Bunyi gemericik air dari pancuran yang berada tengah-tengah taman di halaman kediaman perdana menteri membawa suasana tenang dan nyaman.
Taman itu sangat indah dan menakjubkan. Kupu-kupu beraneka warna seakan menari dengan indah, hinggap dan terbang dari bunga satu ke bunga yang lain. Taman yang berisi ratusan jenis bunga, puluhan macam limau dari berbagai negara dan juga puluhan dedaunan aromatik.
Tidak semua tanaman itu berhasil tumbuh dengan baik, sebab banyak tanaman berasal dari wilayah pegunungan yang dingin, tetapi kecintaan Adara pada ilmu pengetahuan terutama botani dan astronomi jelas memberikan dampak besar pada tanaman yang dirawatnya. Ia banyak membaca dan belajar. Ia jadi tahu musim tertentu, kapan waktu yang tepat untuk bercocok tanam dan seperti apa seharusnya perkembangan tanaman yang dirawatnya.
Penaklukan islam di sepanjang Mediterania Timur termasuk Amiera sejak 150 tahun lalu membawa banyak perubahan di bidang ilmu pengetahuan. Kini, di Aaliya banyak dibangun sekolah-sekolah dan juga perpustakaan-perpustakaan besar.
Sayangnya, perkembangan sekte sesat seperti yang diceritakan Perdana Menteri Bayezid perlahan-lahan mulai “merusak” bahkan kebanyakan para bangsawanlah yang masuk ajaran menyimpang itu terlebih dahulu.
Adara cinta bunga dan parfum. Ia menanam berbagai jenis bunga untuk melakukan percobaan, membuat wewangian dengan aroma baru dibantu pekerja yang bertugas menyulingnya menjadi minyak wangi.
Kini, gadis cantik itu tengah asyik mencatat perkembangan setiap tanaman yang dipeliharanya. Taman ini berfungsi sebagai lahan percobaan, tanaman yang berhasil tumbuh dengan baik dan memberikan wangi yang memuaskan akan dikembangkan dalam jumlah besar di perkebunan.
Sedangkan bunga dan tanaman yang belum memberikan hasil yang diinginkan Adara akan tetap berada di tempat itu untuk memperindah taman kediaman sang Perdana Menteri.
“Tuan Putri Adara,” sapa Dameshia dengan suara rendah memecah keheningan.
“Ya?” Adara mengangkat wajah melihat ke arah Dameshia.
“Maaf, Tuan Putri, kami sudah berusaha mencari tahu dan menanyai para pada pedagang di Aaliya, tapi belum ada yang pernah mendengar nama Ayas. Mereka menanyakan dari mana asalnya sehingga mudah untuk mendapatkan kabar tentang dirinya.”
Adara mengangguk lemah, “Tidak papa. Aku juga tidak tahu dari mana dia berasal.” Kekecewaaan menyesakkan dadanya. Namun, apa boleh buat, tidak ada yang bisa dilakukan.
Dalam keheningan Adara mengambil beberapa tangkai mawar lalu membawanya ke kamar. Memasukkan mawar-mawar itu ke dalam vas setelah sebelumnya mengisinya dengan air.
Setelah itu, ia pergi keluar kamar dan mengatakan kepada pelayan untuk memanggil Dameshia.
“Tuan Putri, kau memanggilku?” tanya Dameshia sambil sedikit membungkuk.
“Dameshia, mari kita pergi keluar. Kita ke perpustakaan. Ada buku yang kucari.” Adara terdengar bersemangat.
“Baiklah, Tuan Putri.” Dameshia mengangguk.
“Siapkan semuanya,” perintah Adara.
“Bagaimana jika kau pergi dengan kereta saja? Kita bisa membawa serta para pengawal,” saran Demeshia kepada Nona-nya.
“Tidak, Dameshia. Kita pergi menyamar seperti biasanya saja. Aku sudah lama tidak jalan-jalan. Bukankah aku calon Ratu? Aku harus melihat ‘wajah’ negeri ini tanpa topeng.
“Tapi, Tuan Putri. __” kata-kata Dameshia terputus, ia ragu dengan keputusan Adara tidak akan mendatangkan masalah bagi mereka berdua.
“Kau pikir aku akan diizinkan pergi keluar padahal kunjungan Pangeran Zayan tiga hari lagi? Andai memungkinkan, ayahku akan menyuruh orang-orang memperlakukanku seperti bayi baru lahir karena takut terjadi sesuatu kepadaku,” seloroh Adara dengan wajah cemberut.
Dameshia tertawa pelan mendengar perkataan Adara, “Baiklah, kalau begitu Tuan Putri. Kita akan pergi diam-diam seperti biasanya. Aku akan menyiapkan semuanya.”
“Bagus!” Adara melonjak kegirangan. Kedua mata zamrudnya berbinar karena bahagia.
Dameshia pun tersenyum melihat tingkah Nona-nya. Sudah lama dia tidak pernah melihat Adara sesenang ini, “Aku permisi dulu, Nona,” ucapnya seraya mengangguk pelan.
“Sudah sana!” usir Adara tak sabar, “cepat!” ia mendorong punggung Dameshia dengan lembut, menyuruh pelayan kepercayaannya itu segera pergi.
“Baiklah ... baiklah!” Dameshia tertawa pelan lalu berjalan cepat meninggalkan Adara.
Sepeninggal Dameshia, Adara gelisah. Ia tidak tahu kenapa hatinya terasa tidak menentu. Jantungnya berdebar lebih cepat, telapak kaki dan tangannya terasa dingin.
Ia duduk di meja belajarnya sambil memandangi lemari yang penuh dengan buku-buku. Ada karya sastra, filsafat, sejarah, botani, astronomi, berbagai macam buku-buku penyembuhan dan obat-obatan karya Ibnu Sina.
Semua ini berkat ayahnya-Bayezid, karena didikkannya Adara begitu haus dengan ilmu pengetahuan. Bayezid menempa Adara sebagai calon Ratu sejak ia masih kanak-kanak.
Adara meraih kertas. Ah, ya ... kertas … ia tersenyum tipis. Kertas ini awal mulanya milik bangsa cina. Mereka menjualnya dengan harga yang sangat mahal. Berkat kemenangan dinasti Abbasiyah melawan cina dalam peperangan, pembuatan kertas bisa adopsi.
“Buku apa yang mau kupinjam nantinya?” ucap Adara di dalam hati.
Ia mengambil pena dan mencelupkan ke dalam tinta. Kemudian mulai menulis ...
Lelah aku bertanya, siapa aku?
Siapakah tuanku?
Benarkah aku orang yang merdeka?
Kenapa mata, hati dan pikiranku tak henti menerka-nerka?
Siapakah Tuan?
Tuan sang pemiliki mata, hati dan napas dan jiwaku?
Tuan yang hanya berupa bayangan?! Yang hadir hanya sekelebat dalam gelapnya malam?
Ah! Ku rasa, aku memang sudah gila.
Adara menutup buku catatan yang ditulisnya lalu memasukkan ke dalam laci.
Pintu kamarnya diketuk pelan.
Adara mengangkat wajah, daun pintu perlahan terbuka dan wajah manis Dameshia muncul dari balik pintu.
“Tuan Putri, semuanya sudah siap,” ucap Dameshia sedikit membungkuk.
“Baiklah, mari kita berangkat!” serunya bersemangat berdiri.
Adara berjalan beriringan di depan Dameshia menuju paviliun khusus para pelayan di kediaman sang Perdana Mentri.
Dameshia menyerahkan pakaian pelayan untuk Adara, “Ini Tuan Putri.”
Adara mengambilnya dengan senyuman hangat. Iris zamrudnya bersinar. Ia pun segera mengenakan pakaian berwarna merah bata berbahan katun kualitas sedang yang diserahkan Dameshia karena tengah menyamar sebagai orang ‘biasa’.
Secarik kain di tutupkan ke wajahnya, guna menyembunyikan sinar keindahan bidadari yang memancar di sana.
Lalu, Adara melepaskan sepasang sepatu kulit di kakinya. Sepatu itu beronamen khas-inisial khusus keluarga bangsawan, dibuat dari emas yang cairkan kemudian di-cap-kan ke permukaan sepatu. Ia mengganti sepatu itu dengan sandal tali temali. Sandal seperti yang orang-orang kebanyakan pakai sebagai alas kaki.
Adara berjalan di belakang Dameshia. Ia menundukkan wajah dalam-dalam saat melewati penjaga di gerbang depan. Mereka berjalan menuju perpustakaan terbesar di Aaliya.
****
Iris zamrud Adara takjub menatap buku-buku yang tersusun rapi. Seakan-akan ia ingin bermalam di perpustakaan ini demi memuaskan dahaganya akan ilmu pengetahuan.
Setelah melihat-lihat pilihannya jatuh pada buku “Thauq Al Hamamah” (Risalah Cinta) karya Ibnu Hazm Al-Andalusi. Seorang teolog dari Andalusia.
Adara merengkuh buku itu di dadanya erat-arat, “Apa katanya tentang penyakit tak kasat mata yang kuderita ini,” ucapnya di dalam hati sambil tersenyum tipis.
Ditemani Dameshia, Adara pun melapor kepada sang pustakawan ingin meminjam buku yang dibawanya itu.
Sebenarnya, ia mampu membeli buku itu, akan tetapi, ketika ia memutuskan ke perpustakaan, ia masih belum tau buku apa yang dibutuhkannya.
“Atas nama siapa?” tanya lelaki penjaga perpustakaan dengan wajah ramah dan bersahabat.
“Dameshia,” jawab Adara dengan cepat.
“Jika kau membacanya di sini tidak dikenakan biaya, tapi jika dibawa pulang ada uang yang harus kau tinggalkan di sini sebagai jaminan. Uangmu bisa diambil lagi saat kau kembalikan buku ini dalam keadaan baik.” Penjaga perpustakaan menjelaskan peraturannya.
“Baiklah, tidak masalah.” Adara menyerahkan dua keping koin emas, “apa ini cukup?”
“Cukup.” Penjaga itu tersenyum dan memberikan tanda terima untuk Adara. Ia membungus buku itu dengan kain.
Lalu, keduanya pun meninggalkan perpustakaan dengan perasaan senang. Terutama Adara, ia berharap menemukan jawaban atas kegalauannya selama ini.
Adara dan Dameshia berjalan-jalan di pasar. Mengedarkan padangan, menikmati keramaian, hiruk-pikuk kesibukan penjual-pembeli serta himpitan dan jejalan manusia dengan perasaan senang.
Pada pedagang berdiri di depan lapak mereka sambil menawarkan barang dagangan kepada semua orang yang melintas. Toko-toko besar tampak sesak, ramai pembeli. Tawar menawar antara pembeli dan pedagang membuat kebisingan khas.
Aroma kopi menguar dari kedai kopi di sisi jalan. Harum nikmat masakan menguap dari dapur rumah makan, menggugah selera. Wangi roti yang dibakar menyapa perut, seketika meronta ingin segera diisi.
Pandangan Adara tertuju pada lapak yang menjual pernak pernik aksesori wanita. Ia tertarik dengan sebuah penjepit rambut. Gadis cantik itu tidak memperhatikan jalan, langsung memotong ke arah lapak pedagang itu.
“Sepertinya mereka pedagang dari luar kota Aaliya,” ucapnya di dalam hati. Motif jepit rambut yang menarik perhatiannya asing, tetapi indah.
Sementara di arah yang berlawanan seorang pemuda dengan jubah hitam berlengan panjang dengan pajang baju hingga sebetis berjalan terus maju ke depan, pandangannya sibuk melihat ke sekeliling.
Kepala lelaki itu tertutup tudung. Wajahnya ditutupi kain hitam, sepertinya ia baru saja datang dari perjalanan jauh. Meski dengan tubuh dan wajah nyaris tertutup semuanya, bisa dilihat ia memiliki perawakan tegap dan kokoh. Mata cokelat keemasan yang dimilikinya mengamati setiap apa pun yang dilaluinya.
BRAAAK!
Bahu Adara dan d**a bidang pemuda itu bertabrakan dengan keras. Buku di tangannya jatuh ke tanah.
Dameshia berang, “Perhatikan langkahmu, Tuan!” ucapnya dengan keras.
“Maafkan aku.” Lelaki itu membungkuk dan mengambil buku Adara.
Adara terkesiap!
Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu cepat. Ia menatap lekat punggung lelaki yang tengah membungkuk mengambil bukunya di tanah.
Suaranya … Adara sangat mengenal suara lelaki itu. Suara yang selama ini mengisi malam-malamnya.
Lelaki itu berdiri tegak lalu menyapu kain pembungkus buku itu, “Maafkan aku.” Dia menyerahkan buku kepada Adara, “aku sangat ceroboh. Sekali lagi maafkan aku.”
Adara terdiam. Ia tidak mengambil buku yang diserahkan lelaki itu kepadanya. Wajah mereka sama-sama menggunakan penutup, tetapi mata mereka saling bertaut dalam. Mata cokelat keemasan milik lelaki itu memandangi iris zamrudnya.
Dada adara berdebar cepat. Sangat-sangat cepat.
Seluruh tubuhnya gemetar. Kedua kaki dan tanganya seketika menjadi dingin, melebihi dinginnya air di dalam teko tembikar yang dibiarkan berembun semalaman di padang pasir.
“Ayas __ ” gumam Adara pelan. Pandangannya kabur. Tubuhnya lemas, ia jatuh ke belakang.
“Nona!” Lelaki itu sigap menangkap punggung Adara dengan lengannya yang kokoh.