Catatan No. XXX : “Raja Iblis”

1136 Words
Nida dan Celine memasuki gua gelap di puncak gunung. Di sana, mereka disambut sosok manusia yang sedang duduk di atas singgasana. Kulitnya putih pucat, garis kerutan terlihat mengisi seisi wajah. “Kau….” Darah Nida seakan mendidih seketika. “ … kau, sudah mati.” Namanya Magnus, si Raja iblis. Nida bersumpah, dia pernah membunuhnya tiga tahun lalu. “Kenapa kau bisa ada di sini?” Celine melempar pertanyaan senada. “Hal yang sama dengan yang ingin kutanyakan pada kalian.” Pandangannya ia arahkan ke salah satu sudut ruangan. Di sebelah kiri dari Nida terdapat Maria dan Orchid berdiri dengan mata setengah terkatup. Kedua gadis itu jelas tak sadarkan diri. Mereka dikendalikan dari luar. “Kenapa kalian semua begitu familier? Bahkan si Penyihir biru pun ada di sini. Apakah ini sebuah reuni?” Nida menggeram marah. Gara-gara dia, seisi Exiastgardsun mengalami kekacauan. Dia menjadi penyebab utama kenapa bisa ada sihir blackhole hingga akhirnya Fia harus mengorbankan diri untuk meredamnya. Dialah penyebab hilangnya Fia. “Aku tak menyangka,” ucap Celine, “Sosok yang pernah menguasai seisi Exiastgardsun kini menjadi pesakitan di dunia lain, terasingkan, bersembunyi dalam kondisi menyedihkan.” Ia sepertinya berusaha memancing kekesalan. “Diam!” Hardik Magnus, “Kau pikir ini gara-gara siapa hah? Si jalang berambut biru itu yang membuatku begini.” Tak terima rasanya Maria dilecehkan seperti itu. Ingin rasanya Nida torehkan ujung pedangnya pada leher si k*****t ini. Namun seingatnya, sosok raja iblis ini gemar sekali menyombongkan hal-hal tidak penting, hingga akhirnya malah mencipta blunder dengan menjelaskan rencana dan strategi rahasianya sendiri. Dia sepertinya belum tahu bahwa masih ada kerancuan antara Fia dan Maria di sini. “Aku tak ingat bahwa kau seorang vampir. Sosok agung, keturunan dari iblis terkuat, kini menjadi ras rendahan.” Nida ikut-ikutan melayangkan provokasi. “Aku harus melakukannya untuk bertahan hidup. Andai tidak ada [kotak] itu, tentu aku sudah mati sejak lama.” Bingo! Dia kembali membocorkan salah satu info berharga. Beberapa kali Maria dan Arby membicarakan [Kotak]. Nida masih belum paham benda apa yang dimaksud. Apakah itu sebuah artefak? Atau ajimat bertuah? “Jadi [Kotak] itu yang membuatmu menjadi seorang vampir?” “Aku tahu tujuanmu mengorek informasi,” potong Magnus, “Tak usah berbasa-basi.” Telunjuknya mengarah menuju Nida. Mendadak Orchid menghilang dari posisinya. Gadis itu melesat cepat hingga tak sanggup ditangkap oleh pandangan mata. Tubuh Nida tiba-tiba terjerembap kuat, menubruk dinding hingga mencipta retak di sana. Kaki kanan Orchid masih melayang tinggi di posisi Nida. Celine terkesiap karena merasa kecolongan. Ia tak menyangka Orchid akan menyerang di bawah perintah Magnus. Raut wajah gadis kekanak-kanakan itu terlihat menyeringai jahat. Matanya terlihat setengah terkatup. Jelas sekali jika dia sedang dikendalikan. “Maaf.. Aku lupa memberi tahu kalau mereka sudah tertular virus vampir.” Magnus berjalan mendekati Maria. Kakek-kakek berwajah m***m itu kemudian memeluk Maria dari belakang. Jemari penuh keriputnya menggerayang masuk menyelinap ke dalam baju, lalu meremas-remas dua bantalan di dadanya. Paras cantik Maria dibuat merona kemerahan. Magnus terus menerus melecehkan gadis itu seraya menjilat bagian telinga. “Ba— b******n!” Nida gelagapan. Rasa sakit tak sedikit pun ia hiraukan. Tubuhnya sontak menerjang kuat seraya mengucap mantra pada Gunblade di tangan. Pedang dengan gagang seperti pistol itu memendarkan cahaya menerangi seisi ruangan. Nida melompat disertai alis mengerut penuh amarah. Lengannya mengangkat Gunblade di udara, bersiap menebas Magnus di hadapan. Tubuhnya memutar berulang kali,  memanfaatkan gaya inersia demi memperkuat hantaman. Namun niatnya terhenti. Maria yang masih dalam kontrol tiba-tiba menghalangi lajur serangannya. Gadis itu merentangkan kedua lengan, bertindak sebagai perisai untuk melindungi Magnus. Nida tentu saja terkejut bukan main. Mendapati Maria di hadapan, sontak saja ia melempar tubuhnya ke samping demi menggagalkan serangan. Pria itu berguling-guling demi meredam efek tumbukan. Ia sama sekali tak menyadari keberadaan tembok di samping Maria. Gedebuk suara tubuhnya terdengar nyaring tatkala pria itu mengempas keras pada dinding. “Licik,” Celine menggerutu kesal. Buru-buru ia melayangkan tongkat sihir untuk menyembuhkan luka Nida dari jarak jauh. Sang vampir terlihat santai duduk di singgasana miliknya. Ia tak melakukan apa pun terhadap Celine, seakan mempersilakan siapa pun untuk menyerangnya sebanyak apa pun mereka mau. Tiba-tiba saja kepala Vampir itu hancur berantakan. Darah menciprat ke udara, hening mengikuti tak lama kemudian. Di mulut Gua, Tyan terlihat sibuk mengisi peluru dari revolver perak S&W Model 500. Tak butuh lama baginya untuk kembali membidik kepala makhluk di kejauhan. Lalu disertai napas memburu, pelatuk senjata itu ditekan keras berulang kali. Ledakan mesiu melontarkan beberapa proyektil logam dalam sambaran lurus. Tubuh Magnus terentak berulang kali. Peluru berukuran kaliber 44 metal jacket cukup ganas hingga sanggup merobek tiap organ dari si vampir m***m itu. Pun begitu, semua usaha Tyan terlihat sia-sia. Pria itu tertegun tatkala menyadari sang target terlihat baik-baik saja. Tiap bagian tubuh yang terkoyak perlahan kembali terekonstruksi menghapus luka. Bentuk wajah jahat menyeringai bahkan tercipta meski batok kepalanya buyar seperti semangka pecah. Makhluk itu Undead alias tak bisa mati, bagian tubuh yang dihancurkan bisa sembuh hanya dalam beberapa detik saja. Tyan mengeratkan gigi, menggeram kesal. Setahu Celine, vampir memang makhluk immortal, tapi mereka juga mudah dibunuh asal tahu kelemahannya. Cukup menusuk bagian jantung dengan senjata perak, atau hancurkan seisi kepala dengan sekali tebasan. Lantas, kenapa Magnus berbeda? Sang mantan raja iblis memang tak mudah untuk dikalahkan. “Pasti ada kelemahannya.” Dalam bingung, pandangan mata Celine kebetulan beradu dengan Nida. Pria itu terlihat memberikan kode lewat gerakan tangan kecil. Ia menunjuk lehernya sendiri, lalu memindahkan telunjuk itu pada Magnus yang masih membelakangi. “Leher?” Celine berusaha memahami, “Ah,” Di sana ada kalung aneh berwarna hitam, tersemat dari celah baju bangsawan yang Magnus kenakan. Celine mengangguk tanda mengerti. Mulut gadis itu merapal mantra kecil. Tiga buah es meruncing tercipta dari partikel udara lembap di sekitar. Lalu menggunakan pengendalian angin, ia mencipta selongsong imajiner untuk melajukan proyektil tersebut hingga berkecepatan 400 meter per detik. Lengannya terayun dengan ujung jemari menunjuk pada Magnus, seperti seorang Ground Marshal memberi komando pada pesawat tempur untuk meluncur dari dek kapal induk. Namun Maria mendadak berdiri menutupi. Seperti biasa kembali melindungi sang vampir di luar kesadaran dia. Sepertinya Magnus menyadari niat Celine. “Sialan!” umpat Celine kesal. Buru-buru ia banting lengannya, berusaha membelokkan laju tembakan. Kemudian, tanpa Celine sadari seseorang melesat cepat dari belakang. Dalam satu entakkan keras. Sebuah tinju mendarat tepat di perut dia hingga gadis itu memuntahkan cairan bening. Penyerangnya adalah Orchid. Gadis kekanak-kanakan yang masih berada dalam kontrol vampir. Nida tak tinggal diam. Saat terbaik untuk menyerang seseorang adalah ketika mereka lengah karena terlalu berfokus pada serangan lainnya. Nyaris di saat bersamaan ia melempar tubuhnya dalam akselerasi hebat. Tak lupa ia kembali memutar tubuhnya, mengumpulkan momentum untuk menghantam dengan ayunan kaki kanan. Punggung sepatu Nida menghantam telak tengkuk leher Orchid. Gadis berpakaian hitam itu jatuh menghantam lantai. “Dia pingsan..?” Nida berkomentar bingung. Tadinya ia sempat menyangsikan pertarungan jarak dekat dengan Orchid. Gadis itu ahli dalam adu pukulan dan tendangan. Namun rupanya, sihir pengendali Magnus telah mengurangi kemampuan korbannya begitu signifikan. “Jadi, mau sampai kapan kau tetap bersikap seperti sorang pengecut?” Nida mengacungkan pedangnya menantang duel maut. “Mungkin akan terasa seperti sedang bernostalgia.” Sang Raja Iblis terlihat menghunus pedang lurus miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD