”
“Iya! Kau benar sekali!” pekik Eliyas tiba-tiba, “ada apa hingga dia sebegitunya mencarimu? Dia mencarimu, bukan? Ayas?!”
“Sssst! Jangan keras-keras!” Ayas El Yardan menutup mulut Eliyas, “bisa saja dia mencari Ayas yang lain. Tidak ada yang memanggil namaku Ayas kecuali ayah dan ibuku. Dan aku tidak pernah memakai nama itu.”
“Tidak ada satu orang pun yang tahu siapa Ayas di kota ini. Pencarian terus berlanjut. Sepertinya nama itu asing dan tidak pernah dipakai di sini. Pertanyaannya, jika Ayas yang dia maksud adalah dirimu, bagaimana dia bisa tahu nama kecilmu? Bagaimana dia tahu bahwa ada Ayas ada di kota ini?”
“Nah itu juga yang membuatku takut dan khawatir. Aku takut ada mata-mata yang mengetahui keberadaanku,” ungkap Ayas El Yardan dengan nada khawatir dan wajah tidak senang.
“Jadi ... bagaimana, Tuan?”
“Kau dan Emran, selidiki dia. Ikuti semua pergerakannya. Kabari aku segera. Aku menunggu di rumah bordil tadi malam. Aku mau menemui Feruza. Malam ini juga dia harus dihentikan. Aku khawatir jika dia terus bergerak mencari-cari tak tahu arah seperti itu justru akan membahayakanku,” titah Ayas El Yardan pelan, tetapi sangat tegas.
“Baik, Tuan.” Eliyas mengangguk paham dan segera berlalu dari hadapan Ayas.
Sambil menuju rumah bordil, Ayas berpikir, dia bisa saja memberikan buku itu kepada Dameshia, tetapi kini masalahnya sekarang jadi rumit. Dia harus mencari tahu kenapa dirinya dikejar.
Di dalam rumah bordil itu, dia tersenyum hambar dan dipaksakan kepada Feruza yang terus saja memberikan senyuman dan kerlingan menggoda. Otaknya terus berpikir keras.
“Kenapa kau menghilang begitu saja?” tanya Feruza sambil menari di sisi Ayas yang dikenali wanita itu bernama Yardan.
“Aku ada urusan,” jawab Ayas tersenyum manis, —dipaksakan semanis mungkin.
“Urusan apa yang begitu penting hingga kau meninggalkan urusan kita yang belum selesai?” cecar Feruza penasaran.
“Sesuatu yang sangat penting, Sayang. Bahkan lebih penting dari nyawaku sendiri. Jika tidak, mana mungkin aku pergi dari sisimu,” Ayas melingkarkan tangannya di pinggang Feruza yang tengah menari.
“Tuan!” tiba-tiba Elyas berada di sisinya.
Ayas melihat ke wajah Elyas dalam-dalam. Lalu temannya itu berbisik di telinganya, “Wanita itu berhenti di depan balai pengobatan tabib Razi, kemudian dia bertemu dengan dua orang lelaki. Mereka bersama-sama memasuki beberapa rumah bordil dan juga kedai khamar. Dia terus melakukan pencarian seperti yang dilakukannya tadi saat kita berada di kedai kopi.”
Ayas berdecak kesal, “Sialan!”
“Perkiraan kami, sebentar lagi dia pasti akan menuju ke sini,” terang Elyas kembali berbisik.
Ayas segera berdiri dari kursi, “Habibie, aku harus pergi,” bisiknya di telinga Feruza. Lalu begitu saja melangkah kelar dari tempat itu.
“Apa sebenarnya yang dia inginkan?!” gerutu Ayas pelan sembari menggeleng kesal.
“Cepat Eliyas! Kita hadang langkah mereka!” titah Ayas sambil berjalan semakin cepat lagi.
“Baik, Tuan!” Eliyas melemparkan pedang milik Ayas.
Dengan sigap Ayas menangkap pedangnya. Dia menariknya separuh—mengeluarkan dari sarungnya. Pedang itu berkilau terkena biasan sang rembulan. Lalu dia kembali menyarungkan pedangnya. Kemudian, mereka memasang jubah bertudung dan menutupi wajah menggunakan kain.
“Di mana dia?” tanya Ayas kepada Eliyas.
“Terakhir dia ada di rumah bordil milik Aban. Aku meninggalkannya di sana bersama Emran.
Keduanya berjalan semakin cepat bahkan hampir setengah berlari. Ketika sampai di depan rumah bordil itu, mereka melihat Emran berdiri di depan sana.
“Mana dia? Eliyas berkata dia bersama dua orang lelaki?” tanya Ayas.
“Iya, Tuan. Benar sekali. Mereka masih di dalam.”
Ketiganya pun bersembunyi di sisi blok kosong dan gelap pertokoan. Ketika melihat Dameshia keluar dari sana bersama dua orang lelaki, semua orang menggenggam erat pedang masing-masing sambil menunggu sang intaian melewati mereka.
“Berhenti!” teriak Ayas keras ketika melihat Dameshia dan kedua temannya sudah melewatinya.
Dameshia dan kedua temannya berbalik, dan menghentikan langkah.
Emran dan Eliyas menghunus pedangnya. Akmal dan Aslan– kedua teman Dameshia sang Penjaga Pintu Gerbang kediaman Perdana Menteri Bayezid marah dan juga merasa terancam dengan sikap kedua lelaki itu.
Akmal dan Aslan juga menghunuskan pedang mereka, “Siapa kalian dan apa mau kalian?!” teriak Akmal dengan keras sekali.
Sedangkan Dameshia ketakutan mendapati dirinya dihadang tiga orang lelaki. Dua di antaranya tengah menghunuskan pedang ditambah lagi dengan penampilan ketiganya yang tertutup rapat dari kepala hingga kaki kecuali matanya, pelayan Adara itu yakin dirinya tengah dirampok.
Emran dan Eliyas tidak menjawab pertanyaan Akmal. Dengan gerakan sangat cepat keduanya memberikan beberapa pukulan dan tendangan kepada kedua pengawal Dameshia itu. Hingga keduanya terkapar di tanah.
Ayas tanpa ampun meletakkan pedangnya di leher Dameshia, ”Katakan siapa kalian dan apa mau kalian mencari Ayas?!” tanyanya dengan napas memburu.
Dameshia terdiam, matanya menatap dalam sepasang manik milik Ayas, “Apakah kau Ayas? Benarkah kau Ayas?” pelayan Adara itu yakin, lelaki di depannya ini adalah seseorang yang menyelamatkan Adara hari itu.
Meski dalam kegelapan, Dameshia mengenali perawakannya dan juga suaranya, serta tentu saja, dialek yang terdengar asing ketika lelaki itu berbicara.
“Jawab! Kenapa kau mencariku?!” teriak Ayas semakin nyaring sembari menekan pedangnya kian dalam di leher Dameshia.
Dameshia menelan ludah gugup. Terasa perih ketika mata pedang itu semakin terbenam di kulit lehernya yang tipis. Dia tidak berani bergerak, bahkan sekedar menarik napas pun dia takut. Khawatir gerakan sekecil apa pun akan membuat pedang itu menyayat kulitnya.
“T-Tuan, apakah buku Nona–kami ada padamu? Dia mencari buku itu setengah mati, bahkan aku tidak boleh pulang sebelum aku menemukan buku itu,” ucap Dameshia gugup.
“Apa?!”Ayas membuka penutup wajahnya, “jadi ini hanya soal buku? Hanya karena buku?”