Catatan No. XIX : “Sekolah”

1069 Words
“Sudah sampai.” Adiw melapor, ia duduk di kursi kopilot menggantikan Nida. Mereka semua menoleh keluar pesawat. Pemandangan indah menyambut di kejauhan. Pesawat Excaliber mendaki ketinggian demi melewati bendungan besar. Di baliknya, terbentang danau luas dengan warna biru berkilau. Tak lama kemudian, Excaliber mendarat di atas Helipad pada penghujung taman sekolah. Letaknya berada di tepian danau. Taman itu berisikan pepohonan rindang lengkap dengan bunga-bunga. Seperti biasa, siswa-siswi St. Mary terlihat penuh semangat menyambut Maria. Ke mana pun ia pergi, sepertinya memang akan menjadi pusat perhatian. Banyak hal terjadi dalam rentang waktu yang singkat, seperti; Terdampar di dimensi lain, terkena bom nuklir, terjebak perang, melarikan diri dari Virus mematikan, hingga berakhir di sekolah elit tengah gunung. Setelah melalui diskusi alot, setidaknya Nida dan kawan-kawan kini tak perlu merasa khawatir akan kebutuhan sandang dan pangan. Mereka semua digaji dalam jumlah yang tergolong fantastis bagi standar negeri ini. Mereka masih memiliki secercah harapan untuk kembali ke Exiastgardsun. Singkatnya, mereka harus menunggu selama tiga bulan. Orchid di lain pihak, melakukan yang terbaik bekerja sama dengan ilmuwan dari sini untuk melakukan Reverse Engineering, menjelaskan skema pesawat Excaliber, lalu memodifikasinya setelah memahami teknologi dari Bumi. Selama tiga bulan itu, apakah yang akan mereka lakukan..? Untuk saat ini, Nida, Celine, dan Yuki ditugaskan sebagai agen rahasia, menyamar sebagai anak sekolah untuk melindungi Maria dari dekat. … Di rumah sakit tempat Tyan dirawat… Arby tak bisa menyembunyikan rasa takjub kala Celine merapal mantra penyembuh pada atasannya. “Luar biasa,” gumam Adiw takjub. Ia pernah menyaksikan bagaimana Celine menyelamatkan Maria dari posisi sekarat. Tak pernah bosan rasanya menyaksikan bagaimana luka-luka di tubuh bisa merapat dengan sendirinya. “Selesai,” ucap Celine bangga. “Semua lukanya sudah sembuh, tapi aku tidak bisa mengembalikan jumlah darah yang hilang. Sebaiknya beri dia transfusi dalam jumlah banyak.” Tyan tak banyak berkomentar. Ucapan terima kasih bahkan tak terdengar dari mulutnya. Isi batin pria itu berkelana melanglang buana, memikirkan sesuatu. “Syukurlah,” ucap Maria semringah. Gadis itu sempat memeluk Tyan yang masih terduduk di kasur perawatan. Kebingungan kemudian melanda benak Celine. Sesaat tadi ia bersumpah, telah menyaksikan bagaimana raut wajah Tyan menunjukkan semacam rasa jijik. Tapi itu terjadi begitu cepat. Dalam sepersekian detik berikutnya, wajah pria itu seakan dipaksa untuk mencipta senyum terhadap sang Presiden. Ada sesuatu di antara mereka berdua. Yuki yang menyaksikan dari jauh sama-sama mulai menaruh kecurigaan.   ………….   Danau Jatiluhur— merupakan situs kebanggaan Provinsi Jawa Barat. Membentang belasan kilometer sepanjang mata memandang. Letaknya berada di Kota Purwakarta. Sekolah elit nan megah dibangun di samping hamparan air. Bernama St. Mary. Di sana terdapat tangga melebar menuju gedung di atas bukit. Di sana pula, Nida beserta yang lain berjalan mendaki tangga. Semua orang mengenakan seragam sekolah, berbaur dengan murid-murid lain di sekeliling. “Aku sekolah SMA lagi? Padahal umurku sudah 20 tahun..” Nida memeriksa seragam warna biru yang dikenakan, juga celana panjang hitam polos dengan sepatu pantofel di kakinya. Sepupu Nida itu menoleh seraya melempar tatapan masam, “Sejak kamu diangkat jadi Raja, kamu sering bolos ke sekolah. Ujung-ujungnya kamu bolos permanen, alias putus sekolah. Jadi sebenarnya kamu itu gak pernah lulus.” Wajahnya berubah menjadi lesu, “Di samping itu, ini juga ketiga kalinya aku sekolah di SMA.” Rambut merah muda di wajahnya tergerai jatuh menutupi wajah. Celine lulus pendidikan tinggi di usia 10 tahun. Namun tiga tahun yang lalu ia kembali mengulang di SMA untuk mengawasi Nida yang sedang hilang ingatan. Di Exiastgardsun pun dia sedang sekolah, dan kini ia kembali mengulang apa yang sudah menjadi rutinitas hidupnya— sekolah di SMA lagi. Sementara itu Yuki terlihat bingung, “Aku.. tidak pernah sekolah…” Mereka tiba di gedung sekolah. Terletak sebelah kanan dari gedung administrasi penuh tetumbuhan hijau. Terdiri dari lima lantai dan terlihat megah lewat jam raksasa di atas menara. Beberapa kompleks bangunan lain dibangun dekat dengan gedung utama. Memanjang di penghujung gedung. Bangunan itu merupakan fasilitas sekolah; seperti gedung teater, kolam renang indoor, lapangan futsal indoor, lapangan basket dan tenis indoor. Semuanya menghadap perairan luas membentang. Danau itu sendiri lebih mirip dengan lautan tiada berombak. Jauh di batas horizon, samar terlihat hutan serta bukit kecil sebagai batas penghujung. Warna hijau dari dedaunan terkesan seperti garis pemisah antara langit dan air. Nida mendecap sambil menarik kantong di punggungnya, “ingat, Maria berpesan agar kita tidak terlalu gegabah terpancing emosi. Mulai sekarang…,” telunjuk Nida mengarah pada Celine dan Yuki, “Tak boleh ada seorang pun yang gegabah menggunakan kemampuan normalnya— apalagi sihir.” “Terkecuali di saat darurat, atau ketika keselamatan Maria menjadi taruhan utama,” Yuki menambahkan. “Benar.” Celine berubah bingung, “Kenapa?” “Ingat kejadian dengan WCS? Jika kemampuan kita diketahui banyak orang, itu akan jadi masalah. Sedikit sekali orang-orang di sini yang mengerti tentang sihir. Maria saat ini memiliki posisi tertinggi di pemerintahan, jadi hal sekecil apa pun yang berkaitan dengan dia akan menjadi sebuah kontroversi.” “Kita akan kembali ke Exiastgardsun, kan?” Celine melempar topik sensitif. Nida memilih untuk membisu, ragu untuk menjawab. ……… Semilir angin sejuk seolah menjadi penghantar kedatangan sang tuan putri. Lewat langkahnya yang gemulai, Maria muncul ditemani Arby sang bodyguard. “Kenapa kalian masih di sini? Kalian gak masuk kelas?” ucapnya dengan alis mengerut. “Aku tidak pernah sekolah sebelumnya.” Yuki melayangkan protes dalam wajah sedatar mungkin. “Aku kan kepala sekolahnya. Tentu saja aku berhak memasukkan dan mengeluarkan setiap murid yang aku mau,” jawab Maria enteng. “Lagi pula sekarang itu awal semester, anggap saja kalian itu murid baru. Coba cek kelas masing-masing di papan pengumuman, letaknya ada di lobi.” “…...” Kembali Yuki memprotes tanpa suara. Seraya melangkahkan kaki menuju lobi. Letaknya berada di pintu masuk gedung sekolah. Lobi adalah ruangan luas tempat para murid berkumpul. Langit-langitnya tinggi sekali, sekitar empat lantai ke atas. Dilengkapi dengan atap transparan dari kaca tebal, mirip seperti suasana di mal atau bandara. Nida langsung tahu bahwa interior gedung ini mirip dengan taman tetumbuhan di gedung administrasi. Matanya menangkap taman mini lengkap dengan pancuran di bagian tengah. Tak ada lampu di sana, karena penerangan ruangan berasal dari siraman mentari yang menerobos lewat kaca. Fungsinya juga untuk menumbuhkan bunga-bunga. Lebih jauh lagi, terdapat tangga menuju lantai atas, di sana terdapat jembatan penghubung antar gedung kiri menuju gedung kanan. Di bawah jembatan terdapat pintu masuk berukiran kayu mengkilap. Pintu itu terhubung dengan lorong kelas menuju gedung-gedung ekstra kurikuler. Tak jauh dari pintu masuk, sebuah papan pengumuman terlihat mencolok dikelilingi para siswa. Di sana terdapat informasi tentang pembagian kelas para murid. Sejenak mata Yuki menajam pada suatu arah. Ia merasakan sepasang mata senantiasa mengintipnya dari kejauhan. Seorang gadis berambut pendek sebahu. Iris matanya terlihat mencolok karena berwarna hijau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD