Beberapa jam kemudian...
Nida terduduk lemas menyandar pada batu.
Celine menjentikkan jarinya berulang kali di depan wajah Nida, “Hey, hey, lihat ini.”
Pandangan Nida terasa mengawang. Segalanya terlihat buram. Suara Celine bahkan mendengung tak jelas. Bola matanya mengikuti ke arah mana jari Celine bergerak.”
“Kau Nida, kan?”
Sang Raja Exiastgardsun mengangguk pelan.
“Bagus.” Perhatian Celine kemudian terarahkah pada Yuki. Ia tak habis pikir, keajaiban kembali terjadi atas nasibnya. Semoga saja keberuntungan ini tiada pernah berakhir.
“Sekarang bagaimana? Kita susul mereka?”
Yuki memeriksa pistol kembar di kedua tangannya. “Beri aku dan Nida waktu untuk memulihkan diri.”
Rintik hujan perlahan turun membasahi. Gemuruh di angkasa menjadi penanda akan kedatangan badai petir.
“Benar kapasitas penampungan Manna kita sekarang menjadi utuh karena letupan Manna tadi, tapi bukan berarti kecerobohan menjadi pilihan yang hendak kita ambil.”
“Kita… berangkat,” Nida berusaha menguasai diri. Ia terlihat seperti orang mabuk yang kesulitan untuk bangkit.
…
Sambaran petir berdentum keras di tengah hujan yang melanda. Nida, Celine, dan Yuki berjalan menyusuri jalan setapak di atas tebing curam.
Perjalanan berlanjut seolah tak terjadi apa-apa. Semuanya saling berpegang tangan menjaga satu sama lain. Jurang di bawah sana amat curam, jatuh ke sana bukanlah sebuah ide bagus.
“Kenapa harus hujan..!?” umpat Nida kesal. Tubuhnya menggigil kedinginan.
Yuki dan Celine menjawab Nida dengan wajah datar. Keduanya terlihat kering lewat selubung semi transparan yang melindungi dari terpaan air hujan. “Kau bahkan tak paham sihir terapan dasar?” Entah kenapa ucapan Yuki itu terasa seperti sedang menghina.
Petir kembali menyambar, suaranya begitu keras hingga membuat telinga berdengung.
Celine terkesiap. Petir barusan menyambar hutan di bawah mereka. Aliran listriknya terlihat seperti ular meliuk, menari-nari bagaikan makhluk hidup.
Petir lainnya kembali meledak, lokasinya tak jauh dari tempat Yuki berpijak. Sambarannya telak menghunjam kelompok yang berjalan terlebih dahulu. Udara panas bahkan terasa menyergap Nida yang berada paling belakang.
“Yuki!” Celine berteriak panik. Menyadari mentornya itu menghilang setelah dihantam petir.
“…nyaris saja.” Yuki tiba-tiba saja sudah berada di samping Celine. Pria itu sepertinya refleks menghindar dengan melompat salto ke belakang.
“Kau… menghindar dari petir?” Celine bahkan enggan berkomentar lebih jauh. Pria berwajah sedingin es itu masih saja menyimpan beragam kejutan.
“Tenang, petir tidak akan menyambar di tempat yang sama dua kali,” ucap Nida.
DUAAAAAR!
Petir lainnya kembali menyambar. Ledakannya tepat berada dalam bekas sambaran petir tadi.
“A— ada yang aneh dengan petir ini.” Nida menarik kembali ucapannya. Ia berusaha menenangkan Celine dengan senyum dipaksakan. Wajahnya terlihat pucat pasi.
Petir tadi kemudian menyambar kembali dalam jarak yang cukup dekat, seolah memang ditunjukkan langsung menuju mereka.
“Lari!” seru Nida.
Celine berteriak kalap, dibarengi langkah seribu berusaha menghindar dari petir yang semakin menggila.
........
Susah payah mendaki, Nida, Celine, dan Yuki akhirnya tiba di puncak Gunung Parang.
Semua orang dihadapkan pada gua besar tempat Magnus tinggal. Tempat itu tandus, hanya ada rerumputan kering di antara bebatuan terjal.
Lalu seperti yang sudah Celine duga, trio perlente terlihat tumbang berserakan. Rasa lega tersirat di benak Celine ketika mendapati hidung Adiw masih mengembuskan napas. Arby dan Tyan terlihat mengalami luka dalam, tapi tidak dalam kondisi kritis hingga mengancam jiwa.
Mereka hanya dibuat pingsan.
“Siapa yang melakukan ini?”
Seakan menjawab pertanyaan Celine, sesosok perempuan terlihat berjalan santai muncul dari dalam bayangan mulut gua. Sepatuh hak tinggi disertai pantyhose mengetat terlihat menyusup ke dalam rok panjang mengembang.
Sekilas ia terlihat seperti boneka.
Kaki jenjang itu diposisikan menyilang. Tubuhnya sedikit membungkuk seraya kedua lengannya sedikit mengangkat tepian rok. Gestur penghormatan itu merupakan khas seorang bangsawan. Kira-kira sambutan macam apa yang hendak ia berikan?
Langkah kakinya kemudian terayun pelan untuk memperpendek jarak. Lalu selayaknya seorang pesulap, dua telapak tangan yang sebelumnya kosong tiba-tiba saja bergelayut anggun menggenggam sepasang pistol kembar.
Nida sontak bersiaga.
Jemari Yuki agak berkedut, ia menggosok-gosok pelatuk pistol di kedua lengannya. Tatapannya lekat tertuju pada sang perempuan.
Gadis itu memiliki rambut tergerai panjang sepunggung. Kulitnya putih pucat seperti salju.
Parasnya cantik, iris mata di sana berwarna cokelat.
“Namaku Snow.. Aku memerintahkan kalian untuk pergi dari tempat ini.” Sorot mata dia tajam menyayat. Mimik wajahnya datar tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. Penampilannya entah kenapa mirip sekali dengan Yuki.
Di lain pihak, Yuki sendiri memang laki-laki berwajah cantik.
Ujung pedang Nida terlihat sedikit mengendur, pria itu sedikit menurunkan kesiagaan, terperangah dengan mulut menganga. Dalam jarak yang dekat, sekarang ia bisa melihat jelas wajahnya. “Yuki? Sejak kapan ada di sana? Pake baju cewek pula.”
Celine sontak menampik, “Yuki ada di sampingmu.” Lengannya menunjuk.
Berulang kali Nida memindahkan pandangannya antara Yuki dan Snow. “Mirip sekali,” tukasnya berkomentar.
Lelaki dan perempuan berwajah datar itu saling bertukar pandang. Keduanya terlihat seperti saudara kembar berbeda jenis kelamin.
“Aku akan melawan dia di sini. Kalian selamatkan Maria dan Orchid.” Yuki mengisyaratkan yang lain untuk pergi, sementara pandangannya terkunci pada gadis di hadapan.
Nida menghentikan langkahnya, “Kau pikir perempuan ini akan membiarkan kita lewat?”
“Kalian boleh lewat,” potong Snow.
“Eh..?” Nida merasa ia salah dengar.
“Kalau aku boleh jujur.. Tolong hentikan ayahku, dia sudah terlalu banyak membunuh orang.”
“Jadi kau itu bukan orang jahat?” Nida berucap heran.
“Tidak. Aku tetap penjahat dalam novel ini.” Snow menjawab seraya menyentrikkan jarinya. Hujan deras yang terdiri dari butiran air kini berubah menjadi salju disertai angin kencang.
“Jadi hujan ini perbuatanmu?” Yuki baru tersadar akan kemampuan Snow. Gadis itu sepertinya memiliki kemampuan mengendalikan cuaca.
“Tebak saja,” jawabnya datar.
“Dingiiin! Ayo masuk ke dalam gua!” seru Nida.
“Sebentar,” cegah Celine. Gadis itu mencipta sebuah bangunan sederhana dari es— seperti Iglo. “Dengan begini, mereka aman.”
Pengobatan tingkat menengah sudah dilakukan, hanya tinggal menunggu waktu saja hingga Tyan, Arby, dan Adiw kembali siuman.
“Sebelum kita mulai, boleh aku bertanya sesuatu?” Yuki membuka percakapan seraya Nida dan Celine memasuki gua.
Tak ada jawaban. Gadis itu belum memulai serangan apa pun. Diam berarti iya.
“Ledakan Manna tadi— itu perbuatanmu?”
Snow menjawabnya dengan mengaitkan jari tengah pada bagian bibirnya sendiri. Ia menyibak keberadaan taring tajam di sana, mempertontonkan kondisinya yang seorang vampir, “Siapa sebenarnya perempuan berpakaian hitam itu? Tiga tetes darahnya sanggup membuatku lepas kendali.”
“Orchid yah…” Yuki menggumam, “Manna dalam tubuhnya memang mengerikan. Kurasa dia jauh lebih kuat dari siapa pun di sini.”
“Boleh kita mulai?” potong Snow.
Dalam jeda sepersekian detik, Snow bersumpah ia melihat perubahan sekejap di tepian bibir Yuki. Mungkin itu hanya perasaannya, tapi pria itu jelas mencipta senyum tak simetris.