Bab 5 Para Pencari Ayas

2567 Words
“Nona!” Lelaki itu sigap menangkap punggung Adara. Tanpa disadari siapa pun, dua orang lelaki lain mendekat ke arah mereka. Hanya lelaki yang dipanggil Ayas oleh Adara-lah yang menyadari pergerakan kedua lelaki asing itu melalui ekor matanya. Dia mengangkat tangan — menahan kedua jemarinya, mengisyaratkan kepada kedua lelaki itu menjauh, dan mereka pun melakukannya. “Nona!” pekik Dameshia nyaring. Perlahan tubuh Adara semakin turun, hampir menyentuh tanah meskipun lelaki asing itu menahan punggungnya menggunakan sebelah tangan. Lalu, dengan gerakan cepat lelaki itu memasukkan buku di tangan kanannya, buku yang tadi dipinjam oleh Adara ke dalam tas kulit miliknya. Tali tas itu tersangkut di pundaknya. Setelah itu, sigap ia menahan tubuh gadis di depannya itu dengan kedua tangan kemudian membopong si gadis asing yang tiba-tiba tidak sadarkan saat melihat dirinya. Tidak bisa dikatakan melihat sebenarnya, sebab gadis itu tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup kain hitam untuk menghalau debu dan pasir ketika dia dalam perjalanan tadi. Kening lelaki itu mengkerut, “Nona!” panggilnya dengan keras, tetapi sayangnya gadis asing yang tengah dibopongnya itu sama sekali tidak merespon. “Nona … Nona!” Dameshia menepuk-nepuk pipi Adara dengan wajah pucat pasi. Ia sangat cemas, sebab jika sampai terjadi sesuatu terhadap Nona-nya di tengah pasar seperti ini, maka jelas akan jadi masalah sangat besar bagi mereka berdua. Perdana Menteri Bayezid tentu akan marah besar karena putrinya — sang calon Ratu bisa berada di tengah pasar seperti ini, bahkan tanpa pengawalan. Keluar diam-diam mengelabui penjaga seakan-akan keduanya adalah pelaku kejahatan. Orang-orang mulai mendekat, tubuh Dameshia semakin gemetar ketakutan. “Ada apa? Dia kenapa?” tanya orang-orang sambil mengerumuni Adara. “Apakah ada tabib di dekat sini?” tanya lelaki asing itu kepada mereka semuanya, termasuk kepada Dameshia. “Ya ada! Tabib Razi, di depan jalan sana!” jawab orang-orang sambil menunjuk. “I — iya ada!” Dameshia tergagap, dia baru saja tersadar dari rasa panik, “aku tau tempatnya. Mari, Tuan —” Pelayan Adara itu pun menunjukkan jalan. Lelaki asing itu melangkah dengan setengah berlari sambil menatap heran gadis yang kini terkulai lemas di tangannya ini. Dia bingung dengan apa yang terjadi. Siapa orang ini? Kenapa tiba-tiba tidak sadarkan diri saat beradu pandangan dengan dirinya? Sementara itu, melalui ekor matanya dia melihat dua orang lelaki yang tadi dilarangnya mendekat mengikuti dirinya, tidak terlalu dekat. Berjarak sekitar lima sampai tujuh langkah. Jika dalam keadaan jejal manusia seperti ini kedua orang itu tertinggal cukup jauh. Beberapa saat kemudian, Dameshia dan lelaki yang membopong Adara sudah tiba di balai pengobatan Tabib Razi. Mereka segera disambut perawat yang bekerja di sana, diantar ke ruang periksa lalu Adara dibaringkan di kasur. Setelah itu dia memberitahu Tabib bahwa ada pasien yang datang Tabib mendekat, “Dia kenapa?” tanyanya kepada Dameshia dan lelaki yang menggendong Adara. “Aku tidak tau. Tidak sengaja kami bertabrakan ketika kami saling berselisihan di pasar tadi. Lalu, dia tiba-tiba tidak sadarkan diri seperti ini. Aku hanya mencoba menolongnya,” jawab lelaki itu menjelaskan kepada Tabib Razi. Tabib itu pun mendekati Adara lalu meraih pergelangan tangannya, memeriksa