Catatan No. XVII: “Hulu Ledak”

1416 Words
Tiap langkah kaki berjalan mengendap, berusaha untuk tak menciptakan terlalu banyak suara. Masing-masing menyusuri jalan raya dipenuhi zombi, berusaha agar tak menimbulkan keributan. Kesunyian itu kemudian pecah begitu saja. Mendadak handphone Orchid berdering mencipta suara nyaring. Sontak saja mereka menjadi pusat perhatian. “Nyahahaha~  Maaf, alarm Dzuhur aku lupa dimatiin.” Gadis itu menggaruk belakang kepala, meminta maaf seraya cengengesan. Kesal memang, tapi tak ada waktu untuk menghajar Orchid. Seketika itu Nida menebar pandangan siaga. Matanya memerhatikan puncak gedung yang terlihat kontras dengan kilatan petir di angkasa. Para zombi datang dari sana layaknya hujan. Banyak dari mereka meloncat begitu saja, turun melalui jendela. “Apa yang..” Semua orang bahkan tak diberi kesempatan untuk mengumpat. Gelombang kedatangan mayat hidup kemudian disambut dengan sihir api rapalan Celine. Lingkaran sihir tercipta sebagai perangkap, siapa pun yang menginjaknya akan terbakar habis tanpa menyisakan debu. Akan tetapi, Celine merasakan ada yang tidak beres. Di kejauhan, terdapat sebuah ledakan besar di luar mantra sihirnya. Dentuman itu menciptakan tumpukan zombi yang tak bergerak, “Pasti ada seseorang atau sesuatu yang menghabisi mereka semua.” Dan benar saja, tak lama berselang muncul sebuah misil meluncur menuju mereka. Tanpa dikomando semua orang melompat menghindari tubrukan. Misil itu meledak, jalanan aspal berlubang dengan retakan di sekeliling. Semua orang menoleh ke arah sang penembak. Sesosok manusia raksasa memunculkan diri dari balik bayangan. Mulutnya menggeram dalam suara parau nan menyeramkan. Tadinya dia bersembunyi di belakang lampu iklan. Nida menghunus Gunblade lalu mengucap sinis, “Monster?” “Sebaiknya kita gak buang-buang waktu mengurusi makhluk itu,” cegah Adiw. “Cuma ada 10 menit, bentar lagi kota bakal dihancurkan,” ucap Celine menambahkan. Nida berbalik dengan wajah Ketus, “Kau pikir dia akan membiarkan kita lewat cuma dengan bilang ‘—punten gan, ane numpang lewat—’ hah..?” Ceramah Nida harus terhenti oleh suara tembakan. Perisai sihir Celine mendadak aktif demi menyelamatkan semua orang. Ratusan peluru melesat cepat hendak melumatkan. Akan tetapi, seluruh logam panas itu sekarang hilang momentum di udara, melayang kosong tanpa tenaga. Monster di kejauhan terlihat membawa senapan serbu di tangan kanannya. “Monsternya bawa gatling gun!” seru Orchid. “Kereeen!” Matanya terlihat berbinar-binar. Nida menggeleng-geleng kepala seraya menggerutu pelan. Mulutnya kemudian mengucap mengeluarkan perintah, “Kita berpencar! Aku dan Adiw akan menahan monster itu. Maria, Celine, dan Orchid pergi jemput Yuki untuk mengaktifkan pesawat Excaliber!” Setidaknya, berondongan peluru tadi ikut andil menyapu bersih para zombi yang mengepung. “Ok.” Celine mengerti, mereka langsung berlari memutar melewati gang di samping gedung. Sementara Nida dan Adiw berhadapan dengan monster berwujud manusia besar ini. ”... S.T.A.R.S..” Sang monster menggumam pelan dengan suara parau. Sayangnya hanya pemain Resident Evil 3 yang mengerti lelucon ini. Monster itu hendak meloncat dari gedung untuk mengejar tim Orchid. Namun tembakan dari pistol Adiw mengambil alih perhatiannya. “Nah.. Apa yang harus kita lakukan buat menjatuhkan si besar ini?” Nida menoleh sedikit, memandang partnernya.   ***   Orchid, Celine, dan Maria berlari untuk mengambil pesawat Excaliber di bengkel distrik 9. “Berapa lagi waktu yang tersisa?” tanya Celine. “Sekitar 7 menit lagi,” jawab Maria. Mereka pun membisu dalam pikiran masing-masing. Keheningan itu kemudian sirna. Tembok di hadapan mereka tiba-tiba hancur dihantam dari dalam. Dari balik serpihan beton itu, muncul sosok makhluk berukuran besar. Seluruh tubuhnya dipenuhi lendir dan darah menjijikkan. Sesuatu bahkan menyeruak keluar dari tangan kanannya, berwujud bola mata sebesar basket, berkedip melotot tajam menatap semua orang. Semuanya kompak berteriak ketakutan. Masing-masing mengambil langkah seribu, melesat sekencang mungkin menyelamatkan diri. “Ma-makhluk apa itu!?” teriak Celine sembari meringis ketakutan. “Ma-mana aku tahu!” jawab Maria terbata-bata.   ***   Di lain pihak.. “Asem! Monster di sini ternyata kuat-kuat.” Nida menggerutu sambil bertumpu pada Gunblade. Barusan ia terpental oleh ledakan misil dari monster itu. “Gila.. kau dan gerakan manusia supermu bahkan gagal memperpendek jarak.” Adiw berjalan ke arah Nida. Pria itu juga terkena ledakan misil, jas hitam yang ia kenakan sobek-sobek di sana sini, sebagian bahkan masih terbakar api. Namun Adiw tak sadar akan kondisi tubuhnya. Kepalanya berlumuran darah dihantam serpihan beton. Cairan merah menyembur keluar dari bagian dahi. Nida tak banyak berkomentar. Kelakuan Adiw kali ini terlalu santai. “Betulkan dulu kepalamu yang berlumuran darah itu,” ucapnya seraya meringis ngilu. “Ah...” Adiw baru tersadar, ia mengangkat lengan dan meraba kepalanya, “Darah..?” Sedetik dua detik berlalu, suasana begitu sunyi dalam sebuah pemikiran. Adiw menatap kepalan tangan berlumuran cairan merah. Berusaha mencerna apa yang terjadi. Detik berikutnya, Pria itu terkapar pingsan terkena anemia. Nida hilang kata-kata. Partnernya kali ini tergeletak begitu saja.   ***   Di hanggar distrik 9... Orchid akhirnya tiba di hanggar distrik 9. Pesawat Excaliber berdiri kokoh siap diterbangkan. Sesaat ia dan Celine saling melayang pandang. Berikutnya, mereka berebutan masuk ke dalam pesawat. Di sana ada Yuki yang masih sibuk mengatur sistem dengan laptop di tangan. “Bahasa pemrograman apa ini?” protes Yuki, “… terlalu sulit.” Orchid dan Celine tak sedikit pun menggubris ucapan Yuki. Gadis berambut hitam acak-acakan itu kemudian duduk di kursi kokpit. Wajah Celine mendadak berubah pucat. Makhluk raksasa yang tadi mencegat kini berdiri di pintu masuk hanggar. Monster itu berlari menerjang. Mata besar di tangan kanan membelalak tajam dengan tatapan menyeramkan. “GYAAAAAAAAA..!! Cepat nyalakan mesinnya!” Orchid berteriak ketakutan. Dikuasai panik,  tanpa sadar ia menjambak rambut Yuki lalu membanting-banting kepala pemuda itu pada kursi. “Hey, pilotnya kan kamu!” teriak Celine berlinang air mata. Yuki segera mengambil alih untuk menyalakan mesin. Di lain pihak, monster menyeramkan memosisikan diri dekat pesawat. Berdiri di hadapan kaca kokpit, ukurannya hampir sebesar pesawat Excaliber itu sendiri. Waktu serasa melambat ketika cakar besar di tangan kanan terayun bebas hendak menebas. Dengan sigap Yuki menarik tuas kemudi, pesawat pun bergeser ke kanan menghindari ayunan cakar. Tak lupa ia menambah ketinggian, menjebol atap hanggar untuk kemudian melesat tinggi meninggalkan sang pemangsa.   ***   Kembali lagi ke tempat Nida dan Adiw… Nida bersembunyi di salah satu lorong bangunan. Ia menempel erat pada tembok, bergabung menjadi satu dengan bayangan. Monster berwujud manusia yang menjadi lawan terlihat berjalan seraya mengedarkan pandangan. Tubuhnya terlihat kokoh. Missile launcher dan gatling Bun tersemat di kedua lengan kekar itu. Mendadak pesawat Excaliber muncul sambil melayang di atas sana. “Nida, Adiw! Ayo cepat naik!” Celine berpegangan pada pintu pesawat, melambaikan tangan sementara Maria melemparkan tali untuk naik. Tak lama bagi ketiganya untuk berada di atas pesawat. Excaliber pun berusaha menambah ketinggian. Booster di bagian belakang menyembur plasma dalam tenaga penuh demi mendorong pesawat terbang menjauh. Monster tadi menembakkan misil. Sontak saja Celine mencipta sihir berjenis perisai lainnya. Yuki menyilangkan dua pistol tepat di depan wajah. Mulutnya bergerak-gerak merapal inkantasi sihir dengan suara pelan, “Ventus mali, inimicus meus mihi per jecur[1]...” Kelopak mata terpejam tenang. Sementara dua pistol berpendar lewat aura berwarna putih. Pusaran angin terbentuk rapi di moncong kedua senjata. Ia lalu membuka kedua matanya, membidik sang monster di kejauhan. “Serhapninm Shot!” Beberapa peluru dia muntahkan sekaligus. Proyektil berselimut listrik menyambar tanpa ampun. Diikuti dengan suara ledakan memekakkan telinga. Monster itu tumbang dengan jasad gosong seolah terpanggang sambaran petir. Nida mengelap keringat di kening, seraya mengalihkan pandangan pada Adiw, “Berapa lama lagi waktu yang kita punya?” Pria itu melirik jam tangan, wajahnya berubah kaget, “Sekarang pukul—” Ucapan Adiw terhenti, keringat dingin mendadak mengucur di dahi. Jam di tangannya menunjukkan pukul 02.15. Waktu dimulainya penghancuran kota Baboon City. “Itu kah..?”  Celine menunjuk ke luar pesawat. Sebuah benda bercahaya terbang melewati pesawat lalu menukik turun mengurangi ketinggian. “Iya! Itu!” Maria terperanjat kaget. Nida sigap melompat ke kokpit, menjadi kopilot mendampingi Orchid. Pria itu menekan bermacam tombol untuk mengaktifkan Warp mode secepat mungkin. Sebuah kilasan cahaya berpendar terang menyinari seisi alam semesta. Siang berubah menjadi malam. Dalam sekejap, awan-awan di angkasa terlihat terik memantulkan warnanya.  “Warp mode begin in..! Three...” Suara pengumuman komputer terdengar samar di telinga. Letupan energi mendorong udara hingga menciptakan semacam dinding energi. Hasilnya, sebuah gelombang kejut melesat menyalip pesawat Excaliber disertai gemuruh hebat. Orang biasa menyebutnya dengan letupan EMP—Elektro Magnetic Pulse. “..Two...” Derit suara logam silih menyahut dalam guncangan. Bom nuklir tadi didapati meledak tepat di rumah sakit tempat mereka beristirahat. Selamat dari empasan pertama, bukan berarti masalah belum usai. Sekarang, terdapat gelombang susulan yang jauh lebih mematikan. Sedetik saja Excaliber menyentuhnya, maka usai sudah perjalanan hidup semua orang. “Semuanya pegangan!” seru Nida. Keheningan terasa nyata di kala panik melanda. Suara pengumuman dari komputer terdengar jelas mengakhiri hitung mundur, “One...” Hitung mundur Warp berakhir. Percikkan listrik meluap di sekeliling Excaliber. Sedetik sebelum dihunjam dinding energi panas, Excaliber berhasil melesat maju dalam kecepatan luar biasa. Terhindar dari ledakan penghancur. Semua orang berpegangan pada apa saja dekat mereka, berusaha agar tidak terlempar tarikan inersia. --------------------------------------------- [1] Winds of calamity, help me pierce through my enemy
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD