Adara berjalan keluar dari ruang makan-keluarga dengan perasaan masygul. Kepalanya menunduk ke bawah memandangi lantai marmer putih yang dilaluinya setapak demi setapak, ia melihat senyuman lelaki itu di sana.
“Aku sudah gila.” Adara bergumam lemah. Dia meremas dan menyingsing gaunnya sambil mempercepat langkah dengan setengah berlari. Lilin-lilin yang terpasang di sepanjang dinding rumahnya meliuk saat tubuh Adara melintas dengan cepat.
Ia ingin berlari kepadanya. Kepadanya yang bahkan tidak pernah ia lihat secara nyata.
Gadis itu mendongakkan kepala, pada langit-langit istana perdana menteri ini terpasang kubah yang menjulang tinggi, besar dan megah. Kubah yang terbuat dari kaca patri aneka warna dengan motif bunga dan dedaunan. Sangat indah, dan lagi-lagi, dia sana pun ia melihat wajah lelaki itu, seakan menatap dirinya lekat, disertai senyuman yang memikat hati wanita mana pun.
“Tidak __ tidak! Kegilaan ini harus segera berakhir!” ucap Adara kepada dirinya sendiri seraya memejamkan mata.
Ia berlari menuju paviliunnya sambil menyingsingkan gaunnya setinggi betis. Gemerincing gelang-gelangnya yang saling beradu menjadi musik pengiring langkah kakinya yang tergesa. Dameshia berselisihan dengannya.
Ketika sudah sampai di paviliunnya, Adara segera masuk ke dalam kamar pribadinya, menutup pintu kemudian bersandar di daun pintu.
Tangisnya pecah.
Adara tidak paham. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa hatinya seperti ini. Kerinduan, kehampaan, begitu menyiksanya.
“Tuhan, perasaan apa ini? Kenapa sakit sekali.” Ia tersedu-sedu menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Tubuhnya jatuh merosot ke lantai. Tempat tinggal dirinya beserta keluarganya sangat indah, besar dan luas. Tentu saja tidak sebesar istana, istana tempat tinggal Perdana Menteri adalah salah satu tempat terindah dan terbagus di Aaliya. Namun, entah bagaimana dalam beberapa bulan terakhir tempat seindah dan sebesar ini menjadi sangat sempit dan sesak baginya.
Ia terkejut saat pintu di belakang punggungnya diketuk pelan.
“Tuan Putri, Adara!” panggil Dameshia pelan dari balik pintu.
“Aku ingin sendiri. Pergilah!” titah Adara dengan nada datar.
“Baiklah.” Dameshia pun melangkah gontai menuju pintu di sudut ruang tamu di dalam paviliun Nona-nya ini, ia memasuki kamarnya.
Dameshia duduk di tepian kasur, termenung dengan perasaan bingung. Adara adalah seorang gadis cantik penuh keceriaan. Dirinya selalu melayani Nona-nya dengan baik. Tidak pernah sekalipun ada batasan dan larangan untuk masuk kapan saja.
Ia coba mengingat-ngingat, semuanya baru sebulan terakhir. Adara sering murung dan lebih banyak diam. Bahkan saat ini dia tidak lagi bisa masuk ke dalam kamar pribadi Adara (kamar tidur) kecuali atas izinnya.
“Ada apa sebenarnya?” Dameshia merebahkan dirinya di kasur berbantal lengan.
Sementara itu, Adara berdiri di balkon kamarnya menatap jauh ke sekeliling kota Aaliya. Begitu indah memukau mata. Tembok pertahanan terbuat dari bata merah dan lumpur setebal 3 meter dan tinggi 15 meter membentang gagah mengelilingi kota Aaliya.
Sungai Asfaron yang berasal dari mata air di pegunungan mengaliri kanal-kanal pasokan air kota Aaliya, airnya yang kehijauan berkilauan bak berlian terbiaskan cahaya rembulan.
Pandangannya kembali tertuju pada bangunan terbesar dan termewah. Komplek istana Aya Dalia. Tidak lama lagi pangeran Zayan akan datang. Ia mendengar kabar teman masa kecilnya itu menolak semua kandidat anak-anak perempuan pejabat yang lain meski ia belum melihat mereka.
“Aku harus melupakannya lelaki itu. Apa mungkin seseorang mengirimkan sihir? Mencoba membuatku gila agar pernikahan kami batal?” selintas pikiran itu hadir di benaknya.
Penglihatannya tertuju pada gelapnya pegunungan pasir di kejauhan. Ia melihat bayangan cahaya api unggun dari kemah-kemah para saudagar.
“Bagaimana mungkin mencarinya di antara ratusan pedagang bahkan aku tidak tahu namanya.” Adara bergumam di dalam hati. Ia melangkah lemah ke kasur membaringkannya tubuhnya yang seakan layu.
***
Senyuman manis tersemat di bibir Adara. Ia berjalan pelan di sisi kanal-kanal sungai Asfaron. Pepohonan besar tinggi, besar dan rimbun berusia puluhan tahun tumbuh berjajar rapi di sepanjang saluran irigasi. Matahari bersinar lembut menerobos sela-sela dedaunan.
Daun-daun kering berwarna cokelat kekuningan berserakan di tanah, membuat suara khas saat terinjak. Ia menolehkan wajah ketika mendengar suara langkah kaki milik orang lain di belakangnya.
“Kau?!” Adara terperanjat. Ia melihat seorang lelaki mengenakan celana semata kaki dilapisi pakaian-luar (gamis) hitam panjang sebetis. Bersulam benang emas dengan motif yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Indah, pakaian yang dikenakan lelaki itu sangat indah.
“Tuan Putri Adara. Maaf aku mengejutkanmu,” ucap lelaki itu dengan nada hangat sambil mengangguk pelan. Senyuman menawan hati tersemat indah di bibirnya.
Lelaki itu berjalan mendekati Adara, berdiri tepat di hadapannya.
Iris Zamrud Adara memandanginya sangat lekat. Kerinduan dan kehampaan membuat mata indah itu redup kehilangan sinarnya. Namun, cadar hijau dengan sulaman benang perak di wajahnya tidak mampu menutup aura keindahan yang dimiliki anak perempuan sang perdana menteri Amiera itu.
“Kenapa kau sendirian? Mana pengawalmu? Bagaimana bisa calon Ratu Amiera berjalan-jalan tanpa pengawal?” kata lelaki itu sambil tersenyum, matanya menatap dalam ke wajah Adara.
Adara terpaku menatap selaput pelangi berwarna cokelat keemasan di dalam mata lelaki itu. Sangat indah, mengaburkan segala keinginan kecuali ingin memandangnya lebih lama.
Garis rahangnya tegas ditumbuhi misai tipis menambah daya tariknya yang luar biasa. Rambutnya sepanjang tengkuk sedikit bergerak lembut dipermainkan angin.
“Siapa kau? Siapa namamu?” tanya Adara dengan suara bergetar dan tubuh gemetar. Kedua tangan dan kakinya dingin, dan jantungnya berdebar cepat.
“Ayas, Tuan Putri. Namaku Ayas.” Ia tersenyum lebar. Deretan giginya terlihat.
Air mata Adara menetes, “Ayas __” ucapnya lirih. Ia begitu lama menanti untuk tahu siapa namanya.
“Siapa kau?” Adara menelan ludah membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Betapa ingin ia memeluk Ayas melepaskan kerinduan, tetapi ia perempuan terhormat, tidak akan mungkin ia melakukan hal semacam itu.
“Aku hanya pedagang.” Lelaki itu mengangguk pelan penuh penghormatan.
“Ayas, apakah kau nyata, ataukah kau hanya lelaki bayangan di kegelapan malam?”
Ayas tersenyum mendengar pertanyaan Adara, tidak menjawab pertanyaan gadis itu.
“Aku ingin bertemu denganmu,” ucap Adara penuh permohonan.
Lagi-lagi, Ayas tersenyum. Lalu, dia berjalan mundur, sedikit membungkukkan tubuh kemudian berbalik membelakangi Adara. Ia berjalan menjauh.
“Ayaaas!” panggil Adara nyaring.
Ayas menoleh kemudian berbalik dan tersenyum. Ia kembali berjalan menjauh.
“AYAAAS!” seru Adara lebih keras.
Ayas tidak mengindahkannya. Ia terus berjalan menjauh.
“AYAAAS! TIDAK-TIDAK! JANGAN PERGI!” Adara berlari mengejar lelaki itu, terus meneriakkan namanya.
“Tuan Putri! Tuan Putri Adara!” Dameshia mengguncang tubuh Adara berkali-kali.
“AYAAAS! AYAAAAS!” Adara terus meneriakkan nama itu dengan mata terpejam.
Dameshia mengambil air dan memercikkan ke wajah Adara beberapa kali.
Adara membuka mata dengan napas terengah-engah, “Dameshia! Oh Dameshia, aku tau namanya sekarang.”
“Nama siapa?!” Dameshia terkejut dan heran menatap nona-nya dalam keremangan cahaya.
“Nama lelaki yang selalu datang ke dalam mimpiku beberapa bulan terakhir.”
“Ceritakan kepadaku, Tuan Putri. Selama ini kau hanya menyimpannya sendiri.” Dameshia mengisi kembali gelas itu dengan air hingga penuh lalu memberikannya kepada Adara.
Adara mengambil gelas pemberian Dameshia. Ia meminumnya hingga habis lalu memberikan gelas kosong kepada Dameshia. Dia beranjak dari kasur kemudian duduk di sofa, di dalam kamar pribadinya.
Dameshia meletakkan kembali gelas itu di meja, di sisi teko, lalu berjalan mendekati Adara. Ia berdiri di sisinya.
“Duduk, Dameshia. Aku harap kau tidak mengatakan aku gila saat mendengarnya.” Adara berkata dengan lirih.
“Tidak akan, Tuan Putri. Kau adalah orang paling waras yang aku kenal,” ucap Dameshia meyakinkan nona-nya.
“Aku bertemu seorang lelaki,” kata Adara.
“Lelaki?” Dameshia bingung.
“Lelaki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia membuat jantungku berdebar cepat saat melihatnya.”
“Di mana kau bertemu dengannya? Maksudku, Nona tidak pernah pergi keluar istana ini tanpaku, tapi tidak tahu tentang hal ini.”
“Aku bertemu dengannya di dalam mimpi,” ungkap Adara.
Dameshia pun mengganguk pelan, “Apakah dia tampan?”
“Sangat! Dia sangat tampan. Sejak melihat wajahnya membuatku melihat dunia dengan cara yang berbeda. Seakan-akan tidak ada keindahan apa pun di dunia ini yang sebanding dengannya,” ungkap Adara sambil tersenyum senang.
“Saat melihatnya senyumnya, aku mendadak seperti orang gila. Seolah-olah aku mabuk dan menjadi lupa segalanya. Matanya begitu indah. Apa pun yang sewarna dengan matanya kini semuanya tampak sama indahnya,” tutur Adara dengan rona wajah yang berbinar terang.
Jelas sekali di mata Dameshia, Adara sedang kasmaran.
“Suaranya … tidak ada lagi syair yang menarik bagiku, selain suaranya. Dunia ini tiba-tiba hambar, Dameshia. Dunia tiba-tiba terasa hampa saat aku tidak melihatnya. Apakah aku gila?”
“Tidak, tuan Putri. Sudah banyak kisah seseorang yang fana dalam cinta saat ia bertemu seseorang di dalam mimpi, bahkan orang itu belum pernah dilihatnya,” ucap Dameshia dengan bijak. Dah hal itu menyenangkan hati Adara saat mendengar apa yang baru saja dikatakan pelayannya.
Adara melangkah menuju lemari dan mengambil kantong uang. Ia menghitung koin emas di dalamnya berjumlah 40 keping koin emas. Setiap koinnya memiliki berat 4,2 gram. Ia memberikannya kepada Dameshia, “Cari tahu tentang pedagang dari negara tetangga bernama Ayas.”
“Baik Tuan Putri.” Dameshia membungkuk.
“Tetap rahasiakan ini,” ucap Adara datar.
“Baik, Tuan Putri.”