denyut nadinya. Dia diam beberapa saat. “Kau terlalu keras menabraknya tadi! Dia sampai pingsan begitu!” gerutu Dameshia dengan perasaan marah dan juga takut. Takut masalah besar akan menimpa mereka semua. “Apa?!” Tadi itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Bagaimana bisa kau membesar-besarkan hal tidak penting seperti ini?” sengit lelaki itu tidak terima sambil membuka penutup wajahnya. Sesaat … Dameshia terpaku melihat wajah lelaki itu, tidak berkedip, bahkan pelayan Adara itu lupa mengambil napas. Hingga … “Sudah … sudah! Jangan berkelahi di sini!” Tabib Razi berdecak kesal, “buka penutup wajahnya. Aku mau memeriksanya,” titahnya kepada Dameshia. Protes dari tabib Razi menyadarkan Dameshia yang tertegun melihat wajah lelaki yang menjadi penolong Adara. “Baiklah,” angguk Dameshia dengan wajah malu. Lalu, mendekati Nona-nya lalu membuka penutup wajah Adara. Lelaki yang tadi menggendong Adara menatap dalam ke wajah gadis itu yang kini masih tidak sadarkan diri terbaring di kasur. “Ma Sya Allah!” pekik lelaki itu secara tiba-tiba sembari meletakkan tangan ke dadanya yang sebelah kiri. Seakan-akan tengah berusaha menahan jantungnya agar jangan sampai meloncat keluar. Meski Adara masih terpejam karena tidak sadarkan diri, lelaki itu bisa melihat betapa cantiknya dia. Dameshia segera menatap dalam ke wajah lelaki itu, mengisyaratkan bahwa dirinya menuntut penjelasan kenapa dia tiba-tiba berteriak, “Kau kenapa?” desaknya tak sabar. Lelaki itu pun tersenyum, “Tidak apa-apa. Dia sangat cantik. Aku hanya memuji-Nya, sudah menciptakan manusia seindah itu.” “Tuan, aku sangat berterimakasih atas bantuanmu,” Dameshia meletakkan tangan kanan ke dadanya sembari sedikit membungkuk, “tapi kini Nona-ku sudah berada di tangan yang tepat. Biarlah tabib yang mengurusnya. Maafkan aku, bukan bermaksud mengusirmu, tapi kurasa kau sudah melewati batasanmu. Kau melihat yang seharusnya tidak kau lihat.” Lelaki itu pun tersenyum hambar, “Kau benar. Maafkan aku. Aku akan menunggu di luar,” ucapnya seraya berbalik badan — hendak meninggalkan ruangan. “Tidak perlu, Tuan. Kau bisa pergi, tentu kau pun ada urusan yang mendesak hingga kau tergesa-gesa saat berjalan tadi. “Baiklah … aku akan pergi. Permisi,” lelaki itu pamit undur diri. Meskipun sebenarnya dirinya sangat penasaran kepada gadis yang ditolongnya tadi. Kenapa menyebutnya dengan nama Ayas, lalu pingsan. Sementara itu, ketika Dameshia berbincang dengan lelaki itu — terang-terangan mengusirnya, tabib sedang memeriksa Adara dan memberikan ramuan aromatic yang kuat di sekitaran hidungnya, agar gadis itu menghirup aromanya. Lalu, mengoleskan obat pada kening dan juga lehernya. Kemudian memberikan tekanan-tekanan lembut pada jemari tangan dan kaki Adara, agar dia segera sadar. “Tabib Razi, Nona-ku kenapa?” tanya Dameshia dengan khawatir sembari meremas telapak tangan Adara dengan lembut. “Sepertinya dia kelelahan, tubuhnya lemah. Jangan khawatir sebentar lagi dia pasti akan segera sadar,” kata Tabib Razi sambil memijat telapak kaki Adara. “Apa penyebabnya?” Wajah Dameshia masih tampak begitu takut. “Apakah akhir-akhir ini dia mengerjakan hal berat?” “Tidak, dia mengerjakan aktivitas seperti biasanya. Tidak hal yang berat yang berlebihan, hanya saja dia memang kehilangan selera untuk makan dan juga kurang tidur saat malam hari,” ungkap Dameshia. Tabib itu pun mengangguk pelan mendengar penjelasan Adara. “Ayas … Ayas!” gumam Adara pelan masih dengan mata terpejam. “Nona! Akhirnya kau sadar!” seru Dameshia dengan bahagia sembari menggenggam tangan Nona-nya begitu erat. Dia tidak peduli dengan racauan Adara yang masih saja menyebut Ayas. Baginya, Adara baik-baik saja adalah tiket untuk melanjutkan hidup. Adara berdesis sambil memijat pelipisnya. Dia mencoba membuka mata, namun semuanya tampak berputar-putar dan tubuhnya terasa melayang-layang, “Kepalaku sakit sekali,” keluhnya. Tabib tersenyum senang melihat pasiennya sudah sadar, “Siapa namamu, Nona?” tanyanya. Bukan sekedar pertanyaan kosong sebenarnya, dia ingin mengetahui sejauh mana kesadaran Adara dan juga responnya pada keadaan di sekelilingnya. “Adara Almaira,” jawab Adara dengan suara yang terdengar enggan untuk bicara. Matanya masih terpejam rapat. Pusing sekali, dia melihat seluruh alam berputar-putar tanpa henti. “Almaira?” ulang Tabib Razi, “Almaira — bukankah itu nama klan untuk keluarga perdana menteri Bayezid. Dia berkata jujur atau sedang mengigau saja?” tanyanya kepada Dameshia. “Apa yang dikatakannya itu benar, Tuan Tabib. Dia anak perempuan Perdana Menteri Bayezid.” “Oh astaga!” Tabib Razi terkejut, “aku kedatangan tamu penting.” “Ayas!” Adara segera membuka mata, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang pengobatan. “Siapa, Nona?” Dameshia bingung. Adara duduk di kasur, “Kenapa aku bisa berada di sini? Dameshia … mana? Mana dia, Dameshia?” cecar Adara dengan wajah panik. “Siapa, Nona? Siapa yang kau cari?” Dameshia kebingungan. “Mana lelaki yang bertemu denganku di pasar tadi?!” desak Adara dengan suara meninggi. “Oh dia … dia-lah yang tadi mengantarmu ke sini. Kau tiba-tiba pingsan di depannya,” jawab Dameshia mulai takut-takut. “Ouh!” Adara terperajat, “di mana dia sekarang?” Mata Adara mulai merah, tergenang air mata. “Dia sudah pergi Nona. Aku menyuruhnya pergi. Tabib mau memeriksa keadaanmu. Kurasa tidak sepantasnya dia melihatmu dalam keadaan seperti itu.” “Tidak tidak!” Adara turun dari kasur, segera berlari keluar dari ruang periksa. “Nona!” pekik Dameshia. Dia juga menyusul Adara keluar. Sedangkan Tabib yang tadi memeriksa Adara terdiam, bingung menyaksikan keributan di antara Adara dan Dameshia. Kini keduanya sama-sama berlarian keluar. “Ayas!” lirih Adara pelan. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Orang-orang ramai berlalu lalang. Adara berlari dengan kaki telanjang sambil terus memperhatikan setiap lelaki yang dilaluinya. “Ayas!” Adara menarik lengan semua lelaki yang memiliki perawakan mirip dengan lelaki tadi. Lelaki yang mirip dengan sang Pengganggu malam-malamnya akhir-akhir ini. “Ayas!” Lagi-lagi Adara menarik lelaki yang salah. Kini wajahnya basah, kembali sedih dalam keputusasaan, “Ayas__” panggilnya lirih dan lemah dengan sisa tenaga yang dimilikinya. “Tidak … tidak!” Adara tersedu, lalu terduduk ke tanah bertumpu di kedua lututnya, “Ayaaaas! Ayaaaas!” Sedih sekali kesempatannya bertemu dengan Ayas kini hilang begitu saja. “Nona … Nona!” Dameshia memeluk Adara dengan bingung dan khawatir. Dia juga ikut menangis melihat kegilaan Nonanya, “Tuan Putri tolong jangan seperti ini. Kau kenapa?” Dia terisak sambil merengkuh Adara ke pelukannya, berusaha menenangkannya. Adara berontak. Menolak rengkuhan hangat Dameshia, “Ini semua gara-gara kau! Kenapa kau menyuruhnya pergi!” teriak Adara marah sambil mendorong Dameshia menjauh. “Tuan Putri maafkan aku. Aku tidak tahu. Sungguh semua ini membuatku bingung. Kau boleh menghukumku sesukamu. Tapi aku mohon tenangkan dirimu. Kita di tengah-tengah pasar sekarang. Kita akan dalam masalah besar jika kau seperti ini. Aku mohon tolong tenangkan dirimu.” Dameshia menarik kedua lengan Adara menyuruhnya berdiri. Adara mengedarkan pandangan, benar saja semua orang kini memandanginya dengan tatapan bingung. Dia pun berdiri dan Dameshia kembali membawanya masuk ke dalam balai pengobatan. “Tabib, aku minta maaf sudah membuat keributan. Aku mohon kedatangan dan keadaanku dirahasiakan. Jangan sampai ada yang tahu,” pinta Adara dengan wajah memelas dan pucat. “Kenapa?” kening Tabib Razi mengkerut heran. “Kami akan dalam masalah besar jika Ayahku sampai tau kami keluar diam-diam,” mohon Adara. “Baiklah, tapi bagaimana cara kalian kembali ke istana perdana menteri? Keadaanmu masih lemah. Tidak memungkinkan bagimu untuk berjalan jauh. Aku punya kereta kuda. Lebih baik jika kalian menggunakannya untuk pulang.” Tabib Razi menawarkan dengan tulus. Adara berpikir sejenak, “Baiklah,” angguknya setuju. “Sekarang mari kita obati dirimu.” Tabib itu tersenyum ramah, “katakan apa keluhanmu.” Adara pun mengatakan bahwa dirinya sulit tidur dan tidak ada keinginan untuk makan. Betapa sulit ia memaksa dirinya sendiri untuk menelan makanan. “Baiklah. Aku akan memberimu obat untuk membantumu tidur. Juga obat supaya kau memiliki selera untuk makan. Jika keadaanmu tidak membaik, kau bisa minta kepada ayahmu agar Tabib Ja’far memeriksamu. Dia kepala Tabib Istana. Dia juga ahli dalam pengobatan masalah mental,” kata Tabib sembari menimbang obat-obatan kering. “Baiklah.” Adara mengangguk pelan semari tersenyum hambar. “Ini obatmu semoga bisa membantumu jadi lebih baik.” “Terima kasih, atas bantuanmu, Tuan Tabib.” Adara menerima obat pemberian Tabib Razi, “Maaf, hanya ini yang bisa kuberikan sebagai ucapan terima kasih atas bantuanmu. Uang ini juga untuk membayar kereta kuda mengantarkan kepulanganku.” Dia menyerahkan dua buah koin emas. “Ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menerimanya.” tolak tabib Razi. “Tidak apa, Tuan Tabib. Ini hadiah kecil dariku. Aku mohon, tolong rahasiakan kedatangan kami,” ucap Adara penuh harap. “Tentu. Aku selalu menjaga kerahasian pasienku. Jangan khawatir.” Tabib Razi pun menerima pemberian Adara. Adara dan Dameshia pulang diantarkan kereta kuda milik balai pengobatan. Dalam perjalanan pulang tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Adara. Dan mereka turun di jalan saat masih jauh dari kediaman perdana menteri Bayezid, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sementara itu di kedai dengan ramainya pengunjung, lelaki yang tadi menolong Adara duduk di sebuah meja, di sudut ruangan menikmati secangkir teh dan sepotong roti gulung berisi daging. Uap panas mengepul dari cangkir teh dan rotinya. Dia duduk di sana ditemani dua orang lelaki. Mereka menikmati hidangan dalam keadaan hening. Lapar dan lelah karena perjalanan jauh membuat mereka tak banyak bicara dan lebih memilih segera mengisi perut yang keroncongan. “Tadi ada perempuan cantik sekali, tapi sayang sekali dia gila,” oceh salah seorang pengunjung kedai yang baru datang kepada temannya yang duduk di seberang kursinya. “Di mana?” tanya teman lelaki itu penasaran dengan kisah yang dibawakan temannya. “Di depan balai pengobatan Tabib Razi. Sepertinya gadis itu pasiennya. Dia keluar dari sana lalu berteriak-teriak, Ayas … Ayas! Dia menangis histeris di tengah jalan. Setelah itu dia kembali dibawa masuk.” Lelaki yang tadi menolong Adara itu pun terkejut mendengar cerita itu, dia menatap kedua temannya secara bergantian. “Wah sayang sekali!” Lawan bicara sang pembawa kabar menimpali, “tapi apa kau tau? Beberapa hari terakhir ada orang yang mencari lelaki bernama Ayas. Mereka mengatakan, bagi siapa saja yang bisa menemukannya atau memberikan kabar tentang lelaki bernama Ayas itu akan diberi hadiah uang.” Lelaki penolong Adara itu pun menatap teman-temannya semakin dalam. Penuh arti dan tanya. Dia menggerakan dagunya, memberikan isyarat kepada temannya. Sang Teman pun mengangguk pelan — paham akan permintaan tuannya, “Hum — kabar yang menarik. Berapa banyak uang yang mereka tawarkan?” tanyanya ikut dalam pembicaraan di kedai. “Lima keping koin emas. Uang yang cukup banyak kan? Paling sedikit kau bisa membeli 10 ekor kambing atau delapan ekor domba dengan uang itu.” Sang Teman mengangguk pelan, “Ya … itu uang yang cukup banyak. Lalu apakah mereka sudah menemukannya? Orang yang sedang dicari itu?” “Sepertinya belum. Sebab mereka masih sering datang dan bertanya kepada orang-orang mencari seseorang bernama Ayas. Aku belum pernah mendengar ada orang yang bernama Ayas di negeri ini. Nama itu terdengar asing. Sepertinya orang yang dicari bukan dari Amiera,” ungkap lelaki lain ikut juga dalam perbincangan. Sang Teman mengangguk pelan, “Begitu rupanya. Siapa yang mencari lelaki bernama Ayas itu dan ada urusan apa?” Lelaki yang menolong Adara menggeleng pelan sambil menatap tajam temannya, mengisyaratkan dia melarang pertanyaan semacam itu. “Kami tidak tau siapa yang mencari dan kenapa dia dicari. Apakah kau mengenal si Ayas ini? Kalau kau mengenalnya katakan kepadaku. Aku akan mengantarkanmu bertemu dengan orang yang mencarinya, tapi kau harus membagi uang itu denganku.” Lelaki yang tadi menolong Adara menatap dalam wajah temannya sembari menyesap teh tatkala mendengar lawan-bicara-temannya menawarkan diri untuk mengantar kepada si pencari Ayas. Meski dia tidak berkata apa pun, tetapi sorot dalam matanya itu sudah mampu menguak bahwa ada gejolak yang tersirat di dalam dadanya. “Tidak! Aku tidak punya kenalan bernama Ayas. Aku hanya penasaran saja kenapa dia cari. Aku jadi berpikir dia buronan atau perampok dan semacamnya. Siapa tau nanti saat di perjalanan aku bertemu, dan jika ternyata dia penjahat aku bisa berhati-hati.” “Tidak … sepertinya bukan penjahat. Jika dia penjahat pasti pengumuman sayembara akan tersebar di mana-mana. Dan hadiah bagi yang berhasil menangkap buronan pun besar sekali.” “Baiklah kalau begitu. Aku jadi tenang,” ucap teman-si-penolong Adara. Pembicaraan di kedai itu pun berganti pada hal lain. Si Penolong-Adara serta kedua temannya sudah selesai makan mereka pun pergi dari tempat tersebut. “Eliyas, Emran … cari tau siapa mereka dan apa tujuannya. Kenapa sampai mengadakan sayembara segala,” titah si Penolong Adara. “Baik, Tuan,” jawab Eliyas dan Emran kepada si Penolong Adara. Keduanya pergi berpencar, berbaur dengan masyarakat untuk perintah tuannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD